‘ANGKER BATU’: Misteri Kota Hantu
Sutradara: Jose Poernomo
Durasi: 86"
Release Date: 26 April 2006
out 5
Seingat saya, Angker Batu adalah daerah tempat asal hantu dalam film ‘Jelangkung’ (2001) dan berada di sekitar Jawa Barat. Namun kini, oleh Jose Poernomo, yang dulu bersama dengan Rizal Mantovani (Kuntilanak) yang secara fenomenal menyukseskan film tersebut dan dianggap sebagai salah satu film terseram di Indonesia, Angker Batu dipindahkan ke pusat Jawa dan menjadi kediaman mahluk-mahluk halus, yang kemudian menginvasi ke dunia nyata setelah sebuah perusahaan Korea membabat wilayah hutan di kawasan tersebut. Sementara itu, seorang produser TV Korea untuk Indonesia, Yudha (Yama Carlos, Belahan Jiwa) berbegas menuju daerah tersebut bersama seorang reporter TV tersebut yang bernama Kanaya (Mieke Amalia, dari show TV Extravaganza) dan Warno (Susilo Badar) yang menjadi supir mereka, untuk menemukan dua awak TV mereka, Manda (Nuri Maulida, Me VS High Heels) dan Rino (Bayu S. Virguna) yang hilang disaat meliput demo masyarakat menentang penebangan hutan. Ketika akhirnya tiba di Angker Batu, kota tersebut sudah kosong melompong tiada berpenghuni layaknya kota Mati. Hanya seorang perempuan misterius (Imelda Therine, Satu Kecupan, Banyu Biru) yang mereka temukan. Dari perempuan tersebut, mereka kemudian mengetahui apa yang terjadi. Walaupun kemudian mereka mengalami teror supurnatural dari mahluk-mahluk halus tersebut, namun Yudha bertekad untuk menemukan kru-nya yang menghilang.
‘Silent Hill’ (2006) segera beresonansi dalam pikiran saya setelah menyaksikan film ini. Dengan mengambil tema yang serupa, maka mahluk zombie yang mengerikan pun diganti dengan berbagai mahluk halus yang familiar dengan kepercayaan masyakarakat kita (walaupun ada beberapa yang sepertinya ‘temuan’ Jose Poernomo sendiri). Dan rasa-rasanya, Jose Poernomo memang sangat terinspirasi dari sub-genre zombie movies tersebut, karena bagi yang sering menyaksikan film-film tersebut, maka pasti segera tahu jika film ini memakai banyak elemen dan formula yang sama (terutama ‘28 Days Later‘). Hanya saja, Jose Poernomo mencampurnya dengan gaya horor atmosferik yang umum dipakai sineas Asia. Dan tampaknya usaha Jose tersebut cukup berhasil.
Bujet yang tidak terlalu besar tampaknya cukup berpengaruh dalam hasil akhir presentasi film ini, tapi Jose berusaha menyikapinya dengan berkonsentrasi dalam membangun adegan yang sudah dipikirkan dengan matang, sehingga nuansa akopoliptik cukup tergambarkan. Aura keseraman yang diinginkan lumayan dapat dibangun melalui atmosfir yang creepy. Jose rasanya memang tahu benar apa yang ingin dilakukannya dalam genre seperti ini, sehingga walau film tampak berjalan dengan sangat formulatif, namun usaha Jose untuk membuat film horor yang berbeda dengan film-film horor Indonesia yang banyak beredar saat ini lumayan berhasil.
Skrip oleh Hilman Mutasi (Tak Biasa, 2004) juga tak ingin berkutat hanya dalam hal menakut-nakuti, akan tetapi juga menjaga konsistensi dalam bercerita bukan hanya mengandalkan penampakan. Unsur-unsur komedi tampaknya mengingatkan akan gaya dalam film-film horor era Suzanna. Walau begitu, unsur komedi dapat menyatu dengan baik dengan cerita sehingga tidak terkesan mengganggu. Hanya saja, rasanya kedalaman psikologis dari film-film horor asmoferik tidak tergali dengan oleh skripnya, sehingga yang terasa adalah film ini merupakan sebuah popcorn flick belaka.
Terlepas dari kelemahan-kelemahannya, ‘Angker Batu’ jelas beberapa tingkat lebih baik daripada film-film horor omong-kosong dari clueless director that claims himself as the best Indonesian horror director, bahkan dari banyak film horor yang beredar di Indonesia saat ini, termasuk ‘Kuntilanak’ karya Rizal Mantovani. ‘Angker Batu’ jelas adalah sebuah film yang memahami habitatnya dan obviously it’s a fun and entertaining movies.
July 18th, 2007 at 6:14 am
Widih Ni Film SeRREmMMm AbiZZZ…/? Bulu kuduk Pe BediRi Muah..! Pada suatu mala Allh..?
Oy Klo da rencana mo bikin Film Lagi Boleh Ajak aQ gax..?
he..He.. Pliss…..
nanti aku casting dech..?
Yach..yach..yach..