Archive for July, 2007

‘THE NUMBER 23′: Curse, Enigma, or Just an Ordinary Number?

Friday, July 20th, 2007

Produksi: New Line Cinema (2007)
Sutradara: Joel Schumacher
Cast: Jim Carrey, Virginia Madsen, Danny Huston, Rhona Mitra, Logan Lerman

Genre: Drama/Thriller
Durasi: 95"
Release Date: 23 Februari 2007 (USA)
My Grade: 3 out 5

Number23_dvd Di periode 90-an, siapa yang tidak kenal dengan Joel Schumacher. Karya-karyanya semisal ‘A Time To Kill’, ‘Batman Forever’, ‘Falling Down’ dan lainnya. Pada saat itu namanya adalah jaminan untuk kualitas bagi film-filmnya, dengan pengecualian mungkin ‘Batman and Robin’. Di abad 21, nyaris generasi sekarang tidak ada yang mengenalnya dan karirnya jatuh kepada film-film kelas B seperti ‘Phone Booth’ yang juga kurang menggembirakan dari perolehan box-office-nya.

Kini ia kembali dengan ‘The Number 23′, sebuah suspense-thriller dengan bintang sekelas Jim Carrey sebagai pemeran utamanya. Dalam film ini, dijelaskan bahwa banyak mitos kontemporer (entah sebagai kutukan atau enigma?) yang dapat dikaitkan dengan angka 23 (lupakan the lucky 7 atau the unlucky 13 untuk sementara); setiap orang mempunyai 46 buah kromosom dan diperoleh 23 buah dari kedua orang tua kita, Titanic tenggelam pada 15/4/1912, dimana 1+5+4+1+9+1+2=23, peristiwa 9/11/2001 adalah 9+11+2+1=23, dan seterusnya.

Oke, mungkin kelihatannya sangat berlebihan jika mengaitkan segala sesuatu yang besar di Bumi ini dengan angka 23. Namun, prilaku obsesif tersebut ditunjukkan oleh Walter Sparrow (Jim Carrey, Eterna Sunshine of The Spotless Mind) saat membaca sebuah novel berjudul The Number 23, yang dibelikan oleh istrinya Agatha (Virginia Madsen, Sideways), pada saat ulang tahun Jim yang jatuh pada 3 Februari (February 3rd=23). Buku itu bercerita tentang seorang detektif bernama Fingerling yang menjadi terobsesi dengan angka 23, sesaat setelah berusaha menyelamatkan upaya seorang gadis untuk bunuh diri, karena tertekan dengan problema 23 yang diwarisi oleh ayahnya. Gadis itu bunuh diri juga pada akhirnya, menyisakan ‘kutukan’ obsesif angka 23 tersebut kepada Fingerling. Setelah makin terjerat dalam pesona angka 23 tersebut, maka kehidupan Fingerling pun tidak menjadi sama lagi.

Walter merasa jika cerita dalam novel tersebut begitu kuat dalam meresonansi kehidupannya, karena ia melihat banyak persamaan antara kehidupan Fingerling dengan kehidupannya sendiri. Ia sendiri juga seakan terjebak dalam obsesi untuk mengungkap rahasia angka 23 tersebut, sehingga meresahkan istrinya, walaupun anaknya Robin (Logan Lerman), sepertinya percaya dengan cerita sang ayah. Walaupun seorang teman mereka yang psikolog (Danny Huston) mengatakan jika Walter melihat angka 23 dimana-mana karena ia memang mencari angka tersebut, namun Walter mengindahkannya. Karena kemudian ia merasa jika buku tersebut sebenarnya sebuah petunjuk yang ingin mengungkapkan sesuatu. Masalahnya kemudian, Walter sendiri kemudian mulai merasa paranoid terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan istrinya, seperti yang ditunjukkan oleh Fingerling, sesaat sebelum membunuh kekasihnya!

Sesaat setelah menyimak trailernya, ‘The Number 23′ seakan ingin mengajak penonton untuk menyimak ketegangan dalam nuasa thriller-supernatural yang kental. Apalagi angka 23 tersebut ditunjukkan dengan begitu misteriusnya. Setelah menyaksikan filmnya, mungkin benar jika ini adalah sebuah thriller, akan tetapi jelas sama sekali tidak ada hubungannya dengan segala sesuatu yang bersifat supernatural. Bagaimana dengan teori konspirasi? Hm..! Rasanya film ini juga bukan ingin bercerita tentang itu.

