Archive for August, 2007

‘ALONE’: Seperated Twin With Grudge. And It’s Scary!

Monday, August 27th, 2007

Produksi: GMM/Phenomena (2007)
Sutradara: Banjong Pisanthanakun/Parkpoom Wongpoom
Cast: Masha Wattanapanich, Vittaya Wasukraipaisan, Ruchanu Boonchoduang

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 95"
Release Date: 29 Maret 2007 (Thailand)
My Grade: 3.5 out 5

Alone_2Dengan kesuksesan ‘Shutter’(2004), duet Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom semakin mantap saja dalam menggarap film horor. Kali ini mereka kembali lagi dengan ‘Alone’ atau ‘Faet’, sebuah horor dengan bumbu thriller-psikologis (atau sebaliknya?), yang tak kalah memikatnya.

Pim (Masha Wattanapanich) tinggal berdua saja dengan kekasihnya Wee (Vittaya Wasukraipaisan) di Korea. Namun, saat ibunya dikabari tengah sakit parah, maka Pim dan Wee kembali ke Thailand, kembali kerumah dimana ia tumbuh besar bersama saudari kembar siamnya, Ploy (Masha Wattanapanich). Sayangnya, saat operasi pemisahan, Ploy meninggal. Saat tiba di rumah tersebut, Pim seakan dihantui oleh arwah penasaran Ploy. Entah karena rasa bersalah kepada Ploy atau memang benar arwah Ploy menghantui Pim, Wee mulai merasakan keanehan. Saat guncangan akibat teror yang dialami Pim semakin intens, Wee harus berusaha menyelamatkan orang yang dicintainya atau hidup mereka dalam bahaya.

Keseraman dalam film ini dibangun dengan hanya mengandalkan atmosfir seram dan buram dalam lingkungan yang sederhana. Sebenarnya bahkan pola yang dipakai cukup umum, namun duet sutradaranya berhasil membangun ketegangan melalui gambar-gambar yang sederhana tersebut melalui set-up yang penuh perhitungan dengan baik tanpa harus terkesan overakting atau terlalu berlebihan dalam menakut-nakuti.

Masha Wattanapanich sebelumnya dikenal sebagai pop-diva di Thailand, dan melalui film ini melakukan come-backdi layar lebar setelah absen selama 10 tahun. Dan ia cukup baik menampilkan karakter Pim dan Ploy yang berbeda secara karakteristik. Kredit lebih juga harus disematkan kepada dua pemain muda yang memainkan Pim-Ploy saat remaja, karena mereka cukup berhasil meniupkan ruh yang diinginkan oleh karakter mereka. Sementara itu, Vittaya Wasukraipaisan bermain dalam kapasitas medioker walau cukup komplementatif.

Harus diakui, Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom semakin fasih saja dalam bercerita, terutama dalam genre horor yang mereka pilih ini. ‘Alone’ tidak hanya mengandalkan formula horor konvensional akan tetapi juga dengan memikat berhasil memperlihatkan lika-liku hubungan antara dua saudari tersebut. Dan pada akhirnya, film malah berujung pada thriller-suspense yang kental dan menegangkan.

Sebagaimana ‘Shutter’, maka ‘Alone’ juga mempunyai twist dan harus saya akui twist dalam film ini terasa lebih orisinil dan memikat, membuat kita merasakan ’sensasi’ yang rasanya sekarang jarang dapat kita rasakan, walau sepertinya belum mampu menyamai ’sensasi’ yang ditimbulkan sehabis menyaksikan ‘A Tale of Two Sisters’ (2003).

Dan ‘Alone’ sendiri pun sebenarnya masih mempunyai lubang-lubang dan pendangkalan logika dalam plotnya, namun sebagai sebuah film horor, ia berhasil dalam melaksanakan misinya. Dan ‘Alone’ tampil bukan hanya sebagai sebuah scare-fest atau thrill-ride belaka, tapi utuh sebagai hiburan yang mempunyai esensi yang kuat untuk disampaikan.


