‘BLACK SNAKE MOAN’: Redemption in a Platonic Relationship
Release Date: 02 Maret 2007 (USA)
Ditulis dan disutradarai oleh Craig Brewer (Hustle and Flow), ‘Black Snake Moan’ berbicara tentang kesadaran dan penebusan dalam sudut pandang yang tak lazim serta semangat musik blues yang menghipnotis. Posternya yang sangat mengingatkan akan film-film kelas Btahun 70-an, sama sekali hanya permukaan dari sensasi yang ditawarkan oleh ‘Black Snake Moan’ saat menontonnya.
Rae (Christina Ricci, Sleepy Hollow, Cursed) adalah seorang ‘gadis nakal’ disebuah kota kecil dengan masa lalu yang kelam. Ia mengalami semacam ‘disorder’ yang menyebabkan ia senang melakukan hubungan seksual. Pacarnya, Ronnie (Justin Timberlake, Alpha Dog) adalah satu-satunya yang bisa menenangkan Rae. Ronnie sendiri sebenarnya juga mempunyai ‘disorder’ yang menurutnya hanya Rae yang bisa menenangkan. Untuk mengalahkan kekuranganya tersebut Ronnie memutuskan untuk menjadi tentara dan meninggalkan Rae sendiri. Pada akhirnya Rae justru menghabiskan banyak waktunya dengan mabuk-mabukan, narkoba dan tidur dengan banyak laki-laki.
Di sudut lain di kota tersebut, Lazarus (Samuel L. Jackson, Snakes On A Plane, Shaft) atau yang dikenal sebagai Laz adalah seorang pria tua yang baru saja ditinggalkan oleh istrinya karena berselingkuh dengan saudara laki-lakinya. Ia merasa sangat merana dan kehilangan arah. Suatu hari ia menemukan seorang gadis yang tak dasarkan diri dijalan depan rumahnya, dengan muka yang memar seperti habis dipukuli. Ia pun membawa gadis tersebut kerumah serta merawatnya. Saat ia mencari obat di kota tahulah ia kalau sang gadis bernama Rae berikut dengan ‘reputasinya’. Mendadak, ia memutuskan untuk ‘menyadarkan’ Rae dari prilakunya. Dan ia melakukannya dengan cara yang unik, mengikat Rae dengan rantai besi yang panjang, sehingga Rae tidak akan lari kemana-mana. Tenu saja pada mulanya Rae memberontak dan ingin segera meninggalkan rumah Laz. Namun, Laz tentu saja tidak membiarkan Rae pergi dengan semudah itu.
Mudah saja mengatakan kemudian jika ‘Black Snake Moan’ berbicara tentang upaya penyadaran seseorang yang lebih ‘waras’ kepada orang lain yang bermasalah. Namun pada akhirnya film ini juga berbicara tentang hubungan seorang laki-laki dan perempuan secara platonis dan menggemaskan. Pada mulanya Rae menciptakan friksi terhadap Laz, akan tetapi karena keadaan yang ‘memaksa’ menyebabkan ia harus menghabiskan hari-harinya berasama dengan Laz dan membuat ia mengenal diri Laz secara lebih mendalam. Perlahan tapi pasti, interaksi antara mereka berdua justru saling mempengaruhi satu sama lain untuk menuju sesuatu yang lebih baik pastinya. Pada akhirnya film tidak hanya berbicara tentang penebusan seorang Lazarus tua terhadap dirinya sendiri, akan tetapi juga mengenai politik kesadaran dan proses komunikasi antara orang-orang yang tidak nyambung.
Duet Samuel L. Jackson dan Christina Ricci berjalan dengan sangat ciamik, seakan-akan mereka hanya menjadi sosok Rae dan Lazarus. Samuel L. Jackson seakan tercipta menjadi Lazarus sedangkan Christina Ricci tampil dengan sangat provokatif sekaligus rapuh. Karakter yang diperankan oleh Justin Timberlake sebenarnya kurang dikembangkan oleh skripnya, namun dengan porsi adegan yang minimun yang dimilikinya, Timberlake mencoba meyakinkan kalau ia bukan hanya sekedar penyanyi dengan wajah tampan.
