‘ALONE’: Seperated Twin With Grudge. And It’s Scary!


Produksi: GMM/Phenomena (2007)
Sutradara: Banjong Pisanthanakun/Parkpoom Wongpoom
Cast: Masha Wattanapanich, Vittaya Wasukraipaisan, Ruchanu Boonchoduang

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 95"
Release Date: 29 Maret 2007 (Thailand)
My Grade: 3.5 out 5

Alone_2Dengan kesuksesan ‘Shutter’(2004), duet Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom semakin mantap saja dalam menggarap film horor. Kali ini mereka kembali lagi dengan ‘Alone’ atau ‘Faet’, sebuah horor dengan bumbu thriller-psikologis (atau sebaliknya?), yang tak kalah memikatnya.

Pim (Masha Wattanapanich) tinggal berdua saja dengan kekasihnya Wee (Vittaya Wasukraipaisan) di Korea. Namun, saat ibunya dikabari tengah sakit parah, maka Pim dan Wee kembali ke Thailand, kembali kerumah dimana ia tumbuh besar bersama saudari kembar siamnya, Ploy (Masha Wattanapanich). Sayangnya, saat operasi pemisahan, Ploy meninggal. Saat tiba di rumah tersebut, Pim seakan dihantui oleh arwah penasaran Ploy. Entah karena rasa bersalah kepada Ploy atau memang benar arwah Ploy menghantui Pim, Wee mulai merasakan keanehan. Saat guncangan akibat teror yang dialami Pim semakin intens, Wee harus berusaha menyelamatkan orang yang dicintainya atau hidup mereka dalam bahaya.

Keseraman dalam film ini dibangun dengan hanya mengandalkan atmosfir seram dan buram dalam lingkungan yang sederhana. Sebenarnya bahkan pola yang dipakai cukup umum, namun duet sutradaranya berhasil membangun ketegangan melalui gambar-gambar yang sederhana tersebut melalui set-up yang penuh perhitungan dengan baik tanpa harus terkesan overakting atau terlalu berlebihan dalam menakut-nakuti.

Masha Wattanapanich sebelumnya dikenal sebagai pop-diva di Thailand, dan melalui film ini melakukan come-backdi layar lebar setelah absen selama 10 tahun. Dan ia cukup baik menampilkan karakter Pim dan Ploy yang berbeda secara karakteristik. Kredit lebih juga harus disematkan kepada dua pemain muda yang memainkan Pim-Ploy saat remaja, karena mereka cukup berhasil meniupkan ruh yang diinginkan oleh karakter mereka. Sementara itu, Vittaya Wasukraipaisan bermain dalam kapasitas medioker walau cukup komplementatif.

Harus diakui, Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom semakin fasih saja dalam bercerita, terutama dalam genre horor yang mereka pilih ini. ‘Alone’ tidak hanya mengandalkan formula horor konvensional akan tetapi juga dengan memikat berhasil memperlihatkan lika-liku hubungan antara dua saudari tersebut. Dan pada akhirnya, film malah berujung pada thriller-suspense yang kental dan menegangkan.

Sebagaimana ‘Shutter’, maka ‘Alone’ juga mempunyai twist dan harus saya akui twist dalam film ini terasa lebih orisinil dan memikat, membuat kita merasakan ’sensasi’ yang rasanya sekarang jarang dapat kita rasakan, walau sepertinya belum mampu menyamai ’sensasi’ yang ditimbulkan sehabis menyaksikan ‘A Tale of Two Sisters’ (2003).

Dan ‘Alone’ sendiri pun sebenarnya masih mempunyai lubang-lubang dan pendangkalan logika dalam plotnya, namun sebagai sebuah film horor, ia berhasil dalam melaksanakan misinya. Dan ‘Alone’ tampil bukan hanya sebagai sebuah scare-fest atau thrill-ride belaka, tapi utuh sebagai hiburan yang mempunyai esensi yang kuat untuk disampaikan.


14 Responses to “‘ALONE’: Seperated Twin With Grudge. And It’s Scary!”

  1. APATIS VIAN Says:

    WHAT??????

    APAAAAAAA??????

    3,5 BINTANG AJA?????

