Archive for May, 2007

‘THE MESSENGERS’: Entertaining Yet Fail To Gives Creep

Monday, May 21st, 2007

Produksi: Columbia Pictures/Ghost House (2007)
Sutradara: Danny Pang & Oxide Pang
Cast: Kristen Stewart, Dylan McDermott, Penelope Ann Miller, John Corbett

Genre: Horor
Durasi: 84"
Release Date: 2 February 2007 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

MessengersVisi Pang bersaudara (Danny dan Oxide) saat memebesut ‘The Eye’ di tahun 2002 lalu akhirnya menarik perhatian Sam Raimi (Spider-Man) untuk mengajak mereka membuat film di Amerika, setelah sebelumnya Takashi Simizu sukses dengan ‘The Grudge’ versi Amerikanya di tahun 2004 lalu. Hanya saja, Pang bersaudara tidak mengarah-ulang film fenomenal mereka tersebut, melainkan sebuah cerita baru berdasarkan skrip oleh Mark Wheaton, seorang penulis Amerika. Berdasarkan resume Pang bersaudara, mereka biasanya membuat sebuah film berdasarkan skrip yang mereka tulis sendiri, sehingga mengeksekusi sebuah cerita karya orang lain tentu merupakan sebuah tantangan bagi mereka, karena mempunyai aspek serta visi-misi yang tentu berbeda dengan yang biasa mereka lakukan. Lantas kemudian hasilnya? Agak mengecewakan sebenarnya.

Roy (Dylan McDermott) dan Denise (Penelope Ann Miller) adalah sepasang suami istri yang pindah dari Chicago menuju sebuah tempat terpencil untuk membangun ladang bunga matahari. Bersama mereka turut anak mereka, Jess (Kristen Stewart), seorang remaja bermasalah berumur 15 tahun dan Ben, seorang balita. Pada mulanya kehidupan mereka berjalan normal dan biasa-biasa saja, sampai Jess yang mulai melihat penampakan-penampakan hantu di rumah mereka. Keadaan makin menggelisahkan karena hantu-hantu tersebut kelihatannya bertingkah semakin ofensif sementara tidak ada yang percaya kepadanya. Sedangkan Ben, yang Jess paham juga bisa melihat penampakan tersebut, tidak bisa berbicara sama sekali untuk mendukung pernyataanya. Lantas apa yang harus dilakukan oleh Jess? Apa yang diinginkan oleh hantu-hantu itu?

Danny dan Oxide tampak dengan keras berusaha memaksimalkan stempel yang biasa melekat pada film-film mereka, karena pengaruh horor Asia yang kental masih bisa disaksikan disini. Atmosfir seram dan aura terisolasi yang mencekam dibangun dengan cermat. Sayangnya skrip yang ditangani oleh Mark Wheaton tidak mendukung kredibilitas Pang bersaudara untuk menyajikan film yang menyeramkan secara intensif.

Mark Wheaton terlalu terpatok pada pola klise yang biasa didapat dari formula rumah berhantu. Belum lagi cerita di klimaks film yang rasanya paling menghancurkan kredibilitas film. Mark seharusnya menyadari jika yang paling penting untuk menciptakan horor tipikal adalah pembangunan cerita dan karakter serta aspek psikologis yang mendalam. ‘The Messengers’ sebenarnya punya akan hal itu, namun skrip tidak mengijinkan hal tersebut untuk dapat berkembang lebih lagi dan lebih tertarik untuk mengeksplorasi kengerian demi kengerian yang mengagetkan namun malah terkesan ‘basi’.

Namun, terlepas dari itu, ‘The Messengers’ sebenarnya cukup menghibur. Terutama karena didukung oleh akting menawan dari Kristen Stewart (Panic Room, Zathura). Ia berhasil menampilkan rasa ngeri yang cukup wajar dan mewujudkan karakter yang dinginkan oleh skripnya dengan cukup jenial. Tanpa kehadirannya, ‘The Messengers’ jelas akan lebih ‘basi’ lagi. Kristen Stewart jelas sekali adalah calon aktris watak masa depan.


‘200 POUNDS BEAUTY’: Cliche Yet Entertaining

Sunday, May 20th, 2007

Produksi: Showbox (2006)
Sutradara: Kim Yong-hwa
Cast: Kim Ah-joong, Jo Jin-mo, Kim Yeon-geon, Seong Dong-ill

Genre: Aksi/Petualangan/Fantasy/Drama
Durasi: 120"
Release Date: 14 Desember 2006 (KOREA SELATAN)
My Grade: 3 out 5

200_pounds_beauty‘200 Pounds Beauty’ atau ‘Minyeoneun Goirowa’ adalah komedi hit sensasional di tahun 2006 lalu, dengan mengumpulkan penonton hingga dalam kisaran 6.5 juta orang. Sebagai sebuah komedi ringan, tentu saja ini prestasi luar biasa. Sebenarnya apa sih yang membuat tertarik masyarakat Korea Selatan untuk berbondong-bondong menyaksikan film ini?

