Archive for April, 2007

‘KALA’: A Beautiful Potray of Dead in Time

Monday, April 23rd, 2007

Produksi: MD Pictures (2007)
Sutradara: Joko Anwar
Cast: Fachry Albar, Aryo Bayu, Shanty, Fahrani, August Melaz, Tipi Jabrik

Genre: Thriller/Misteri/Fantasi
Durasi: 100"
Release Date: 19 April 2007
My Grade: 4 out 5

KalaFilm noir bukanlah ranah yang sering dijamah oleh insan film di Indonesia. Tergerak oleh semangat dan motivasi pembaruan dalam dunia sinema Indonesia, Joko Anwar (Janji Joni) kembali dalam film keduanya ditahun 2007 ini dengan ‘Kala’ atau dulu dikenal dengan ‘Dead Time’.

Alkisah, disuatu negara antah berantah, yang entah mengapa mirip sekali dengan Indonesia, seorang detektif polisi bernama Eros (Aryo Bayu, Bangsal 23, Pesan Dari Surga) yang menyelidiki kematian seorang laki-laki yang dibakar oleh massa. Sementara itu, penyelidikan yang serupa dilakukan oleh Janus (Fachry Albar, Alexandria, Jakarta Undercover), seorang wartawan penderita narcolepsy yang tengah proses cerai dengan istrinya, Sari (Shanty, Detik Terakhir, Berbagi Suami). Ditengah investigasi mereka yang berbeda jalannya, justru nasib mempertemukan mereka dalam upaya menguak misteri yang membaurkan antara mistis dan realita, sebelum korban-korban lain berjatuhan.

Tabik untuk Joko Anwar yang konsisten dalam membuat film yang entertaining, feel-different dan well-made. Film ini memadukan unsur-unsur horor, suspens, aksi, drama dan fantasi dalam bentuk noir-thriller yang sangat jenial. Ini menunjukkan betapa luasnya referensi film yang dimiliki oleh Joko Anwar dan pembuktian eksistensi dirinya sebagai pencinta film. Hal ini tentu saja berkorelasi positif terhadap visi dan misinya dalam membuat sebuah film. Salut juga untuk MD Pictures, dalam produksi perdananya, mau mengeksplorasi jenis film baru seperti ini yang mungkin tak terbayangkan oleh PH atau produser lainnya.

Secara teknis ini film yang cantik, nyaris tanpa cela. Desain produksinya cukup matang, didukung kekuatan artistik yang kuat dan sinematografi yang kinetis. Urusan efek khususnya termasuk tampil dengan meyakinkan dan tidak mengecewakan alias mulus. Yang unik, film ini seakan menunjukkan jika film Indonesia juga piawai dalam menampilkan adegan-adegan gore. Jadi yang gampang mual, siap-siapkan perut Anda sebelum menonton.

Hanya saja, dengan memakai banyak elemen berbagai genre disini, film terasa seperti memiliki ambiguitas makanan gado-gado. Juga terasa sekali pergulatan antara semangat populis dan art-house dalam olahannya, dimana keduanya berusaha saling mendominasi dalam memberi rasa. Akan tetapi, jika memang diibaratkan gado-gado, maka gado-gado yang terasa lezat dan nikmat sekali dan rasanya ingin minta tambah saja. 

Film berjalan dengan ciamik. Dengan unsur cerita berdasarkan mitos yang lekat dengan kehidupan kita, Joko Anwar yang juga bertindak sebagai penulis skrip ini, merangkainya menjadi sebuah teori konspirasi bernuansa politis serta kritik sosial yang dinarasikan dengan kekuatan suspens yang terjaga. Joko berhasil memunculkan adegan-adegan yang bernas dan berhasil untuk membangun suasana. Tentu saja, ini bukanlah film yang sempurna. Ada beberapa adegan yang rasanya tidak perlu, lubang dalam cerita yang harus ditambal, beberapa dialog yang terasa kurang mengena atau salah tempat dan eksekusi adegan klimaks yang rasanya kurang smooth. Namun, semua itu hanya bagian minor dari film ini. Film ini terlalu bagus untuk dapat dikalahkan oleh aspek negatifnya.

Kuartet Fachry Albar, Aryo Bayu, Shanty dan Fahrani tampil maksimal dengan kolaborasi akting yang cukup solid, sehingga impresi yang ingin disampaikan bisa dirasakan oleh penontonnya. Film ini didukung pula oleh come-backnya aktor kawakan August Melaz, setelah stagnansi selama hampir dua dekade dalam industri sinetron. Setelah Barry Prima di ‘Janji Joni’ (2005) dan kini August Melaz, penasaran jadinya siapa lagi aktor lawas yang bakal diajak Joko di film berikutnya.

Kala adalah jelas salah satu film terbaik di tahun ini bagi saya. Joko Anwar menujukkan jika ia adalah seorang sutradara dengan tingkat integritas yang tinggi dan seandainya Indonesia punya beberapa lagi sineas sekaliber Joko, maka niscaya kebangkitan film Indonesia bukanlah sebuah utopia.


‘NO REGRET’: Tiada Kata Menyesal untuk Mencinta

Monday, April 23rd, 2007

Produksi:  CJ Entertainment (2006)
Sutradara: Lee Song-hee-ill
Cast: Lee Yeong-hoon, Lee Han, Hwang Choon-ha

Genre: Drama
Durasi: 114"
Release Date: 16 November 2006 (Korea)
My Grade: 4 out 5

Noregrets_posterSebagai sebuah negara yang dianggap konservatif, maka masyarakat Korea Selatan dikenal sebagai masyarakat yang cenderung homophobia. Uniknya, tahun 2005 lalu, ‘The King and Clown’ yang kental dengan aura homoseksualitasnya menjadi film paling laris tahun itu. Sukses dalam mendulang penonton, maka asumsi tersebut patut dipertanyakan. Walaupun pada kenyataanya diskriminasi masih kerap terjadi di kalangan ini, namun tidak membatasi Lee Song-hee-ill, seorang sutradara berbakat yang mengaku sebagai gay, untuk berkarya dan hasilnya adalah ‘No Regret’ atau ‘Hoohoihaji Hanha’ ini sebagai karya layar lebar perdananya yang mendapat sambutan antusias dari pemirsa Pussan International Film Festival 2006 kemarin.