Musik sendiri memainkan peranan penting dalam film ini. Terutama Blues. Ia seakan menjadi jembatan penghubung antara Rae dan Laz, sehingga walaupun ‘Black Snake Moan’ bukan film musikal, namun musik menjadi alat cerita dalam struktur film.
Walau begitu, film bukannya tanpa cacat-cela! Rasa-rasanya, ‘Black Snake Moan’ terkadang terasa over-the-top dan beberapa karakter malah terkesan komikal sehingga mengganggu tone serius dan realistik film yang telah dibangun sebelumnya.
Craig Brewer patut dipuji dalam pendekatan yang dipilihnya dalam film yang sebenarnya mempunyai tema yang tidak terlalu luar biasa ini. ‘Black Snake Moan’ terasa sangat berbeda, unik dan menyentuh. Terlepas dari banyaknya adegan vulgarnya, ‘Black Snake Moan’ adalah langkah berani dalam bercerita tentang hubungan laki-laki dan perempuan serta penebusan dan kesadaran, tanpa harus terkesan menggurui dan sok-tahu!
July 6th, 2007 at 5:25 am
wawawawawa….INI TENTANG FILM KOREA “INNOCENT STEPS”….
kmaren baru aja nonton “innocemt steps” film yang katanya lo taro’ di no.2 di top 5 list korea lo….( cat: nyarinya susah mampus lo…kayaknya udah langka banget nioh pelem….)
dan tahu apa reaksi gue setelah nonton…?
( klo di pelem kartun gw yakin pala gw uda ketiban batu yang gede banget….wakwawwwwww…..
kok bisa2nya sih film dengan story, akting, dan bla-bla lainnya yang standar kayak gini lo taro di posisi 2?
sumpahhhh….gue nggak ngerti banget…
apalagi nih film di list lo ada di peringkat diatas film2 super keren kayak “welecome 2 dongmakgol”, “tale of two sisters” (kayaknya), “dan “the host” ???????? TIDAAAAAAAAAAKKKKKK….
harap diinget, lo udah ngasih welecome 2 dongmakgol 5 stars alias perfect point…
trus nilai film ini brapa?
5,5?
tapi kalo emang 5,5 gw juga setuju sih ….karna itu penilaian gw juga buat film ini…
tapi gw 5,5 nya dari 10…. hehe…sorry ye, bro…
coba apa keren dan bagusnya????apa karna nih film tentang dansa jadi lo suka banget, bro? :p
plis tell me… sebelum gw bunuh diri (lebay :p
piss lah…
hidup film korea!!!!
July 6th, 2007 at 10:42 pm
Wah….loe kan engga bisa menyamaratakan selera dan pengalaman setiap orang saat menonton film kan?
Terus terang rating gw untuk film ini cuma 3 bintang aja dan itu faktor objektifitas gw.
Tapiiiii…..ini film berkesan bgt ama gw. Gw sampe nangis bombay sehabis menyaksikannya.Bahkan untuk menonton yang ketiga kalinya.
Kriteria film fave gw bukan dia harus film super bagus atau punya rating 5. Yang jadi fave gw adalah yang bisa buat gw terkesan abis dan buat gw pengen nonton, nonton dan nonton lagi. Gitu loh mas?????
July 27th, 2007 at 11:33 pm
Lumayan!
April 14th, 2008 at 8:50 am
tunggu…gw setuju 100% ama haris.Akting Chistina Ricci itu bener-bener ga nahan….
adegan fave gw waktu dia ama Justin mau ngeseks lagi di akhir tapi akhirnya ketahan…..
Mangificent…
April 17th, 2008 at 4:44 am
Ya ALLAH….jadi karena itu..hehehehee