Sebagai sebuah suspense, The Number 23′ mempunyai struktur plot yang cukup solid, walau lubang-lubang dalam ceritanya sama sekali tidak mungkin dapat dihindari. Joel Schumacher sendiri mengarahkan film ini dengan penuh gaya dan elemen fantasi, terutama untuk adegan penceritaan karakter Fingerling, yang juga diperankan oleh Jim Carrey. Film pun berjalan dengan cukup lancar sehingga mudah untuk diikuti. Masalahnya kemudian adalah saat cerita yang seharusnya mempunyai twist yang mencengangkan, begitu mudah untuk dipecahkan karena skrip yang tidak begitu kuat dalam menyembunyikan petunjuk, sehingga belum satu jam film berjalan, kita sudah bisa merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi. Begitu narasi memasuki klimaksnya, maka film sudah tidak memesona lagi.

Jim Carrey sendiri lumayan meyakinkan saat bermain sebagai seorang pria yang biasa-biasa saja. Namun saat menjadi Fingerling, rasanya ia kelihatan terlalu mencoba untuk tampil serius, sehingga malah terkesan kurang meyakinkan. Saya tahu jika Virginia Madsen adalah seorang aktris yang berkarakter dan dapat memainkan perannya dengan respek yang besar. Sayangnya, skrip tidak memberi ruang gerak yang lebih besar, sehingga terasa underused . Rasanya, dengan limitasi tersebut, perannya bisa saja dimainkan oleh aktris yang mana saja.

‘The Number 23′ memang terlihat menjanjikan diawal ceritanya, namun saat plot mulai terbaca dengan jelas, maka penonton sudah kehilangan intensitas dari misteri dalam ceritanya sehingga film malah terkesan datar. Walau begitu, meski terasa kurang memuaskan, ‘The Number 23′ tetap menyisakan sebuah janji akan thriller yang menghibur, terima kasih tentu saja disematkan untuk jam terbang Joel Schumacher dalam dunia sinema!


‘HARRY POTTER AND THE ORDER OF PHOENIX’: Something Wicked This Way Comes

Sunday, July 15th, 2007

Produksi: Warner Bross (2007)
Sutradara: David Yates
Cast: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Michael Gambon, Imelda Staunton, Gary Oldman, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter, Maggie Smith, Alan Rickman, Robbie Coltrane, Brendan Gleeson, Emma Thompson, Katie Leung, Evanna Lynch

Genre: Drama/Fantasi/Thriller
Durasi: 135"
Release Date: 11 Juli 2007(USA)
My Grade: 4 out 5

Harry_potter_and_the_order_of_the_phoeni_1 Fuuh, tak terasa Harry Potter sudah memasuki tahun kelimanya di Hogwart, School of Wizardy. Kini ia adalah remaja 15 tahun yang sudah mulai merasa nyaman dengan kekuatan sihirnya, tidak terpana lagi, seperti saat ia mula dikenalkan dengan dunia gaib tersebut. Tapi tahun ini sepertinya akan menjadi halangan baginya untuk melanjutkan studinya, karena ia diketahui menggunakan mantra di hadapan seorang muggle (manusia yang tidak berkemampuan sihir), yang kebetulan adalah Dudley (Harry Melling), sepupunya, saat mereka diserang Dementor. Akibatnya, kementrian sihir mengeluarkan maklumat untuk mengeluarkan Harry dari sekolah. Beruntung, kepala sekolah Hogwart, Prof. Albus Dumbledore (Michael Gambon), berhasil membela Harry, sehingga ia berhak melanjutkan pelajarannya.

Disekolah, datang guru baru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Dolores Umbridge (Imelda Staunton) yang menyebalkan. Ia menganggap Harry menyebarkan kebohongan dengan mengatakan Lord Veldemort (Ralp Fiennes) sudah kembali lagi. Umbridge yang juga anggota dewan kementrian sihir kemudian ditunjuk untuk menjadi Inkuisitor Agung yang punya kuasa untuk menginspeksi sesama rekan pengajar dan murid-murid tentunya. Ia juga mengeluarkan sejumlah dekrit yang membatasi ruang gerak murid. Bahkan ia melarang penggunaan mantra pertahanan di sekolah. Perlahan-lahan, kekuasaan Dumbledore pun mulai dilucuti.

