‘BLOOD DIAMOND’: Drama, Aksi, Petualangan dalam Politik Kesadaran Sosial


Produksi: Warner Bross (2006)
Sutradara: Edward Zwick
Cast: Leonardo DiCaprio, Djimon Hounsou, Jennifer Connely

Genre: Drama/Aksi/Petualangan
Durasi:  143"
Release Date: 15 Desember 2006 (USA)
My Grade: 4 out 5

Blood_diamond_1
Di tahun 1999, Solomon Vandy (Djimon Hounsou, Constantine) adalah seorang nelayan biasa di daerah pedesaan Sierra Leone, Afrika. Namun konflik yang berkepanjangan telah memisahkan dirinya dengan anak istrinya. Sementara itu, Danny Archer (Leonardo DiCaprio, The Departed) adalah pria kulit putih Afrika Selatan yang berprofesi sebagai penyelundup intan. Nasib mempertemukan mereka, karena Danny mengetahui jika Solomon yang pernah bekerja disebuah tambang, telah menemukan sebuah intan bewarna merah jambu yang langka. Danny mengajak Solomon untuk kembali ketambang dan mengambil intan tersebut dengan imbalan akan mempertemukan Solomon dengan keluarganya. Mau tidak mau, maka Solomon pun bersedia. Dengan bantuan wartawan Amerika, Maddy Bowen (Jennifer Connely, Dark Water), maka dimulailah petualangan yang bisa mengancam nyawa mereka setiap saat. Sementara itu, ditempat lain, anak laki-laki Solomon telah direkrut oleh kelompok pemberontak untuk menjadi seorang tentara anak!

Melihat plot film ini, maka yang terbayangkan sebelum menyaksikan secara utuh adalah sebuah film aksi-petualangan yang seru mendebarkan. Tidak salah memang, karena ‘Blood Diamond’ mengandung unsur tersebut, namun dalam pengembangan ceritanya, film tidak hanya berjalan dalam mode aksi, melainkan juga drama yang kental unsur isu sosialnya.

‘Blood Diamond’ seakan menegaskan bahwa tidak semua intan yang beredar di pasaran tersebut datang ‘secara damai’ karena bisa saja intan yang Anda pakai adalah hasil darah seseorang yang tertumpah. Intan-intan yang berasal dari daerah konflik diharapkan tidak menjadi komoditi dalam perputaran uang dalam bisnis batu permata.

Selain itu, ‘Blood Diamond’ juga mendeskripsikan tentang situasi sosial-politik yang terjadi dikalangan masyarakat Afrika pada saat itu, terutama Sierra Leone yang penuh dengan konflik yang pada akhirnya berimbas dalam perkembangan psikologis anggota masyarakatnya, termasuk anak-anak yang direkrut menjadi tentara anak. Belum lagi bumbu-bumbu romansa antara Danny Archer dengan Maddy Bowen.

Dengan adanya multi konflik didalam pengembangan film, Edward Zwick (The Last Samurai) seakan menginginkan filmnya tidak hanya melulu soal intan-daerah-konflik saja, akan tetapi juga ingin bercerita tentang imbasnya terhadap pihak-pihak yang terlibat. Dengan ini durasi film menjadi cukup panjang sehingga terkadang melelahkan penonton, apalagi tidak semua sub-plot menyatu dengan mulus dengan keseluruhan cerita.

Namun, terlepas dari itu ‘Blood Diamond’ adalah film yang mencoba merefleksikan kenyataan yang ada dan ia cukup berhasil untuk itu. Edward Zwick cukup piawai dalam mengeksekusi adegan aksi, petualangan dan drama-nya, sehingga ‘Blood Diamond’ tampil dengan cukup meyakinkan sebagai sebuah tontonan yang sekaligus membawa pesan. Apalagi film ini didukung oleh kekuatan akting Leonardo DiCaprio dan Djimon Hounsou yang solid. Setelah mengusung akses Boston dalam ‘The Departed’ (2006), maka kini Leonardo tampil cukup meyakinkan sebagai seorang pria 30-an dengan akses Afrika Selatan yang kental dengan kepribadian yang sukar ditebak, sementara Djimon Hounsou sendiri berhasil mengekspresikan kegundahan yang dirasakannya secara nyata. Jennifer Connely sendiri tampil dengan cukup baik, namun dengan adanya duet DiCaprio dan Hounsou tadi, ia seakan termarginalkan.


Leave a Reply