‘KALA’: A Beautiful Potray of Dead in Time
Monday, April 23rd, 2007Sutradara: Joko Anwar
Durasi: 100"
Release Date: 19 April 2007
Film noir bukanlah ranah yang sering dijamah oleh insan film di Indonesia. Tergerak oleh semangat dan motivasi pembaruan dalam dunia sinema Indonesia, Joko Anwar (Janji Joni) kembali dalam film keduanya ditahun 2007 ini dengan ‘Kala’ atau dulu dikenal dengan ‘Dead Time’.
Alkisah, disuatu negara antah berantah, yang entah mengapa mirip sekali dengan Indonesia, seorang detektif polisi bernama Eros (Aryo Bayu, Bangsal 23, Pesan Dari Surga) yang menyelidiki kematian seorang laki-laki yang dibakar oleh massa. Sementara itu, penyelidikan yang serupa dilakukan oleh Janus (Fachry Albar, Alexandria, Jakarta Undercover), seorang wartawan penderita narcolepsy yang tengah proses cerai dengan istrinya, Sari (Shanty, Detik Terakhir, Berbagi Suami). Ditengah investigasi mereka yang berbeda jalannya, justru nasib mempertemukan mereka dalam upaya menguak misteri yang membaurkan antara mistis dan realita, sebelum korban-korban lain berjatuhan.
Tabik untuk Joko Anwar yang konsisten dalam membuat film yang entertaining, feel-different dan well-made. Film ini memadukan unsur-unsur horor, suspens, aksi, drama dan fantasi dalam bentuk noir-thriller yang sangat jenial. Ini menunjukkan betapa luasnya referensi film yang dimiliki oleh Joko Anwar dan pembuktian eksistensi dirinya sebagai pencinta film. Hal ini tentu saja berkorelasi positif terhadap visi dan misinya dalam membuat sebuah film. Salut juga untuk MD Pictures, dalam produksi perdananya, mau mengeksplorasi jenis film baru seperti ini yang mungkin tak terbayangkan oleh PH atau produser lainnya.
Secara teknis ini film yang cantik, nyaris tanpa cela. Desain produksinya cukup matang, didukung kekuatan artistik yang kuat dan sinematografi yang kinetis. Urusan efek khususnya termasuk tampil dengan meyakinkan dan tidak mengecewakan alias mulus. Yang unik, film ini seakan menunjukkan jika film Indonesia juga piawai dalam menampilkan adegan-adegan gore. Jadi yang gampang mual, siap-siapkan perut Anda sebelum menonton.
Hanya saja, dengan memakai banyak elemen berbagai genre disini, film terasa seperti memiliki ambiguitas makanan gado-gado. Juga terasa sekali pergulatan antara semangat populis dan art-house dalam olahannya, dimana keduanya berusaha saling mendominasi dalam memberi rasa. Akan tetapi, jika memang diibaratkan gado-gado, maka gado-gado yang terasa lezat dan nikmat sekali dan rasanya ingin minta tambah saja.
Film berjalan dengan ciamik. Dengan unsur cerita berdasarkan mitos yang lekat dengan kehidupan kita, Joko Anwar yang juga bertindak sebagai penulis skrip ini, merangkainya menjadi sebuah teori konspirasi bernuansa politis serta kritik sosial yang dinarasikan dengan kekuatan suspens yang terjaga. Joko berhasil memunculkan adegan-adegan yang bernas dan berhasil untuk membangun suasana. Tentu saja, ini bukanlah film yang sempurna. Ada beberapa adegan yang rasanya tidak perlu, lubang dalam cerita yang harus ditambal, beberapa dialog yang terasa kurang mengena atau salah tempat dan eksekusi adegan klimaks yang rasanya kurang smooth. Namun, semua itu hanya bagian minor dari film ini. Film ini terlalu bagus untuk dapat dikalahkan oleh aspek negatifnya.
Kuartet Fachry Albar, Aryo Bayu, Shanty dan Fahrani tampil maksimal dengan kolaborasi akting yang cukup solid, sehingga impresi yang ingin disampaikan bisa dirasakan oleh penontonnya. Film ini didukung pula oleh come-backnya aktor kawakan August Melaz, setelah stagnansi selama hampir dua dekade dalam industri sinetron. Setelah Barry Prima di ‘Janji Joni’ (2005) dan kini August Melaz, penasaran jadinya siapa lagi aktor lawas yang bakal diajak Joko di film berikutnya.
Kala adalah jelas salah satu film terbaik di tahun ini bagi saya. Joko Anwar menujukkan jika ia adalah seorang sutradara dengan tingkat integritas yang tinggi dan seandainya Indonesia punya beberapa lagi sineas sekaliber Joko, maka niscaya kebangkitan film Indonesia bukanlah sebuah utopia.