Atas dorongan Hermione (Emma Watson) dan Ron (Rupert Grint), maka Harry memutuskan untuk memimpin sejumlah teman-temannya untuk membentuk Laskar Dumbledore dan mengajari mereka mantra-mantra Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, karena Harry telah berpengalaman sebelumnya saat berhadapan dengan Dia-Yang-Tak-Boleh-Disebut-Namanya. Sementara itu, karena mendapatkan mimpi-mimpi buruk yang berkepanjangan dan sepertinya berhubungan dengan Kau-Tahu-Siapa, Prof. Severus Snape (Alan Rickman, yang kelihatannya tidak berubah sedikitpun dari seri pertama), yang kelihatannya tak menyukai Harry, atas perintah Dumbledore mengajarkan occlumency (pertahanan sihir pikiran terhadap penetrasi luar). Diharapkan Harry dapat melawan mantra legilimency, kemampuan menyadap pikiran orang lain dan sangat dikuasai oleh Voldemort. Kekakuan hubungan antar Snape dan Harry justru mengacaukan jalannya pembelajaran dan membuka alasan mengapa Snape terlihat membenci Harry.

Sementara itu, penjara Azkaban kebobolan dan beberapa napi terlepas, termasuk Bellatrix Lestrange (Helena Bonham Carter), seorang Death Eater berbahaya andalan Voldemort. Kementrian sihir malah menuduh Sirius Black (Gary Oldman) sebagai dalang larinya para napi. Justru Harry bermimpi jika Sirius, ayah angkatnya, dalam cengkaraman bahay yang disebabkan oleh Voldemort. Maka dibantu Hermione dan Ron serta Neville Longbottom (Matthew Lewis), Ginny (Bonnie Wright) dan Luna ‘Looney’ Lovegood (Evanna Lynch), Harry berusaha menyelamatkan orang yang kini dianggap sebagai satu-satunya kerabat yang dipunyainya.

Terus terang, semenjak buku keempat, saya dengan sadar dan suka rela menolak untuk membaca novel karangan J.K. Rowling ini lagi, secara ketebalan bukunya bisa digunakan untuk menimpuk sekaligus mencederai jika ada anjing yang mengejar kita. Bukannya saya tidak menyukai membaca, hanya saja dengan keterbatasan waktu yang dipunyai sekarang membuat saya pun membatasi ketebalan buku-buku yang saya baca. Jadi, sama dengan kasus ‘Harry Potter and The Goblet of Fire’(2005), maka saya tidak bisa membandingkannya dengan bukunya. Berbeda dengan tiga buku dan tiga film pertama yang sudah saya lahap dengan nikmatnya. Walau begitu, film tersebut memenuhi ekpektasi saya terhadap seri Harry Potter yang mengendap di benak saya.

Bagaimana dengan yang satu ini? Bagi saya, secara personal, saya suka film ini, karena ‘Harry Potter and The Order of Phoenix’ yang dibesut oleh David Yates ini mampu menaikkan eskalasi dan kedalaman cerita menuju tahap selanjutnya, sesuatu yang memang diharapkan dari sebuah cerita yang berseri dengan karakter yang berkembang seperti ini. Harry Potter kini tampil dengan lebih dewasa, belum lebih matang memang, namun setidaknya menuju kearah itu. Tidak seperti dua seri awal, dimana dunia sihir-menyihir ini terlihat charming dan fantastik sekaligus kekanak-kanakan, maka dalam kematangan emisonil Harry Potter itu sendiri, dunia sihir eksis dengan tone yang lebih serius, gelap dan kelam. Suatu proses pendewasaan memang. Apalagi, untuk kali pertama, Harry Potter akan mencium gadis ‘gebetan’-nya Cho Chang (Katie Leung) di film ini.

Quote:
Hermione Granger:So what was it like? [speaking about Harry's kiss]
Harry Potter: Kind of wet.
Hermione Granger: Well, she has been crying a lot lately…
Ron Weasley: Well, you’d think a bit of snogging would make her happy.

