Archive for April, 2007

‘ETERNAL SUMMER’: Deeply Moving and Provocative

Monday, April 2nd, 2007

Produksi:  Three Dots Entertainment Compan (2006)
Sutradara: Leste Chen
Cast: Bryan Chang, Joseph Chang Hsiao-chuan, Kate Yeung

Genre: Drama
Durasi: 95"
Release Date: 13 October 2006 (Taiwan)
My Grade: 3.5 out 5

SummerSebagai kelompok yang termarginalisasikan, kaum homoseksual jarang sekali mendapatkan porsi yang signifikan dalam narasi sebuah film. Tapi itu mungkin beberapa tahun yang lalu, karena akhir-akhir ini semakin banyak saja sineas dari berbagai pelosok Bumi yang menjadikan kelompok minoritas tersebut sebagai subjek pencerita dalam film-film mereka, termasuk untuk seorang sutradara muda asal Taiwan, Leste Chen yang baru berusia 25 tahun saat mengarahkan ‘Eternal Summer’ (Sheng xia guang nian) yang meraih pemasukan box-office yang besar saat dirilis di Taiwan dan memperoleh 4 nominasi dalam Festifal Film Golden Horse di Taiwan di tahun 2006 lalu.

Diangkat dari novel karya Wang Chi-yao, ‘Eternal Summer’ bercerita tentang dua orang laki-laki yang telah bersahabat semenjak SD, Jonathan Kang Chen-sing (Bryan Chang) dan Shane Yu Shou-heng (Joseph Chang Hsiao-chuan). Shane adalah badut sekolah yang nyaris selalu mendapat hukuman dari guru karena sikap jailnya sedangkan Jonathan adalah seorang juara kelas. Pada mulanya mereka hanya teman sebangku biasa, sampai ibu guru meminta Jonathan untuk menjadi ‘malaikat pelindung’ bagi Shane dan membantu Shane dalam bersosialisasi dan studi. Tidak terasa mereka sudah akan mengakhiri bangku SMU dan akan memasuki masa kuliah. Datang siswi pindahan dari Hong Kong, Carrie (Kate Yeung, The Eye 10) yang penyendiri. Entah kenapa, Carrie menunjukkan perasaan suka terhadap Jonathan, sampai Carrie menyadari kalau sebenarnya Jonathan menyukai Shane lebih dari teman. Walau begitu, Carrie tidak kecewa dan malah semakin akrab dengan Jonathan. Sampai kemudian Shane menunjukkan rasa suka terhadap Carrie. Pada saat mereka telah memasuki masa kuliah, pada akhirnya Shane dan Carrie pun akhirnya pacaran, walau mereka memutuskan untuk tidak memberitahu Jonathan karena Shane menganggap akan menyakiti perasaan Jonathan, karena Shane menganggap Carrie sebagai mantan kekasih sahabatnya itu. Sementara itu, Jonathan semakin tersiksa karena memendam perasaan cintanya yang mendalam terhadap Shane. Pada saat ia mengetahui hubungan Shane dan Carrie, apakah kemudian ia merelakan mereka? Bagaimana dengan perasaan Shane sendiri untuknya?

Pada intinya, ‘Eternal Summer’ memakai struktur melodrama yang kental dan pola narasi yang cukup linear sehingga gampang diikuti. Namun film ini lebih dari sebuah cinta segitiga remaja biasa, karena sejatinya lebih bercerita tentang proses coming-of-age bagi kedua laki-laki yang bersahabat tersebut, dan menjadi lebih terelaborasi saat salah seorang dari mereka ternyata seorang homoseksual yang mencintai sahabatnya sendiri. Jika kemudian muncul karakter ketiga yang diwakili oleh seorang perempuan bernama Carrie, maka keberadaanya lebih hanya sebagai penambah dalam kompleksitas cerita. Jika saja karakter ini dihilangkan dan  film lebih fokus pada pengembangan karakter kedua karakter utamanya, mungkin film akan menjadi lebih solid.

‘Eternal Summer’ juga mencoba mengeksplorasi kesendirian dari sudut pandang karakter utamanya; Jonathan, Shane dan juga Carrie adalah orang-orang yang tidak mampu untuk mempunyai hubungan akrab dengan orang lain karena berbagai alasan masing-masing. Akan tetapi begitu terkoneksi satu sama lain, sehingga menjalin manage-a-trĂ³is yang mendalam.

Sehabis menyaksikan ‘Eternal Summer’, mau tidak mau saya menjadi teringat dengan film Jepang yang berjudul ‘Like Grains of Sands’ atau ‘Nagisa no Shindobaddo’ (1995) karya Ryosuke Hashiguchi, karena memakai pola cerita yang sama dan bahkan ‘Eternal Summer’ memakai pendekatan yang sama dalam berbagai adegan. Pengaruh yang cukup besar ini mungkin saja disebabkan karena Leste Chen terprovokasi oleh film tersebut, sehingga walau diangkat dari novel asli Taiwan, namun memiliki banyak kemiripan. Namun, jelas Leste Chen mempunyai gaya yang berbeda dari Ryosuke Hashiguchi dalam menggarap filmnya sendiri. Ryosuke memutuskan untuk mengeksekusi filmnya dengan tempo yang pelan dan gaya art-house yang realistis. Sedangkan Leste Chen lebih memilih pendekatan yang lebih popular dan kontemporer. Walau begitu, hasil akhirnya adalah masing-masing film tersebut tampil dengan subtilitas yang mengena dan pada akhirnya membuat kontemplasi yang mendalam bagi penontonnya.