    PLIZZZZZZZ DEEEEEEEEEEEEEEEH…..
    :(

  2. APATIS VIAN Says:

    “walau sepertinya belum mampu menyamai ’sensasi’ yang ditimbulkan sehabis menyaksikan ‘A Tale of Two Sisters’ (2003).

    ” justru menurut gw twist yang berhasil adalah twist yang bisa dengan mudah dimengerti sama semua penontonnya bro…

    secara gitu buat apa bikin twist yg keren2 tapi penontonnya pada dibikin bengong2 bego doang ( temen2 gw langsung ternganga2 waktu film tale kelar…bukan klarna takjub…tapi…what the…mereka gak ngarti apa maksudnya….

    jadi kalo mnurut lo film yang berhasil adalah film yang harus didiskusiin dulu ketika kita keluar dari bioskop, gw jelas gak setuju…

    film yg berhasil adalah film yang dengan ke-brilianannya bisa mengecoh penonton tanpa harus ngebuat otak tuh orang meleguk dengan twist keren tapi nggak gitu makna…

    sorry gw agak cinical…soalnya i really love shutter and alone…
    4,5 ato 5 bintang gw rasa lebih cocok untuk film horror se-BRILIANT ini…

    duh…kalo alone aja dikasih 3,5…nggak sabar nih nunggu list top10 horror nya keluar….can’t hardly wait bro….

    HIDUP ALONE….!!!!!!

    piss

  3. hARIs Says:

    kenapa 3.5? karena secara teknis dan logika cerita, Alone masih belum mulus mengeksekusinya.

    sebagai contoh, pendangkalan teori mengenai kembar siam ploy-pim yang rasanya kasus kembar siam mereka hanya terjadi di film ini. c’mon, kasus mereka itu sebenarnya amat sangat sepele dan mereka bisa dengan segera dipisahkan bahkan saat mereka masih balita. trus, yang paling menganggu adalah saat Pim berjalan2 di pantai…adegan pertama jelas menunjukkan ia berjalan tepat dibibir pantai, sehingga tidak mungkin bakal meninggalkan jejak, tiba2 diadegan berikutnya, terpajang banyak jejak dan ia berjalan jauh dari bibir pantai. kesannya kedua sutradara kok masih amatiran gitu…

    soal twist, aku tetap bertahan dengan prinsip gw, hehehe dan twist yang baik adalah saat kita gagal menebak twist tersebut disaat kita merasa mampu dengan benar menebaknya. sayangnya twist di Alone sudah dengan gampang tertebak bahkan jauh sebelum filmnya berakhir.

    gitu loh…..but over all, gw suka film ini, bahkan jauh lebih suka dari Shutter yang STD itu…hehehehe

  4. aFiF Says:

    Thanks Haris buat reviewnya. Belum nonton nih…jadi penasaran. Klo diliat2 judulnya rada ga nyambung ya dgn ceritanya…

    BTW,aq dah nonton “a tale of two sisters”, dan memang bikin aq bingung…bingung sayah kok banyak yg bingung nonton film ini. Secara aq cukup nonton sekali udah ngerti…walaupun ada beberapa hal yg tidak terjelaskan, tp tidak mengganggu jalan cerita. Aq sampai nonton berkali2 hanya untuk menemukan dimana bagian yg membingungkan itu :)
    Klo seperti Serial Experiment Lain, Ghost in The Shell atau Matrix, nah itu baru boleh dibilang membingungkan.

    “a tale” emang sensasional!! entar deh nonton “Alone” biar bisa membandingkan gimana sensasinya.