*wink*

Nah, mungkin disini letak masalahnya. Sepertinya J.K. Rowling menyiapkan seri kali ini sebagi jembatan untuk sesuatu ‘yang lebih besar’. Dan itu mungkin di dua buku terakhir. Oleh karena itu film sepertinya lebih mengandalkan narasi sebagai eksposisi dan elaborasi karakter dari pada pamer fantasi, ketegangan atau laga yang memikat. Bisa dikatakan ini film yang paling ‘kering’ adegan fantastis dibandingkan empat seri sebelumnya, yang mungkin saja mengecewakan banyak yang menontonnya.

Seri Harry Potter sendiri sepertinya memang mengalami proses tranformasi menuju sesuatu yang bersifat epik. Dulu mungkin kita tak kan mengira jika seri ini akan berubah menjadi ‘Lord of The Ring’ misalnya. Namun, dengan indikasi yang semakin ditunjukkan melalui film ini, maka kemungkinan itu bisa saja terjadi.

Mungkin rasa terima kasih harus disematkan untuk Alfonso Cuaron (Y Tu Mama Tambien), yang dalam ‘Harry Potter and The Prisoner of The Azkaban’ (2004) berhasil dengan gemilang membelokkan tone ‘cerah’ yang dulu diusung oleh Chris Columbus (Home Alone) dalam dua seri awalnya. Hingga kemudian Mike Newell (Mona Lisa Smile) dalam ‘Harry Potter and the Goblet of Fire’ dan kini David Yates tinggal meneruskan prestasi Cuaron serta mengikilapkannya dengan interprestasi mereka sendiri tentunya.

Selain ketiga bintang utamanya yang masih muda-muda, maka seri Harry Potter benar-benar beruntung mendapatkan deretan pemeran pendukung luar biasa (sebagian berkelas Oscar) yang sudah eksis dengan kegemilangan mereka bahkan mungkin jauh sebelum Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grint lahir.

Jika Ralp Fiennes, Gary Oldman, Michael Gambon, Imelda Staunton, Helena Bonham Carter dan Allan Rickman memang termasuk memainkan peran penting kali ini, maka bintang-bintang seperti Emma Thompson (Sybil Trelawney), Maggie Smith (Minerva McGonagall), Robbie Coltrane (Rubeus Hagrid), David Thewlis (Remus Lupin), Brendan Gleeson (Alastor ‘Mad-Eye’ Moody), Julie Walters (Mrs. Weasley) dan Jason Isaacs (Lucius Malfoy) bersedia tampil dalam peran kecil sebagai extended-cameo hanya karena ingin meneruskan peran mereka yang memang telah mereka perankan dalam film-film sebelumnya.

Akhirnya, mungkin ‘Harry Potter and The Order of Phoenix’ hanya dapat dinikmati atau dimengerti bagi yang sudah menggemari film-film atau buku-bukunya. Bagi yang tidak, siap-siap untuk kebingungan karena tidak mengetahui secara jelas juntrungan ceritanya (bayangkan saja, 1200 halaman dipadatkan dalam 2 jam 15 menit!). Berbeda dengan empat film sebelumnya yang rasa-rasanya masih dapat dicerna oleh penonton yang sangat awam akan novel J.K. Rowling tersebut. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, sepertinya memang seri ini adalah jembatan untuk seri berikutnya, ‘Harry Potter and The Half-Blood Prince’ yang rencananya bakal dirilis 18 bulan lagi dari sekarang atau tepatnya pada tanggal 21 November 2008. Jabatan sutradara pun masih dipegang oleh David Yates. Bagi yang sudah membaca novelnya, mungkin sudah bisa memperkirakan ceritanya bakal jadi seperti apa. Tapi, bagi saya yang sudah kadung ‘malas’, rasa penasaran jelas besar sekali. Can’t hardly wait!


