‘COKLAT STROBERI’: The First Gay Romantic-Comedy in Indonesia? Hm….


Produksi: IFI (2007)
Sutradara: Ardy Octaviand
Cast: Marrio Merdhitia, Nino Fernandez, Nadia Saphira, Marsha Timmothy, Tike Priyatnaksumah
Spec.App: Fauzi Baadilla, George Rudy, Vino G. Bastian, Luna Maya, Julia Perez

Genre: Komedi/Romantis/Drama
Durasi: 100"
Release Date: 14 Juni 2007
My Grade: 3.5 out 5

Coklat_stroberi_2Setelah ‘30 Hari Mencari Cinta’ (2004) dan ‘Realita, Cinta dan Rock N’ Roll’ (2006), Upi, sang sutradara perempuan tangguh, kembali lagi dengan cerita barunya. Masih berhubungan dengan dunia remaja dalam bumbu-bumbu komedi. Hanya saja, kali ini ia memberikan kesempatan untuk asisten di film-filmnya, Ardy Octaviand, untuk memangku jabatan sebagai pengarah film. Kali ini Upi lebih berani mengeksplorasi tema homoseksualitas dalam film yang berjudul ‘Coklat Stroberi’ ini, setelah sebelumnya hanya menjadi bumbu-bumbu dalam filmnya.

Berkisah tentang Key (Nadia Saphira, Jomblo) dan Citra (Marsha Timothy, Ekspedisi Madewa) dua orang mahasiswi yang tinggal serumah. Key mengalami kesulitan keuangan, sehingga mengalami kendala dalam melunasi uang kontrakan. Ibu kost (Tike Priyatnakusumah, dari Extravaganza) yang galak akhirnya memberi solusi dengan setengah memaksa untuk menerima anak temannya untuk berbagi rumah. Ternyata penghuni baru tersebut adalah sepasang laki-laki sepantaran mereka, Nesta (Nino Fernandez, Terowongan Casablanca) dan Aldi (Marrio Merdhitia). Langsung saja Key merasa suka dengan kehadiran Desta apalagi kemudian Nesta juga terlihat seperti menyukai dirinya. Sementara itu Citra menemukan keanehan akan gelagat Aldi yang terlihat sangat perhatian terhadap Nesta. Pada dasarnya memang Desta dan Aldi adalah sepasang kekasih yang sejenis. Desta dan Aldi sendiri mempunyai friksi, karena Aldi mulai tidak betah untuk berpura-pura straight, sedangkan Nesta mempunyai filosofi Coklat Stroberi, yaitu "lu harus terlihat coklat, biarpun dalamnya lu stroberi (!)". Dalam kata lain, Nesta masih sungkan untuk tampil lebih terbuka. Masalahnya kemudian, Nesta juga menunjukkan gelagat jika ia menyukai Key. Jadi, apakah Nesta berpura-pura menyukai Key untuk menutupi identitasnya atau memang benar ia dengan tulus menyukai Key. Sementara itu Aldi mulai merasa cemburu dengan hubungan Nesta dan Key. Sedangkan ia sendiri juga mulai tidak nyaman dengan discreet-relationship-nya dengan Nesta dan ingin mempunyai hubungan yang lebih terbuka. Kalau perlu berterus terang dengan orangtuanya. Lantas, apakah Nesta mau mengikuti permintaan Aldi?

Jujur saja, sebenarnya saya sudah punya gambaran jika ‘Coklat Stroberi’ akan mempunyai gaya yang setipe  dengan ‘30 Hari Mencari Cinta’, karena bagaimanapun Upi masih berperan besar dalam produksi film ini. Jadilah ‘Coklat Stroberi’ sebagai sebuah cerita romantis dengan bumbu-bumbu komedi yang menggelitik. Hanya saja, kelebihan film ini dibandingkan ‘30 Hari’ adalah ia menyimpan kekuatan dalam cerita yang lebih mendalam dan eksploratif.