  5. APATIS VIAN Says:

    Wahhhhhh….tidakkkk…banyak yang menghujat gue ternyata, tapi thanks all…

    Gw pertama mo nanggepin tentang adegan di bibir pantai yang tiba2 jejak kaki pim jadi double…

    Gw agak terkikik dengan alasan lo bilang it’s kind of amateur…

    Dude, bukannya dalam film biasa hal yang kayak gitu…
    its called a bloopers, right?
    Gw rasa semua film pasti punya bloopers sendiri2….
    Dan kalo lo bilang dengan adegan kayak gitu banjong dan parkpoom dibilang amatir, berarti betapa AMATIR nya sutrdara sekelas Peter Jackson yang HAMPIR…gw ulang…HAMPIR disetiap adegan Trilogi LOTR nya setiap pergantian adegan selalu posisinya berubah2 dan ada property yang miss…( silahkan tonton ulang trilogy LOTR n KingKong kalo gak percaya)

    Dan tentang tema kembar siam… OH…MY GOSH… I THINK IT’S GENIUS!
    Setahu gue belum ada yang pernah ngangkat tema se-unik itu ke dalam film (sepanjang yang gue tahu) apalagi dengan cerita yang mengagumkan dan ending yang kickass…

    Dan tentang kembar siam yang kenapa gak dipisahkan waktu masih kecil aja….
    Hehehe…bukannya sok tahu nih, tapi mnurut buku yang pernah gue baca,
    Proses pemisahan kembar siam gak segampang itu, bro… mereka terkait secara lahir dan bathin, dan kondisi kesehatan waktu masih kecil amat-sangat tidak memungkinkan untuk dilakukan pemisahan ( secara gitu beberapa bagian dari tubuh sepasang kembar siam berfungsi secara bersamaan, bahkan biasanya cuma ada satu dan mereka harus memfungsikan organ itu secara bergantian, ex: jantung )

    Jadi untuk ngelakuin pemisahan harus saat kondisi dua orang itu bener2 memungkinkan. Liat deh kembar siam di Pakistan yang sempet ngehebohin dunia waktu itu…mereka minta dipisahkan dari kecil, tapi sayangnya dokter baru bisa misahin mereka pas udah gede dan itupun salah satunya ahirnya meninggal….

    Ending nya juga jenius n original banget menurut gue…dan gw rasa kayaknya juga belum pernah ada tuh film yang make ending kayak gitu…jadi tentang ending-nya yang predictble mnurut lo…yah itu sih lo-nya aja kali yang ke pinteran ;p

    Nyambung tentang tale of two sisters yang …gw actually suka sih…
    tapi gw tetep bersikeras dikubu yang mendukung multiple ending nya gak make sense…
    1. kenyataan bahwa –SPOILER ALERT- su yeon udah mati kayaknya itu bukannya terlalu oldschool banget ya….hehehe….setelah “sixth sense” kayaknya semua film yang menggunakan ending kayak gitu jadi keliatan nyampah dan no-brainer banget….
    dan w terkikik sendiri waktu tuh ending kebuka karna its so predictble…
    2. kenyataan bahwa su mi punya split (or multiple or can “membelah diri”– whatever) personality kayaknya juga udah benyak banget tuh di angkat di film Hollywood, bahkan film jelek nya sekar ayu asmara belehan jiwa aja sampe ngikutin…oke belahan jiwa tahun 2005, berarti belahan jiwa yang ngikutin…
    tapi how about FIGHT CLUB yg –kayaknya- film pertama yang mencetuskan ending se-‘original-hahaha’ TOTS? ;p

    tentang shutter…OMG….
    Lo bilang shutter STD? tidaaaaaaaaak….lo bisa dihujat ama APSSD (Asosiasi pecinta Shutter Seluruh Dunia) ….ngarang ;p
    Btw, setahu gue Shutter jadi film horror pertama dalam sejarah perfilman
    Thailand yang masuk nominasi untuk best picture…

    So, gak suka Shutter?…its so ironic…HAHAHAHAHA…(KETAWA KUNTILANAK;P

    peace bro….

    @afif:
    Kalo bingung pegangan aja fif. ;p

    Overall sih gue n temen2 gw amat-sangat-ngerti. Tapi beberapa hal masih amat sangat janggal dan gw masih tetep ngerasa tele of two sisters nggak make sense…

    Kalaupun su yeon in fact cuma halusinasi su mi doang …trus kenapa bayangannya ada dimana2…dikaca disetiap dia lagi jalan…
    Dan kenapa ada empat piring di meja makan waktu satu keluarga ini makan malam ? bukannya sebenernya cuma ada dua orang?
    Ok…yang dua mungkin cuma imajinasi su mi…tapi kenapa juga tuh piring keisi makanan? Ok…itu mungkin cuma imajinasi su mi…
    Dan KENAPA makanan di piring yang dua itu juga berkurang hampir setengahnya setelah mereka selesai makan? TANYA KENAPA ;p