‘THE HILLS HAVE EYES II’: Nothing New Here Since Its A Rehash! (Not A Remake)

Saturday, July 7th, 2007

Produksi: Fox Atomic (2007)
Sutradara: Martin Weisz
Cast: Jessica Stroup, Michael McMillan, Daniella Alonso, Jacob Vargas

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 89"
Release Date: 23 Maret 2007 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

Hills_have_eyes_two ‘The Hills Have Eyes 2′ adalah sebuah sekuel dari sebuah remake. Walaupun film aslinya yang diarahkan oleh horror-meister Wes Craven (A Nightmare on Elm Street) pada tahun 1977 juga mempunyai sekuel dengan judul yang sama pada tahun 1985. Hanya saja, versi 2007 ini sama sekali bukan remake dari versi tahun 1985 tersebut. Wes craven tetap berperan penting untuk versi kontemporernya, walau hanya sebagai produserdan penulis skrip saja. Film ini pun diarahkan oleh orang baru, Martin Weisz, setelah ‘The Hills Have Eyes’ (2006) diarahkan oleh Alexander Aja (High Tension).

Terus terang saja, ‘The Hills Have Eyes 2′ merupakan sebuah konvensi dari pola usang yang entah mengapa terus berulang-ulang dari film-film jenis ini, termasuk dari segi plot dan karakterisasi (jika ada!). Hanya saja kali ini giliran sekelompok prajurit training muda dari Garda Nasional Amerika yang mendapat giliran. Selebihnya, jalan cerita dan orang-orang didalamnya tak lebih dari streotype yang sudah menjadi formula standar dan hadir hanya untuk menjadi ’santapan’ pembunuhan dan eksploitasi gory-scenes oleh sekumpulan kanibal mutan di tengah panasnya gurun pasir yang berbukit-bukit. Tentu saja harus ada beberapa yang bertahan dan mungkin disiapkan untuk sekuel berikutnya?

Tak ada atmosfir seram yang benar-benar intens atau misteri yang mencekam. Semuanya berjalan dengan pola yang sudah terduga. Bahkan, bisa dikatakan adegan-adegan dalam film berjalan seakan ‘diada-adakan’ atau terlalu sengaja sebagai alat untuk menampilkan kekerasan, darah dan gore. Jika memang tujuan dari sebuah film horor adalah hanya untuk ‘pesta’ kekerasan, darah dan gore tadi, maka film ini suskes dalam misinya. Akan tetapi, bukankah tujuan utama dari sebuah film horor adalah untuk mecekam, menakutkan atau malah menggelisahkan? Dan itu yang tidak berhasil dicapai oleh film ini.

‘The Hills Have Eyes 2′ mungkin memang menyediakan ‘ketegangan’ yang dibutuhkan oleh genre ini. Tapi bagi yang ingin menonton film horor yang menyeramkan dengan cerita yang inventif, maka buang jauh-jauh ekspektasi tersebut, karena ‘The Hills Have Eyes 2′ bukanlah jenis film itu.


‘BLACK SNAKE MOAN’: Redemption in a Platonic Relationship

Wednesday, July 4th, 2007

Produksi: Paramount Vintage (2007)
Sutradara: Craig Brewer
Cast: Samuel L. Jackson, Christina Ricci, Justin Timberlake

Genre: Drama
Durasi: 120"
Release Date: 02 Maret 2007 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Black_snake_moan Ditulis dan disutradarai oleh Craig Brewer (Hustle and Flow), ‘Black Snake Moan’ berbicara tentang kesadaran dan penebusan dalam sudut pandang yang tak lazim serta semangat musik blues yang menghipnotis. Posternya yang sangat mengingatkan akan film-film kelas Btahun 70-an, sama sekali hanya permukaan dari sensasi yang ditawarkan oleh ‘Black Snake Moan’ saat menontonnya.

Rae (Christina Ricci, Sleepy Hollow, Cursed) adalah seorang ‘gadis nakal’ disebuah kota kecil dengan masa lalu yang kelam. Ia mengalami semacam ‘disorder’ yang menyebabkan ia senang melakukan hubungan seksual. Pacarnya, Ronnie (Justin Timberlake, Alpha Dog) adalah satu-satunya yang bisa menenangkan Rae. Ronnie sendiri sebenarnya juga mempunyai ‘disorder’ yang menurutnya hanya Rae yang bisa menenangkan. Untuk mengalahkan kekuranganya tersebut Ronnie memutuskan untuk menjadi tentara dan meninggalkan Rae sendiri. Pada akhirnya Rae justru menghabiskan banyak waktunya dengan mabuk-mabukan, narkoba dan tidur dengan banyak laki-laki.

