‘SPIDER-MAN 3′: The Not-So-Good Completist of Trilogy


Produksi:  Columbia Pictures (2007)
Sutradara: Sam Raimi
Cast: Tobey Maguire, Kirsten Dunst, James Franco, Thomas Haden Church, Topher Grace, Bryce Dallas Howard, Rosemary Harris, J.K. Simmons, James Cromwell

Genre: Aksi/Petualangan/Fantasy/Drama
Durasi: 140
Release Date: 04 Mei 2007 (USA)
My Grade: 3 out 5

Spider_man_1Dengan keberhasilan ‘Spider-Man’ (2002) dan ‘Spider-Man 2′ (2004), maka jelas kehadiran ‘Spider-Man 3′ di tahun 2007 ini begitu ditunggu-tunggu oleh penonton yang sudah kadung menyukai film tersebut. Ditambah lagi dengan promosi dan distribusi film ditinggkat massive, jelas ‘Spider-Man 3′ mendapatkan atensi yang sangat tinggi dari kalangan penontonnya. Dalam waktu seminggu saja kabarnya film ini telah memecahkan berbagai rekor Box-Office. Lantas apakah film ini begitu istimewanya, sehingga kita harus tergesa-gesa memadati gedung bisokop untuk menontonnya? Rasanya tidak!

‘Spider-Man 3′ melanjutkan cerita yang ditinggalkan oleh bagian keduanya. Hubungan dan kehidupan antara Peter Parker (Tobey Maguire) dan Mary-Jane Watson (Kristen Dunst) kelihatannya semakin membaik saja dan bibi May (Rosemary Harris) menganjurkan Peter untuk melamar Mary-Jane. Sementara itu, Spider-Man, sang alter-ego Peter menunjukkan popularitas yang semakin tinggi saja dikalangan masyarakat. Sepertinya kehidupan sudah sempurna bagi Peter Parker, sampai teman masa kecilnya, Harry Osborn (James Franco) ingin membalaskan dendam ayahnya terhadap Spider-Man yang dianggapnya telah membunuh sang ayah, Green Goblin (Willem Dafoe). Dengan memakai alat-alat sang ayah, Harry bermetamorfosa sebagai Green Goblin Jr. Sementara itu polisi menginformasikan jika Flint Marko (Thomas Haden Church), pembunuh sebenarnya dari Paman Ben, telah melarikan diri dari penjara. Tanpa mereka sadari, Flint Marko telah menjelma menjadi mutan manusia pasir bernama Sandman, akibat bersembunyi disebuah tempat ekpsperimen. Rasa dendam kembali lagi memenuhi hati Peter dan saat sebuah mahluk parasit dari luar angkasa menginfeksi kostum Spider-Man dan merubah warnanya menjadi hitam, ini semakin menambah gelap karakter Peter Parker dan mengubahnya menjadi seseorang yang arogan. Walaupun kehidupannya terlihat semakin membaik, justru hubungannya dengan Mary-Jane malah semakin memburuk. Saat Peter merasakan kekuatan gelap dari kostumnya, maka ia memutuskan untuk membuangnya. Dan tepat disaat itu juga, Eddie Brock (Topher Grace), fotografer saingan Peter yang mendemdam padanya, kemudian diinfeksi oleh si alien parasit dan mengubahnya menjadi Venom, yang berniat membalas dendam pada Peter Parker alias Spider-Man. Sekali lagi Mary-Jane harus menjadi Damsel-in-Distress yang harus diselamatkan oleh Spider-Man.

‘Spider-Man 3′ jelas mengambil keuntungan dari sebuah trilogi, dengan kesempatan yang lebih terbuka untuk melanjutkan ceritanya. Sam Raimi terlihat sangat berniat menjadikan film ini sebagai penutup dari seri ‘Spider-Man’ dengan membuat segala sesuatunya lebih ekspresif, baik dari segi drama maupun aksinya. Jika dalam film-film sebelumnya hanya menyisakan ruang untuk satu Villain, maka dalam jilid ketiga ini hadir tiga karakter villain sekaligus. Ini merupakan nilai lebih dari ‘Spider-Man 3′ sekaligus kekurangannya.

Niat untuk menyatukan karakter-karakter favorit dari buku (termasuk karakter Gwen Stacy yang diperankan oleh Bryce Dallas Howard, namun tidak mempunyai signifikansi terhadap jalan cerita secara keseluruhan) menyebabkan beberapa kompromi yang menyebabkan jalan cerita serasa dipaksakan. Berbeda dengan film-film sebelumnya yang terasa solid karena mengksplorasi villainya dengan sangat komprehensif, justru villain-villain di film ini terasa menempel saja dengan kesatuan film secara keseluruhan). Hal ini terasa sekali pada karakter Venom, yang rasanya sangat kompleks dan lebih pas jika diletakkan di film sendiri. Hasilnya justru difilm ini rasanya Venom terasa sangat remeh dan dibutuhkan hanya untuk eksekusi adegan aksi di klimaksnya saja. Begitu juga dengan karakter Sandman, yang sebelumnya telah dibangun dengan humanis namun tidak begitu berkesan lagi menjelang akhir. Sementara itu konflik antara Peter dan Harry pun rasanya diselesaikan dengan gampang saja, padahal ambiguitas konflik diantara mereka telah dibangun dengan baik melalui dua film sebelumnya. 

Durasi yang dua jam duapuluh menit juga terasa kepanjangan, yang sebenarnya terjadi akibat adegan-adegan terasa kurang efektif. Film sebenarnya dapat menjadi lebih ringkas, namun Sam Raimi memutuskan untuk bertele-tele dalam dramanya. Bukannya saya anti adegan drama, hanya saja Raimi tidak dengan cukup baik menjadikan cerita yang menyentuh. Beberapa bagian justru terlihat konyol dan dangkal. Menyaksikan ‘Spider-Man 3′ seperti melihat dua film yang dipadatkan menjuadi satu dan sayangnya kedua film itu tidak saling mendukung melainkan saling bergeliat untuk menujukkan dominasinya. Adegan-adegan aksinya sendiri, walau menarik, namun tidak luar biasa apalagi memorable seperti dua film sebelumnya. Adegan aksi yang paling lemah justru berada di klimaksnya!

Setelah menyaksikan film ini secara keseluruhan, saya rasa ekpektasi untuk film hiburan musim panas yang menghibur memang tercapai. Tapi, jika dibandingkan dengan ‘X-Men: The Last Stand’ (2006) yang terasa sangat pas dalam mengeksekusi film tersebut sebagai penutup sebuah trilogi, ‘Spider-Man 3′ justru jauh dari memuaskan dan membuat kita berfikir film ini tidak begitu penting dan berharap sebaiknya film diakhiri di seri kedua saja.

2 Responses to “‘SPIDER-MAN 3′: The Not-So-Good Completist of Trilogy”

  1. mOvIefReAk Says:

    Great blogs, great reviews

    jarang2 ketemu blogs FS kyk gini, review2nya serba pas .

  2. hARIs Says:

    thx alot….bro

Leave a Reply