Film ini mencoba menggambarkan kisah cinta dari perspektif karakter yang mempunyai orientasi seksual yang berbeda dengan tipikal film komedi romantis biasanya. Dan tentu saja ada elaborasi-elaborasi secara sosial mengenai identifikasi tentang homoseksualitas dalam film ini. Secara ringkasnya, ‘Coklat Stroberi’ seakan menunjukkan jika fenomena ini memang terjadi di masyarakat dan kita tidak dapat menafikan mereka. Pilihan Aldi untuk jujur dan Nesta dengan kebingungannya merupakan isu-isu yang biasa dihadapi oleh kalangan remaja yang homoseksual. Pilihan dalam hidup mereka menjadi dua kali lebih sulit daripada remaja heteroseksual biasa.

Harus diakui skrip yang jenial oleh Upi berhasil divisualkan dengan menarik oleh Ardy Octaviand, walau dalam beberapa aspek memang masih terlihat sebagai karya sutradara debutan. Walau begitu Ardy berhasil meramu film ini menjadi sangat menggelitik, menghibur sekaligus informatif. Hanya saja, yang menjadi ganjalan adalah Upi terlihat masih belum begitu berani untuk mengeksplorasi homoseksualitas dalam film ini secara lebih total.

Padahal materi film sudah menunjukkan arah kesitu, namun pada akhirnya Upi dan Ardy memilih untuk mengakhiri filmnya dengan happy-ending yang membuat everybody-happy! Belum lagi karakter Aldi yang rasanya terlalu streotype. Mungkin Upi menginginkan filmnya tidak terlihat terlalu ekstrim, yang mungkin saja akan berpengaruh pada status film di box office nantinya.

Terlepas dari itu, ‘Coklat Stroberi’ tampil dengan sangat memuaskan sebagai film hiburan. Akting bintang-bintangnya pun cukup kontributif terhadap bangunan jalan cerita film secara keseluruhan, walau memang tidak luar biasa. Jadi, apakah ‘Coklat Stroberi’ adalah the first gay romantic-comedy in Indonesia? Ya dan tidak!


8 Responses to “‘COKLAT STROBERI’: The First Gay Romantic-Comedy in Indonesia? Hm….”

  1. APATIS VIAN Says:

    3 1/2 bintang????????
    Kya nya ga segitunya dech bo!
    3 bintang aj lah
    …..
    …..
    Mang sih ni pelem entertaining bgt….tapi story, babe!plis deeeee….

    Yang jelas..it’s really under my expectation…..

    N yang jelas ini yang terburuk
    dari seorang Upi (30 hari mencari cinta juga jelek siy,tapi coklat juga not good!)

    3,5 bintang?just because that’s a movie about gay (yg mana sangat di fave sama lo ;p or other explanation?

    piss
    ahmad AMV???????ehmmmmmmmm……nonton ga ya???

    hey,btw dah nonton i’m cyborg but it’s OK-nya Park Chan-Wook blom??it’s cool Man,walaupun ga ada gay nya….hohohohooho…
    bajakannya dah ada koq;P

    Miracle on 1st street and voice of murderer dah nonton lom???

    this my point:
    1. cyborg 7,5 out 10
    2. voice 7 out 10
    3. miracle 7 out 10

    di review y 3 film itu(Sekali2 gw kasih PR gpp kan Say;P!)

    I’ll be waiting

    thx

    piss

  2. APATIS VIAN Says:

    RALAT:
    I KNOW THAT COKLAT STROBERI IS NOT DIRECTED BY UPI…BUT, SHE WRITE THE STORY, RIGHT????

  3. hARIs Says:

    Ya…UPI cuma nulis engga ngarahin.

    BTW…loe kok tendensius bgt kalau sampe loe nge-judge gw cuma sukanya film2 betema gay ;p

    OK. alasan gw kenapa suka bgt sama film ini:
    1. yang jelas film ini sangat menghibur bgt dan gw merasa sangat puas setelah keluar dari bioskop. yang tahun ini cuma gw rasain abis nonton Nagabonar 2 ama Kala. emang sih…pantasnya 3 aja. koma limanya sebagai bonus karena gw ‘terpuaskan’.