Hanna (Kim Ah-joong) adalah seorang gadis ceria, pekerja keras dan bersuara indah. Ia berprofesi sebagai penyanyai. Namun sayangnya, dikarenakan bobot tubuh yang besar, menyebabkan ia hanya dipakai sebagai penyanyi bayangan untuk superstar Ammi yang seksi. Ya, Ammi hanya cuap-cuap di panggung sedangkan Hanna yang bertugas untuk bernar-benar beranyanyi dibelakang panggung. Dengan bobotnya, tentu saja pihak label menolak untuk mengorbitkan Hanna. Hanna sendiri diam-diam menaksir produser musiknya, Sang-joong (Joo Jin-mo, dari epik ‘Musa’). Sadar akan kondisi fisiknya, tentu saja Hanna kemudian meredam keinginannya untuk mencintai Sang-joong dan hanya  bisa memuja sang produser secara rahasia. Walau begitu kelihatanya Sang-joong tulus bersahabat dengan Hanna. Suatu hari, Ammi dengan sengaja mempermalukan Hanna. Hanna semakin tertekan dengan kondisi fisiknya dan kemudian memutuskan untuk menghilang dari lingkungannya dan melakukan operasi plastik untuk mempermak penampilannya. Satu tahun kemudian, tidak ada seorangpun yang mengenalinya lagi, karena kini Hanna menjelma menjadi seorang perempuan cantik bernama Jenny. Kini Hanna alias Jenny siap menggapai mimpi-mimpinya, termasuk untuk mendekati Sang-joong dan menjadi penyanyi sebenarnya. Tentu saja Ammi yang tersingkir tidak mau tinggal diam begitu saja. Seperti telah kita duga, maka menjelang akhir film, rahasia masa lalu Jenny sebagai Hanna terancam untuk terbuka dan merusak kebahagian yang baru saja diraihnya. Tentu saja, happy ending kemudian bukan hal yang harus ditabukan.

Komedi yang mengandalkan orang bertubuh gemuk tentu bukan hal yang asing lagi, termasuk yang terabaru dari Eddy Murphy, ‘Norbit’. Bahkan tetangga kita, Malaysia, telah pula merangkai film dengan tema seperti ini dengan ‘Cinta Kolesterol’. Lalu, apa yang membedakan ‘200 Pounds Beauty’ dengan yang lainnya?

Terlepas dari humor-humornya yang cenderung ofensif terhadap orang gemuk, ‘200 Pounds Beauty’ jelas lebih mengandalkan komedi romantis sebagai jualannya. Jika sering menyaksikan banyak variasi jenis film ini, maka rasanya jalan cerita ‘200 Pounds Beauty’ sudah bisa tertebak.

Yang cukup mengganjal, efek khusus tubuh gemuk yang harus dilakoni oleh Kim Ah-joong sebagai Hanna terasa kurang alami, sehingga terlihat nampak dibuat-buat dan sedikit tidak wajar. Namun, ini kan bukan perfilman Amerika Serikat sana, sehingga masih bisa untuk dimaklumi.

Terlepas dari itu, ternyata ‘200 Pounds Beauty’ sukses dalam misinya dalam menghibur penonton. Film berjalan dengan tempo medium yang ternyata cukup efektif dalam menarasikan ceritanya yang cukup renyah untuk dicerna. Lagipula ‘200 Pounds Beauty’ ternyata menyimpan kekuatan satir dalam ceritanya, terutama terhadap prilaku operasi plastik dan dinamika dunia hiburan industri musik di Korea Selatan sana.

Dengan dukungan dialog yang kuat dan akting yang menawan dari Kim Ah-joong, ‘200 Pounds Beauty’ hadir dengan kekuatan dalam dramatisasi, film berhasil menepikan hal-hal klisenya. Walau mungkin tetap saja akan meninggalkan beberapa hal yang menggantung pertanyaan, ‘200 Pounds Beauty’ adalah pilihan yang cocok untuk merasakan cinta seorang perempuan bertubuh gemuk dalam balutan romantisme ala dongeng.


‘SPIDER-MAN 3′: The Not-So-Good Completist of Trilogy

Friday, May 11th, 2007

Produksi:  Columbia Pictures (2007)
Sutradara: Sam Raimi
Cast: Tobey Maguire, Kirsten Dunst, James Franco, Thomas Haden Church, Topher Grace, Bryce Dallas Howard, Rosemary Harris, J.K. Simmons, James Cromwell

Genre: Aksi/Petualangan/Fantasy/Drama
Durasi: 140
Release Date: 04 Mei 2007 (USA)
My Grade: 3 out 5

Spider_man_1Dengan keberhasilan ‘Spider-Man’ (2002) dan ‘Spider-Man 2′ (2004), maka jelas kehadiran ‘Spider-Man 3′ di tahun 2007 ini begitu ditunggu-tunggu oleh penonton yang sudah kadung menyukai film tersebut. Ditambah lagi dengan promosi dan distribusi film ditinggkat massive, jelas ‘Spider-Man 3′ mendapatkan atensi yang sangat tinggi dari kalangan penontonnya. Dalam waktu seminggu saja kabarnya film ini telah memecahkan berbagai rekor Box-Office. Lantas apakah film ini begitu istimewanya, sehingga kita harus tergesa-gesa memadati gedung bisokop untuk menontonnya? Rasanya tidak!