‘THE BOURNE ULTIMATUM’: A Hitman With Hidden Past Continues

Monday, August 20th, 2007

Produksi: Universal Pictures (2007)
Sutradara: Paul Greengrass
Cast: Matt Damon, Julia Stiles, Joan Allen, Scott Glenn, David Strathairn, Albert Finney

Genre: Aksi/Thriller
Durasi: 111"
Release Date: 03 Agustus 2007 (USA)
My Grade: 4 out 5

Bourne_ultimatum
Cerita dalam ‘The Bourne Ultimatum’ berangkat tepat sehabis dari adegan di ‘The Bourne Supremacy’ (2004). Beberapa minggu kemudian, Jason Bourne (Matt Damon), setelah menyembuhkan luka-lukanya, kembali beraksi mengejar-dikejar-terkejar oleh siapa dan mengapa dirinya bisa seperti saat ini. Dan ini mencakup petinggi-petinggi CIA, seperti Noah Vosen (David Strathairn) dan direktur Ezra Kramer (Scott Glenn), yang ingin dengan segera melenyapkan Jason Bourne, tercakup dengan proyek Blakbriar yang merupakan lanjutan dari operasi rahasia bersandi Treadstone. Untunglah masih ada nama-nama seperti Pamela Landy (Joan Allen) dan Nicky Parsons (Julia Stiles) yang bersedia membahayakan karir mereka di CIA demi membantu Jason.

Sehabis menyaksikan film ini, maka kesan saya adalah film ini sangat impresif, dan Paul Greengrass sebagai sutradara mampu melampaui kinerjanya di ‘The Bourne Supremacy’ walaupun rasanya sulit mengimbangi Doug Liman saat mengeksekusi ‘The Bourne Identity’ (2002) yang sangat gemilang tersebut. Adegan-adegan aksi dan perkembangan plot digarap dengan seksama oleh Greengrass, menyebabkan rasa greget di intensitas adrenalis yang tinggi saat menyaksikan adegan-adegannya. Greengrass mencoba memakai pendekatan realitis sehingga filmnya terasa seperti digarap dengan semi-dokumenter, terbukti dengan kamera yang sepertinya diambil dengan memakai kamera hand-held. Hanya saja, efek negatif adalah kita merasa kameramenya seperti mensyut adegan disaat mabuk!

Terus terang saja, cerita dalam film ini rasanya sederhana sekali. Walaupun mungkin rasanya bagi penonton yang baru menyaksikan aksi Jason Bourne di film ini bakal kelimpungan alias tidak mengerti juntrungan ceritanya. Namun, justru memang kesederhanaan itu jualan utama dari seri ini. Bagimana dengan cerita yang sederhana tersebut dikemas menjadi sebuah sebuah plot dengan intrik yang berliku dan mengundang rasa penasaran penonton. Sebenarnya, jika dipikir-pikir, sehabis menonton film ini, rasanya kok sebegitu repotnya badan sebesar CIA mengurus seorang pria bernama Jason Bourne. Seberbahaya apapun dia!

Satu hal lagi yang membuat saya suka dari seri film ini adalah adegan laganya yang intens tanpa harus terkesan berlebihan atau over-the-top (lihat ‘Die Hard or Live Free’). Ketiga film dari Jason Bourne ini lebih mengandalkan sekuen-sekuen laga yang lebih membumi namun detil, sehingga terkesan sangat riil sehingga terasa lebih menegangkan. Jadi, saya berani menyatakan jika serial ‘Jason Bourne’ ini adalah action movie with brain. Berbeda dengan kebanyakan film laga lain yang baik cerita maupun aksinya berjaln dengan mode auto-pilot.

Matt Damon sendiri menunjukkan konsistensi yang luar biasa sebagai Jason Bourne. Dia dengan teramat meyakinkan tampil sebagai sosok Jason Bourne yang tangguh, serba-bisa, cerdas, namun juga manusiawi. Joan Allen tetap tampil meyakinkan dan Julia Stiles, selain mendapat porsi peran yang lebih besar dan signifikan, kali ini juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan adegan-adegan yang menuntut fisikalitas. Scott Glen, David Strathairn dan Albert Finney plays their antagonistic part respectively.

