‘THE GRAVEDANCERS’: Atmosferik. Sesuatu yang Jarang di Horror Hollywood
Sutradara: Dominic Purcell, Josie Maran, Clare Kramer, Marcus Thomas, Tchéky Karyo, Megahn Perry, Martha Holland
Durasi: 95"
Release Date: 18 November 2006 (USA)
‘The Gravedancers’ adalah bagian dari seri ‘After Dark Horrorfest’ yang menampilkan sejumlah film yang tidak berpeluang di layar lebar, namun berkesempatan diapresiasi oleh penggemar horor melalui media DVD. Terlepas dari bujet rendah yang kentara terlihat dari hasil akhir film ini, sebenarnya ‘The Gravedancers’ cukup layak untuk mendapat kesempatan yang lebih luas di layar bioskop, karena mempunyai segala aspek sinematis yang diperlukan sebuah film hiburan, dibandingkan dengan beberapa film yang beredar di bioskop namun sebenarnya lebih layak langsung dipaketkan dalam bentuk home-video (misalnya keluaran tahun 2006, ‘Stay Alive’).
Tiga orang sahabat, Harris McKay (Dominic Purcell), Kira Hasting (Josie Maran), dan Sid Vance (Marcus Thomas) memutuskan untuk mabuk-mabukan diatas makam teman mereka yang baru saja meninggal. Sid membaca sebuah kartu yang terdapat di makam tersebut dan tanpa mereka sadari isi kartu tersebut adalah mantera pemanggil arwah. Gawatnya lagi, arwah yang mereka panggil adalah orang-orang yang dulunya berkelakuan diluar kewajaran jika tidak dikatakan tidak waras. Mulailah kehidupan mereka menjadi tidak tenang, karena diganggu oleh penampakan-penampakan hantu-hantu tersebut, termasuk istri Harris, Allison (Clare Kramer). Mereka kemudian bertemu dengan Vincent (Tchéky Karyo) dan asistennya Culpepper (Megahn Perry), profesor di bidang paranormal yang mulanya tidak mempercayai mereka, sampai menyaksikan sendiri kejadian supernatural yang dialami oleh Sid. Bisakah Vincent kemudian membantu mereka dalam menghadapi hantu-hantu ini?
Dengan hanya nama-nama seperti Dominic Purcell (Prison Break, Primeval) dan Tchéky Karyo (Kiss of the Dragon, Taking Lives) yang cukup dikenal, maka jelas sebagai sebuah horor supernatural, ‘The Gravedancers’ lebih mengandalkan cerita serta suasana seram yang dibangun. Walau menggunakan formula umum dari genre ini, sutradara Mike Mendez, yang berpengalaman dengan film-film seperti ini, mampu memberikan cerita yang solid dan beberapa adegan yang cukup mengagetkan. Film ini juga ditunjang dengan spesial efek dan tata make-up yang meyakinkan, sehingga jujur saja, film ini jelas lebih baik daripada beberapa film mainstream yang keluar akhir-akhir ini. Bahkan dengan trend horor Asia yang tengah merebak juga dimanfaatkan oleh Mike Mendez dengan memakai visual yang mengambil ide dari ranah tersebut.
Sayangnya, menjelang akhir, rasanya adegan dieksekusi dengan terburu-buru sehingga film yang nuansa atmosferiknya sudah cukup kental berubah dalam mode aksi yang mengandalkan ketegangan. Padahal kengerian secara psikologis yang dielaborasi dengan cukup baik sebelumnya jika terjaga menjelang klimaks mungkin akan menjadikan film ini menjadi lebih mumpuni. Walau begitu, kelemahan tersebut hanya kelemahan minor bagi ‘The Gravedancers’, karena tetap saja film ini adalah sebuah paket hiburan yang memuaskan, terutama bagi penggemar horor yang kecewa dengan banyaknya so-called-horror keluaran Amerika akhir-akhir ini.