‘No Regret’ bercerita tentang seorang yatim piatu bernama Su Min (Lee Yeong-hoon), yang harus meninggalkan panti asuhan dan kemudian melakukan urbanisasi ke Seoul. Setelah pekerjaanya di sebuah pabrik tidak berjalan dengan mulus, Su Min terpaksa bekerja di sebuah bar khusus kaum gay sebagai seorang host. Pada mulanya Su Min hanya menjalankan pekerjaanya ini untuk mencari uang guna meneruskan pendidikan di universitas, namun ketika seorang pria bernama Jae Min (Lee Han) masuk kedalam kehidupannya, maka segala hal yang diyakininya pun bergeser. Jae Min sendiri datang dari keluarga kaya yang konservatif dan akan segera menikah dengan seorang perempuan. Pada mulanya Su Min menolak cinta Jae Min, namun pada akhirnya Su Min menyerah pada keuletan Jae Min dan menerima ketulusan cintanya. Setelah menjalani kehidupan bahagia bersama, tanpa mereka sadari tagedi mulai mengancam hubungan mereka dan menguji cinta mereka.

Walau ‘No Regret’ mengambil struktur melodrama dalam narasinya, tapi ia juga mencakup komedi segar dan kritik sosial yang mengena, khususnya terhadap sub-kultur masyarakat Korea Selatan itu sendiri. Yang paling penting Lee Song berhasil membuat cerita dengan tingkat subtilitas yang menghanyutkan dan membangun hubungan komunikasi dengan artikulasi yang dapat dengan mudah dipahami oleh penontonnya. Kita sebagai pengamat karakter-karakter ini akan merasa penasaran dan ingin mengetahui kelanjutan kisah mereka.

Penggambaran homoseksualitas dalam film ini pun jauh dari gambaran streotype kaum gay yang biasa dideskripsikan oleh film-film atau sitkom Hollywood. Karakter Su Min dan Jae Min adalah laki-laki sebenarnya dengan aura maskulin yang kental (kecuali orientasi seksualnya tentu!). Mereka bukan tipe Drag Queen, Drama Queen atau tipologi queen lainnya. Sementara itu, pendekatan ala Eropa dalam film ini menyebabkan penggambaran adegan-adegan sensual yang cukup eksplisit. Cukup mengejutkan untuk film Asia seperti ini.

Jika kita mengenal kebiasan dan norma di masyarakat Korea Selatan, mungkin ‘No Regret’ akan mempunyai makna lebih bagi kita untuk mengapresiasinya. Namun pada intinya, ‘No Regret’ mengandung tema universal yan dapat dipahami secara umum. Pendekatan melodrama justru mampu menguraikan intisari yan jenial terhadap atmosfir film. Denan dukungan aktor-aktor muda yang relatif tidak terkenal justru menambah kekuatan film ini. Terlepas dari unsur homoseksualitasnya, ‘No Regret’ harus ditonton pagi penggila drama bermutu.


‘PERFUME’: The Story of a Murderer

Sunday, April 15th, 2007

Produksi:  Constantin Films (2006)
Sutradara: Tom Tykwer
Cast: Ben Whishaw, Alan Rickman, Rachel Hurd-Wood, Dustin Hoffman, Karoline Herfurth, John Hurt (narator)

Genre: Thriller/Drama
Durasi:108 "
Release Date: 07 September 2006 (JERMAN)
My Grade: 4 out 5

Perfume_1 Parfum, siapa yang tidak mengenalnya dan siapa yang tidak tergoda akan wanginya. Tentu saja jika wanginya tepat. Untuk membuat parfum dengan wangi yang membuai membutuhkan seseorang yang memiliki indera penciuman serta selera akan wewangian yang baik. Patrick Süskind, seorang novelis asal Jerman, terinspirasi akan bau wangi yang terkandung didalam parfum dan merangkainya menjadi sebuah cerita luar biasa tentang seorang yang terobsesi dengan bebauan dan melakukan hal-hal yang diluar akal sehat.

Jean-Baptiste Grenouille (Ben Wishaw) memiliki bakat yang luar biasa dalam membaui. Lahir di sebuah pasar ikan dan menyebabkan ibunya digantung karena ketahuan sengaja membuang dirinya saat baru lahir. Setelah remaja, pengurus panti asuhan menjualnya ke tukang kulit dan sehabis menerima uangnya, pengurus panti asuhan menemui ajalnya ditangan perampok. Giuseppe Baldini (Dustin Hoffman), seorang peracik parfum asal Italia di Paris yang menurun pamornya, mengendus bakat Jean-Baptiste dalam meracik bebauan, kemudian menebus Jean-Baptiste dari tukang kulit, yang saat mabuk terjatuh kesungai dan tewas. Dari Giuseppe, Jean-Baptiste yang terobsesi dengan bebauan belajar bagaimana mengekstrak dan merawat wewangian dengan imbalan meracik parfum yang sangat menawan dan melariskan kembali kedai Giuseppe. Kemudian ia meninggalkan Giuseppe untuk menimba teknik baru di kota lain, sementara Giuseppe kemudian menemui ajalnya karena rumah yang ditempatinya runtuh menimpa diri serta istrinya.

