‘BANGKU KOSONG’: Bangku Penyebar Teror Yang Kurang Menyeramkan
Produksi: Starvison (2006)
Sutradara: Helfi CH. Kardit
Cast: Adhitya Putri, Cathy Sharon, Bella Esperance, Tities Saputra, Zhi F.
Release Date: 16 November 2006

Ibu Grace (Cathy Sharon) ditempatkan untuk mengajar di sekolah khusus perempuan, Permata Putri untuk menggantikan ibu Melisa (Reza Artamevia) yang keluar karena tidak tahan akan prilaku badung siswi-siswi di sekolah tersebut terutama Adela (Zhi F), anak penyumbang dana terbesar di yayasan dan dua orang temannya Nancy (Tania) dan Destin (Nadya Hassan). Di sekolah tersebut terdapat satu bangku yang dibiarkan kosong dan tidak dizinkan oleh ibu Janet (Bella Esperance), sang kepala sekolah, untuk ditempati oleh siswi manapun, karena dianggap bisa mencelakakan sang siswi. Namun, ibu Grace yang keras kepala mengindahkan larangan tersebut dan malah menyuruh Dinda (Adithya Putri) untuk menduduki bangku tersebut. Walaupun kemudian Dinda bertingkah seperti kerasukan dan kertas-kertas yang beterbangan di seluruh kelas, anehnya ibu Grace tetap tidak percaya akan keghaiban yang melingkupi bangku tersebut. Barulah kemudian saat Dinda dan bahkan dirinya dihantui oleh sosok perempuan misterius, mereka mulai menyelidiki rahasia apa yang berada dibalik bangku kosong tersbut.
Helfi Ch. Kardit (Seventeen), sang sutradara menyebutkan jika film ini terinspirasi dari kejadian nyata. Memang, beberapa waktu yang lalu heboh tentang kesurupan masal siswa-siswa SMU, namun jika mereka kesurupan dikarenakan bangku kosong dikelas mereka, rasanya perlu dipertanyakan lagi. Walau begitu bangku kosong di film ini sukses dipakai sebagai gimmick untuk cerita horor yang ingin disampaikan, mengkuti pola yang sering dipakai film-film horor keluaran Jepang dan Korea.
Helfi Ch. Kardit tampaknya mengetahui benar bahwa cerita juga penting daripada hanya membangun suasana seram, dibandingkan seorang sutradara Indonesia yang clueless tapi sering sekali menggarap film dengan tema seperti ini (Koya Pagayo, halloooo?). Bukan berarti Bpk. Kardit ini lebih baik dari Koya Pagayo, akan tetapi tidak lebih jelek pula. ‘Bangku Kosong’ jelas-jelas tampil dengan sangat pretensius dengan mengulangi pola film terdahulu yang lebih mapan. Walau kadar keseraman yang kurang terjaga dan pengaruh sinetron yang cukup kuat dicerita dan karakternya, namun setidaknya ‘Bangku Kosong’ mampu bercerita dengan cukup lancar dan kita sebagai penonton tidak hanya melulu diperlihatkan penampakan-penampakan yang tidak perlu. Ide twist di endingnya juga lumayan kreatif walau eksekusinya sangat lemah sekali, sehingga mengurangi kekuatan film yang telah dibangun sebelumnya.
Dari segi akting pun para pemainnya masih terkena sindrom akting ala sinetron yang berlebihan. Hal yang sama pun mau tidak mau berimbas untuk aktris senior Bella Esperance yang terlalu over-the-top. VJ MTV, Cathy Sharon, yang menjadikan film ini sebagai debutnya, menampilkan akting yang mentah dan perlu untuk belajar banyak lagi. Yang menyolok dengan akting yang cukup alami justru Adhitya Putri karena dengan lumayan menarik mengekspresikan kegelisahan dan ketakutan yang diinginkan skenario.
Dan kemudian pertanyaannya adalah apakah ‘Bangku Kosong’ termasuk film yang jelek? Saya rasanya tidak berani menyebutkan seperti itu, karena film ini rasanya cukup "bernyawa" dan hasil akhirnya tidak lebih buruk dibandingkan dengan beberapa film horor Korea atau malah Jepang yang sering beredar akhir-akhir ini.