Archive for June, 2007

‘APOCALYPTO’: An Amusing High-Octaine Action-Thriller

Tuesday, June 26th, 2007

Produksi: Touchstone Pictures (2006)
Sutradara: Mel Gibson
Cast: Rudy Youngblood, Dalia Hernández, Jonathan Brewer, Morris Birdyellowhead, Raoul Trujillo

Genre: Drama/Thriller/Aksi/Petualangan
Durasi: 138"
Release Date: 08 desember 2006 (USA)
My Grade: 4 out 5

ApocalyptoDalam ‘Apocalypto’, lagi-lagi Mel Gibson meilih untuk mengarahkan filmnya dalam bahasa asing, setelah ‘Passion of The Christ’ (2004). Kali ini berlokasi di pedalaman Amerika Selatan, tepatnya di ujung era peradaban suku Maya.

Jaguar Paw (Rudy Youngblood) adalah seorang pemuda disebuah desa yang tenang ditengah hutan rimba. Ia adalah putra kepala kampung, Flint Sky (Morris Birdyellowhead) dan akan segera menggantikan ayahnya. Istri Jaguar Paw, Seven (Dalia Hernandez) tengah hamil tua dan siap melahirkan anak kedua untuk jaguar Paw. Namun, ketentraman desa mereka terusik dengan serbuan segermbolan orang pimpinan Zero Wolf (Raoul Trujillo). Mereka menawan para penduduk desa, pria dan perempuan, terkecuali anak-anak, untuk dibawa ke kuil besar untuk menghormati Kulkulan atau Dewa Matahari. Untunglah, Jaguar Paw sebelumnya masih sempat menyelamatkan anak dan istrinya kesebuah lubang besar. Ketika sampai di kuil, ternyata para laki-laki akan dipersembahkan sebagai korban untuk sang dewa, sedangkan yang perempuan dijual untuk menjadi budak. Beruntung, terjadi gerhana dan Jaguar Paw lolos dari eksekusi. Akan tetapi, masalah belum selesai. Zero Wolf dan kawanannya justru masih menjadi ancaman. Maka dimulailah petualangan Jaguar Paw ditengah belukar rimba, dengan mengandalkan pengetahuannya tentang bertahan di hutan, untuk melawan kejaran kelompok Zero Wolf.

Melalui film ini, Mel Gibson seakan ingin membuktikan bahwa film aksi-petualangan yang mendebarkan dapat dilakukan dimana saja, termasuk di tengah lebatnya pepohonan hutan belantara. ‘Apocalypto’terasa sangat intens dan menegangkan, terutama dibagian akhir film. Disini, terbukti kecakapan Mel Gibson dalam mengeksekusi sebuah film.

Film sendiri berjalan dalam 3 tahap; tahap pertama adalah pengenalan karakter, tahap kedua ranah konflik dan terakhir adalah adegan pengejaran yang intens tadi sebagai klimaks. Semua ditangani dengan efektif dan Mel Gibson mampu membangun empati penonton terhadap karakter utamanya. Seperti ‘BraveHeart’ (1995) dan ‘Passion of The Christ’ (2004), Mel Gibson masih menampilkan banyak adegan yang terasa brutal dan sadis, namun tidak terasa sebagai ‘kewajiban’ akan tetapi merupakan kebutuhan dari film. Dengan begitu, jelas ‘Apocalypto’ bukan untuk tontonan setiap orang.

Walau berseting di peradaban Maya, Mel Gibson tampaknya tidak begitu berminat untuk mendokumentasikan mengapa peradaban Maya bisa punah. Walau diawal film ia menegaskan bahwa "all great civilizations fail when they begin to rot from inside". Namun, dengan cukup eksplisit, Mel Gibson memang memperlihatkan demoralisasi yang terjadi di masyarakat Maya pada saat itu. ‘Apocalypto’ justru berbicara tentang ‘kepahlawanan’ dan penaklukan rasa takut. Seting MAya seakan memperlihatkan bahwa disetiap jaman dan masyarakat, ‘heroisme’ diperlukan untuk dapat menaklukan kerasnya hidup.


‘DEAD SILENCE’: A Fun Homage to The Genre’s Classic

Tuesday, June 26th, 2007

Produksi: Universal Pictures (2007)
Sutradara: James Wan
Cast: Ryan Kwanten, Amber Valletta, Donnie Wahlberg, Bob Gunton, Laura Regan,Judith Roberts

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 90"
Release Date: 16 Maret 2007 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

Dead_silence Kalau sudah menonton ‘SAW’ (2004), pasti tahu dua James Wan dan Leigh Whannel, sebagai sutradara dan penulisnya. Kini mereka bekerjasama lagi dalam ‘Dead Silence’, lagi-lagi sebuah horor. Jika ‘SAW’ mengambil rute thriller-suspense, maka ‘Dead Silence’ kembali ke akar horor-supernatural yang sering dibuat di era50-an dan 60-an.

