‘HATE CRIME’: Homophobia Juga Manusia
Sutradara: Tommy Stovall
Durasi: 104"
Release Date: 14 Januari 2005 (USA)
Dengan memakai judul yang provokatif seperti ‘Hate Crime’, maka kita mengharapkan sebuah drama dengan unsur politis yang kuat. Namun, ternyata sutradara Tommy Stovall lebih memilih bentuk thriller dalam drama yang diusungnya ini. Berkisah tentang pembunuhan seorang pria gay yang bernama Trey McCoy (Brian J. Smith), yang pelakunya dicurigai adalah tetangga baru mereka, Chris Boyd (Chad Donella, Final Destination), karena sang tetangga yang anak pendeta Boyd (Bruce Davison, The X-Men) ini mempunyai latar belakang homophobia yang kental. Penyelidikan yang dilakukan oleh Sgt. Esposito (Giancarlo Esposito) tidak memuaskan ibu Trey, Barbara McCoy (Cindy Pickett) dan kekasih Trey, Robbie Levinson (Seth Peterson), sehingga mereka memutuskan untuk mengungkap kasus ini dengan cara mereka sendiri.
Memakai alur yang melodramatis bukan berarti ‘Hate Crime’ menjadi tayangan yang cenderung cengeng, melainkan cukup kuat dalam unsur suspensnya. Dengan memilih penceritaan yang mirip kepingan, maka ‘Hate Crime’ mengarahkan penontonnya untuk merangkum cerita dan mengungkap kejutan-kejutan yang tersimpan di plotnya, walau sebenarnya film ini telah memberi petunjuk yang cukup jelas di adegan-adegan sebelumnya. Ini menyebabkan kita membutuhkan kecermatan dalam menyimak film ini, karena jika tidak bisa saja film berubah menjadi membosankan dan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan. Apalahi sang sutradara memilih pace yang cukup lambat dalam menyampaikan ceritanya.
Prejudis dan stigma yang dilekatkan pada kalangan homoseksual memang rentan sekali dengan kekerasan yang kemudian diterima oleh persona yang mempunyai orientasi seksual seperti ini. Sementara itu, pelaku homophobia itu sendiri sebenarnya adalah karakter yang tidak kalah kompleks dan tidak mudah tertebak. Karakter Chris Boyd disini digambarkan sebagai karakter dengan beban psikis yang rapuh dan mengakibatkan dirinya terseret dalam ambiguitas yang membingungkan dirinya sendiri. Walaupun beraura negatif, namun film ini sendiri tidak mencoba memojokkan karakter Chris Boyd dengan begitu saja sehingga mau tidak mau kita bersimpati dengan karakter tersebut.
Unsur yang paling fundamentalis dari film ini kemudian adalah mempertanyakan keabsahan dari moralitas itu sendiri. Apakah orang yang didalam sebuah komunitas dianggap menjujung nilai-nilai moralitas kemudian tidak akan melakukan perbuatan yang menyimpang dari sisi moralitas tersebut. Dan jika kemudian sistem mendukung subordinasi kaum moralitas terhadap pihak yang termarginalisasi, apakah harus dilakukan resistensi secara frontal atau lebih memilih "jalan belakang".
Dilema-dilema seperti ini yang ingin dibicarakan oleh ‘Hate Crime’. Walaupun rasanya film ini tidak dapat secara gamblang menjawab pertanyan-pertanyaan tersebut, akan tetapi setidaknya sebagai sebuah cerita fiksi, ia mampu bercerita dengan cukup menarik dan meyakinkan.