Dalam perjalanannya, Jean-Baptiste menyadari ia bisa membaui apa saja di dunia terkecuali bau dirinya sendiri. Obsesinya dengan bau tubuh perempuan cantik kemudian menyebabkan ia membunuh beberapa orang gadis cantik untuk mendapatkan ekstrak wangi tubuh mereka. Misinya hampir selesai, hanya tinggal Laura (Rachel Hurd-Wood) seorang gadis cantik anak pembesar bernama Antoine Richis (Alan Rickman), yang sangat mengingatkannya akan gadis penjual buah (Karoline Herfurth) yang tanpa sengaja dibunuhnya karena sangat tertarik dengan aroma tubuh sang gadis malang. Sementara itu, dengan kematian gadis-gadis disekitar mereka, para pejabat mulai mengadakan penyelidikan untuk mengetahui pembunuh

Berseting Perancis di abad XVIII (walau mayoritas aktornya berdialek Inggris), ‘Perfume: The Story of a Murderer’ menampilkan salah satu karakter fiksi yang sangat menawan. Kita tahu akan sisi gelap Jean-Baptiste Grenouille, akan tetapi dengan cerdik film membuat kita bersimpati dengan karakter ini. Sebagai seorang sosiopat yang terobsesi dengan bebauan, Ben Wishaw mampu mewujudkan karakter yang neurotic, menggelisahkan sekaligus menyedihkan melalui gestur dan mimik yang menarik. Barisan bintang pendukungnya seperti Alan Rickman dan Dustin Hoffman jelas sudah tidak diragukan kualitas aktingnya, namun harus diakui jika Ben Wishaw mampu menarik perhatian penonton sebagai pusat perhatian.

Tom Tykwer relatif nama yang kurang dikenal, berhubung dia merupakan sutradara asal Jerman. Walau begitu, melalui film ini jelas dia bisa sangat diperhitungkan dalam peta dunia sinema. Walau saya belum pernah membaca novel karya Patrick Süskind, tapi Tom Tykwer dengan gemilang menampilkan sebuah film dengan imajinasi yang kaya dan dinamis sekali. Pada paruh pertama film yang dinarasikan oleh John Hurt ini bergaya seperti dongeng fantasi dengan elaborasi cerita yang sangat menawan dan paruh kedua mengambil gaya thriller yang menegangkan dan kemudian diakhiri dengan adegan yang fantastis dan sangat captivating. Fantastis disini bukan berarti mengumbar adegan fantasi penuh visual, melainkan karena Tom Tykwer mampu menghipnotis penonton dengan membangun adegan yang intens sekaligus subtil.

Walau terkadang rasanya pembagian gaya cerita ini tidak terlalu berimbang, namun setidaknya ‘Perfume: The Story of a Murderer’ tampil dengan cukup solid dengan narasi yang gripping. Hasilnya, film ini akan tetap membekas di memori setelah kita selesai menyaksikannya. Dengan presentasi yang cantik dan penceritaan yang ciamik, ‘Perfume: The Story of a Murderer’ adalah tayangan berkelas yang sangat menghibur.


‘SMOKIN’ ACES’: Aksi dengan Multi-Narasi

Sunday, April 15th, 2007

Produksi:  Universal Pictures (2007)
Sutradara: Joe Carnahan
Cast: Ben Affleck, Andy Garcia, Alicia Keys, Ray Liotta, Jeremy Pivens, Ryan Renolds, Martin Henderson

Genre: Thriller/Aksi
Durasi:108 "
Release Date: 26 Januari 2007 (USA)
My Grade: 3 out 5

  Smokin_acesAlasan Alicia Keys menerima peran di film ini adalah karena ia tidak harus di-typecast menjadi seorang musisi, pianis dan sebagainya, melainkan karakter yang jauh dari kesehariannya, seorang pembunuh bayaran, dari beberapa pembunuh bayaean yang saling berebut untuk mendapatkan nyawa Buddy "Aces" Israel (Jeremy Piven), seorang pesulap terkenal yang setuju untuk bersaksi melawan mafioso Primo Sparazza, asal Las Vegas. Israel kini bersembunyi di sebuah hotel di Lake Tahoe, dibawah pengawasan dua agen FBI (Ryan Renolds dan Ray Liotta) yang bekerja dibawah supervisi atas mereka (Andy Garcia). Tentu saja, dengan nilai kontrak yang tinggi atas nyawa Israel memancing sekelompok pembunuh bayaran kelas kakap (termasuk karakter singkat yang diperankan oleh Ben Affleck). Selain harus menelikung FBI, maka sesama pembunuh tersebut juga harus saling beradu cepat untuk mendapatkan Israel.

Film ini ditulias dan diarahkan oleh Joe Carnahan yang sangat terasa sekali dipengaruhi oleh gaya Quentin Tarantino, terutama dalam ‘Pulp Fiction’ (2005). Hanya saja Carnahan lebih memilih pendekatan yang lebih ringan dengan plot yang tidak memusingkan. Dengan banyaknya karakter dan multi narasi dalam cerita mereka masing-masing sepat membingungkan diawal-awal film, namun menjelang pertengan, film sudah mulai dibaca arahnya dan lebih gampang dicerna.