Jamie Ashen (Ryan Kwanten) menemukan istrinya, Lisa (Laura Regan, They, My Little Eye) tewas menggenaskan, tak lama setelah mereka menerima paket berisi sebuah boneka ventriloquist yang aneh. Ia pun dicurigai sebagai pembunuhnya oleh Detektif Jim Lipton (Donnie Wahlberg, SAW II, SAW III). Karena tidak terbukti, Jamie dibebaskan dan kembali kekampung halamannya, Raven’s Fair. Kota tersebut mempunyai legenda tentang arwah penasaran Mary Shaw (Judith Robert), seorang ventriloquist yang pada saat hidupnya pernah dicurigai dalam kasus hilangnya seorang anak lai-laki. Jamie menemui ayahnya, Edward Ashen (Bob Gunton) yang telah lama tidak dikunjunginya karena friksi diantara mereka. Ternyata sang ayah telah memiliki istri baru yang jauh lebih muda dan bernama Ella (Amber Valletta, What Lies Beneath, Premonition). Ayahnya menolak untuk merinci tentang Mary Shaw, walau Jamie yakin sekali jika kematian istrinya berhubungan dengan legenda Mary Shaw tersebut. Maka ia mulai menyelidiki penyebab kematian Mary Shaw, yang mungkin saja akan membuka tabir pembunuh istrinya.

James Wan dan Leigh Whannel tampaknya sangat menyukai genre horor ini, sehingga mereka seakan-akan membuat ‘Dead Silence’ sebagai ‘penghormatan’ atau homage untuk film-film horor klasik di tahun-tahun 50-an atau 60-an. Terbukti dengan penggunaan logo pembukaan studi Universal yang biasa dipakai pada jaman tersebut.

Walau bertema supernatural, namun struktur film ini lebih menyerupai sebuah ‘murder-mysteri’. Penampakan dan pembunuhan dimasukan dengan integralitas yang cukup rapi sehingga tidak terkesan dipaksakan. Matinya segala aspek suara saat adegan pembunuhan, sehingga suasana menjadi sunyi senyap, ditampilkan dengan cukup baik dan dapat menimbulkan efek mencekam yang diinginkan. James Wan pun cukup mampu untuk membangun filmnya secara mulus dan entertaining.

Yang menjadi masalah kemudian adalah film ini terlalu berupaya untuk tampil ’setia’ dengan pakem yang ada, sehingga banyak adegan yang rasanya sudah tertebak, sehingga mengurangi rasa penasaran atas misteri yang sudah dibangun sebelumnya. James Wan sendiri, menurut saya, sebenarnya mampu untuk lebih dari itu, karena ia bisa membuat sebuah film dengan gaya. Hanya saja, justru keinginannya untuk setia menjebak film menjadi terasa sangat jenerik.


‘I’M A CYBORG BUT THAT’S OK’: Cyborg Juga Manusia!

Sunday, June 24th, 2007

Produksi: CJ Entertainment (2007)
Sutradara: Park Chan-wook
Cast: Im Soo-jung, Jung Ji-Hoon (Rain), Oh Dal-su, Park Jun-myeon, Kim Ju-hi

Genre: Komedi/Romantis/Drama
Durasi: 105"
Release Date: 07 Desember 2006 (KOREA)
My Grade: 3.5 out 5

CyborgSetelah menyelesaikan ‘Vegeance Trilogy’, Park Chan-wook memutuskan untuk mengerjakan sebuah projek yang berbeda; komedi romantis! Tapi ini Park Chan-wook yang kita bicarakan. Pastinya bukan komedi romantis biasa.’I'm A Cyborg, But That’s Ok’ atau ‘Ssaibogeujiman Kwaenchanha’ adalah buktinya.

Young-goon (Im Soo-jung, Tale of Two Sisters) adalah seorang pasien baru disebuah RSJ, setelah sebuah usaha bunuh diri yang gagal. Sang gadis percaya jika aia adalah seorang cyborg dengan sebuah misi dan diperlengkapi dengan senjata berbahaya. Ia menolak untuk memakan makanan manusia dan "me-recharge" energinya melalui baterai. Perlahan tapi pasti, Young-goon sekarat, karena menolak asupan makanan. sementara itu, Il-Soon (Jung Ji-hoon atau Rain dari serial Full House)m seorang penghuni RSJ yang sama, mempunyai kemampuan untuk menyerap emosi atau prilaku orang lain, merasa tertarik kepada Young-goon. Lantas, Il-soon dan Young-goon kemudian menjalin hubungan yang unik dan Il-soon memutuskan untuk membuat Young-goon memakan makanan secSetelah ara normal kembali.