‘Spider-Man 3′ melanjutkan cerita yang ditinggalkan oleh bagian keduanya. Hubungan dan kehidupan antara Peter Parker (Tobey Maguire) dan Mary-Jane Watson (Kristen Dunst) kelihatannya semakin membaik saja dan bibi May (Rosemary Harris) menganjurkan Peter untuk melamar Mary-Jane. Sementara itu, Spider-Man, sang alter-ego Peter menunjukkan popularitas yang semakin tinggi saja dikalangan masyarakat. Sepertinya kehidupan sudah sempurna bagi Peter Parker, sampai teman masa kecilnya, Harry Osborn (James Franco) ingin membalaskan dendam ayahnya terhadap Spider-Man yang dianggapnya telah membunuh sang ayah, Green Goblin (Willem Dafoe). Dengan memakai alat-alat sang ayah, Harry bermetamorfosa sebagai Green Goblin Jr. Sementara itu polisi menginformasikan jika Flint Marko (Thomas Haden Church), pembunuh sebenarnya dari Paman Ben, telah melarikan diri dari penjara. Tanpa mereka sadari, Flint Marko telah menjelma menjadi mutan manusia pasir bernama Sandman, akibat bersembunyi disebuah tempat ekpsperimen. Rasa dendam kembali lagi memenuhi hati Peter dan saat sebuah mahluk parasit dari luar angkasa menginfeksi kostum Spider-Man dan merubah warnanya menjadi hitam, ini semakin menambah gelap karakter Peter Parker dan mengubahnya menjadi seseorang yang arogan. Walaupun kehidupannya terlihat semakin membaik, justru hubungannya dengan Mary-Jane malah semakin memburuk. Saat Peter merasakan kekuatan gelap dari kostumnya, maka ia memutuskan untuk membuangnya. Dan tepat disaat itu juga, Eddie Brock (Topher Grace), fotografer saingan Peter yang mendemdam padanya, kemudian diinfeksi oleh si alien parasit dan mengubahnya menjadi Venom, yang berniat membalas dendam pada Peter Parker alias Spider-Man. Sekali lagi Mary-Jane harus menjadi Damsel-in-Distress yang harus diselamatkan oleh Spider-Man.

‘Spider-Man 3′ jelas mengambil keuntungan dari sebuah trilogi, dengan kesempatan yang lebih terbuka untuk melanjutkan ceritanya. Sam Raimi terlihat sangat berniat menjadikan film ini sebagai penutup dari seri ‘Spider-Man’ dengan membuat segala sesuatunya lebih ekspresif, baik dari segi drama maupun aksinya. Jika dalam film-film sebelumnya hanya menyisakan ruang untuk satu Villain, maka dalam jilid ketiga ini hadir tiga karakter villain sekaligus. Ini merupakan nilai lebih dari ‘Spider-Man 3′ sekaligus kekurangannya.

Niat untuk menyatukan karakter-karakter favorit dari buku (termasuk karakter Gwen Stacy yang diperankan oleh Bryce Dallas Howard, namun tidak mempunyai signifikansi terhadap jalan cerita secara keseluruhan) menyebabkan beberapa kompromi yang menyebabkan jalan cerita serasa dipaksakan. Berbeda dengan film-film sebelumnya yang terasa solid karena mengksplorasi villainya dengan sangat komprehensif, justru villain-villain di film ini terasa menempel saja dengan kesatuan film secara keseluruhan). Hal ini terasa sekali pada karakter Venom, yang rasanya sangat kompleks dan lebih pas jika diletakkan di film sendiri. Hasilnya justru difilm ini rasanya Venom terasa sangat remeh dan dibutuhkan hanya untuk eksekusi adegan aksi di klimaksnya saja. Begitu juga dengan karakter Sandman, yang sebelumnya telah dibangun dengan humanis namun tidak begitu berkesan lagi menjelang akhir. Sementara itu konflik antara Peter dan Harry pun rasanya diselesaikan dengan gampang saja, padahal ambiguitas konflik diantara mereka telah dibangun dengan baik melalui dua film sebelumnya. 

Durasi yang dua jam duapuluh menit juga terasa kepanjangan, yang sebenarnya terjadi akibat adegan-adegan terasa kurang efektif. Film sebenarnya dapat menjadi lebih ringkas, namun Sam Raimi memutuskan untuk bertele-tele dalam dramanya. Bukannya saya anti adegan drama, hanya saja Raimi tidak dengan cukup baik menjadikan cerita yang menyentuh. Beberapa bagian justru terlihat konyol dan dangkal. Menyaksikan ‘Spider-Man 3′ seperti melihat dua film yang dipadatkan menjuadi satu dan sayangnya kedua film itu tidak saling mendukung melainkan saling bergeliat untuk menujukkan dominasinya. Adegan-adegan aksinya sendiri, walau menarik, namun tidak luar biasa apalagi memorable seperti dua film sebelumnya. Adegan aksi yang paling lemah justru berada di klimaksnya!

