‘THE NIGHT LISTENER’: Thriller Tentang Sisi Buram Manusia


Produksi: Miramax Films (2006)
Sutradara: Patrick Stettner
Cast: Robin Williams, Toni Collete, Sandra Oh, Rory Culkin, Bobby Cannavale, Joe Morton

Genre: Drama/Thriller
Durasi: 82"
Release Date: 04 Agustus 2006 (USA)
My Grade: 3 out 5

Night_listener
‘The Night Listener’ adalah film kesekian kali dari Robin Williams yang bernuansa gelap. Upayanya dalam memvariasikan genre dari yang biasa ia lakoni (komedi) terkadang berhasil namun terkadang juga tampil dengan tidak meyakinkan. Bagi saya The Night Listener termasuk yang cukup berhasil.

Gabriel Noone (Robin Williams) adalah seorang penyiar radio di sebuah acara tengah malam. Suatu ketika ia mendapat sebuah naskah yang memukau yang menurut Ashe (Joe Morton) sahabatnya merupakan karya seorang remaja berusia 14 tahun bernama Pete (Rory Culkin), yang juga merupakan penggemar Gabriel. Pete adalah korban pedofelia orangtuanya sendiri yang mengakibatkan ia menderita AIDS. Kini ia tinggal bersama ibu angkatnya yang bernama Donna (Toni Collete) di daerah Wisconsin. Maka dimulailah persahabatan antara Gabriel bersama Pete dan Donna, sampai suatu hari mantan pacar Gabriel, Jess (Bobby Cannavale) mengatakan jika suara Pete dan Donna adalah orang yang sama, karena memiliki kemiripan nada. Walau Gabriel tidak mau mempercayai jika Pete dan Donna adalah orang yang sama, namun dengan bantuan temannya Anna (Sandra Oh), ia memulai pencarian mengenai asal-usul Pete dan Donna yang hasilnya justru semakin menimbulkan kecurigaan. Maka, nekad Gabriel berangkat ke Wisconsin untuk menemui Donna. Pada akhirnya ia memang menemui Donna yang ternyata buta. Namun, bagaimana dengan Pete? Apakah dia benar-benar karakter yang nyata?

Konon, ‘The Night Listener’ yang diangkat oleh Novel karya Armistead Maupin ini terinpirasi dari pengalaman nyata yang dialami oleh Armistead sendiri. Kini, bersama dengan Terry Gillian yang merupakan partnernya di dunia nyata, mereka mengangkat novel tersebut dalam bentuk naskah film yang kemudian disutradarai oleh Patrick Stettner. Robin Williams turut bergabung karena merasa tertarik dengan ide ceritanya. Maka kerjasama mereka menghasilkan sebuah thriller kecil yang memikat dari awal hingga akhir.

‘The Night Listener’ mengangkat sisi psikologis dari karakter yang terisolasi dari dunianya dan kemudian memaparkannya dalam realitas yang cenderung buram dan terkadang menggelisahkan. Film berjalan dengan tempo yang cukup cepat, sehingga tidak terasa film sudah mencapai akhirnya, sehingga terkadang kita sebagai penonton merasa emosi dari film kurang terelaborasi. Mungkin pilihan Patrick Stettner mengambil tempo yang cepat adalah untuk menghindari kebosanan penonton pada tema yang cenderung berat ini (Kabarnya, untuk versi Festival Film Sundance, durasinya lebih panjang, yaitu sekitar 91 menit. Bandingkan dengan versi theatrikalnya yang hanya 82 menit. Berarti ada cukup banyak adegan yang dihilangkan). Padahal materi yang ditanganinya tampil dengan cukup jenial dengan tingkat monotonisme yang cukup rendah. Walaupun begitu sebagai sebuah thriller, struktur cerita sebenarnya cukup sederhana apalagi dengan plot-twist yang gampang tertebak. Mungkin disebabkan oleh karena film ini lebih menekankan pada unsur drama daripada lika-liku cerita?

Terlepas dari itu, ‘The Night Listener’adalah sebuah film yang menghibur sekaligus memberi signifikansi yang relevan bagi pencerahan jiwa (imho lho?). Apalagi didukung dengan jajaran pemain dengan kualitas akting prima, maka ‘The Night Listener’ adalah pilihan wajib bagi pengggemar thriller atau drama psikologis.


Leave a Reply