Setelah menyimak filmnya, mungkin banyak yang mengatakan jika ini sama sekali bukan filmnya Park Chan-wook. Namun, walaupun film ini terlihat "manis" dan "menggemaskan", tetap saja stempel Park Chan-wook menempel di film ini. Dengan pendekatan yang tak kalah neurotik dengan karater-karakter filmnya, Park sekali lagi menggambarkan tentang sulitnya (atau kemuskilan) untuk berkomunikasi dengan sesama. Prilaku Young-goon mungkin hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri dan ia merasa jika prilakunya sangat signifikan dengan eksistensi dirinya, sementara justru bagi orang lain ia tidak lebih dari seorang sakit jiwa! Walau begitu, entah mengapa saya merasa jika Park Chan-wook seakan sedang bercerita tentang sindrom anoreksia dengan metafora delusi cyborg yang diderita oleh Young-goon.

Kali ini Park Chan-wook juga memperlihatkan kekuatan imajinasinya dengan memasukkan adegan-adeganan fantasi seperti yang biasa ditampilkan oleh anime. Eksekusinya berjalan dengan cukup mulus dan kita jadi berharap jika Park Chan-wook mengadaptasi manga yang kaya visual di film berikutnya.

Im Soo-jung sendiri lagi-lagi memerankan penderita schizophrenia akut, namun aktris muda ini dengan luar biasa menunjukkan kemampuannya untuk menjukkan kekuatan untuk menjadi orang lain yang sangat bertolak belakang dengan dirinya. Ditangannya, karakter Young-goon menjadi terlihat rapuh dan subtil namun juga berkeinginan kuat. Rain sendiri bermain dengan cukup baik, akan tetapi Im Soo-jung terlalu mencuri perhatian, sehingga akhirnya ia menjadi kurang dominan.

‘I’m Cyborg But That’s OK’ mungkin tidak akan memuaskan semua penikmat karya-karya Park Chan-wook. Tapi upayanya untuk membuat variasi dalam film-filmnya patut dihargai dan film ini seakan menegaskan jika Park Chan-wook adalah sineas terbaik Korea Selatan pada saat ini. 


MY TOP 5

Sunday, June 24th, 2007

Sebenarnya saya tidak punya kebiasaan membuat peringkat atau daftar film-film yang benar-benar saya sukai atau tidak, karena bagi saya terasa sangat subjektif. Namun, karena desakan beberapa teman :)), akhirnya saya memubuatnya. Akan tetapi saya hanya berani memberi peringkat sampai lima saja tidak 10, karena faktor kebingungan saya untuk mengurutkan sampai 10 buah. Jadi cukup hanya lima, karena film-film ini adalah yang saya benar-benar suka. Dan tidak ada Bottom List, karena bagi saya tidak ada film yang benar-benar jelek. Setiap film pasti dibuat dengan susah payah, sehingga rasanya kurang etis melabelkan film-film bottom. Anyway, here thet goes:

- MY TOP 5:
1. Le Fabuleux destin d’Amélie Poulain
2. Eternal Sunshine of The Spoless Mind
3. Puch Drunk Love
4. Crouching Tiger Hidden Dragon
5. Little Miss Sunhsine

- INDONESIA TOP 5:
1. Arisan!
2. Janji Joni
3. Ada Apa Dengan Cinta
4. Kala
5. Kejarlah Daku Kau Kutangkap

- HOLLYWOOD TOP 5:
1. Eternal Sunshine of The Spoless Mind
2. Punch Drunk Love
3. Little Miss Sunshine
4. The Hours
5. Seven

- MANDARIN TOP 5:
1. Crouching Tiger Hidden Dragon
2. The Wedding Banquet
3. House of The Fying Dagger
4. Green Snake
5. 2046

- KOREA TOP 5:
1. Windstruck
2. Innocent Steps
3. Tale of Two Sisters
4. Welcome To Dongmakgol
5. The Host

- INDIA TOP 5:
1. Kal Ho Naa Ho
2. VeerZara
3. Kabhi Alvida Naa Kehna
4. Black
5. Hum Dil De Chuke Sanam

SUSAHNYA JADI DIRI SENDIRI

Sunday, June 24th, 2007

Nesta_aldiSetelah menyaksikan film ‘Coklat Stroberi’ kemarin, saya jadi ‘mikir’; ternyata
memang susah untuk jadi diri sendiri, terutama untuk hidup di tengah kalangan
masyarakat Indonesia yang patriarkhi seperti ini.

