‘6:30′: Membosankan dalah ‘Dosa’ Terbesar Film Ini
Sutradara: Rinaldi Puspoyo
Durasi: 105"
Release Date: 09 November 2006
Alit (Adilla Dimitri), seorang pemuda Indonesia yang telah menetap selama 5 tahun di San Fransisco, Amerika Serikat. Teman serumahnya adalah Bima (Winky Wiryawan, Jelangkung, Berbagi Suami) yang sekaligus adalah sahabatnya. Dikarenakan dikesokan harinya Alit akan kembali ke Indonesia, maka Bima dan Tasya (Dinna Olivia, Tusuk Jelangkung, Belahan JIwa), mantan pacar Bima yang sekaligus objek cinta terpendam Alit, memutuskan untuk bersenang-senang dalam satu hari dan satu malam terakhir mereka bersama Alit di San Fransisco. Dari waktu yang terbatas tersebut, friksi yang kemudian terjadi diantara mereka harus dituntaskan. Demikian inti cerita dari film yang berjudul ‘6:30′ ini. Mengapa judulnya seperti itu? Hal ini dikarenakan film ini berseting waktu dimulai dari pukul 6:30 pagi sampai keesokan harinya dalam waktu yang sama.
Ide cerita ‘6:30′ sebenarnya cukup menarik, dimana nilai-nilai persahabatan diuji saat perasaan bermain didalamnya dan pada akhirnya akan menuju sebuah proses yang signifikan terhadap pendewasaan karakter utamanya. Alit adalah sosok happy-go-lucky yang ringan memandang kehidupan, Bima adalah tipe pria kutubuku yang serius dan Tasya dengan perspektif free-spiritednya. Dengan perbedaan karakter tersebut idealnya akan memberi dinamika yang fluktuatif terhadap perkembangan cerita.
Rinaldi Puspoyo, sang pengarah film, sungguh beruntung, karena kabarnya film yang telah beredar luas di layar biokop ini sebenarnya adalah tugas akhir dari sekolah film yang diikutinya di Amerika sana. Sangat jarang sekali, seorang sutradara yang mendapat anugrah seperti itu. Hanya saja, setelah menyaksikan secara utuh filmnya, rasanya memang sebaiknya film ini disiapkan sebagai sebuah tugas akhir saja yang kemudian diapresiasi oleh kalangan terbatas, daripada diedarkan secara massal, karena secara kualitas kurang dapat menjual.
Feel yang didapat terhadap Rinaldi Puspoyo sehabis menyimak ‘6:30′ adalah dia merupakan seorang sutradara yang berbakat. Akan tetapi film ini tampil dengan sentuhan yang terlalu personal yang mungkin hanya dapat dinikmati oleh Rinaldi. Lagipula, dengan kurangnya pengalaman serta jam terbang Rinaldi menyebabkan film ini rasanya sangat sulit untuk mengkomunikasikan ide dan visi film kepada para penontonnya. Sepanjang durasinya yang lumayan panjang, film hanya bercerita dan bercerita saja dalam tempo yang sangat monoton sehingga mengundang rasa kebosanan yang besar. Dan dosa terbesar dari sebuah film adalah jika film tersebut membosankan!
Adilla Dimitri sendiri adalah teman sekamar Rinaldi saat di Amerika. Wajar, sebagai debutan yang memulai karir akting professional, ia perlu banyak belajar. Adilla sendiri tampak berusaha keras menjiwai perannya. Hanya saja ia kurang berhasil membangun interest penonton terhadap karakter yang dimainkannya. Padahal karakter tersebut merupakan karakter inti dari film ini. Hal inilah yang menyebabkan penonton kemudian pun menjadi kurang interest lagi dengan jalan cerita secara keseluruhan. Winky Wiryawan dan Dinna Olivia sendiri tidak memperlihatkan kekuatan akting mereka yang sebenarnya. Tapi, kalau ditanya kesaya, ini disebabkan karena sang sutradara yang kurang pandai mengekstrak talenta yang dimiliki bintang-bintang kelas A tersebut.
‘6:30′ akhirnya tampil dengan sia-sia. Ide cerita yang sebenarnya menarik menjadi basi akibat eksekusi film yang kurang matang dalam konsep. Dan Rinaldi Puspoyo seharusnya juga menyadari jika hendak mengerjakan sebuah proyek film eksperimen, sebaiknya jangan digunakan untuk ‘menyiksa’ orang-orang yang telah mengeluarkan uang untuk menonton film di bioskop!