Usaha Carnahan patut diapresiasi lebih, walau tentu saja ia bukan Tarantino. Butuh visi yang lebih jenial serta jam terbang yang lebih dari cukup untuk dapat membuat film yang lebih orisinil. Eksekusi adegan-adegan aksinya sudah memuaskan, walau terasa kurang porsinya. Unsur ketegangan dengan bumbu-bumbu komedi sudah cukup lumayan terjaga. Yang terasa leah adalah elaborasi karakter-karakternya, yang rasanya belum tampil secara mendalam untuk kita dapat merelasikan dengan salah satu atau beberapa dari mereka. Kita hanya sebagai penonton yang menyaksikan orang-orang tidak dikenal saling baku tembak satu sama lain. Seru, tapi tidak meninggalkan kesan yang mendalam. Apalagi beberapa karakter terlalu hitam atau putih, tidak abu-abu, idealnya untuk film jenis ini.

Walau begitu, ‘Smokin’ Aces’ adalah film yang fun dan menghibur. Tampil dengan gaya dan sebuah upaya untuk menghadirkan aksi-thriller alternatif yang cerdas. Film ini seakan mengingatkan bahwa film dar-der-dor tidak melulu hanya letupan senjata api atau darah dimana-mana, akan tetapi juga cerita yang menarik.


‘HATE CRIME’: Homophobia Juga Manusia

Sunday, April 15th, 2007

Produksi:  Pasidg Productions (2005)
Sutradara: Tommy Stovall
Cast: Seth Peterson, Bruce Davison, Chad Donella, Cindy Pickett, Brian J. Smith, Susan Blakely, Farah White, Giancarlo Esposito

Genre: Drama
Durasi: 104"
Release Date: 14 Januari 2005 (USA)
My Grade: 3 out 5

Hate_crimeDengan memakai judul yang provokatif seperti ‘Hate Crime’, maka kita mengharapkan sebuah drama dengan unsur politis yang kuat. Namun, ternyata sutradara Tommy Stovall lebih memilih bentuk thriller dalam drama yang diusungnya ini. Berkisah tentang pembunuhan seorang pria gay yang bernama Trey McCoy (Brian J. Smith), yang pelakunya dicurigai adalah tetangga baru mereka, Chris Boyd (Chad Donella, Final Destination), karena sang tetangga yang anak pendeta Boyd (Bruce Davison, The X-Men) ini mempunyai latar belakang homophobia yang kental. Penyelidikan yang dilakukan oleh Sgt. Esposito (Giancarlo Esposito) tidak memuaskan ibu Trey, Barbara McCoy (Cindy Pickett) dan kekasih Trey, Robbie Levinson (Seth Peterson), sehingga mereka memutuskan untuk mengungkap kasus ini dengan cara mereka sendiri.

Memakai alur yang melodramatis bukan berarti ‘Hate Crime’ menjadi tayangan yang cenderung cengeng, melainkan cukup kuat dalam unsur suspensnya. Dengan memilih penceritaan yang mirip kepingan, maka ‘Hate Crime’ mengarahkan penontonnya untuk merangkum cerita dan mengungkap kejutan-kejutan yang tersimpan di plotnya, walau sebenarnya film ini telah memberi petunjuk yang cukup jelas di adegan-adegan sebelumnya. Ini menyebabkan kita membutuhkan kecermatan dalam menyimak film ini, karena jika tidak bisa saja film berubah menjadi membosankan dan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan. Apalahi sang sutradara memilih pace yang cukup lambat dalam menyampaikan ceritanya.

Prejudis dan stigma yang dilekatkan pada kalangan homoseksual memang rentan sekali dengan kekerasan yang kemudian diterima oleh persona yang mempunyai orientasi seksual seperti ini. Sementara itu, pelaku homophobia itu sendiri sebenarnya adalah karakter yang tidak kalah kompleks dan tidak mudah tertebak. Karakter Chris Boyd disini digambarkan sebagai karakter dengan beban psikis yang rapuh dan mengakibatkan dirinya terseret dalam ambiguitas yang membingungkan dirinya sendiri. Walaupun beraura negatif, namun film ini sendiri tidak mencoba memojokkan karakter Chris Boyd dengan begitu saja sehingga mau tidak mau kita bersimpati dengan karakter tersebut.

Unsur yang paling fundamentalis dari film ini kemudian adalah mempertanyakan keabsahan dari moralitas itu sendiri. Apakah orang yang didalam sebuah komunitas dianggap menjujung nilai-nilai moralitas kemudian tidak akan melakukan perbuatan yang menyimpang dari sisi moralitas tersebut. Dan jika kemudian sistem mendukung subordinasi kaum moralitas terhadap pihak yang termarginalisasi, apakah harus dilakukan resistensi secara frontal atau lebih memilih "jalan belakang".

Dilema-dilema seperti ini yang ingin dibicarakan oleh ‘Hate Crime’. Walaupun rasanya film ini tidak dapat secara gamblang menjawab pertanyan-pertanyaan tersebut, akan tetapi setidaknya sebagai sebuah cerita fiksi, ia mampu bercerita dengan cukup menarik dan meyakinkan.


‘THE GRAVEDANCERS’: Atmosferik. Sesuatu yang Jarang di Horror Hollywood

Sunday, April 15th, 2007

Produksi:  Code Entertainment (2006)
Cast: Mike Mendez
Sutradara:
Dominic Purcell, Josie Maran, Clare Kramer, Marcus Thomas, Tchéky Karyo, Megahn Perry, Martha Holland

Genre: Horor
Durasi: 95"
Release Date: 18 November 2006 (USA)
My Grade: 3 out 5

The_gravedancers‘The Gravedancers’ adalah bagian dari seri ‘After Dark Horrorfest’ yang menampilkan sejumlah film yang tidak berpeluang di layar lebar, namun berkesempatan diapresiasi oleh penggemar horor melalui media DVD. Terlepas dari bujet rendah yang kentara terlihat dari hasil akhir film ini, sebenarnya ‘The Gravedancers’ cukup layak untuk mendapat kesempatan yang lebih luas di layar bioskop, karena mempunyai segala aspek sinematis yang diperlukan sebuah film hiburan, dibandingkan dengan beberapa film yang beredar di bioskop namun sebenarnya lebih layak langsung dipaketkan dalam bentuk home-video (misalnya keluaran tahun 2006, ‘Stay Alive’).