    2. dibalik sisi hiburan ringannya, film ini mempunyai dialod2 yang bernas dan mengena. sebagai contoh, saat Aldi ingin hubungannya dengan Nesta lebih open-up, Nesta menolak dengan bilang “loe sadar engga loe tinggal dimana?” sambil ngelanjutin bilang “hubungan kayak gini engga ada masa depannya”. Gw jadi sedih, karena gw pernah bilang kayak gini sama seseorang, HAHAHAHAHA. Intinya, UPI tahu benar dengan apa yang ingin disampaikannya.

    Ahmad, Antara Venus dan Mars? Pasti gw tonton. UPI is one of my fave director.

    I’m Cyborg? Tenang aja. Pasti gw tonton dan gw review. Tunggu tanggal mainnya, ;)
    BTW, 30 Hari is one of my fave movie ya, even beyond Realita, Cinta dan Rock n’ Roll

  4. APATIS VIAN Says:

    hohohoho…

    barusan baca sinema-indonesia….
    2 kancut aja gitu…
    parah banget ya…emang sih kadang gue nggak stuju ma SI …dan lebih stuju ke review lo ( khusus untuk review angker batu)

    btw, cuma mo mastiin… whats ur mean with “terpuaskan” setelah nonton film ini?
    ( lo gak mastrubasi pas nonton kan? ;p secara gitu nino disitu telanjang mulu…
    hayooo…ngaku…..soalnya gue juga….. ;p

    trus lagi… ” hubungan kita nggak ada masa depannya, pengalaman pribadi ya bos?
    siapa bilang hubungan sejenis gak ada masa depannya?siapa yg bilang? siapa?siapa? biar gue adepin sini orangnya….(emosi ;p

    ahmad antara mars dan venus gue juga pasti nonton deng….
    secara itu UPI terinspirasi dari kehidupan gue kali….(tapi jangan bilang sapa2 ya… ;p

    sebenarnya gw juga gak kcewa2 banget ma ni film, cuma gw udah ekspektasi ni film tuh bakal “nampol” kayak Realita…eh ternyata Ardy lebih milih style “klemer2″ yg girly banget kayak di 3o Hari….

    info: minggu lalu, gw nonton di showbiznews wawancara dengan Ardy…ternyata dia juga kayaknya gay deh…keliatan banget dari gayanya yg yuk gitu deh…(Oh…God….gw ngebacot lagi….maafkanlah hamba-Mu ini…. ;p

    piss

  5. APATIS VIAN Says:

    ris,

    btw, gw minta list TOP 10 n BOTTOM 10 movie lo donk….plissssssssssss……

    1. Top 10 n bottom 10 film indonesia?
    2. top 10 n bottom 10 film Korea?
    3. Top 10 n bottom 10 film hollywood?
    4. Top 10 n bottom 10 film INDIA? ( DAMN……NI REQUEST DARI AUROR….MAL;ES BANGET GUE….-Speak ;p )

    plisss banget ya Ris…..w soalnya pnasaran banget ma film2 fave lo (sama lo-nya juga sih…hihihihi…)

    plissssss……dijawab ya…ntar gantian deh….

    btw, tale of two sister gimana nih? gw masih penasaran BANGET nih…..
    plis donk copy-in ya say…trus kirimin ke alamat gue….plisssss….
    itung2 itu kado ultah gue…gue dikit lagi ultah lo (tanggal 28) promosi nih….

    cant harly wait ur answer

    piss

  6. hARIs Says:

    Soal line itu, gw yang bilang. kenapa? keberatan? hehehehehe.

    Two Sister? Ntar deh. Gampang! Hehehehe.

    BTW…kalau mau, boleh kunjungi chaosisgreen.multiply.com
    lebih lengkap tuh tulisan2 aku.

  7. roesnink Says:

    saya suka coklat but saya juga suka strowbery..dua-duanya enak sih…mampir ke blogku ya ni alamatnya http://roesnink-roesnink.blogspot.com

  8. nani Says:

    iy bener gw setuju perananan aldi sama nesta disini masi terlalu kaku dan nestanya juga kurang romantis dan total tapi gw aga ngeri ama akhirnya haha…
    si aldi harusny dibikin pacaran sama si marsya timothy deh pasti lebih bagus

Leave a Reply