Setelah menyaksikan film ini secara keseluruhan, saya rasa ekpektasi untuk film hiburan musim panas yang menghibur memang tercapai. Tapi, jika dibandingkan dengan ‘X-Men: The Last Stand’ (2006) yang terasa sangat pas dalam mengeksekusi film tersebut sebagai penutup sebuah trilogi, ‘Spider-Man 3′ justru jauh dari memuaskan dan membuat kita berfikir film ini tidak begitu penting dan berharap sebaiknya film diakhiri di seri kedua saja.

‘LITTLE CHILDREN’: We Are Still The Children Deep Inside

Friday, May 11th, 2007

Produksi:  New Line Cinema (2006)
Sutradara: Todd Field
Cast: Kate Winslet, Patrick Wilson, Jennifer Connely, Jackie Earle Haley, Noah Emmerich, Phyllis Somerville, Greg Edelman

Genre: Drama
Durasi: 130
Release Date: 3 November 2006 (USA)
My Grade: 4.5 out 5

Little_children_xlg_1‘Little Children’ adalah sebuah drama dengan kekuatan dalam mengaduk emosi dalam balutan ceritanya namun tidak terjebak dalam tipikal pola umum melodrama yang mengharu-biru. Film berjalan dengan multi-karakter namun tetap fokus dalam penyampaiannya dan diakhiri dengan klimaks yang berkesan.

Jika ‘Sin City’ dan ‘300′ mengangkat secara harafiah bentuk komik dalam gambar gerak di layar sinema, maka pendekatan yang sama rasanya bisa diaplikasikan terhadap ‘Little Children’ ini. Diangkat dari novel berjudul sama karya Tom Perrotta, Todd Field (In The Bedroom) sang sutradara, bersama dengan sang novelis menulis skripnya dengan tetap menangkap jenialitas penceritaan yang biasa didapat saat membaca novel, terutama dengan penggunaan voice-over narator yang terasa sangat pas dalam mendeskripsikan dan mengantar jalan ceritanya.

Film bercerita tentang Sarah Pierce (Kate Winslet), seorang tipikal desperate housewive daerah suburban yang bertemu dengan seorang bapak rumah tangga Brad Adamson (Patrick Wilson). Walau Sarah telah bersuamikan Richard (Greg Edelman), yang terobsesi situs porno dan Brad beristrikan Kathy (Jennifer Connely), seorang pembuat film dokumenter yang sibuk, namun karena begitu menjemukannya kehidupan domestik mereka, sehingga sebuah ciuman iseng-iseng berujung dalam sebuah perselingkuhan yang panas. Di bagian lain kota, Ronnie McGorvey (Jackie Earle Haley), seorang pria berusia 48 tahun kembali untuk tinggal bersama dengan ibunya, May (Phyllis Somerville) yang sangat menyayanginya. Ronnie menderita psychosexual disorder dan baru keluar dari hukuman saat ia ‘menunjukkan’ dirinya pada seorang gadis kecil. Tentu saja banyak anggota masyakarat yang resah dengan kehadiran seorang pedofil di lingkungan mereka. Hal ini menggerakkan ketua siskamling yang mantan polisi, Larry Hedges (Noah Emmerich) untuk berkampanye dan menyebarkan selebaran menentang kehadiran Ronnie. Namun, Larry sendiri begitu depresi dengan kehidupannya sendiri sehingga membuka front terbuka dengan Ronnie.

Dengan dukungan akting menawan dari Kate Winslet, Patrick Wilson, Jackie Earle Haley dan Noach Emmerich, menyaksikan ‘Little Children’ seperti menyaksikan karakter-karakter nyata yang hidup dan kita saksikan sendiri dihadapan kita.  Adegan demi adegan berjalan efektif dan dengan lancar bercerita.
Meskipun berjudul ‘Little Children’, namun film ini adalah sebuah drama dewasa dengan pendekatan yang dewasa pula. Namun sebenarnya film ini mencoba memperlihatkan jika orang yang mengaku dewasa sebenarnya belum lepas dari jiwa kekanak-kanakan mereka. Film seakan membuktikan pernytaan "menjadi tua adalah keharusan namun menjadi dewasa adalah pilihan". Hasilnya adalah sebuah film yang menyentuh, kadang menyedihkan namun kadang menggelikan dan mampu memprovokasi diri kita sebagai penonton, sudah dewasakah kita sebenarnya?