    Trus adegan waktu su yeon di kunci di lemari sama step mother-nya ( alias su-mi )… terus siapa yang mengedor lemari dari dalam?
    Su yeon? Loh kan dia cuma halusinasi? TANYA KENAPA! ;p
    Dan masih banyak adegan lainnya yang kalo gw ketik bikin jari gw keriting…

    Selebihnya tentang TALE baca diatas deh ya… HARDROCK? CAFÉ DEEEEEEEEH…..

    ditunggu komen alone lo fif…

    Peace…

  6. APATIS VIAN Says:

    @ afif… nambah nih ;p

    matrix? membingungkan? masa sih?
    kayaknya enggak deh…

    membingungkan apanya…

    duh…jadi pusing nih mikirin mana yang membingungkannya…

    kayknya fun2 aja deh…

    duh…bingung mikirinnya….
    pala gw bisa pecah nih (lebay;p

    ehm….masih bingung…nonton lagi deh…. ;p

    peace

  7. aFiF Says:

    Mas Apatis Vian yg budiman….

    *SPOILER ALERT buat yg belum nonton A Tale of Two Sisters*

    Makasih dah ditanggepi….ntar deh klo dan nonton Alone, aku kasih komentar.
    FYI, aku udah banyak nonton film dg twist setipe sebelum nonton ATOTS. Sebut saja Fight Club, Psycho, Identitiy, Secret Window, Hide and Seek, MPD Psycho, dll. Fight Club bahkan masuk dalam top 10 favorit movie aku….ehmmm….kayaknya klo soal multiple personality gini, Psycho duluan deh drpd Fight Club :)
    What makes me love Fight Club so much justru bukan karena twistnya, tapi lebih kepada ide-ide anti-kemapanan yg kental banget dan tentu saja Marla Singer yg cool abis.

    OK,…back to ATOTS ya, seandainya saja film ini berakhir dgn adegan Sumi berhadapan dgn si ibu tiri asli, mungkin aku juga bakal kecewa. Terus terang, waktu adegan itu aku dah menebak klo yg muncul itu pasti ibu tiri yg asli, abis banyak banget hintnya , (tangan sumi yg terluka, atau Sumi dan ibu tiri duduk di kursi yg sama, n banyak lg yg lain tp males ngetiknya). Malahan aku dah curiga dr awal, sejak si Bapak ngasih obatnya kok ke ibu tiri, trus yg dipanggil kok cuman Sumi….si Suyeon ga pernah dipanggil (sempat mikir ini Bapak kok ga perhatian amat sih), belum lagi burung yg mati mendadak secara misterius (ini khan udah sering dipake di banyak film). Yach…aku mengakui klo utk urusan twist, ATOTS ga terlalu original.

    Aku “terpesona” oleh ATOTS bukan karena twistnya. Paling tidak ada 2 aspek,., yang pertama performance brilliant dr Sumi, Suyeon, dan ibu tiri….chemistrynya kena banget. Castnya bener2 pas dah, apalagi si Ibu tiri (lirikan matanya itu lho).

    Yang kedua…flashback di bagian ending itu. Sumpah pas bagian flashback ini, perasaanku campur aduk antara sedih, hampa, dongkol, dan yg paling utama…..marah. Asli!! Dalam hati waktu Sumi melangkah pergi aku menyumpah…”BODOHHHHH!!!!”. Udah tau ada suara berdebam keras, lah orang2 disitu cuman melongo ajah. Satu2nya yg cukup waras utk mengecek cuman si ibu tiri (yg sayangnya ga cukup waras buat nolong). Apalagi Sumi yg kamarnya berdekatan, harusnya khan dia yg paling pertama tau….
    Gimana perasaan Sumi setelah kejadian tragis itu…pasti marah banget sama dirinya sendiri, nyesal berat kenapa dia sebegitu bodohnya, seandainya waktu itu dia langsung ngecek, seandainya dia ga nyempet2in nyolot si ibu tiri….seandainya…..seandainya…..
    Beban psikologis yg begitu berat, sampai2 sebagai bentuk penyangkalan Sumi menghidupkan kembali Suyeon dalam realitasnya sendiri, dan menciptakan karakter ibu tiri supaya dia bisa memposisikan dirinya sebagai kakak yg selalu siap melindungi.