Aldi (diperankan oleh Marrio Merdhitia) sudah merasa ‘gerah’ dengan
berpura-pura straight dan mengajak ‘pacarnya’, Nesta (Nino Fernandez)
untuk lebih open-up their relationship. Tapi sayangnya Nesta
tidak berpikiran sama. Dia bilang," loe pikir loe hidup dimana" (dengan
kata lain bermaksud mengatakan jika menjadi gay di Indonesia sama saja dengan
bunuh diri). Lebih lanjut dia mengelaborasi, "hubungan kayak gini ‘gak punya
masa depan
!".

Setelah dipikir-pikir, sebenarnya Nesta dan Aldi nasibnya sungguh
‘menggenaskan’! .
Seriusnya, mereka tidak bisa menjadi diri mereka sendiri, karena banyak sekali
tantangan dari lingkungan eksternal mereka yang akan mengkebiri keinginan
terjujur mereka tersebut. Padahal kalau dipikir-pikir, mereka kan juga manusia
biasa yang ‘normal-normal’ saja, bukan perampok atau pemerkosa anak orang.
Mereka hanya ingin menjadi diri sendiri!

Rasanya tidak enak jika selalu berpura-pura, tapi sayangnya itu adalah jalan
yang mau-tidak-mau harus dipilih, karena kita tidak hidup sendiri, tapi juga
harus berdampingan dengan orang lain dan mayoritas orang lain tersebut tidak
semuanya toleran dengan ‘diri’ kita, sehingga kita harus menjadi seperti yang
diinginkan orang lain. Setidaknya mengikuti aturan yang menjadi standar oleh
patriarkhi. What a living-in-Hell!

‘COKLAT STROBERI’: The First Gay Romantic-Comedy in Indonesia? Hm….

Monday, June 18th, 2007

Produksi: IFI (2007)
Sutradara: Ardy Octaviand
Cast: Marrio Merdhitia, Nino Fernandez, Nadia Saphira, Marsha Timmothy, Tike Priyatnaksumah
Spec.App: Fauzi Baadilla, George Rudy, Vino G. Bastian, Luna Maya, Julia Perez

Genre: Komedi/Romantis/Drama
Durasi: 100"
Release Date: 14 Juni 2007
My Grade: 3.5 out 5

Coklat_stroberi_2Setelah ‘30 Hari Mencari Cinta’ (2004) dan ‘Realita, Cinta dan Rock N’ Roll’ (2006), Upi, sang sutradara perempuan tangguh, kembali lagi dengan cerita barunya. Masih berhubungan dengan dunia remaja dalam bumbu-bumbu komedi. Hanya saja, kali ini ia memberikan kesempatan untuk asisten di film-filmnya, Ardy Octaviand, untuk memangku jabatan sebagai pengarah film. Kali ini Upi lebih berani mengeksplorasi tema homoseksualitas dalam film yang berjudul ‘Coklat Stroberi’ ini, setelah sebelumnya hanya menjadi bumbu-bumbu dalam filmnya.

Berkisah tentang Key (Nadia Saphira, Jomblo) dan Citra (Marsha Timothy, Ekspedisi Madewa) dua orang mahasiswi yang tinggal serumah. Key mengalami kesulitan keuangan, sehingga mengalami kendala dalam melunasi uang kontrakan. Ibu kost (Tike Priyatnakusumah, dari Extravaganza) yang galak akhirnya memberi solusi dengan setengah memaksa untuk menerima anak temannya untuk berbagi rumah. Ternyata penghuni baru tersebut adalah sepasang laki-laki sepantaran mereka, Nesta (Nino Fernandez, Terowongan Casablanca) dan Aldi (Marrio Merdhitia). Langsung saja Key merasa suka dengan kehadiran Desta apalagi kemudian Nesta juga terlihat seperti menyukai dirinya. Sementara itu Citra menemukan keanehan akan gelagat Aldi yang terlihat sangat perhatian terhadap Nesta. Pada dasarnya memang Desta dan Aldi adalah sepasang kekasih yang sejenis. Desta dan Aldi sendiri mempunyai friksi, karena Aldi mulai tidak betah untuk berpura-pura straight, sedangkan Nesta mempunyai filosofi Coklat Stroberi, yaitu "lu harus terlihat coklat, biarpun dalamnya lu stroberi (!)". Dalam kata lain, Nesta masih sungkan untuk tampil lebih terbuka. Masalahnya kemudian, Nesta juga menunjukkan gelagat jika ia menyukai Key. Jadi, apakah Nesta berpura-pura menyukai Key untuk menutupi identitasnya atau memang benar ia dengan tulus menyukai Key. Sementara itu Aldi mulai merasa cemburu dengan hubungan Nesta dan Key. Sedangkan ia sendiri juga mulai tidak nyaman dengan discreet-relationship-nya dengan Nesta dan ingin mempunyai hubungan yang lebih terbuka. Kalau perlu berterus terang dengan orangtuanya. Lantas, apakah Nesta mau mengikuti permintaan Aldi?