Tiga orang sahabat, Harris McKay (Dominic Purcell), Kira Hasting (Josie Maran), dan Sid Vance (Marcus Thomas) memutuskan untuk mabuk-mabukan diatas makam teman mereka yang baru saja meninggal. Sid membaca sebuah kartu yang terdapat di makam tersebut dan tanpa mereka sadari isi kartu tersebut adalah mantera pemanggil arwah. Gawatnya lagi, arwah yang mereka panggil adalah orang-orang yang dulunya berkelakuan diluar kewajaran jika tidak dikatakan tidak waras. Mulailah kehidupan mereka menjadi tidak tenang, karena diganggu oleh penampakan-penampakan hantu-hantu tersebut, termasuk istri Harris, Allison (Clare Kramer). Mereka kemudian bertemu dengan Vincent (Tchéky Karyo) dan asistennya Culpepper (Megahn Perry), profesor di bidang paranormal yang mulanya tidak mempercayai mereka, sampai menyaksikan sendiri kejadian supernatural yang dialami oleh Sid. Bisakah Vincent kemudian membantu mereka dalam menghadapi hantu-hantu ini?

Dengan hanya nama-nama seperti Dominic Purcell (Prison Break, Primeval) dan Tchéky Karyo (Kiss of the Dragon, Taking Lives) yang cukup dikenal, maka jelas sebagai sebuah horor supernatural, ‘The Gravedancers’ lebih mengandalkan cerita serta suasana seram yang dibangun. Walau menggunakan formula umum dari genre ini, sutradara Mike Mendez, yang berpengalaman dengan film-film seperti ini, mampu memberikan cerita yang solid dan beberapa adegan yang cukup mengagetkan. Film ini juga ditunjang dengan spesial efek dan tata make-up yang meyakinkan, sehingga jujur saja, film ini jelas lebih baik daripada beberapa film mainstream yang keluar akhir-akhir ini. Bahkan dengan trend horor Asia yang tengah merebak juga dimanfaatkan oleh Mike Mendez dengan memakai visual yang mengambil ide dari ranah tersebut.

Sayangnya, menjelang akhir, rasanya adegan dieksekusi dengan terburu-buru sehingga film yang nuansa atmosferiknya sudah cukup kental berubah dalam mode aksi yang mengandalkan ketegangan. Padahal kengerian secara psikologis yang dielaborasi dengan cukup baik sebelumnya jika terjaga menjelang klimaks mungkin akan menjadikan film ini menjadi lebih mumpuni. Walau begitu, kelemahan tersebut hanya kelemahan minor bagi ‘The Gravedancers’, karena tetap saja film ini adalah sebuah paket hiburan yang memuaskan, terutama bagi penggemar horor yang kecewa dengan banyaknya so-called-horror keluaran Amerika akhir-akhir ini.


‘6:30′: Membosankan dalah ‘Dosa’ Terbesar Film Ini

Sunday, April 15th, 2007

Produksi:  Tangankiri Productions (2006)
Sutradara: Rinaldi Puspoyo
Cast: Adilla Dimitri, Winky Wiryawan, Dinna Olivia, Jajang C. Noer

Genre: Drama
Durasi: 105"
Release Date: 09 November 2006
My Grade: 1 out 5

630Alit (Adilla Dimitri), seorang pemuda Indonesia yang telah menetap selama 5 tahun di San Fransisco, Amerika Serikat. Teman serumahnya adalah Bima (Winky Wiryawan, Jelangkung, Berbagi Suami) yang sekaligus adalah sahabatnya. Dikarenakan dikesokan harinya Alit akan kembali ke Indonesia, maka Bima dan Tasya (Dinna Olivia, Tusuk Jelangkung, Belahan JIwa), mantan pacar Bima yang sekaligus objek cinta terpendam Alit, memutuskan untuk bersenang-senang dalam satu hari dan satu malam terakhir mereka bersama Alit di San Fransisco. Dari waktu yang terbatas tersebut, friksi yang kemudian terjadi diantara mereka harus dituntaskan. Demikian inti cerita dari film yang berjudul ‘6:30′ ini. Mengapa judulnya seperti itu? Hal ini dikarenakan film ini berseting waktu dimulai dari pukul 6:30 pagi sampai keesokan harinya dalam waktu yang sama.

Ide cerita ‘6:30′ sebenarnya cukup menarik, dimana nilai-nilai persahabatan diuji saat perasaan bermain didalamnya dan pada akhirnya akan menuju sebuah proses yang signifikan terhadap pendewasaan karakter utamanya. Alit adalah sosok happy-go-lucky yang ringan memandang kehidupan, Bima adalah tipe pria kutubuku yang serius dan Tasya dengan perspektif free-spiritednya. Dengan perbedaan karakter tersebut idealnya akan memberi dinamika yang fluktuatif terhadap perkembangan cerita.

Rinaldi Puspoyo, sang pengarah film, sungguh beruntung, karena kabarnya film yang telah beredar luas di layar biokop ini sebenarnya adalah tugas akhir dari sekolah film yang diikutinya di Amerika sana. Sangat jarang sekali, seorang sutradara yang mendapat anugrah seperti itu. Hanya saja, setelah menyaksikan secara utuh filmnya, rasanya memang sebaiknya film ini disiapkan sebagai sebuah tugas akhir saja yang kemudian diapresiasi oleh kalangan terbatas, daripada diedarkan secara massal, karena secara kualitas kurang dapat menjual.