‘THE FOUNTAIN’: A Quest For Eternal Life for The Eternal Love

Sunday, May 6th, 2007

Produksi:  Regency Pictures (2006)
Sutradara: Darren Aronofsky
Cast: Hugh Jackman, Rachel Weisz, Ellen Burstyn, Sean Patrick Thomas, Cliff Curtis

Genre: Drama/Fantasy
Durasi: 95"
Release Date: 22 November 2006 (USA)
My Grade: 4 out 5

Fountain_ver2_xlg
Apa sebenarnya intisari dari ‘The Fountain’, film karya Darren Aronofsky (Requiem for a Dream) ini? Pencarian akan hidup abadi atau melodarama tentang cinta sejati? Saya kira, setelah menyaksikan filmnya, merupakan gabungan keduanya. Dan menurut saya bukan hal yang jelek pula.

Cerita berjalan paralel antara Tomas (Hugh Jackman), seorang conquistador dari kerajaan Spanyol di abad ke 16, yang atas perintah Ratu Isabella (Rachel Weisz) menjelajah daerah suku Maya untuk mencari kebenaran Pohon Kehidupan yang telah diwartakan oleh Injil sebelumnya. Di abad ke 21, Tommy (Hugh Jackman), seorang dokter, tengah berusaha menemukan obat untuk menyembuhkan tumor di otak istri tercintanya, Izzi (Rachel Weisz), yang sedang menulis sebuah buku berjudul The Fountain yang menceritakan kisah yang terjadi di abad ke 16 sebelumnnya. Berpindah ke abad ke 26, saat seorang pria bernama Tom (Hugh Jackman) dan sebatang pohon melakukan perjalanan antargalaktik dalam sebuah gelembung menuju sebuah gugusan bintang dan sering melihat penampakan dari sosok perempuan bernama Izzi (Rachel Weisz).

Pertama-tama, saya harus mengingatkan, this movie is not for everyone cup of coffee. Diperlukan konsistensi dan atensi yang besar dalam menontonnya, jika tidak maka film akan terasa memusingkan dan sulit untuk dimengerti. Adegan-adegan di edit secara non-linear, sehingga seakan saling tindih satu sama lain. Padahal, jika kita cermati gaya tersebut diperlukan untuk menggambarkan emosi dalam narasinya. Arofnosky memanjakan dirinya dengan memadukan antara fantasi visual dengan naratif yang menggigit. Kadangkala terasa sangat filosofis atau malah absurd namun juga sangat menyentuh disisi lain.

Dalam kandungan drama yang pekat, ‘The Fountain’ seakan mengajak penontonya untuk mengkontemplasi hakikat dari kehidupan dalam mempertanyakan akan kekuatan sebuah cinta sejati, ketakutan menghadapi kematian dan hasrat mencapai hidup abadi. Penggambaran sang pohon pun tidak melulu hanya sebagai gimmick dalam narasinya, melainkan turut berperan sebagai salah satu karakter utama yang berperan penting dalam integralitas film secara keseluruhan. Sang Pohon sendiri seakan melambangkan sebagai sebuah circle of life yang mau tidak mau harus kita terima.

‘The Fountain’ seperti sebuah dongeng fantasi dalam gaya melodrama, sejarah, dongeng dan fiksi-ilmiah yang campur aduk. Mungkin saja Aronofsky terlalu over-the-top dalam menggarap film ini dan mungkin film ini terasa konyol. Tapi setidaknya ia terasa tulus dalam semangatnya untuk bercerita dengan skala luas seperti ini tanpa agenda tersembunyi tertentu. Ia hanya ingin bercerita, melalui fantasi visual, tentang seorang pria dan perempuan yang ia cintai serta ingin menemukan esensi hidup abadi agar tetap hidup selamanya dengan sang perempuan. Dan saat Hugh Jackman (walau pada beberapa adegan di abad ke 16-nya terasa Van Helsing sekali) dan Rachel Weisz bermain dengan baik sekali, film pun menjadi terasa lebih solid.


‘BOBBY’: A Social Commentary With Intensive Drama

Sunday, May 6th, 2007

Produksi: Weinstein Co. (2006)
Sutradara: Emilio Estevez
Cast: Anthony Hopkins, Harry Belafonte, William H. Macy, Sharon Stone, Christian Slater, Freddy Rodriguez, Laurence Fishburne, Demi Moore, Emilio Estevez, Martin Sheen, Helen Hunt, Lindsay Lohan, Elijah Wood, Heather Graham, Ashton Kutcher, Joshua Jackson, Nick Cannon, Brian Geraghty, Shia LaBeouf, Mary Elizabeth Winstead, Svetlana Metkina

Genre: Drama
Durasi: 119"
Release Date: 04 September 2006 (USA)
My Grade: 4 out 5

Bobby_ver2
Film dengan gaya interlocking story sepertinya tengah menjadi trend saat ini. Beberapa tahun terakhir ini beberapa film bergaya sejenis itu hadir dalam peta sinema, terutama di Hollywood. ‘Bobby’ merupakan karya penyutradaraan aktor era 80-an Emilio Estevez, yang bercerita tentang 22 orang di sebuah Hotel bernama Ambasador Hotel, satu hari sebelum peristiwa penembakan terhadap senator Robert F. Kennedy  atau yang lebih dikenal dengan Bobby. Saat itu Bobby seperti menjadi harapan baru bagi banyak orang karena dianggap mempunyai visi dan misi yang bersentuhan dengan banyak kalangan yang ada di masyarakat Amerika serikat.

