‘PRIMEVAL’: Monster-Movie With Ambiguity That Fails
Release Date: 12 Januari 2007 (USA)
‘Primeval’ merupakan salah satu bagian dari sub-genre ‘monster-movie’, yang pada akhir-akhir ini semakin jarang saja diproduksi di Hollywood. Dalam ranah genre ini biasanya pembuat film mempunyai banyak kebebasan untuk memadu-padankan berbagai genre dalam ramuannya, misalnya petualangan dengan horor atau drama atau fiksi-ilmiah, walaupun memang tujuan utamanya tetap ingin mengajak para penontonnya mengikuti thrill-ride yang dipandu oleh pengarahnya. ‘Primeval’ sendiri mengingatkan akan ‘Lake Placid’ karya Steve Miner atau yang lebih ‘murah’, ‘Crocodille’ dari Tobe Hooper, karena mengetengahkan buaya raksasa sebagai monster penyebar terornya.
Berdasarkan legenda nyata yang terjadi di pedalaman Afrika, seekor buaya raksasa bernama Gustave yang telah mengambil korban belasan jiwa. Tepatnya di sebuah kawasan bernama Burundi. Walau sudah memakan banyak korban, Amerika sama sekali tidak tertarik dengan masalah ini, sampai seorang perempuan berkulit putih menjadi ludapan siang si Gustave. Maka sekelompok orang yang terdiri dari seorang reporter bernama Tim Manfrey (Dominic Purcell, dari seri Prison Break) dan kameramennya Steven (Orlando Jones, Evolution), reporter perempuan yang ambisius Aviva (Brooke Langton, dari seri The Net), seorang pawang buaya Mathew (Gideon Emery) dan pemandu lokal berkulit putih Jacob Krieg (Jürgen Prochnow, Das Boot), berusaha untuk menangkap sang buaya. Namun, karena lokasi sang buaya bersarang merupakan daerah konflik, maka ancaman bagi mereka ternyata bukan hanya sang buaya!
Harus diakui jika Michael Katleman, sang pengarah film, menginginkan filmnya tidak hanya melulu tentang monster-buaya-raksasa. Film ini seakan mengisyaratkan jika manusia justru lebih berbahaya daripada sang hewan yang bertindak berdasarkan instingnya. Berbeda dengan manusia yang memunyai motivasi dan keinginan. Sayangnya, film ini tidak berhasil menjadi sebuah social-comentary yang utuh, karena Michael Katleman menggarap ‘Primeval’ dengan serba tanggung.
Sebagai sebuah monster-movie, formula yang dipakai sudah cukup pas. Ketegangan dan horor sudah cukup terajaga. Kehadiran Gustave pun diminimalisasi demi efek suspensnya. Hanya saja, struktur film menjadi kendor saat kemudian skrip menambahkan villain dari kalangan manusia sebagai unsur kritisi sosial tadi. Mungkin akan berhasil jika villain tersebut mempunyai karakter yang kompleks dan menarik perhatian. Yang ada malah terlihat sangat satu dimensi mirip bandit-bandit film-film kacangan. Ini yang menyebabkan ‘Primeval’ menjadi serba tanggung.
‘Primeval’ mungkin bukan monster-movie terbaik. Walau begitu, film ini cukup lumayan untuk dinikmati sebagai hiburan ringan pengisi waktu luang.