Jujur saja, sebenarnya saya sudah punya gambaran jika ‘Coklat Stroberi’ akan mempunyai gaya yang setipe  dengan ‘30 Hari Mencari Cinta’, karena bagaimanapun Upi masih berperan besar dalam produksi film ini. Jadilah ‘Coklat Stroberi’ sebagai sebuah cerita romantis dengan bumbu-bumbu komedi yang menggelitik. Hanya saja, kelebihan film ini dibandingkan ‘30 Hari’ adalah ia menyimpan kekuatan dalam cerita yang lebih mendalam dan eksploratif.

Film ini mencoba menggambarkan kisah cinta dari perspektif karakter yang mempunyai orientasi seksual yang berbeda dengan tipikal film komedi romantis biasanya. Dan tentu saja ada elaborasi-elaborasi secara sosial mengenai identifikasi tentang homoseksualitas dalam film ini. Secara ringkasnya, ‘Coklat Stroberi’ seakan menunjukkan jika fenomena ini memang terjadi di masyarakat dan kita tidak dapat menafikan mereka. Pilihan Aldi untuk jujur dan Nesta dengan kebingungannya merupakan isu-isu yang biasa dihadapi oleh kalangan remaja yang homoseksual. Pilihan dalam hidup mereka menjadi dua kali lebih sulit daripada remaja heteroseksual biasa.

Harus diakui skrip yang jenial oleh Upi berhasil divisualkan dengan menarik oleh Ardy Octaviand, walau dalam beberapa aspek memang masih terlihat sebagai karya sutradara debutan. Walau begitu Ardy berhasil meramu film ini menjadi sangat menggelitik, menghibur sekaligus informatif. Hanya saja, yang menjadi ganjalan adalah Upi terlihat masih belum begitu berani untuk mengeksplorasi homoseksualitas dalam film ini secara lebih total.

Padahal materi film sudah menunjukkan arah kesitu, namun pada akhirnya Upi dan Ardy memilih untuk mengakhiri filmnya dengan happy-ending yang membuat everybody-happy! Belum lagi karakter Aldi yang rasanya terlalu streotype. Mungkin Upi menginginkan filmnya tidak terlihat terlalu ekstrim, yang mungkin saja akan berpengaruh pada status film di box office nantinya.

Terlepas dari itu, ‘Coklat Stroberi’ tampil dengan sangat memuaskan sebagai film hiburan. Akting bintang-bintangnya pun cukup kontributif terhadap bangunan jalan cerita film secara keseluruhan, walau memang tidak luar biasa. Jadi, apakah ‘Coklat Stroberi’ adalah the first gay romantic-comedy in Indonesia? Ya dan tidak!


‘LANTAI 13′: Misteri Keberadaan Lantai Ke-13

Tuesday, June 12th, 2007

Produksi: Starvision (2007)
Sutradara: Helfi CH. Kardit
Cast: Widi Mulya, Aryo Wahab, Virnie Ismail, Lukman Hakim, Tio Pakusadewo, Ibnu Jamil, Bella Esperance. Spec.App.: Irwansyah, Maia Estianty

Genre: Horor/Drama
Durasi: 1100"
Release Date: 07 Juni 2007
My Grade: 2.5 out 5

Lantai_13Berbagai mitos dan urban legend yang beredar di masyarakat kita kini satu persatu diangkat menjadi sebuah tontonan mencekam dalam bentuk film horor. Terimakasih pada tingkat apresiasi masyarakat yang tinggi untuk jenis film ini terlepas apakah filmnya memang layak tonton atau tidak, karena rasa penasaran dari berbagai orang terhadap mitos atau urban legend tersebut. ‘Lantai 13′ adalah karya terbaru dari Helfi CH. Kardit setelah sebelumnya sukses dengan ‘Bangku Kosong’ (2006). Kali ini ia mencoba mengangkat tentang keberadaan lantai ke-13 disebuah gedung bertingkat dan rumor mistis yang beredar disekitarnya.