Walau berjudul sama dengan nama panggilan Robert F. Kennedy tersebut, namun film tidak memfokuskan diri pada kehidupan Bobby, melainkan berbagai orang dari berbagai kalangan dan ras yang berada di hotel tersebut sehari menjelang dan pada saat peristiwa penembakan. Walau begitu footage asli dari aktifitas Bobby sebelum dan saat berada di hotel Ambassador dengan teliti berhasil dilekatkan dan menyatu dengan jalan cerita keseluruhan.

Dengan diversifikasi karakter dan latar belakang era 60-an, Emilio Estevez memanfaatkan filmnya sebagai medium baginya untuk menyampaikan kritisi sosial dalam beberapa aspek sekaligus, yang walaupun dalam film ini terjadi dalam situasi sosial-politik era tersebut, namun tetap bisa diaktualisasikan dalam konteks saat ini.

Meski punya banyak karakter dan cerita namun Estevez dengan mulus menyatukan mereka dan cerita berjalan dengan tempo sedang yang berjalan lancar. Adegan demi adegan dapat dimengerti dengan mudah. Dengan didukung akting dari berbagai bintang terkenal, maka ‘Bobby’ bagai menjadi paket yang wah dan dinamis. Dengan demikian ‘Bobby’ menempatkan diri sebagai film yang mungkin tidak begitu penting sebagai sebuah social commentary,namun dapat memberi kontribusi bagi penonton film yang ingin menikmati drama menawan dengan isi yang memikat.


‘ A TALE OF TWO SISTERS’: Magnifying The Horror Into Chilling And Captivating

Sunday, May 6th, 2007

Produksi:  Bom Film Production (2003)
Sutradara: Kim Ji-woon
Cast: Moon Geun-yeong, Im Soo-jeong, Yeom Jeong-ah, Kim Kap-soo

Genre: Horor/Drama
Durasi: 115 "
Release Date: 13 Juni 2003 (KOREA)
My Grade: 4 out 5

Twosisterbig2 Setelah ‘Ringu’ (1998) dan ‘Ju On’ (2003) memenangkan banyak perhatian dari banyak orang sebagai sebuah horor mencekam, sebenarnya ada satu film lagi yang bisa dianggap sebagai horor klasik dari Asia. Hanya saja film ini tidak berasal dari Jepang, melainkan Korea Selatan.

Di saat banyak film horor dari Korea Selatan mengekor atau plagiat dari film-film horor Jepang, maka ‘A Tale of Two Sisters’(Janghwa, Hongryeon) menunjukkan superioritasnya.’A Tale of Two Sisters’ jelas-jelas mengandung ambiguitas dalam ceritanya dan mencekam secara psikologis, level yang pada saat ini susah dicapai oleh banyak film horor. Horor psikologis merupakan ranah yang mungkin susah untuk dielaborasi, karena jika salah formula malah filmnya akan berubah menjadi menggelikan.

Su-mi (Im Soo-jeong, I’m A Cyborg But That’s OK) dan adiknya Su-yeon (Moon Geun-yeong, My Little Bride) merupakan sepasang kakak-adik yang sangat akrab dan mempunyai keterikatan emosional yang dalam. Setelah tampaknya baru melakukan sebuah perjalanan, mereka kembali lagi untuk tinggal disebuah rumah dipedesaan bersama ayahnya (Kim Kap-soo) dan ibu tiri yang neurotik (Yeom Jeaong-ah, Tell Me Something). Su-mi jelas-jelas menujukkan rasa tidaksukanya terhadap sang ibu tiri dan sering menentangnya sementara sang adik, Su-yeon, malah merasa sangat ketakutan bila berhadapan dengan sang ibu tiri. Jelasnya, SU-yeon tidak mampu membela dirinya sendiri terhadap sang ibu tiri yang mempunyai fluktuasi emosionalitas yang tidak jelas ini. Sang ibu tiri tidak segan-segan menghukum secara fisik Su-yeon jika dianggapnya melakukan kesalahan. Tidak lama mereka menetap dirumah tersebut Su-mi dan Su-yeon melihat penampakan hantu perempuan dan peristiwa-peritiwa aneh mulai terjadi. Sementara itu konflik antara kedua bersaudari dan sang ibu tiri semakin meruncing saja.