    Sama seperti Fight Club, ATOTS tidak sekedar menyuguhkan twist tanpa latar belakang psikis yg kuat. Kalo multiple personality di Fight Club dipicu oleh perasaan tidak berdaya, ATOTS dipicu oleh perasaan bersalah. Ini yg ga dimiliki oleh film sejenis, spt secret window (masak cuman krn istri selingkuh aja bisa punya kepribadian ganda) dan hide and seek (dah lupa tuh kenapa, yg jelas ga penting banget). Ingat kata2 si ibu tiri sesaat sebelum dia mencoba membunuh Sumi

    “Do you know what’s really scary? You want to forget something. Totally wipe it off your mind. But you never can. It can’t go away, you see. And… and it follows you around like a ghost”

    OMG, benar2 bikin merinding…coba perhatiin pd saat ibu tiri ngomong, yg di close-up justru mukanya Sumi yg udah pasrah…..yach karena krn kata2 itu sebenarnya memang gambaran kejiwaan Sumi sendiri.

    @Apatis Vian
    Thanks to mas Vian lagi…. Karena udah ngejelasin apa sih sebenarnya yg bikin orang bingung. Dari pernyataan tentang piring, bayangan, dsb, kelihatan bahwa mas Vian memandang ATOTS dari subyektivitas orang normal. Lupa ya…bahwa sepanjang film hingga si ibu tiri yg asli muncul, realitas yg disuguhkan sepenuhnya adalah realitas dari sudut pandang Sumi, jangan dicampuradukkan dengan realitas yg sebenarnya. Termasuk adegan Suyeon dikunci dalam lemari, ini khan hanya terjadi dalam kepala Sumi, or at least what she believes happened,….ya make sense aja sih menurutku.

    Hanya sedikit scene dalam ATOTS yg memperlihatkan realitas yg sebenarnya. Salah satunya adalah waktu adegan si Bapak nyuruh Sumi masuk rumah, coba perhatikan kamera digeser sedikit supaya Suyeon ga kebagian, walhasil cuman ada Sumi dan ayahnya saja dalam scene (so brilliant).

    Hikkkss….panjang banget ….cape deh. Mas haris jgn marah ya klo OOT n ada spoilernya pula.

  8. aFiF Says:

    @Apatis Vian
    Mengenai The Matrix, ralat dikit, yg bikin aku bingung cuman The Matrix: Reloaded. Syukur yg ketiga ga bikin bingung. Masalah Matrix reloaded yg bikin aku bingung.

    1.“trying too hard to be smart” dan itu keliatan dr dialog2nya, sarat dengan filsafat mbulet ala “yg mana duluan telur atau ayam?”….ga penting banget gitu lho.

    2.Berasa kayak nonton film di TV swasta, yg karena kebanyakan iklan filmnya jadi banyak kepotong. Ga enak banget nontonnya.

    Matrix is japanese anime wannabe…. Mending nonton anime jepang sekalian dah

  9. APATIS VIAN Says:

    @afif

    walahhhhhhh….kelihatann6ya menggebu2 sekali bro ;p

    tapi thx a lot buat smua penjelasannya…

    keliatannya TOTS ngerembes banget tuh ke otak lo ampe bisa jelasin se detil itu :)
    btw, boleh minta top 10 ato top 20 movie lo gak fif?buat referensi aja…sapa tau ada pelem bagus yang blom gw tonton…

    yah…yah…yah….ditunggu lo….

    btw, fs lo private profile…pelit amat sih bro gak boleh diliat orang…hehehehe…
    add w y:potter_in_me@yahoo.com

    @haris

    waaaaaa….kliatannya sibuk banget nih skarang ampe gak sempet nanggepin comment2…

    next review is big bang love juvinlee plisss….pnasaran nih….kalo gw baca sinopsis nya ntu tentang ‘cross’ juga ya? (pantesan di jadiin primary photo;p

    peace

  10. hARIs Says:

    halo2

    sori kalau belum bisa mbalas. engga sibuk sih….cuma ada sedikit urusan yang harus dikelarin.

    btw, tks untuk Afif yang udah mau memberikan masukan yang luar biasa untuk TOTS-nya…gw suka banget. rasanya gw engga perlu panjang2gin lagi soal TOTS ya?