Ohya, walaupun memakai judul yang sama dengan novel ketiga dalam seri Jasob Bourne oleh Robert Ludlum ini, namun kabarnya cerita dalam film ini sudah menyimpang jauh. Kesamaanya hanya terdapat pada beberapa nama dan karakter yang sama saja. Dan, seperti novelnya, tampaknya ini bukan menjadi petualangan terakhir bagi Jason Bourne.


‘HANTU’: A Chilling Adventure Deep In The Wood

Monday, August 20th, 2007

Produksi: Grandiz Media (2007)
Sutradara: Adrianto Sinaga
Cast: Oka Antara, Dhea Ananda, Dwi Andhika, Andhika Gumilang, Monique Henry, Rina Hassim (Spec. App)

Genre: Horor/Thriller
Durasi: -
Release Date: 09 Agustus 2007
My Grade: 3 out 5

Hantu_kcl_1
Berpengalaman sebagai art director untuk film-film ‘Tusuk Jelangkung’, ‘Bangsal 13′ dan ‘Titik Hitam’, mungkin yang menyebabkan Adrianto Sinaga memutuskan untuk mengarahkan sebuah film horor sebagai karya perdananya sebagai seorang sutradara. Dengan memakai judul yang singkat, padat, tepat seperti ‘Hantu’, maka Adrianto Sinaga seakan membuktikan jika ia hanya akan membuat film hiburan yang singkat, padat, tepat.

Ceritanya sederhana saja, sekelompok remaja, Gali (Oka Antara, Gue Kapok Jatuh Cinta, Dunia Mereka), Rinjani (Dhea Ananda), Ray (Dwi Andhika, Me Versus High Heels), Indra (Andhika Gumilang) dan Sofie (Monique Henry), yang berkemah di tengah hutan karena ingin menemukan sebuah telaga yang bernama Setra Wingit. Namun, saat Rinjani kerasukan dan menghilang masuk hutan, maka selanjutnya plot berjalan sesuai dengan formula kebanyakan film horor.

Kelebihan film ini dibandingkan dengan kebanyakan horor yang beredar saat ini adalah akurasi dan presisi dalam menggarap adegan serta tentu saja pengetahuan yang besar dari Adrianto Sinaga yang juga menulis cerita untuk film ini terhadap genre yang dipilihnya, sehingga film terasa tepat sasaran.

Atmosfir seram dibangun dengan baik dan unsur kengeriannya pun terjaga. Sehingga walau dibumbui dengan drama dan sedikit komedi, ‘Hantu’ tetap hadir sebagai ghalibnya film horor, mecekam dan menegangkan.

‘Hantu’ pun secara tak terduga didukung oleh akting yang menarik oleh barisan bintangnya yang terbiasa bermain sinetron, seperti Dwi Andhika atau Dea Ananda. Mungkin hanya Oka Antara saja yang resume film fiturnya yang cukup panjang dibandingkan mereka.

Walaupun bukan film horor yang paling sempurna, ‘Hantu’ jelas sedikit dari banyak film horor yang ‘baik-dan-benar’ serta (tentu saja harus) menghibur. Jika saja, kebanyakan sutradara film horor seperti Adrianto Sinaga, Rudi Sudjarwo (Pocong 2) atau Joko Anwar (Kala), saya yakin industri film horor kita akan semakin menarik. Satu hal yang pasti, ‘Hantu’ membuat Shanker/Koya sebagai the dumbest horror’s producer/director in Indonesia. Peace!