‘A Tale of Two Sisters’ dengan berani menentang konvensi horor tradisional dengan mengutamakan cerita dalam balutan drama yang kental. Perkembangan ceritanya  membuat otak kita untuk bekerja mencerna peristiwa yang terjadi sehingga kita kemudian merasa terikat untuk menyelesaikan film ini. Struktur yang dipakai oleh Kim Ji-woon sebagai sutradaranya tetap memakai pola yang umum dalam genre ini, hanya saja ia lebih menekankan pada perkembangan cerita yang cerdas dengan subtilitas pada karakterisasi yang menawan.

Tentu saja film ini tetap mempunyai adegan-adegan menyeramkan dalam atmosfir mencekam yang telah dibangun dengan sukses. Hanya saja dengan kedalaman psikologis dalam intensitas drama yang kental, film bukan hanya bertujuan untuk menakut-nakuti, melainkan menantang Anda untuk merekonstruksi kenyataan yang terjadi dalam film. Ini menyebabkan ‘A Tale of Two Sisters’ menjadi sebuah film horor yang beda dan lain daripada yang lain.

‘A Tale of Two Sisters’ adalah salah satu dari sedikit film yang mengundang diskusi antara sesama penonton setelah menyaksikannya. Dan bagi saya ini merupakan sebuah keberhasilan!


‘ANGKER BATU’: Misteri Kota Hantu

Wednesday, May 2nd, 2007

Produksi: Liquid;Media (2007)
Sutradara: Jose Poernomo
Cast: Yama Carlos, Mieke Amalia, Susilo Badar, Nuri Maulida, Imelda Therine, Bayu S. Virguna, Dan Kim

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 86"
Release Date: 26 April 2006
My Grade: 3
out 5

Angker_batuSeingat saya, Angker Batu adalah daerah tempat asal hantu dalam film ‘Jelangkung’ (2001) dan berada di sekitar Jawa Barat. Namun kini, oleh Jose Poernomo, yang dulu bersama dengan Rizal Mantovani (Kuntilanak) yang secara fenomenal menyukseskan film tersebut dan dianggap sebagai salah satu film terseram di Indonesia, Angker Batu dipindahkan ke pusat Jawa dan menjadi kediaman mahluk-mahluk halus, yang kemudian menginvasi ke dunia nyata setelah sebuah perusahaan Korea membabat wilayah hutan di kawasan tersebut. Sementara itu, seorang produser TV Korea untuk Indonesia, Yudha (Yama Carlos, Belahan Jiwa) berbegas menuju daerah tersebut bersama seorang reporter TV tersebut yang bernama Kanaya (Mieke Amalia, dari show TV Extravaganza) dan Warno (Susilo Badar) yang menjadi supir mereka, untuk menemukan dua awak TV mereka, Manda (Nuri Maulida, Me VS High Heels) dan Rino (Bayu S. Virguna) yang hilang disaat meliput demo masyarakat menentang penebangan hutan. Ketika akhirnya tiba di Angker Batu, kota tersebut sudah kosong melompong tiada berpenghuni layaknya kota Mati. Hanya seorang perempuan misterius (Imelda Therine, Satu Kecupan, Banyu Biru) yang mereka temukan. Dari perempuan tersebut, mereka kemudian mengetahui apa yang terjadi. Walaupun kemudian mereka mengalami teror supurnatural dari mahluk-mahluk halus tersebut, namun Yudha bertekad untuk menemukan kru-nya yang menghilang.

‘Silent Hill’ (2006) segera beresonansi dalam pikiran saya setelah menyaksikan film ini. Dengan mengambil tema yang serupa, maka mahluk zombie yang mengerikan pun diganti dengan berbagai mahluk halus yang familiar dengan kepercayaan masyakarakat kita (walaupun ada beberapa yang sepertinya ‘temuan’ Jose Poernomo sendiri). Dan rasa-rasanya, Jose Poernomo memang sangat terinspirasi dari sub-genre zombie movies tersebut, karena bagi yang sering menyaksikan film-film tersebut, maka pasti segera tahu jika film ini memakai banyak elemen dan formula yang sama (terutama ‘28 Days Later‘). Hanya saja, Jose Poernomo mencampurnya dengan gaya horor atmosferik yang umum dipakai sineas Asia. Dan tampaknya usaha Jose tersebut cukup berhasil.

Bujet yang tidak terlalu besar tampaknya cukup berpengaruh dalam hasil akhir presentasi film ini, tapi Jose berusaha menyikapinya dengan berkonsentrasi dalam membangun adegan yang sudah dipikirkan dengan matang, sehingga nuansa akopoliptik cukup tergambarkan. Aura keseraman yang diinginkan lumayan dapat dibangun melalui atmosfir yang creepy. Jose rasanya memang tahu benar apa yang ingin dilakukannya dalam genre seperti ini, sehingga walau film tampak berjalan dengan sangat formulatif, namun usaha Jose untuk membuat film horor yang berbeda dengan film-film horor Indonesia yang banyak beredar saat ini lumayan berhasil.

