‘THE FOUNTAIN’: A Quest For Eternal Life for The Eternal Love
Sutradara: Darren Aronofsky
Durasi: 95"
Release Date: 22 November 2006 (USA)

Apa sebenarnya intisari dari ‘The Fountain’, film karya Darren Aronofsky (Requiem for a Dream) ini? Pencarian akan hidup abadi atau melodarama tentang cinta sejati? Saya kira, setelah menyaksikan filmnya, merupakan gabungan keduanya. Dan menurut saya bukan hal yang jelek pula.
Cerita berjalan paralel antara Tomas (Hugh Jackman), seorang conquistador dari kerajaan Spanyol di abad ke 16, yang atas perintah Ratu Isabella (Rachel Weisz) menjelajah daerah suku Maya untuk mencari kebenaran Pohon Kehidupan yang telah diwartakan oleh Injil sebelumnya. Di abad ke 21, Tommy (Hugh Jackman), seorang dokter, tengah berusaha menemukan obat untuk menyembuhkan tumor di otak istri tercintanya, Izzi (Rachel Weisz), yang sedang menulis sebuah buku berjudul The Fountain yang menceritakan kisah yang terjadi di abad ke 16 sebelumnnya. Berpindah ke abad ke 26, saat seorang pria bernama Tom (Hugh Jackman) dan sebatang pohon melakukan perjalanan antargalaktik dalam sebuah gelembung menuju sebuah gugusan bintang dan sering melihat penampakan dari sosok perempuan bernama Izzi (Rachel Weisz).
Pertama-tama, saya harus mengingatkan, this movie is not for everyone cup of coffee. Diperlukan konsistensi dan atensi yang besar dalam menontonnya, jika tidak maka film akan terasa memusingkan dan sulit untuk dimengerti. Adegan-adegan di edit secara non-linear, sehingga seakan saling tindih satu sama lain. Padahal, jika kita cermati gaya tersebut diperlukan untuk menggambarkan emosi dalam narasinya. Arofnosky memanjakan dirinya dengan memadukan antara fantasi visual dengan naratif yang menggigit. Kadangkala terasa sangat filosofis atau malah absurd namun juga sangat menyentuh disisi lain.
Dalam kandungan drama yang pekat, ‘The Fountain’ seakan mengajak penontonya untuk mengkontemplasi hakikat dari kehidupan dalam mempertanyakan akan kekuatan sebuah cinta sejati, ketakutan menghadapi kematian dan hasrat mencapai hidup abadi. Penggambaran sang pohon pun tidak melulu hanya sebagai gimmick dalam narasinya, melainkan turut berperan sebagai salah satu karakter utama yang berperan penting dalam integralitas film secara keseluruhan. Sang Pohon sendiri seakan melambangkan sebagai sebuah circle of life yang mau tidak mau harus kita terima.
‘The Fountain’ seperti sebuah dongeng fantasi dalam gaya melodrama, sejarah, dongeng dan fiksi-ilmiah yang campur aduk. Mungkin saja Aronofsky terlalu over-the-top dalam menggarap film ini dan mungkin film ini terasa konyol. Tapi setidaknya ia terasa tulus dalam semangatnya untuk bercerita dengan skala luas seperti ini tanpa agenda tersembunyi tertentu. Ia hanya ingin bercerita, melalui fantasi visual, tentang seorang pria dan perempuan yang ia cintai serta ingin menemukan esensi hidup abadi agar tetap hidup selamanya dengan sang perempuan. Dan saat Hugh Jackman (walau pada beberapa adegan di abad ke 16-nya terasa Van Helsing sekali) dan Rachel Weisz bermain dengan baik sekali, film pun menjadi terasa lebih solid.
April 22nd, 2008 at 7:16 am
terus terang saya bingung nonton film ini. Ngerti sih ceritanya, tapi ngga ngerti di mana bagusnya. Bingung, ruwet, mungkin saya harus nonton ulang deh.
April 25th, 2008 at 5:01 am
Ina..rasanya kamu harus dengar kata hati kamu sendiri untuk menilai suatu film bukan karena apa kata org lain..benar engga??? :))
April 25th, 2008 at 8:09 pm
setuju bgt apa kate mas Haris…
April 28th, 2008 at 7:32 am
kalo nonton film ini bingung coba tonton “blue Vevet” ato “Donnie Darko”
that’s what i mean mindfuck!
October 8th, 2008 at 12:43 am
Nonton film’y jangan langsung berat2, klo g biasa..
Cobain nonton matrix yg pertama, trus nonton butterfly effect, trus nonton cloverfield, baru dech klo udh g puyeng(bingung), bisa nikmatin film2 berat selanjutnya..
Just Argument
Xener