Feel yang didapat terhadap Rinaldi Puspoyo sehabis menyimak ‘6:30′ adalah dia merupakan seorang sutradara yang berbakat. Akan tetapi film ini tampil dengan sentuhan yang terlalu personal yang mungkin hanya dapat dinikmati oleh Rinaldi. Lagipula, dengan kurangnya pengalaman serta jam terbang Rinaldi menyebabkan film ini rasanya sangat sulit untuk mengkomunikasikan ide dan visi film kepada para penontonnya. Sepanjang durasinya yang lumayan panjang, film hanya bercerita dan bercerita saja dalam tempo yang sangat monoton sehingga mengundang rasa kebosanan yang besar. Dan dosa terbesar dari sebuah film adalah jika film tersebut membosankan!

Adilla Dimitri sendiri adalah teman sekamar Rinaldi saat di Amerika. Wajar, sebagai debutan yang memulai karir akting professional, ia perlu banyak belajar. Adilla sendiri tampak berusaha keras menjiwai perannya. Hanya saja ia kurang berhasil membangun interest penonton terhadap karakter yang dimainkannya. Padahal karakter tersebut merupakan karakter inti dari film ini. Hal inilah yang menyebabkan penonton kemudian pun menjadi kurang interest lagi dengan jalan cerita secara keseluruhan. Winky Wiryawan dan Dinna Olivia sendiri tidak memperlihatkan kekuatan akting mereka yang sebenarnya. Tapi, kalau ditanya kesaya, ini disebabkan karena sang sutradara yang kurang pandai mengekstrak talenta yang dimiliki bintang-bintang kelas A tersebut.

‘6:30′ akhirnya tampil dengan sia-sia. Ide cerita yang sebenarnya menarik menjadi basi akibat eksekusi film yang kurang matang dalam konsep. Dan Rinaldi Puspoyo seharusnya juga menyadari jika hendak mengerjakan sebuah proyek film eksperimen, sebaiknya jangan digunakan untuk ‘menyiksa’ orang-orang yang telah mengeluarkan uang untuk menonton film di bioskop!


‘BORAT’: Cultural Learnings of America for Make Benefit Glorious Nation of Kazakhstan

Monday, April 9th, 2007

Produksi:  20th Century Fox (2006)
Sutradara: Larry Charles
Cast: Sacha Baron Cohen, Ken Davitian,  Luenell, Pamela Anderson

Genre: Komedi
Durasi: 84"
Release Date: 3 November 2006 (USA)
My Grade: 4 out 5

Borat
Borat Sagdiyev (Sascha Baron Cohen) adalah seorang reporter asal Kazaksthan yang ditugasi untuk meliputi kehidupan masyarakat Amerika Serikat yang maju. Bersama produsernya, Azamat Bagatov (Ken Davitian, mereka bertolak ke New York yang dianggap sebagai pusatnya Amerika. Prilaku Borat yang udik dan pintar-pintar bodoh serta perbedaan kultur menyebabkan hanya kekonyolan-kekonyolan saat bertugas. Sampai suatu malam ia menyaksikan tayangan re-run Baywatch di televisi dan terpesona dengan Pamela Anderson, sehingga nekat ingin menikahinya. Berhubung Ms. Anderson berdomisili di California, maka ia membujuk sang produser untuk pergi ke California, walau tentu saja ia tidak berani menyatakan alasan sebenarnya. Berhubung Azamat sang produser takut naik pesawat di Amerika akibat peristiwa 9/11, maka mereka memtuskan untuk melakukan perjalanan darat. Maka dimulailah road-trip mereka melintasi benua yang dipenuhi dengan petualangan kocak.

Dibuat dengan gaya dokumenter, ‘Borat’ hadir menjadi sebuah komedi yang gemilang. Dijamin akan membuat terpingkal-pingkal. Sascha Baron Cohen menampilkan penampilan luar biasa dalam karakter rekaannya ini. Walau tampil dengan sedikit absurd, Borat merupakan salah satu karakter komedi yang fantastis yang pernah ada.

Meski ‘Borat’ tampil dengan sangat vulgar dalam komedinya, akan tetapi sebenarnya kekuatan utama ‘Borat’ adalah satir mengenai kehidupan masyarakat Amerika itu sendiri dan bagaimana miskonsepsi dan prejudis dalam memandang negara lain. Di awal film Borat berkata, "Although Kazakhstan a glorious country, it have a problem, too: economic, social and Jew. This why Ministry of Information have decide to send me to U S and A greatest country in a world! to learn a lessons for Kazakhstan."
Rasanya penggalan ini sudah cukup menjelaskan apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh film yang berjudul lengkap ‘Borat: Cultural Learnings of America for Make Benefit Glorious Nation of Kazakhstan’ ini.

Dan memilih road-movie sebagai bentuk narasi film adalah pilihan yang tepat untuk menjalankan misi film ini sebenarnya. Penggunaan unsur SARA dalam film ini dapat dimaklumi karena berperan sebagai alat satir dan ‘Borat’ menggunakanya dengan tepat sebagai komedi, sehingga rasanya tidak perlu menyinggung pihak-pihak tertentu.


‘BANGKU KOSONG’: Bangku Penyebar Teror Yang Kurang Menyeramkan

Monday, April 9th, 2007

Produksi: Starvison (2006)
Sutradara: Helfi CH. Kardit
Cast: Adhitya Putri, Cathy Sharon, Bella Esperance, Tities Saputra, Zhi F.