Luna (Widi Mulya, dari grup vokal AB-Three) adalah seorang fresh-graduate dan mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan. Ditemani sang pacar yang seorang wartawan, Rafael (Aryo Wahab, Biarkan Bintang Menari, Maskot), Luna pun pergi ke gedung tempat perusahaan itu berada. Seorang perempuan bernama Laras (Virnie Ismail), yang mengaku sebagai sekretaris perusahaan, mengantar Luna menuju lantai 13, tempat dimana wawancara akan dilakukan. Di tempat tersebut Luna malah mengalami kejadian aneh dan menyeramkan. Luna panik dan tidak ingin melanjutkan wawancara, namun Rafael akhirnya berhasil membujuknya untuk tetap mengikuti proses wawancara dan Luna pun akhirnya bertemu dengan sang direktur yang bernama Albert (Lukman Hakim). Besoknya, Luna mendapat pekerjaan sebagai sekretaris di perusahaan tersebut. Walau merasa aneh, namun Luna tetap senang karena pada akhirnya bisa bekerja. Walau begitu, ia merasakan sesuatu yang aneh di kantor tersebut terutama mengenai keberadaan Lantai 13. Ia pun kerap melihat penampakan-penampakan yang berkaitan dengan lantai tersebut. Walau begitu, setiap orang mengatakan jika gedung tersebut tidak mempunyai lantai ke-13. Saat sosok perempuan misterius semakin kerap mengantuinya, Luna bertekad untuk mengetahui keberadaan sebenarnya dari lantai 13 digedung tersebut.

Helfi CH. Kardit, sebagai sutradara, tampaknya bertekad untuk membuat horor yang berbeda dari film-film yang beredar akhir-akhir ini, termasuk dari filmnya sendiri, ‘Bangku Kosong’. Ia berusaha menekankan pada cerita yang runut, atmosfir dan suasana dalam intensitas secara psikologis serta kadar kengerian yang dibuat secara merambat. Usahanya ini patut dihargai, saat kebanyakan film hanya bertujuan menakut-nakuti tanpa memperhatikan jalan cerita yang baik.

Hanya saja, film ini sendiri masih menyimpan beberapa hal yang cukup menganggu. Tentu saja absurditas dan ketidaklogisan merupakan hal yang biasa dari kebanyakan dari film horor dan film ini cukup lumayan berhasil dalam mengurangi tingkatnya. Bahkan unsur kengerian dan keseraman juga cukup berhasil dibangun oleh Kardit. Yang menjadi masalah justru di sesi dramanya. Rasanya terlalu panjang untuk jenis film ini dan bertele dalam dialog, sehingga mengurangi intensitas ketegangan film secara keseluruhan. Tidak ada yang salah dengan drama dalam film horor asal saja terpadu dengan baik dengan struktur film secara keseluruhan dan harus menarik sehingga dapat membangun rasa penasaran penonton terhadap filmnya. ‘Lantai 13′ justru banyak terdapat adegan yang dipenuhi dengan dialog sebagai eksplanasi dan narasi. Padahal, untuk jenis film ini ‘show‘ akan terasa lebih efektif dibandingkan ‘tell‘.

Secara substansial, film ini juga cukup lemah, terutama saat film menuju klimaks. Padahal, dikarenakan narasi panjang sebelumnya, kita rasanya sudah cukup lelah dan menginginkan akhir yang mampu melibatkan emosi penonton secara penuh. Yang terjadi malah film terasa diakhiri dengan terburu-buru, saat pembuat filmnya sadar jika filmnya tidak berjalan kemana-mana akibat eksplanasi yang kepanjangan dan durasi pun semakin mepet, sehingga harus segera diakhiri. Padahal jika saja sesi drama tersebut bisa di edit menjadi lebih singkat tentu dapat membuat film menjadi lebih solid dan efektif.

Walau begitu, film ini tetap mempunyai momentum-nya. Helfi CH. Kardit menunjukkan usaha kerasnya dalam membuat film yang berbeda, sehingga hasilnya memang ‘Lantai 13′ terasa cukup berbeda dengan film-film horor lainnya. Adegan-adegan menyeramkannya dieksekusi dengan cukup baik dan tidak terlalu kedodoran. Bumbu-bumbu humor disisipkan dengan cukup baik tanpa terasa menganggu.  Ohya, adegan dimana Luna dan dua rekan kerjanya (diperankan oleh Ivy Batuta dan Dawiya Zaida) saling bercerita tentang keseraman gedung mereka hadir dengan cukup memorable dan fun.