Di sudut lain di kota tersebut, Lazarus (Samuel L. Jackson, Snakes On A Plane, Shaft) atau yang dikenal sebagai Laz adalah seorang pria tua yang baru saja ditinggalkan oleh istrinya karena berselingkuh dengan saudara laki-lakinya. Ia merasa sangat merana dan kehilangan arah. Suatu hari ia menemukan seorang gadis yang tak dasarkan diri dijalan depan rumahnya, dengan muka yang memar seperti habis dipukuli. Ia pun membawa gadis tersebut kerumah serta merawatnya. Saat ia mencari obat di kota tahulah ia kalau sang gadis bernama Rae berikut dengan ‘reputasinya’. Mendadak, ia memutuskan untuk ‘menyadarkan’ Rae dari prilakunya. Dan ia melakukannya dengan cara yang unik, mengikat Rae dengan rantai besi yang panjang, sehingga Rae tidak akan lari kemana-mana. Tenu saja pada mulanya Rae memberontak dan ingin segera meninggalkan rumah Laz. Namun, Laz tentu saja tidak membiarkan Rae pergi dengan semudah itu.

Mudah saja mengatakan kemudian jika ‘Black Snake Moan’ berbicara tentang upaya penyadaran seseorang yang lebih ‘waras’ kepada orang lain yang bermasalah. Namun pada akhirnya film ini juga berbicara tentang hubungan seorang laki-laki dan perempuan secara platonis dan menggemaskan. Pada mulanya Rae menciptakan friksi terhadap Laz, akan tetapi karena keadaan yang ‘memaksa’ menyebabkan ia harus menghabiskan hari-harinya berasama dengan Laz dan membuat ia mengenal diri Laz secara lebih mendalam. Perlahan tapi pasti, interaksi antara mereka berdua justru saling mempengaruhi satu sama lain untuk menuju sesuatu yang lebih baik pastinya. Pada akhirnya film tidak hanya berbicara tentang penebusan seorang Lazarus tua terhadap dirinya sendiri, akan tetapi juga mengenai politik kesadaran dan proses komunikasi antara orang-orang yang tidak nyambung.

Duet Samuel L. Jackson dan Christina Ricci berjalan dengan sangat ciamik, seakan-akan mereka hanya menjadi sosok Rae dan Lazarus. Samuel L. Jackson seakan tercipta menjadi Lazarus sedangkan Christina Ricci tampil dengan sangat provokatif sekaligus rapuh. Karakter yang diperankan oleh Justin Timberlake sebenarnya kurang dikembangkan oleh skripnya, namun dengan porsi adegan yang minimun yang dimilikinya, Timberlake mencoba meyakinkan kalau ia bukan hanya sekedar penyanyi dengan wajah tampan.

Musik sendiri memainkan peranan penting dalam film ini. Terutama Blues. Ia seakan menjadi jembatan penghubung antara Rae dan Laz, sehingga walaupun ‘Black Snake Moan’ bukan film musikal, namun musik menjadi alat cerita dalam struktur film.

Walau begitu, film bukannya tanpa cacat-cela! Rasa-rasanya, ‘Black Snake Moan’ terkadang terasa over-the-top dan beberapa karakter malah terkesan komikal sehingga mengganggu tone serius dan realistik film yang telah dibangun sebelumnya.
Craig Brewer patut dipuji dalam pendekatan yang dipilihnya dalam film yang sebenarnya mempunyai tema yang tidak terlalu luar biasa ini. ‘Black Snake Moan’ terasa sangat berbeda, unik dan menyentuh. Terlepas dari banyaknya adegan vulgarnya, ‘Black Snake Moan’ adalah langkah berani dalam bercerita tentang hubungan laki-laki dan perempuan serta penebusan dan kesadaran, tanpa harus terkesan menggurui dan sok-tahu!


