‘BLACK CHRISTMAS’: What a Bloody X-Mas!
Sutradara: Glen Morgan
Durasi: 84"
Release Date: 25 Desember 2006 (USA)

‘Halloween’ (1978) dianggap sebagai peletak dasar sub-genre slasher dalam aliran horor kontemporer. Banyak film slasher yang beredar selama beberapa dekade terakhir ini dikenal mempunyai formula yang mengacu pada film tersebut. Namun ternyata beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 1974, telah ada ‘Black Christmas’ yang sama halnya dengan ‘Halloween’ mengambil hari perayaan sebagai pilar ceritanya. Kini, di tahun 2006, film cult yang telah dianggap klasik tersebut direka ulang oleh Glen Morgan, orang yang turut membidani ‘Final Destination’ (2000) dan juga merupakan salah seorang penulis dari serial ‘The X-Files’.
Dengan memakai judul ‘Black Christmas’, seakan-akan film ini ingin menggambarkan malapetaka bisa terjadi kapan saja, termasuk di hari natal. Demikianlah, menjelang natal, badai salju turun dengan lebatnya, sehingga Kelli (Katie Cassidy, When Stranger Call), Heather (Mary Elizabeth WInstead, Final Destination 3), Dana (Lacey Chabert, Mean Girls), Mellisa (Michelle Trachtenberg, The Ice Princess), Lauren (Crystal Lowe, Final Destinantion 3), Megan (Jessica Harmon), Clair (Leela Savasta), Eve (Kathleen Kole) dan Ny. Mac (Andrea Martin, Black Christmas-1974) adalah yang tersisa di sebuah rumah perkumpulan persaudaan mahasiswi Alpha Kappa.
Sudah menjadi kebiasaan untuk saling bertukar kado di hari natal, hanya saja asrama Alpha Kappa tersebut mempunyai tradisi yang berbeda, karena setiap tahun mereka menyediakan kado untuk Billy Lenz, pria yang dulu menempati rumah tersebut. Hanya saja kini Billy mendekam di sebuah sanitarium karena telah membunuh ibu dan ayah tirinya serta melukai adiknya Agnes. Tanpa disadari oleh mereka, setelah 15 tahun, tragedi seakan berulang dirumah tersebut dan satu persatu mereka kemudian menemui ajalnya secara menggenaskan ditangan penyusup yang tak mereka ketahui keberadaannya.
Glen Morgan mungkin memang sangat tertarik dengan karakter-karakter yang menantang secara psikologis, karena setelah ‘Willard’ (2003) yang juga hasil re-make, ia memutuskan untuk mereka ulang kisah horor dengan sang psikopat yang mempunyai latar belakang menggiriskan. Hal ini dilakukannya dengan mengelaborasi latar belakang psikologis karakter Billy dengan cukup mendalam sebagai pengantar cerita, sesuatu yang jarang dilakukan di ranah horor ini. Hanya saja, hal tersebut kemudian hanya menjadi "bunga cerita" belaka, karena dalam perkembangannya film tidak mengizinkan adanya perkembangan karakter yang lebih signifikan, sehingga "kerepotan" yang telah dibangun sebelumnya menjadi mentah. Selanjutnya ‘Black Christmas’ menjadi film slasher yang jenerik dengan formula yang sangat tipikal untuk jenis ini dan adegan-adegan selanjutnya menjadi gampang tertebak sehingga menyebabkan film ini kehilangan greget dalam unsur suspensnya. Apalagi, adegan-adegan pembunuhannya hanya mengandalkan kesadisan tanpa ada upaya menggali teknik pembunuhan yang kreatif atau inventif.
Walau begitu, bagi yang menggemari film jenis ini, ‘Black Christmas’ tampil cukup menghibur karena film berjalan dengan tempo yang konsisten dan tidak membosankan. Apalagi film ini mengambil struktur "murder-mistery" dalam pengembangan plotnya, sehingga bagi yang senang menebak-nebak tentu senang mengikuti jalan ceritanya. Belum lagi, karakter-karakter yang mayoritas perempuan cantik ini menjadi penyedap dalam menambah keasyikan dalam memandangi layar. Hanya saja, karena faktor jenerik tadi, maka ‘Black Christmas’ tidak menjadi lebih baik dari versi aslinya, walau juga tidak lebih jelek.