‘TELL NO ONE’: A Contemporer Agatha Christie-like Thriller

Saturday, August 18th, 2007

Produksi: Europa Corp. (2007)
Sutradara: Guillaume Canet
Cast: Francois Cluzet, Marie-Josee Croze, Kristin Scott-Thomas

Genre: Drama/Thriller
Durasi: 125"
Release Date: 01 November 2006 (FRANCE)
My Grade: 3 out 5

Tellnoone_1Dr. Alex Beck (Francois Cluzet), adalah seorang dokter anak. Ia hidup sendiri saja, semenjak istrinya Margot (Marie-Josee Croze), ditemukan tewas menggenaskan delapan tahun lalu. Alex sangat mencintai Margot, bahkan semenjak mereka kanak-kanak lagi. Kematian istrinya sangat mengguncang hidupnya, sehingga ia masih belum bisa melupakan kenangan bersama Margot. Suatu hari ia menerima email anonim yang mengindikasikan jika Margot masih hidup. Hanya saja, email tersebut mengingatkan Alex untuk untuk tidak memberitahukan kepada siapapun karena "kita diawasi". Siapa yang mengawasi itu? Benarkah Istrinya masih hidup? Apa alasannya menghilang? Lantas mayat siapa yang dimakamkannya delapan tahun lalu?

Pertanyaan-pertanyaan ini yang harus ditemukan jawabanya oleh Alex sepanjang film ‘Tell No One’ (Ne Le Dis A Personne) ini, selain harus melarikan diri dari kejaran polisi yang mencurigai dirinya dibalik kematian sang istri serta menghindari ancaman sekelompok orang yang misterius. Untunglah masih ada orang-orang yang bersedia membantunya, termasuk seorang preman bernama Bruno (Gilles Lellouche) dan Katherine (Kristin Scott Thomas, The English Patient) kekasih lesbi adik perempuan Alex, Anne (Marina Hands).

‘Tell No One’, yang diangkat dari novel karya Harlan Coben ini, mengingatkan akan karya-karya detektif dari Agatha Christie, karena mengambil struktur penceritaan yang mirip. Hanya saja, Guillaume Canet, sebagai sutradara juga memasukkan beberapa adegan aksi-suspense yang menarik, termasuk adegan kejar-kejaran antara Alex dengan polisi. Dengan sudut pengambilan gambar yang dinamis, adegan tersebut terasa sangat intens.

Hanya saja, rasanya film ini masih terlalu ‘Perancis’, karena Canet lebih memilih pace dan mood yang agak lambat serta perkembangan plot yang sedikit melebar, tidak fokus kepada perkembangan suspensi thrillernya, sehingga penonton seperti bertanya-tanya kemana sebenarnya cerita mau berjalan. Untunglah, memasuki paruh akhir, jalan cerita semakin solid dan lancar untuk diikuti.

Sebagai sebuah murder-mystery, rasanya ‘Tell No One’ tidak begitu gemilang, karena misteri yang ditawarkan rasanya agak mengada-ada dan tentu saja menimbulkan pertanyaan-pertanyaan terhadap lubang di dalam ceritanya. Mungkin, jika ditangani oleh sineas-sineas Amerika, film ini akan berbicara berbeda dan mungkin akan menjadi tayangan ‘popcorn’. Walau begitu, dengan didukung sebarisan bintang-bintang Perancis terdepan, ‘Tell No One’ menjadi sebuah paket tontonan yang cukup memikat. Roman, misteri, suspense, laga; what else do you need from a piece of nice thriller?


‘SELAMANYA’: Love Will Conquer All

Tuesday, August 7th, 2007

Produksi: MVP Pictures (2007)
Sutradara: Ody C. Harahap
Cast: Julie Estelle, Dimas Seto, Masayu Anastasia, Donny Alamsyah, Sita Nurasanti

Genre: Drama/Roman
Durasi: -
Release Date: 18 Juli 2007
My Grade: 3.5 out 5

Selamanya_filmMelodrama. Rasanya kata ini merupakan hal yang tak terpisahkan dari perkembangan dunia sinema dimanapun, termasuk di Indonesia. Sama halnya dengan berbagai sub-genre film, melodrama pun biasanya mempunyai formula tersendiri dengan streotipikal khusus yang menderanya. Walau begitu, tetap saja banyak sutradara yang memilih untuk membuat melodrama, karena pasarnya memang eksis. Yang menjadi masalah sekarang adalah, bagaimana sineas tersebut meramu filmnya dengan gaya atau substansi yang bisa membedakan sehingga film tidak terjebak dalam pola basi yang monoton.