‘NIGHTMARE DETECTIVE’: Chills-and-Thrills Investigation in aVivid Dream

Wednesday, July 4th, 2007

Produksi: Movie-Eye Entertainment Inc. (2007)
Sutradara: Shinya Tsukamoto
Cast: Ryuhei Matsuda, Hitomi, Ando Masanobu, Shinya Tsukamoto

Genre: Drama/Thriller/Horor
Durasi: 106"
Release Date: 13 January 2007 (JEPANG)
My Grade: 3.5 out 5

Nightmare_detectivecover ‘Nightmare Detective’ (Akumu Tantei) sungguh film yang unik, jika tidak mau dikatakan beda dari tipikal film yang ada. Separuh thriller-suspense, separuh horor, separuh drama dan dipadukan dengan elemen psikologis yang surealis. Berbicara surealis, tentu saja bukan hal yang aneh karena sutradaranya, Shinya Tsukamoto memang terkenal dengan karya-karya surealis berbau psikologis, seperti ‘Vital’ (2004) dan ‘Tetsuo’(1989). Shinya sendiri juga merupakan seorang aktor yang telah bekerjasama dengan sutradara-sutradara berkelas seperti Takashi Miike dalam ‘Ichi The Killer’ dan Takashi Shimizu dalam ‘Marebito’. Dalam film ini ia pun bermain sebagai sang karakter villain. 

Seorang pemuda yang bernama Kyoichi Kagenuma (Ryuhei Matsuda) mempunyai kelebihan secara psikis, yaitu bisa memasuki dunia mimpi seseorang. Sayangnya, ini justru merupakan suatu kutukan bagi Kyoichi semenjak ia menjadi tersiksa secara batin dengan kemampuannya tersebut. Pada dasarnya Kyoichi ini pun mempunyai latar belakang yang menggiriskan. Sementara itu seorang detektif polisi perempuan yang bernama Keiko Kirishima (Hitomi) menangani kasus lapangan pertamanya, yaitu dua buah kasus bunuh diri yang mencurigakan dan kelihatannya berhubungan dengan sosok misterius bernama O (Shinya Tsukamoto), karena kedua korban menelpon O sebelum diketemukan tewas menggenaskan.

O kelihatannya mampu memasuki pikiran korbannya dan kemudian membunuh korbannya di alam bawah sadar. Pada akhirnya Keiko berusaha mengajak Kyoichi untuk bekerjasama menangkap O. Sayangnya Kyoichi meonal. Sampai rekan kerja Keiko, Wakamiya (Ando Masanobu) mencoba menelpon O dan pada akhirnya tewas menggenaskan. Untuk menangkap O, maka Keiko memutuskan untuk memanggil nomor O dan bertekad untuk menghadapi O. Walau ragu-ragu, akhirnya Kyoichi bersedia untuk membantu Keiko. Keiko sendiri, dibalik penampilan tangguhnya, ternyata rapuh didalam jiwanya dan mempunyai pergolakan batin tersendiri. Ini tentu saja akan menjadikan ia sebagai mangsa empuk bagi O. Bisakah kemudian Kyoichi melupakan masalahnya dan menyelamatkan Keiko sekaligus meringkus O?

‘Nightmare Detective’ pada akhirnya seperti sebuah thrill-ride dengan kecepatan dibawah rata-rata. Namun ini justru yang memang dibutuhkan oleh film ini dan pastinya akan mempunyai efek yang berbeda jika bertempo amat sepat. Ketegangan dibangun secara merambat sedangkan misteri perlahan tapi pasti dikuak. Kedalaman psikologisnya sendiri bukan sekedar tempelan akan tetapi merupakan bagian utuh dari struktur cerita secara keseluruhan.

Dari segi akting, Ryuhei Matsuda tampil dengan cukup meyakinkan sementara Hitomi sendiri pada awalnya adalah seorang penyanyi dan film ini merupakan debutnya. Wajar jika pada beberapa bagian ia terlihat menampilkan ekspresi wajah yang singular, walau untuk seorang debutan, ia tampil dengan cukup baik.

Shinya Tsukamoto kelihatannya mencoba untuk tampil dengan sedikit lebih komersil dengan ‘Nightmare Detective’, karena dia memakai banyak konvensi tradisional dalam filmnya ini. Walaupun pace film sedikit lambat namun secara keseluruhan film dapat dicerna dengan mudah tanpa harus banyak-banyak mengerutkan kening. Walau begitu, tentu saja ia tidak melepaskan trade-marknya, sehingga inilah yang menjadikan ‘Nightmare Detective’ sebagai film hiburan yang istimewa.