Widi Mulya, yang lebih terkenal sebelumnya sebagai penyanyi dari kelompok terkenal, cukup berhasil menunjukkan kegelisahan karakter Luna yang diperankannya. Setelah menjajal akting di sebuah FTV yang bertema serius, Widi pun tetap konsisten untuk menujukkan keseriusan beraktring, bahkan untuk film jenis ini. Aryo Wahab tetap tampil dengan watak. Hanya saja karakternya kok terasa seperti tempelan saja ya? Karakter yang diperankan oleh Lukman Hakim seharusnya cukup kompleks namun dengan kualitas akting yang standar yang dimilikinya rasanya ia telah gagal dalam menampilkannya. Tio Pakusadewo dan Bella Esperance juga terasa sedikit over-akting dalam peran kecil mereka.

Terlepas dari banyak kelemahannya, secara keseluruhan ‘Lantai 13′ hadir dengan lumayan menarik. Ide isu-isu klenik yang berkembang dimasyarakat untuk diangkat di film ini pun cukup lumayan terelaborasi dan membuat kita mempertanyakan korelasi antara tingginya tingkat intelektualitas seseorang dengan tahap berfikir secara metafisiknya. Jadi, lupakan ‘Suster Ngesot’ atau ‘Malam Jum’at Kliwon’. ‘Lantai 13′ adalah film horor untuk bulan ini.


‘PRIMEVAL’: Monster-Movie With Ambiguity That Fails

Tuesday, June 12th, 2007

Produksi: Hollywood Picures (2007)
Sutradara: Michael Katleman
Cast: Dominic Purcell, Brooke Langton, Orlando Jones, Gideon Emery, Jürgen Prochnow

Genre: Thriller/Adventure
Durasi: 94"
Release Date: 12 Januari 2007 (USA)
My Grade: 2 out 5

Primeval‘Primeval’ merupakan salah satu bagian dari sub-genre ‘monster-movie’, yang pada akhir-akhir ini semakin jarang saja diproduksi di Hollywood. Dalam ranah genre ini biasanya pembuat film mempunyai banyak kebebasan untuk memadu-padankan berbagai genre dalam ramuannya, misalnya petualangan dengan horor atau drama atau fiksi-ilmiah, walaupun memang tujuan utamanya tetap ingin mengajak para penontonnya mengikuti thrill-ride yang dipandu oleh pengarahnya. ‘Primeval’ sendiri mengingatkan akan ‘Lake Placid’ karya Steve Miner atau yang lebih ‘murah’, ‘Crocodille’ dari Tobe Hooper, karena mengetengahkan buaya raksasa sebagai monster penyebar terornya.

Berdasarkan legenda nyata yang terjadi di pedalaman Afrika, seekor buaya raksasa bernama Gustave yang telah mengambil korban belasan jiwa. Tepatnya di sebuah kawasan bernama Burundi. Walau sudah memakan banyak korban, Amerika sama sekali tidak tertarik dengan masalah ini, sampai seorang perempuan berkulit putih menjadi ludapan siang si Gustave. Maka sekelompok orang yang terdiri dari seorang reporter bernama Tim Manfrey (Dominic Purcell, dari seri Prison Break) dan kameramennya Steven (Orlando Jones, Evolution), reporter perempuan yang ambisius Aviva (Brooke Langton, dari seri The Net), seorang pawang buaya Mathew (Gideon Emery) dan pemandu lokal berkulit putih Jacob Krieg (Jürgen Prochnow, Das Boot), berusaha untuk menangkap sang buaya. Namun, karena lokasi sang buaya bersarang merupakan daerah konflik, maka ancaman bagi mereka ternyata bukan hanya sang buaya!

Harus diakui jika Michael Katleman, sang pengarah film, menginginkan filmnya tidak hanya melulu tentang monster-buaya-raksasa. Film ini seakan mengisyaratkan jika manusia justru lebih berbahaya daripada sang hewan yang bertindak berdasarkan instingnya. Berbeda dengan manusia yang memunyai motivasi dan keinginan. Sayangnya, film ini tidak berhasil menjadi sebuah social-comentary yang utuh, karena Michael Katleman menggarap ‘Primeval’ dengan serba tanggung.