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 90"
Release Date: 16 November 2006
My Grade: 2.5 out 5

Bangku_kosong
Ibu Grace (Cathy Sharon) ditempatkan untuk mengajar di sekolah khusus perempuan, Permata Putri untuk menggantikan ibu Melisa (Reza Artamevia) yang keluar karena tidak tahan akan prilaku badung siswi-siswi di sekolah tersebut terutama Adela (Zhi F), anak penyumbang dana terbesar di yayasan dan dua orang temannya Nancy (Tania) dan Destin (Nadya Hassan). Di sekolah tersebut terdapat satu bangku yang dibiarkan kosong dan tidak dizinkan oleh ibu Janet (Bella Esperance), sang kepala sekolah, untuk ditempati oleh siswi manapun, karena dianggap bisa mencelakakan sang siswi. Namun, ibu Grace yang keras kepala mengindahkan larangan tersebut dan malah menyuruh Dinda (Adithya Putri) untuk menduduki bangku tersebut. Walaupun kemudian Dinda bertingkah seperti kerasukan dan kertas-kertas yang beterbangan di seluruh kelas, anehnya ibu Grace tetap tidak percaya akan keghaiban yang melingkupi bangku tersebut. Barulah kemudian saat Dinda dan bahkan dirinya dihantui oleh sosok perempuan misterius, mereka mulai menyelidiki rahasia apa yang berada dibalik bangku kosong tersbut.

Helfi Ch. Kardit (Seventeen), sang sutradara menyebutkan jika film ini terinspirasi dari kejadian nyata. Memang, beberapa waktu yang lalu heboh tentang kesurupan masal siswa-siswa SMU, namun jika mereka kesurupan dikarenakan bangku kosong dikelas mereka, rasanya perlu dipertanyakan lagi. Walau begitu bangku kosong di film ini sukses dipakai sebagai gimmick untuk cerita horor yang ingin disampaikan, mengkuti pola yang sering dipakai film-film horor keluaran Jepang dan Korea.

Helfi Ch. Kardit tampaknya mengetahui benar bahwa cerita juga penting daripada hanya membangun suasana seram, dibandingkan seorang sutradara Indonesia yang clueless tapi sering sekali menggarap film dengan tema seperti ini (Koya Pagayo, halloooo?). Bukan berarti Bpk. Kardit ini lebih baik dari Koya Pagayo, akan tetapi tidak lebih jelek pula. ‘Bangku Kosong’ jelas-jelas tampil dengan sangat pretensius dengan mengulangi pola film terdahulu yang lebih mapan. Walau kadar keseraman yang kurang terjaga dan pengaruh sinetron yang cukup kuat dicerita dan karakternya, namun setidaknya ‘Bangku Kosong’ mampu bercerita dengan cukup lancar dan kita sebagai penonton tidak hanya melulu diperlihatkan penampakan-penampakan yang tidak perlu. Ide twist di endingnya juga lumayan kreatif walau eksekusinya sangat lemah sekali, sehingga mengurangi kekuatan film yang telah dibangun sebelumnya.

Dari segi akting pun para pemainnya masih terkena sindrom akting ala sinetron yang berlebihan. Hal yang sama pun mau tidak mau berimbas untuk aktris senior Bella Esperance yang terlalu over-the-top. VJ MTV, Cathy Sharon, yang menjadikan film ini sebagai debutnya, menampilkan akting yang mentah dan perlu untuk belajar banyak lagi. Yang menyolok dengan akting yang cukup alami justru Adhitya Putri karena dengan lumayan menarik mengekspresikan kegelisahan dan ketakutan yang diinginkan skenario. 

Dan kemudian pertanyaannya adalah apakah ‘Bangku Kosong’ termasuk film yang jelek? Saya rasanya tidak berani menyebutkan seperti itu, karena film ini rasanya cukup "bernyawa" dan hasil akhirnya tidak lebih buruk dibandingkan dengan beberapa film horor Korea atau malah Jepang yang sering beredar akhir-akhir ini.


‘NAGABONAR’: Komedi Satir yang Berhasil

Monday, April 2nd, 2007

Produksi:  Demi Gisela Citra Sinema/Bumi Prasidi Bi-Epsi (2007)
Sutradara: Deddy Mizwar
Cast: Deddy Mizwar, Tora Sudiro, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Mike Muliadro, Darius Sinathrya, Uli

Genre: Komedi/Drama
Durasi: 100"
Release Date: 29 Maret 2007
My Grade: 4 out 5

Nagonar_jadi_2_ii_1

21 tahun yang lalu sineas kenamaan Asrul Sani mereka sebuah karakter yang sangat fenomenal bernama Nagabonar. Dalam narasi komedi-satir yang jenial ia berhasil membawa semangat patriotisme dalam bentuk yang lain dari biasanya. ‘Nagabonar’ juga didukung dengan fantastis oleh aktor kawakan Deddy Mizwar yang dengan sangat meyakinkan meniupkan ruh kedalam rangka tubuh Naga Bonar yang kemudian membuat hidup si pencopet-yang-menjadi-jendral. Kini film klasik tersebut telah mempunyai sekuel yang menyebutkan ‘Nagabonar Jadi 2′.

