‘THE NUMBER 23′: Curse, Enigma, or Just an Ordinary Number?
Release Date: 23 Februari 2007 (USA)
Di periode 90-an, siapa yang tidak kenal dengan Joel Schumacher. Karya-karyanya semisal ‘A Time To Kill’, ‘Batman Forever’, ‘Falling Down’ dan lainnya. Pada saat itu namanya adalah jaminan untuk kualitas bagi film-filmnya, dengan pengecualian mungkin ‘Batman and Robin’. Di abad 21, nyaris generasi sekarang tidak ada yang mengenalnya dan karirnya jatuh kepada film-film kelas B seperti ‘Phone Booth’ yang juga kurang menggembirakan dari perolehan box-office-nya.
Kini ia kembali dengan ‘The Number 23′, sebuah suspense-thriller dengan bintang sekelas Jim Carrey sebagai pemeran utamanya. Dalam film ini, dijelaskan bahwa banyak mitos kontemporer (entah sebagai kutukan atau enigma?) yang dapat dikaitkan dengan angka 23 (lupakan the lucky 7 atau the unlucky 13 untuk sementara); setiap orang mempunyai 46 buah kromosom dan diperoleh 23 buah dari kedua orang tua kita, Titanic tenggelam pada 15/4/1912, dimana 1+5+4+1+9+1+2=23, peristiwa 9/11/2001 adalah 9+11+2+1=23, dan seterusnya.
Oke, mungkin kelihatannya sangat berlebihan jika mengaitkan segala sesuatu yang besar di Bumi ini dengan angka 23. Namun, prilaku obsesif tersebut ditunjukkan oleh Walter Sparrow (Jim Carrey, Eterna Sunshine of The Spotless Mind) saat membaca sebuah novel berjudul The Number 23, yang dibelikan oleh istrinya Agatha (Virginia Madsen, Sideways), pada saat ulang tahun Jim yang jatuh pada 3 Februari (February 3rd=23). Buku itu bercerita tentang seorang detektif bernama Fingerling yang menjadi terobsesi dengan angka 23, sesaat setelah berusaha menyelamatkan upaya seorang gadis untuk bunuh diri, karena tertekan dengan problema 23 yang diwarisi oleh ayahnya. Gadis itu bunuh diri juga pada akhirnya, menyisakan ‘kutukan’ obsesif angka 23 tersebut kepada Fingerling. Setelah makin terjerat dalam pesona angka 23 tersebut, maka kehidupan Fingerling pun tidak menjadi sama lagi.
Walter merasa jika cerita dalam novel tersebut begitu kuat dalam meresonansi kehidupannya, karena ia melihat banyak persamaan antara kehidupan Fingerling dengan kehidupannya sendiri. Ia sendiri juga seakan terjebak dalam obsesi untuk mengungkap rahasia angka 23 tersebut, sehingga meresahkan istrinya, walaupun anaknya Robin (Logan Lerman), sepertinya percaya dengan cerita sang ayah. Walaupun seorang teman mereka yang psikolog (Danny Huston) mengatakan jika Walter melihat angka 23 dimana-mana karena ia memang mencari angka tersebut, namun Walter mengindahkannya. Karena kemudian ia merasa jika buku tersebut sebenarnya sebuah petunjuk yang ingin mengungkapkan sesuatu. Masalahnya kemudian, Walter sendiri kemudian mulai merasa paranoid terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan istrinya, seperti yang ditunjukkan oleh Fingerling, sesaat sebelum membunuh kekasihnya!
Sesaat setelah menyimak trailernya, ‘The Number 23′ seakan ingin mengajak penonton untuk menyimak ketegangan dalam nuasa thriller-supernatural yang kental. Apalagi angka 23 tersebut ditunjukkan dengan begitu misteriusnya. Setelah menyaksikan filmnya, mungkin benar jika ini adalah sebuah thriller, akan tetapi jelas sama sekali tidak ada hubungannya dengan segala sesuatu yang bersifat supernatural. Bagaimana dengan teori konspirasi? Hm..! Rasanya film ini juga bukan ingin bercerita tentang itu.
Sebagai sebuah suspense, The Number 23′ mempunyai struktur plot yang cukup solid, walau lubang-lubang dalam ceritanya sama sekali tidak mungkin dapat dihindari. Joel Schumacher sendiri mengarahkan film ini dengan penuh gaya dan elemen fantasi, terutama untuk adegan penceritaan karakter Fingerling, yang juga diperankan oleh Jim Carrey. Film pun berjalan dengan cukup lancar sehingga mudah untuk diikuti. Masalahnya kemudian adalah saat cerita yang seharusnya mempunyai twist yang mencengangkan, begitu mudah untuk dipecahkan karena skrip yang tidak begitu kuat dalam menyembunyikan petunjuk, sehingga belum satu jam film berjalan, kita sudah bisa merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi. Begitu narasi memasuki klimaksnya, maka film sudah tidak memesona lagi.
Jim Carrey sendiri lumayan meyakinkan saat bermain sebagai seorang pria yang biasa-biasa saja. Namun saat menjadi Fingerling, rasanya ia kelihatan terlalu mencoba untuk tampil serius, sehingga malah terkesan kurang meyakinkan. Saya tahu jika Virginia Madsen adalah seorang aktris yang berkarakter dan dapat memainkan perannya dengan respek yang besar. Sayangnya, skrip tidak memberi ruang gerak yang lebih besar, sehingga terasa underused . Rasanya, dengan limitasi tersebut, perannya bisa saja dimainkan oleh aktris yang mana saja.
‘The Number 23′ memang terlihat menjanjikan diawal ceritanya, namun saat plot mulai terbaca dengan jelas, maka penonton sudah kehilangan intensitas dari misteri dalam ceritanya sehingga film malah terkesan datar. Walau begitu, meski terasa kurang memuaskan, ‘The Number 23′ tetap menyisakan sebuah janji akan thriller yang menghibur, terima kasih tentu saja disematkan untuk jam terbang Joel Schumacher dalam dunia sinema!