‘APOCALYPTO’: An Amusing High-Octaine Action-Thriller
Tuesday, June 26th, 2007Release Date: 08 desember 2006 (USA)
Dalam ‘Apocalypto’, lagi-lagi Mel Gibson meilih untuk mengarahkan filmnya dalam bahasa asing, setelah ‘Passion of The Christ’ (2004). Kali ini berlokasi di pedalaman Amerika Selatan, tepatnya di ujung era peradaban suku Maya.
Jaguar Paw (Rudy Youngblood) adalah seorang pemuda disebuah desa yang tenang ditengah hutan rimba. Ia adalah putra kepala kampung, Flint Sky (Morris Birdyellowhead) dan akan segera menggantikan ayahnya. Istri Jaguar Paw, Seven (Dalia Hernandez) tengah hamil tua dan siap melahirkan anak kedua untuk jaguar Paw. Namun, ketentraman desa mereka terusik dengan serbuan segermbolan orang pimpinan Zero Wolf (Raoul Trujillo). Mereka menawan para penduduk desa, pria dan perempuan, terkecuali anak-anak, untuk dibawa ke kuil besar untuk menghormati Kulkulan atau Dewa Matahari. Untunglah, Jaguar Paw sebelumnya masih sempat menyelamatkan anak dan istrinya kesebuah lubang besar. Ketika sampai di kuil, ternyata para laki-laki akan dipersembahkan sebagai korban untuk sang dewa, sedangkan yang perempuan dijual untuk menjadi budak. Beruntung, terjadi gerhana dan Jaguar Paw lolos dari eksekusi. Akan tetapi, masalah belum selesai. Zero Wolf dan kawanannya justru masih menjadi ancaman. Maka dimulailah petualangan Jaguar Paw ditengah belukar rimba, dengan mengandalkan pengetahuannya tentang bertahan di hutan, untuk melawan kejaran kelompok Zero Wolf.
Melalui film ini, Mel Gibson seakan ingin membuktikan bahwa film aksi-petualangan yang mendebarkan dapat dilakukan dimana saja, termasuk di tengah lebatnya pepohonan hutan belantara. ‘Apocalypto’terasa sangat intens dan menegangkan, terutama dibagian akhir film. Disini, terbukti kecakapan Mel Gibson dalam mengeksekusi sebuah film.
Film sendiri berjalan dalam 3 tahap; tahap pertama adalah pengenalan karakter, tahap kedua ranah konflik dan terakhir adalah adegan pengejaran yang intens tadi sebagai klimaks. Semua ditangani dengan efektif dan Mel Gibson mampu membangun empati penonton terhadap karakter utamanya. Seperti ‘BraveHeart’ (1995) dan ‘Passion of The Christ’ (2004), Mel Gibson masih menampilkan banyak adegan yang terasa brutal dan sadis, namun tidak terasa sebagai ‘kewajiban’ akan tetapi merupakan kebutuhan dari film. Dengan begitu, jelas ‘Apocalypto’ bukan untuk tontonan setiap orang.
Walau berseting di peradaban Maya, Mel Gibson tampaknya tidak begitu berminat untuk mendokumentasikan mengapa peradaban Maya bisa punah. Walau diawal film ia menegaskan bahwa "all great civilizations fail when they begin to rot from inside". Namun, dengan cukup eksplisit, Mel Gibson memang memperlihatkan demoralisasi yang terjadi di masyarakat Maya pada saat itu. ‘Apocalypto’ justru berbicara tentang ‘kepahlawanan’ dan penaklukan rasa takut. Seting MAya seakan memperlihatkan bahwa disetiap jaman dan masyarakat, ‘heroisme’ diperlukan untuk dapat menaklukan kerasnya hidup.



.