‘Selamanya’ adalah melodrama. Film ini tidak mengingkarinya. Namun, film mencoba bercerita dalam
kerangka tematik yang berbeda. Kali ini bercerita tentang cinta sejati untuk selamanya yang mungkin didapat oleh seorang junkie bernama Aristha (Julie Estelle, Alexandria, Kuntilanak). Rasanya, kehidupan Aristha sudah tidak genah lagi. Hidup baginya hanya untuk narkoba dan narkoba hanya ada untuknya. Suatu malam ia ter’garuk’ oleh polisi. Di kantor polisi, ia berjumpa lagi dengan Bara (Dimas Seto, Buruan Cium Gue!, Pesan dari Surga) kekasihnya saat di SMA. Tentu saja Bara sangat senang bertemu dengan Aristha, karena ia memang selama ini tengah mencarinya. Namun Aristha justru terlihat sangat membencinya. Melalui Cacha (Masayu Anastasia, Buruan Cium Gue!), teman Aristha yang berprofesi sebagai penari eksotis, Bara berusaha mendekati Aristha lagi. Namun, kehidupan gadis itu sudah sangat rusak dan ia sangat membenci Bara. Apalagi Bara juga sudah bertunangan. Apakah Bara dan Aristha bisa bersatu untuk selamanya?

Sebagai melodrama, ‘Selamanya’ berupaya untuk menghindari konvensi tipikal dalam film sejenis. Walau secara esensi tetap menangkap intensitas yang diperlukan dalam film seperti ini, sehingga, meski tetap menampilkan romantisme dan keharuan, namun film berupaya untuk berjalan dengan cukup cepat, padat tanpa harus bertele-tele dalam adegan yang terlalu dramatis. Secara keseluruhan, tentu saja ada beberapa hal yang membuat kita garuk-garuk kepala karena lubang dalam ceritanya, namun penggarapan Ody C. Harahap (Bangsal 13, Selamanya) yang solid dan penuh gaya menyelamatkan film. Ody berhasil meningkatkan performa kerjanya setelah ‘Alexandria’ (2005) yang terus terang saja sangat mengecewakan.

Saya tahu jika Ody itu adalah sutradara yang berbakat semenjak ‘Bangsal 13′ (2004). Yang ia butuhkan mungkin cerita dan skenario yang tepat. ‘Selamanya’ ditulis oleh Sekar Ayu Asmara (Biola Tak Berdawai, Belahan Jiwa, Pesan dari Surga). Berbeda dengan film-filmnya yang rasanya terlalu pretensius, justru ‘Selamanya’ tampil dengan sederhana dan kesederhanaan ini yang membuat film menjadi memikat, karena Ody cukup berkonsentrasi pada karakternya dan konsistensi cerita. Ody cukup berhasil dalam membangun komunikasi antara karakter-karakternya dengan penonton. Apalagi adegan-adegan dalam film dieksekusi dengan penuh gaya dan presisi (yang memang terkadang tidak tepat |^_^|)oleh Ody, sehingga film menjadi cukup padat dan (yang paling penting) entertaining. Apalagi didukung dengan teknik sinematografi yang menarik. Saya rasa, jika pengarahan film diserahkan kepada Sekar Ayu Asmara sendiri, film ini mungkin tidak akan jadi seperti yang saya saksikan sekarang.

Nilai plus lain dari film ini tentu saja adalah akting Julie Estelle yang amat jauh meningkat pasca ‘Kuntilanak’ (2006) yang terasa seadanya dan secukupnya tersebut. Totalitas Julie membuat film terasa sangat hidup dan realistis. Masayu juga cukup bernas sebagai penari eksotis yang ‘menggemaskan’. Dimas Seto sendiri rasanya harus benar-benar melepaskan imej sinetronnya, jika benar-benar ingin eksis di dunia film fitur.


