‘METROSEXUAL’ : Komedi dalam Praduga dan Stigma


Produksi: GMM HUB (2006)
Sutradara: Yongyooth Thongkongtoon
Cast: Thianchai Chaisawatdee, Meesuk Jaengmeesuk, Patcharasri Benjamas, Ornpreeya Hunsat, Pimolwan Suphayang, Kulnadda Pajchimsawat, Michael Shaowanasai

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 117"
Release Date: 13 July 2006 (Thailand)
My Grade: 3 out 5

Metrosexual_2 Metroseksual adalah istilah untuk menggambarkan pria dengan tanpa membedakan orientasi seksualnya yang mengabiskan banyak waktu dan uang demi penampilan dan gayahidupnya. Ia dengan fasihnya mengerti dan mengaplikasikan selera zaman dalam kehidupannya. Saat ini fenomena pria-pria metroseksual bukanlah hal yang tak lazim lagi. Disekitar kita, terutama di perkotaan besar, banyak terdapat disekitar kita. Tapi, terlepas dari masalah orientasi seksual tadi, banyak orang yang menstigmakan jika pria-pria metroseksual ini adalah bagian dari laki-laki homoseksual. Hal ini tentu saja tidak bisa disalahkan, karena hanya kalangan laki-laki ini yang bisa menandingi kaum perempuan dalam hal trend gaya hidup mutakhir.

Fenomena inilah yang kemudian diangkat oleh sutradara Yongyooth Thongkongtoon,yang sebelumnya telah menyutradarai film hit ‘The Iron Ladies‘ (2000). ‘Metrosexual’ atau ‘Gang chanee gap ee-aep’ merupakan sebuah investigasi terhadap karakteristik dan orientasi seorang pria metroseksual. Dalam balutan komedi romantis yang menggemaskan, ‘Metrosexual’ mencoba mengungkap tabir ini melalui lika-liku penyelidikan empat orang perempuan; Pom (Patcharasri Benjamas), seorang reporter untuk sebuah majalah perempuan, Nim (Ornpreeya Hunsat), seorang operator/konselor telepon-hotline disfungsi seksual, Fyne (Pimolwan Suphayang), pemilik salon yang cerewet dan Pat (Kulnadda Pajchimsawat) yang bertunangan dengan seorang Jepang, terhadap Kong (Thianchai Chaisawatdee), kekasih teman mereka Pang (Meesuk Jaengmeesuk). Wajar saja mereka curiga, karena Kong yang parlente ini terlihat sangat sempurna-baik hati, pengertian, lemah lembut, pintar masak, fasih mode dan sangat mengetahui banyak hal yang justru mereka sebagai perempuan tidak tahu. Mereka maklum akan prilaku metrokseksual yang tengah merebak dikalangan pria kontemporer. Akan tetapi bagaimana jika ternyata Kong tidak hanya sekedar seorang pria metroseksual, melainkan juga seorang pria gay? Maka masa depan Pang, teman mereka yang sangat mereka sayangi, menjadi taruhannya.

Sebagai sebuah komedi, ‘Metrosexual’ cukup berhasil dengan adegan-adegan dan dialog yang menggelitik. Terkadang terkesan komikal namun disisi lain malah terlihat humanis. Tentu saja, sebagai sebuah komedi romantis, melodrama merupakan unsur yang tak terlepaskan, terutama menjelang akhir cerita. Inilah yang menyebabkan ‘Metrosexual’ terjebak dalam ending yang cukup klise. Namun, terlepas dari hal tersebut, Yongyooth Thongkongtoon lumayan berhasil dalam memainkan emosi cerita. Apalagi, film ini juga mempunyai subplot-subplot tentang sahabat-sahabat Pang dalam menghadapi masalah asmara masing-masing dan yang menyenangkannya adalah subplot tersebut tampil dengan tidak mengganggu jalannya cerita secara keseluruhan.

Hanya saja, sebagai sebuah karakter studi, ‘Metrosekual’ tampil datar saja, tanpa penggalian yang lebih mendalam. Konteks metroseksual hanya menjadi alat bantu untuk dramatisasi dari konflik dalam romansa yang coba diceritakan dalam film ini. Jika ingin mengharapkan sebuah elaborasi yang lebih signifikan mengenai prilaku gaya hidup ini, maka itu bukan inti utama dari film ini. Walau begitu, identifikasi terhadap pria yang homoseksual yang dilakukan oleh karakter gay yang bernama Bee (Michael Shaowanasai) di dalam film ini cukup informatif, walau rasa-rasanya kebenarannya perlu untuk diverifikasi ulang. 


Leave a Reply