‘LEWAT TENGAH MALAM’: Pseudo-Horror Yang Memusingkan
Sutradara: Koya Pagayo
Release Date: 08 Maret 2007
"Mereka Ada di Sekitar Kita Lewat Tengah Malam"
Tampaknya bagi Koya Pagayo (12:00 AM, Hantu Jeruk Purut) batas antara "terinspirasi" dan "plagiarisme" dalam membuat film-filmnya sangat tipis sekali bahkan berbaur dengan pekat, sehingga susah membedakannya, Akibatnya film-film yang Koya Pagayo hasilkan adalah film-film pseudo-horror yang ultra-generik, tipikal dan acak-acakan, termasuk untuk karya terbarunya, ‘Lewat Tengah Malam’. Mengapa saya sebut acak-acakan? Oke, mari kita lihat sinopsisnya:
Sejak Tara (Cathrine Wilson) bersama putri tunggalnya, Alice (Joanna Alexandra) pindah ke sebuah apartemen, banyak kejadian menyeramkan terjadi. Alice mencoba mengatakan pada Tara, namun Tara tak mempercayainya. Bagi Tara, semua itu ilusi Alice belaka. Satu-satunya tempat untuk Alice berkeluh kesah, hanyalah Ramon (Andhika Pratama) – teman sekolahnya. Ramon percaya apa yang dirasakan Alice dan membantunya mengungkap misteri ini. Ketika semua terungkap, Alice harus menghadapi kenyataan: bahwa sesungguhnya dirinyalah sosok arwah tersebut! Dalam 7 hari, Ramon mengetahui tentang siapa Alice yang sebenarnya. Namun rasa sayangnya terhadap Alice, membuat Ramon bersikap seolah Alice masih ada…Apa yang akan dilakukan Alice setelah mengetahui semua ini? Dan, bagaimana dengan Tara – ibunya, menghadapi kenyataan ini? Mengapa dan siapa yang telah merenggut hidup Alice? (sumber: http://lewattengahmalam.maxima.ws)
Terlepas dari sinopsis yang spoiler berat, namun sepertinya ‘Lewat Tengah Malam’ akan menjanjikan sebuah horror psikologis yang menegangkan. Tapi percayalah bukan itu yang terpampang di layar bioskop! ‘Lewat Tengah Malam’ seperti kumpulan beberapa cerita yang sepertinya tidak saling berkaitan yang ternyata kita ketahui memang tidak berkaitan sama sekali setelah kita menyelesaikan menonton film ini. Sebagai contoh, selain dari plot yang telah disebutkan sebelumnya, ada juga subplot mengenai pacar Ramon (Andhika Pratama, D’Girlz Begin) yang diperankan oleh Ichi Nuraini (Mirror). Pada awal-awal kisah entah bagaimana dia dihantui oleh sosok hantu remaja perempuan, namun setelah akhir tidak ada penjelasan lagi tentang kelanjutan kisahnya. Begitu juga dengan subplot mengenai ayah Alice (Krisna Murti Wibowo) yang sepertinya adalah benang merah dari cerita ini namun setelah dipenghujung cerita tak lain hanya merupakan ‘bumbu-bumbu’ penyemarak cerita begitu juga dengan penampakan hantu perempuan yang mengganggu ketenangan Alice (Joanna Alexandra, Catatan Akhir Sekolah) dan membuat friksi dengan ibunya, Tara (Cathrine Wilson, Cinta Silver). Belum lagi berbagai ketidakjelasan dan inkoherensi (apalagi pengabaian logika) dalam cerita yang ditulis oleh Ery Sofid (12:00 AM, Hantu Jeruk Purut) membuat pusing kepala para penontonnya.
Durasi film tidak sampai 90 menit, tapi rasanya film sudah berjalan dengan panjangnya dan terlalu banyak yang ingin diceritakan oleh film ini. Namun film berjalan dengan amat-sangat-tidak-cerdas dengan tumpang tindihnya berbagai sub-plot dan belum lagi penampakan hantu yang terlalu dibuat-buat untuk kepentingan horror semata sementara esensi cerita sebenarnya bisa sangat menyentuh baik dari segi dramatis maupun psikiologis. Sayangnya, Koya Pagayo sudah terlanjur cinta mati dengan gaya horror yang tidak inovatif yang biasa ia tampilkan daripada mengekplorasi sisi gelap dari plot yang sebenarnya cukup menarik tersebut. Seperti saya sebutkan diatas, batas antara ‘terinspirasi’ dan ‘plagiarisme’ sangat tipis bagi Koya Pagayo, sehingga ia tidak berani untuk memulai menciptakan gayanya sendiri, sehingga lebih percaya diri untuk mencatut gaya yang sudah terlanjur mapan. Hasilnya, sebuah film yang tidak konsisten sama sekali dan sungguh membuat kesal setelah menontonnya karena menderita migrain setelah keluar dari bioskop.
Saya akui kalau Koya Pagayo sangat perduli dengan style. Saya suka sekali adegan diawal film yang berbarengan dengan credit-title. Namun, semua orang juga tahu, (kecuali Koya Pagayo) kalau penceritaan itu lebih penting!
Judul awal dari film ini adalah ‘Alice Tidak Tinggal Disini Lagi’ yang mengingatkan akan ‘Alice Doesn’t Live Here Anymore’ karya Martin Scorsese di tahun 1974. Mungkin mengingat heboh-heboh plagiarisme yang ditimbulkan ‘Ekskul’ karya alter-egonya, Nayato Fio-Nuola, (Btw, yang mana alter-ego, yang mana karakter asli?), maka judul diubah menjadi ‘Lewat Tengah Malam’ yang lebih menjual. Sayangnya, sama dengan filmnya yang tidak jelas juntrungannya itu, isi cerita dengan judul film beserta tagline di poster, sama sekali tidak ada hubungannya! Padahal jelas judul awal lebih mewakili isi cerita lho?