‘BOY CULTURE’: A Thin Line Between Love And Sex

Tuesday, August 7th, 2007

Produksi: TLA Releasing (2007)
Sutradara: Q. Allan Brocka
Cast: Derek Magyar, Patrick Bauchau, Darryl Stephens, Jonathon Trent, Emily Brooke Hands

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 88"
Release Date: 23 Maret 2007  (limited) (USA)
My Grade: 3 out 5

Boy_culture_xlg_1Setelah ‘Eating Out’ (2006), Q. Allan Brocka kembali lagi dengan ‘Boy Culture’. Kali ini berdasarkan novel karya Matthew Rettenmund yang berjudul sama. Jika pada ‘Eating Out’ Brocka terasa bermain-main dengan issue komedi-romantis yang neurotik, maka dalam film ini ia mencoba melangkah lebih jauh lagi; cinta, seks dan komitmen. Lebih menarik lagi saat issue-issue tersebut dipaparkan melalui sudut pandang seorang pelacur laki-laki bernama X (Derek Magyar).

X tidak percaya akan cinta, karena sebagai seorang pria gay di Seatle, ia melihat bagaimana kaum tersebut seakan menafikan cinta dan hanya mempercayai seks dengan begitu medahnya laki-laki homoseksual untuk berganti-ganti pacar. Jadi, menurutnya, nonsense jika ada romansa dengan komitmen yang everlasting antara dua laki-laki. X sendiri sebenarnya naksir berat dengan rekan seapartemennya, Andrew (Darryl Stephens). Akan tetapi, karena prinsipnya tersebut, ia sama sekali tidak mengambil sikap apapun terkecuali sexual-tension yang tinggi diantara mereka. Namun, X tidak mau tidur dengan Andrew, karena prinsipnya adalah having sex jika hanya dengan upah sejumlah uang. Sementara itu, rekan seapartemen mereka lainnya, Joey (Jonathon Trent) yang baru berusia 18 tahun, justru sangat tergila-gila pada X. Namun, tentu saja diacuhkan oleh X.

X mempunyai klien baru yang kaya (anyway, klien X selalu dari kelas high-end) bernama Gregory (Patrick Bauchau). Gregori, yang sudah cukup tua ini, menolak untuk berhubungan seks dengan X, melainkan membayar X hanya untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Pada akhirnya, dengan Gregory inilah X justru akan melanggar prinsipnya, karena lama-kelamaan X mulai merasakan respek yang besar terhadap Gregory.

‘Boy Culture’ adalah film independen yang diproduksi dengan limitasi pada bujetnya. Hal tersebut terproyeksi dengan jelas pada fisik film secara umum. Hanya dengan menggunakan DV, maka gambar-gambar terlihat kasar atau bahkan mentah. Namun, kelebihan film ini adalah pada ceritanya. Dengan segala keterbatasannya, Q. Allan Brocka cukup jenial dalam merangkai ceritanya. Ia cukup mampu membangun rasa penasaran akan jalan ceritanya melalui struktur film yang cukup kuat. Akhirnya, film pun dapat tampil dengan semangat menghibur yang tinggi.

Dibandingkan dengan ‘Eating Out’ atau film-film indie bertema homoseksual keluaran Amerika lainnya, ‘Boy Culture’ tampil dengan cukup ’sopan’ dan tidak terlihat terlalu vulgar. Ini mungkin dilakukan Brocka untuk mengaksentuasi hanya pada ceritanya, sehingga atensi penonton tidak terpecah. Jika misinya ingin mengambarkan batas tipis antara cinta dan seks serta komitmen dalam kehidupan kebanyakan laki-laki homoseksual, maka bisa dibilang Brocka berhasil dalam misinya.


‘PROVOKED’: A Woman’s Scorned

Tuesday, August 7th, 2007

Produksi: Eros International (2006)
Sutradara: Jag Mundhra
Cast: Aishwarya Rai, Miranda Richardson, Naveen Andrews, Nandita Das, Robbie Coltrane

Genre: Drama/Thriller
Durasi: 113"
Release Date: 6 April 2007 (UK)
My Grade: 3 out 5