Skrip oleh Hilman Mutasi (Tak Biasa, 2004) juga tak ingin berkutat hanya dalam hal menakut-nakuti, akan tetapi juga menjaga konsistensi dalam bercerita bukan hanya mengandalkan penampakan. Unsur-unsur komedi tampaknya mengingatkan akan gaya dalam film-film horor era Suzanna. Walau begitu, unsur komedi dapat menyatu dengan baik dengan cerita sehingga tidak terkesan mengganggu. Hanya saja, rasanya kedalaman psikologis dari film-film horor asmoferik tidak tergali dengan oleh skripnya, sehingga yang terasa adalah film ini merupakan sebuah popcorn flick belaka.

Terlepas dari kelemahan-kelemahannya, ‘Angker Batu’ jelas beberapa tingkat lebih baik daripada film-film horor omong-kosong dari clueless director that claims himself as the best Indonesian horror director, bahkan dari banyak film horor yang beredar di Indonesia saat ini, termasuk ‘Kuntilanak’ karya Rizal Mantovani. ‘Angker Batu’ jelas adalah sebuah film yang memahami habitatnya dan obviously it’s a fun and entertaining movies.   


‘THE HITCHER’: Beware for The Hitchiker

Wednesday, May 2nd, 2007

Produksi: Rogue Pictures (2007)
Sutradara: Dave Meyers
Cast: Sean Bean, Sophia Bush, Zachary Knighton, Kyle Davis, Neal McDonough

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 84"
Release Date: 19 Januari 2007 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

Hitcher_1‘The Hitcher’ adalah remake dari film yang berjudul sama keluaran tahun 1986 lalu. Entah mengapa, Michael Bay, sebagai produser, giat sekali me-remake berbagai film horor lama yang telah dianggap klasik dalam versi yang lebih kontemporer. Ciri khas lainnya adalah sutradara-sutradara film remake tersebut umumnya kolega Michael Bay dalam ranah video klip, termasuk Dave Meyers, seorang sutradara video klip kenamaan dengan resume yang impresif. Namun, dalam film perdananya ini, tentu saja Dave Meyers masih dianggap sebagap pemula, karena media video televisi, walaupun tipis, mempunyai perbedaan dengan media film, terutama dalam unsur narasinya. Setelah menyaksikan film ini saya berani menyatakan jika Dave cukup mumpuni dalam menggarap sebuah fitur film, walau tentu saja jam terbangnya perlu ditambah lagi untuk dapat menjadi seorang sutradara yang berkelas.

Film bercerita tentang sepasang muda-mudi, Grace (Sophia Bush, Stay Alive, John Tucker Must Die) dan Jim (Zachary Knighton, The Prince and Me) yang melakukan perjalanan dengan mengendarai mobil melalui New Mexico untuk liburan musim Semi menemui teman-teman Grace. Pada suatu malam dan disasat hujan deras, seorang laki-laki berusaha menumpang mobil mereka. Namun insting Grace mengatakan bahwa mereka sebaiknya tidak memberi tumpangan pada pria tersebut, sehingga kemudian mereka meninggalkan pria tersebut di tengah derasnya hujan. Di sebuah pompa bensin, mereka bertemu lagi dengan sang pria yang kemudian diketahui sebagai John Ryder (Sean Bean, Flightplan). Kali ini mereka tidak bisa menolak untuk memberi tumpangan. Dan betul saja, insting Grace terbukti benar. John Ryder ternyata seorang sociopath yang gemar membantai. Walau berhasil meloloskan diri dari John, namun ternyata serangkaian pembunuhan yang dilakukan John malah mengarahkan sepasang muda-mudi ini sebagai tersangka!

Sean Bean kembali kehabitatnya, bermain antagonis, setelah dibeberapa film terakhir memainkan karakter baik-baik, dan ia berhasil untuk itu. Hanya saja, film ini tidak tertarik untuk menjadi sebuah thriller psikologis yang mencekam, namun malah mengambil pakem ala slasher movie. Karakter John Ryder disini tak ubahnya Michael Myers atau Jason Vorhees, hanya saja berbicara dan tidak memakai topeng. Rasa penasaran kita akan karakter ini tidak terpenuhi oleh film ini dan kita sebagai penonton hanya dibiarkan menonton serangkaian kejaddian di film tanpa rasa keterkaitan emosionil. Apalagi kedua karakter utamanya juga tidak mempunyai fondasi karakter yang cukup menarik untuk direlasikan, terutama karakter Jim yang diperankan oleh Zachary Knighton, yang mengeluh saja sepanjang film sehingga kita akhirnya menginginkan agar pada akhirnya sang villain untuk ‘menamatkan’ riwayatnya saja!

Walau begitu, film ini sendiri cukup mengasyikan untuk disimak. Dave Meyers cukup berhasil mengeksekusi ketegangan demi ketegangan, walau diakhirnya kemudian Sophia Bush berubah menjadi dari seorang Scream Queen menjadi Rambo wanita, suatu hal yang inkonsisten dengan jalan cerita yang dibangun sebelumnya. Namun begitu, ‘The Hitcher’ bukanlah film yang berkesan dan hanya berguna untuk menghabiskan waktu luang kita.