‘DEAD SILENCE’: A Fun Homage to The Genre’s Classic
Release Date: 16 Maret 2007 (USA)
Kalau sudah menonton ‘SAW’ (2004), pasti tahu dua James Wan dan Leigh Whannel, sebagai sutradara dan penulisnya. Kini mereka bekerjasama lagi dalam ‘Dead Silence’, lagi-lagi sebuah horor. Jika ‘SAW’ mengambil rute thriller-suspense, maka ‘Dead Silence’ kembali ke akar horor-supernatural yang sering dibuat di era50-an dan 60-an.
Jamie Ashen (Ryan Kwanten) menemukan istrinya, Lisa (Laura Regan, They, My Little Eye) tewas menggenaskan, tak lama setelah mereka menerima paket berisi sebuah boneka ventriloquist yang aneh. Ia pun dicurigai sebagai pembunuhnya oleh Detektif Jim Lipton (Donnie Wahlberg, SAW II, SAW III). Karena tidak terbukti, Jamie dibebaskan dan kembali kekampung halamannya, Raven’s Fair. Kota tersebut mempunyai legenda tentang arwah penasaran Mary Shaw (Judith Robert), seorang ventriloquist yang pada saat hidupnya pernah dicurigai dalam kasus hilangnya seorang anak lai-laki. Jamie menemui ayahnya, Edward Ashen (Bob Gunton) yang telah lama tidak dikunjunginya karena friksi diantara mereka. Ternyata sang ayah telah memiliki istri baru yang jauh lebih muda dan bernama Ella (Amber Valletta, What Lies Beneath, Premonition). Ayahnya menolak untuk merinci tentang Mary Shaw, walau Jamie yakin sekali jika kematian istrinya berhubungan dengan legenda Mary Shaw tersebut. Maka ia mulai menyelidiki penyebab kematian Mary Shaw, yang mungkin saja akan membuka tabir pembunuh istrinya.
James Wan dan Leigh Whannel tampaknya sangat menyukai genre horor ini, sehingga mereka seakan-akan membuat ‘Dead Silence’ sebagai ‘penghormatan’ atau homage untuk film-film horor klasik di tahun-tahun 50-an atau 60-an. Terbukti dengan penggunaan logo pembukaan studi Universal yang biasa dipakai pada jaman tersebut.
Walau bertema supernatural, namun struktur film ini lebih menyerupai sebuah ‘murder-mysteri’. Penampakan dan pembunuhan dimasukan dengan integralitas yang cukup rapi sehingga tidak terkesan dipaksakan. Matinya segala aspek suara saat adegan pembunuhan, sehingga suasana menjadi sunyi senyap, ditampilkan dengan cukup baik dan dapat menimbulkan efek mencekam yang diinginkan. James Wan pun cukup mampu untuk membangun filmnya secara mulus dan entertaining.
Yang menjadi masalah kemudian adalah film ini terlalu berupaya untuk tampil ’setia’ dengan pakem yang ada, sehingga banyak adegan yang rasanya sudah tertebak, sehingga mengurangi rasa penasaran atas misteri yang sudah dibangun sebelumnya. James Wan sendiri, menurut saya, sebenarnya mampu untuk lebih dari itu, karena ia bisa membuat sebuah film dengan gaya. Hanya saja, justru keinginannya untuk setia menjebak film menjadi terasa sangat jenerik.