Apakah memang si Nagabonar (Deddy Mizwar, Kiamat Sudah Dekat, Ketika) jadi dua? Ternyata yang betul adalah si Nagabonar ini telah mempunyai anak laki-laki yang bernama Bonaga (Tora Sudiro, Arisan!, D’Bijis), hasil perkawinannya dengan Kirana (dulu diperankan oleh Nurul Arifin) yang telah meninggal dunia. Bonaga, berbeda dengan bapaknya, adalah seorang pria kosmopolitan yang sukses dan mempunyai pendidikan yang tinggi. Telah mempunyai perusahaan sendiri dan selalu ditemani oleh ketiga teman sekaligus assistennya, Pomo,(Darius Sinathrya, D’Bijis), Ronni (Uli Herdinansyah, Pesan dari Surga), dan Jaki (Mike Muliadro, Virgin, I Love You Om). Walau begitu, pada dasarnya anak sama saja dengan bapaknya, karena Bonaga adalah perwujudan Nagabonar yang jujur, bertanggungjawab, dan juga sama-sama tak mampu menyatakan cinta pada wanita, sebagai pria kontemporer yang hidup ditengah dunia kapitalisme yang cenderung hedonis. Masalah timbul saat Bonaga ingin menjual perkebunan bapaknya di Sumatera Utara, karena ingin membangun resor yang merupakan investasi pihak asing (Jepang!). Masalahnya, di perkebunan tersebut juga merupakan makam ibu, istri dan teman Nagabonar, si Bujang. "Apa kata dunia?" merupakan jargon yang sering diucapkan Nagabonar dalam menyikapi masalah ini. Maka Bonaga memboyong sang bapak ke Jakarta untuk melihat konsep resor yang akan dibangun. Karena sadar akan adat bapaknya yang keras, maka Bonaga meminta tolong kepada Monita (Wulan Guritno, Gie, Kejar Jakarta) konsultan bisnis yang dicintai-tapi-tak-berani-mengungkapkan-nya, untuk memberi penjelasan kepada sang bapak. Nagabonar sangat terkesan terhadap Monita dan berusaha menyatukannya dengan Bonaga, karena ia tahu Bonaga tidak akan berani mendekati Monita. Sementara itu, Nagabonar juga berkenalan dengan Umar (Lukman Sardi, Berbagi Suami, Jakarta Undercover), seorang sopir Bajaj yang merupakan anak almarhum pejuang kemerdekaan. Bonaga sangat tersentuh melihat kesederhanaan Umar, sementara dulu ayahnya berjuang untuk kemederdekaan negeri ini. Hal ini membuat sadar Nagabonar akan keberadaan era yang dihadapinya saat ini.

‘Nagabonar Jadi 2′ adalah tribut Deddy Mizwar terhadap film yang telah membesarkan namanya tersebut. Dengan semangat nasionalisme yang tinggi, ‘Nagabonar Jadi 2′ menjadi alat baginya untuk merefleksikan kondisi masyarakat yang cenderung carut-marut seperti ini dan yang seakan menjadi "kacang-lupa-kulitnya" tanpa harus menjadi alat propaganda yang berlebihan. sementara itu, selain sebagai penerus Nagabonar, karakter Bonaga disini juga merefleksikan perbedaan perspektif antara generasi yang juga berbeda zamannya.

Deddy Mizwar sendiri tentu saja kembali memainkan si Nagabonar. Hanya saja disini ia berkesempatan untuk menjadi pengarah dari skrip yang ditulis oleh Musfar Yassin (Ketika). Ditangannya film ini menyimpan kekuatan satir yang kuat dengan adegan-adegan yang kadang membuat kita bingung harus menangis atau tertawa. Pengadeganan dan elaborasi detil dalam film berjalan dengan akurasi yang telah dipikirkan sebelumnya sehingga film berjalan dengan mulus dan meyakinkan. Sebagai contoh bisa dilihat nanti disaat adegan Nagabonar dan Umar sedang berada didepan patung Jendral Soedirman yang tampil dengan sangat memorable atau adegan saat Nagabonar dan Bonaga secara simultan membuka jendela kamar masing-masing. Sangat Jenial!

‘Nagabonar Jadi 2′ seakan menjadi lompatan bagi Deddy Mizwar dalam karir sutradaranya. Film ini tampil dengan sangat berbeda dengan dua film sebelumnya yang cenderung tampil minimalis. Kali ini, selain mempunyai skrip yang kuat, Deddy Mizwar juga didukung dengan persiapan yang lebih matang, sehingga secara teknis film tampil dengan cukup menarik. Apalagi didukung oleh Yudi Datau (Arisan!, Ungu Violet) sebagai penata kamera yang berhasil memvisualkan cerita yang diinginkan dengan lebih impresif.

Tentu saja, berperan kembali sebagai Nagabonar bukan suatu hal yang sulit untuk Deddy Mizwar. Ditangannya, Nagabonar adalah Deddy Mizwar dan Deddy Mizwar adalah Nagabonar. Tidak ada komentar lain! Sementara itu, Tora Sudiro bermain dengan cukup meyakinkan, hanya saja dialek Bataknya rasanya perlu diperhatikan lagi. Sebagai orang asli Batak, bagi saya ke-Batak-an karakter Bonaga 
terasa superfisial dan berlebihan. Wulan Guritno dan Lukman Sardi bermain dengan cukup meyakinkan, walau trio Darius-Mike-Uli rasanya hadir sebagai ‘pemanis’ cerita saja.

Hanya saja, dibeberapa bagian, repetisi kalimat dan adegan terasa tidak penting. Belum lagi, sebagai sebuah sekuel, film ini merasa berkewajiban untuk menjelaskan banyak hal yang terjadi di film sebelumnya, sehingga terjadi penumpukan informasi yang harus diserap penonton. Namun hal tersebut rasanya tidak mengurangi kekuatan film. Bahkan, saya berani bilang, bolehlah secara kualitas ‘Nagabonar Jadi 2′ dibandingkan dengan versi aslinya.

‘Nagabonar Jadi 2′ adalah jenis film yang sangat menghibur sekaligus pembawa pesan dan keduanya sukses dijalankan oleh film ini. Dan dibandingkan dengan film lain yang juga membawa semangat nasionalisme (Gie, duh!), maka film ini terasa lebih tulus, tanpa beban atau pretensi dibelakangnya dan menjadikan ‘Nagabonar jadi 2′ sebagai tayangan yang sangat direkomendasikan.