Sebagai sebuah monster-movie, formula yang dipakai sudah cukup pas. Ketegangan dan horor sudah cukup terajaga. Kehadiran Gustave pun diminimalisasi demi efek suspensnya. Hanya saja, struktur film menjadi kendor saat kemudian skrip menambahkan villain dari kalangan manusia sebagai unsur kritisi sosial tadi. Mungkin akan berhasil jika villain tersebut mempunyai karakter yang kompleks dan menarik perhatian. Yang ada malah terlihat sangat satu dimensi mirip bandit-bandit film-film kacangan. Ini yang menyebabkan ‘Primeval’ menjadi serba tanggung.

‘Primeval’ mungkin bukan monster-movie terbaik. Walau begitu, film ini cukup lumayan untuk dinikmati sebagai hiburan ringan pengisi waktu luang.


‘LIKE GRAINS OF SAND’: Teenage Angst That Captivating

Sunday, June 3rd, 2007

Produksi: ToHo (1995)
Sutradara: Ryosuke Hashiguchi
Cast: Yoshinori Okada, Kouta Kusano, Ayumi Hamasaki, Kouji Yamaguchi

Genre: Drama
Durasi: 129"
Release Date: 16 Desember 1995 (JEPANG)
My Grade: 4 out 5

Likegrains_bgPubertas dan segala dilemanya. Siapa saja yang pernah mengalaminya tentu paham betapa menggelisahkan dan menyusahkan masa tersebut, terutama mengenai masalah perasaan dan seksualitas. Apalagi bagi Shuji Ito (Yoshinori Okada), seorang remaja SMA di Tokyo yang berorientasi seksual pada sejenisnya. Ia sangat menyukai sahabat karibnya, Hiroyuki Yoshida (Kouta Kusano) yang ramah. Namun Ito tidak berani merusak persahabatannya dengan Yoshida dan mencemarkan reputasinya sebagai remaja ’straight’ di sekolahnya. Tentu saja ini menyebabkan beban batin yang menyesakkan perasaan Ito. Sementara itu datang siswi baru bernama Kasane Aihara (pop star, Ayumi Hamasaki) yang cenderung introvert dan penyendiri. Aihara tampaknya memahami perasaan Ito dan semenjak itu mereka pun berteman.

Keadaan menjadi lebih sulit bagi Ito saat sahabatnya yang lain Kanbara (Kouji Yamaguchi) mengetahui jika Ito seorang gay dan menyukai Yoshida dan dikarenakan kebingungan Kanbara akan hal tersebut, ia malah menyebar-luaskan rahasia yang dipendam Ito. Yoshida yang baik hati tidak menyalahkan sahabatnya itu dan mencoba memahami perasaan Ito. Bahkan ia memperbolehkan Ito untuk menciumnya!Namun, walau ia sadar tidak merasakan hal yang sama dengan Ito, ia tetap berteman dengan Ito. Di sisi lain Yoshida sendiri ternyata menunjukkan perasaan suka terhadap Aihara. Aihara sendiri menafikan perasaan Yoshida, karena ia sendiri menyimpan rahasia memilukan yang menyebabkan ia menolak setiap stimulan bersifat seksual. Lantas bagaimanakah konflik antara tiga remaja ini terkulminasi?

Walau mempunyai karakter yang berorientasi seksual sebagai seorang homoseksual, Like Grains of Sand (Nagisa no Shindobaddo) bukan film tentang homoseksualitas, namun lebih memfokuskan diri pada tema kegelisahan remaja, persahabatan dan disorientasi seksual. Ito, Yoshida, Aihara dan Kanbara adalah tipologi remaja yang bingung akan friksi yang terjadi pada diri mereka dan tidak mendapat sugesti atau dukungan yang semestinya dari orang dewasa di sekitarnya. Ini menyebabkan mereka belajar mengidentifikasi masalah dan menemukan sendiri solusinya.

Jika melihat plotnya yang terlihat melodramatis diatas, maka sepertinya Like Grains of Sand adalah bagian dari sub-kultur film remaja yang tipikal dan menekankan pada romansa klise. Maka persepsi tersebut adalah suatu kesalahan. Ryosuke Hashiguchi, sang sutradara, lebih menekankan pada interaksi antar karakter dengan realisme yang kental. Hashiguchi secara akurat memperhitungkan presisi setiap adegan untuk elaborasi motivasi dan perasaan karakternya. Hanya saja ini menyebabkan film berjalan dengan tempo yang melambat.

Walau begitu, tetap saja Like Grains of Sand adalah film yang kuat karena didukung dengan perkembangan cerita yang subtil dan pengarahan Hashiguchi yang moody. Dan film ini seakan membuktikan jika film remaja tidak melulu hanya berbicara tentang cinta-cintaan belaka, karena dunia remaja lebih luas dari itu.

More Poster
Like_grains_of_sand_1995_02_1