Provoked Seorang laki-laki, setelah menjadikan seorang perempuan sebagai istrinya, pada hakekatnya harus mampu berperan sebagai pihak yang melindungi dan mengayomi istrinya. Apa jadinya jika ternyata suasana rumah tangga yang harmonis dan menjadi idaman banyak orang justru menjadi neraka bagi sang istri oleh prilaku kejam sang suami. Apakah sang istri harus berdiam diri saja atau melakukan resistensi. Dilema tersebut yang harus dihadapi oleh Kiranjit Ahluwalia (Aishwarya Rai, Dhoom 2, Devdas, Mistress of Spices), seorang perempuan India yang menetap di London bersama sang suami, seorang India-Inggris bernama Deepak Ahluwalia (Naveen Andrews, serial Lost, Grind House, The English Patient).

Pada suatu malam di tahun 1989, setelah sepuluh tahun pernikahan yang dilewati Kiranjit dengan pemukulan, perkosaan, dan perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya, ia merasa cukup dengan perlakukan suaminya dan secara implusif kemudian membakar suaminya saat Deepak tengah tidur. Tentu saja, hukum menjeratnya dan pengadilan memutuskan untuk menghukum Kiranjit dengan penjara untuk seumur hidup. Sementara itu, seorang anggota LSM bernama Radha (Nandita Das, Earth) berupaya untuk membebaskan Kiranjit karena ia menganggap sikap Kiranjit disebabkan oleh perlakuan suaminya yang brutal. Sedangkan di penjara, Kiranjit justru merasakan kebebasan yang selama ini tidak pernah dicicipinya. Pertemanan dari Ronnie (Miranda Richardson, The Crying Game, The Hours, Harry Potter and The Goblet of Fire) juga membuatnya cukup betah di lingkungan penjara. Namun bagaimanapun kehidupan di luar penjara adalah kebebasan yang sejati. Maka ia pun setuju untuk bekerjasama dengan Radha untuk mengupayakan dirinya agar terlepas dari hukuman dan bersatu kembali dengan anak=anak yang dicintainya.

‘Provoked’ adalah sebuah film yang diangkat dari buku autobiographi dari Kiranjit Ahluwalia berjudul Circle of Light . Jag Mundhra sebagai sutradara mencoba mengangkat realisme dari buku tersebut dalam filmnya ini, walau tentu saja sebagai sebuah film, rasanya beberapa detil tidak terlepas dari fiksionalisasi, agar cerita dapat menjadi lebih menarik. Walau begitu, Mundhra tetap berupaya agar filmnya terasa lebih realistis dengan pendekatan yang kelihatannya mencoba tampil seperti sebuah reka-ulang. Hal inilah yang menyebabkan feel dari film yang lebih condong kedalam sebuah film televisi. Walau begitu bukan berarti ‘Provoked’ bukan film yang membosankan.

Mundhra meramu film dengan formula suspense-thriller dengan adegan-adegan flashback dibagian lain. Adegan-adegan sidangnya mungkin terasa kurang memiliki ’semangat’ dari film-film yang sejenis, sehingga terkesan hanya sebagai ‘kewajiban’. walau begitu, adegan sidang akhir yang menampilkan Robbie Coltrane (dari serial Harry Potter) sebagai pengacara baru Kiranjit yang berusaha membelanya, tampil dengan cukup intens.

Aiswarya Rai jelas tengah mengupayakan status internasionalnya dengan banyak bermain dalam film-film yang berbahasa Inggris. Rasanya dengan kualitas akting dan kecantikannya yang memikat, sepertinya tinggal tunggu waktu saja. Nah disini masalahnya! Walaupun ia bermain dengan compassion yang dibutuhkan bagi karakternya, rasanya aura superstar masih melekat erat pada dirinya, sehingga walau tampil dengan sekucel apapun, ia tetap terlihat seperti Miss World.

‘Provoked’ tentulah bukan film hiburan semata, akan tetapi mencoba ‘bercerita’ tentang sesuatu. Film ini merupakan bagian dari semangat Jag Mundhra dalam politik pemberdayaan perempuannya. Saat seorang wanita biasa menampilkan usaha yang luar biasa dalam situasi yang tidak biasa, jelas hal tersebut harus diperhatikan dengan seksama.