‘Eternal Summer’ juga didukung oleh akting yang prima dari bintang-bintang mudanya. Bryan Chang cukup berhasil dalam menggambarkan ambiguitas karakter yang diperankannya begitu juga dengan Shane Yu dan Kate Yeung yang mengakomodir keinginan skenario dengan gemilang. Mereka tampil dengan dedikasi yang cukup menyeluruh dalam pendalaman karakter mereka.

Terlepas dari isu homoseksualitasnya yang mungkin tidak sesuai dengan kebanyakan orang, namun pada dasarnya ‘Eternal Summer’ adalah sebuah film yang menawan tentang persabatan, cinta dan nilai kejujuran serta pembelajaran menjadi dewasa. Mungkin film ini terlihat melodramatis dan cengeng, namun percayalah, film ini jauh dari bayang-bayang buruk, karena bagi saya, sebuah film yang berhasil memprovokasi orang lain adalah film yang berhasil. 


‘GHOST TRAIN’: Jenis Tipikal J-Horror Kontemporer. Tapi Setidaknya Sangat Menghibur

Monday, April 2nd, 2007

Produksi: Shochiku (2006)
Sutradara: Takeshi Furusawa
Cast: Erika Sawajiri, Chinatsu Wakatsuki, Shun Oguri, Aya Sugimoto, Itsuji Itao, Miyoko Asada

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 93"
Release Date: 30 September 2006 (Jepang)
My Grade: 2.5 out 5

Ghost_train Rasanya, selain  di Indonesia, tema horror memang tidak ada padamnya bagi masyarakat Asia, terutama Jepang. Perfilman Jepang termasuk yang paling rajin dalam memproduksi film dalam genre ini. Tentu belum hilang dari ingatan kita film-film seperti The Ring, Dark Water, Ju On, Pulse dan One Missed Call yang kesemuanya telah di-remake oleh Hollywood. Bahkan era horror Asia ini memang dimulai dari keberhasilan perfilman Jepang dalam menciptakan kreasi horror yang inventif sekaligus menakutkan. Namun, bagaimana dengan akhir-akhir ini? Rasanya kemonotonan tema juga mulai merasuki sineas-sineas disana, sehingga akhir-akhir ini jarang sekali hadir film horror yang fenomenal.

‘Ghost Train’ atau ‘Otoshimono’ diklaim sebagai film horror yang meraih penghasilan tertinggi kedua di Jepang pada tahun lalu. Lantas, apa yang membuat istimewa dari film ini sehingga menyedot banyak perhatian penonton disana?

Film berkisah tentang seorang siswi SMU bernama Nana (Erika Sawajiri, One Litter of Tears) yang kehilangan adiknya, setelah sang adik menemukan sebuah tiket di peron stasiun kereta api yang biasa mereka gunakan. Nana memutuskan untuk menyelidiki hilangnya sang adik sendiri, setelah pihak-pihak yang terkait kurang mempunyai solusi yang memuaskan bagi situasi yang dihadapinya. Ditempat lain, teman sekelasnya, Kanae (Chinatsu Wakatsuki) tengah diganggu oleh sosok perempuan misterius setelah menerima gelang yang ditemukan pacarnya di gerbong kereta api. Uniknya, dengan cara bagaimanapun ia tidak mampu untuk melepaskan gelang tersebut. Sementara itu, seorang masinis Kereta Api(Shun Ogiri, Azumi), dinonaktifkan oleh pimpinannya karena mengaku melihat hantu perempuan diatas rel dalam sebuah terowongan. Pada akhirnya, ketiga karakter ini bertemu dan mencoba untuk memecahkan misteri yang terjadi.

Setelah video, rumah, air, internet dan ponsel, kini giliran kereta api yang menjadi sarana dalam membangun ketegangan dalam sebuah film horror Jepang. Walau begitu, perfilman Korea sendiri telah mencuri start dengan memakai tema yang serupa melalui ‘Red Eye’ di tahun 2005 yang lalu.

Jujur saja, setelah menyaksikan filmnya saya memang merasa terhibur. ‘Ghost Train’ mempunyai beberapa adegan yang cukup mengagetkan, walau harus diakui rasanya film-film horror Jepang akhir-akhir ini semakin kurang saja dari intensitas kengerian dan keseramannya. Hal ini mungkin saja disebabkan karena semakin umumnya formula yang dipakai para sineas dalam membentuk pola cerita dalam filmnya. Belum lagi penggunaan teknik-teknik jenerik yang akhirnya menjadi klise dalam film jenis ini. Selama para sineas ini belum menemukan gaya yang lebih inovatif, maka kita akan tetap mengkonsumsi film-film yang bergaya sama.

Takeshi Kurusawa, sang sutradara, adalah mantan teman sekelas Takashi Simizu (Ju On, The Grudge) di Sekolah Film Tokyo dan juga assisten sutradara Kiyoshi Kurosawa (Kairo: Pulse) dalam beberapa filmnya, sehingga tidak mengherankan jika ia kemudian banyak terpengaruh oleh kolega-koleganya tersebut.

Walau ‘Ghost Train’ terlihat seperti film yang sangat tipikal, namun ia cukup berhasil dalam membangun kengerian melalui cerita yang runut dan  segi teknis yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga wajar jika kemudian memperoleh penghasilan yang besar di jajaran Box Office, tidak seperti beberapa film lokal yang sukses di pasaran tapi jeblok dari segi teknis.