    Untuk AHMAD!!!!!
    Ini masih soal Alone. Tentu aja gw tahu soal bloopers. Cuma bloopers seharusnya bukan hal yang terlampau detil dan tidak terlalu mengganggu jalan ceritanya. Sedangkan bloopers di ALONE terasa terlalu naif untuk dibilang kurang kredibel, namun nyatanya memang dua sutradaranya kok seperti kurang memperhitungkan jika hal tersebut sangat amat jelas terlihat mengganggu adegannya. Karena adegan di pantai itu termasuk detil dan eksplanatif adegan, jadi seharusnya duo sutradaranya harus lebih teliti.

    Trus, coba perhatikan kasus kembar dempetnya. Cuma ada seutas daging yang menempel di tubuh mereka, yang jelas menunjukkan kalau mereka terdiri dari dua indra dan organ fisik yang berbeda dengan ekstra daging yang menyatukan mereka. Terlalu mengada2 alias sederhana alias terlalu menggampangkan kasus kembar dempet. Makanya gw bilang kasus kembar siam mereka cuma terjadi di film ini.

    Trus, mengapa gw bilang Shutter itu STD, karena jelas2 dia itu copycat Ringu dengan twist yang lebih elaboratif dan disesuaikan dengan standar paradigma horor Asia Tenggara. Arwah korban perkosaan membalas dendam? Hallooooo? Suzanna already done that!!!!

  11. aFiF Says:

    buat mas Apatis Vian,…hoho namanya Ahmad taaa… udah saya add FSnya.Wah klo soal referensi film, kayaknya banyakan mas Vian deh drpd aku :). Sekarang malah agak jarang nonton film. Top 10 saya (ga berurutan nih)

    1. Elephant
    2. Children of Heaven
    3. Fight Club
    4. The Hours
    5. Billy Elliot
    6. Shinobi

    loading….. campur ma film seri boleh ga ^_^

    6. Nobuta Wo Produce (ini dorama seri Jepang…nah klo yg ini asli originalnya,…rasanya selama bertahun2 aku belum pernah nonton film yg se”pure” n setulus ini…truly inspiring…ttg persahabatan gitu)

    7. Edward Scissorhands
    8. NHK ni Youkoso (anime jepang)

    9. The Grave of the Fireflies (versi animenya)

    10. The Secret Garden
    11. Donnie Darko
    12. Hmm…kayaknya ATOTS masuk juga deh.

    Banyak sebenarnya…tapi banyak yg ga terpikir nih :P
    @haris

    Kayaknya blog mas haris bakalan jd bacaan wajib saya nih. Fansnya Suzanna yach :P Ditunggu deh review film Suzannanya (halah…)

  12. APATIS VIAN Says:

    Ampuuuuuuuun…..DJ…… ;p

    Mari kita kembalikan “alone” dan “TOTS” ke habitatnya masing2…. HUEHEHE…

    Tapi gw tetep gak terima dengan statement lo tentang ke-STD an Shutter…

    Kalo gw justru gak memandang shutter as simple as ” korban diperkosa yang membalas dendam ke pembunuhnya”… bukannya ada tema yg lebih besar dari itu…yeah…GHOST IN PHOTO, dude…

    Gw ngeliatnya shutter lebih ke mengangkat tema yang lebih besar, which is tentang fenomena hantu yang tanpa sengaja (atau sengaja) masuk kedalam objek foto tersebut. And i think its really genius!

    Mungkin lo pernah inget fenomena foto2 hantu yang tersebar di internet yang sempet jadi fever buat hampir smua orang . Kalau gak salah gw inget ntu sekitar 6 tahunan yang lalu waktu gw masih SD ( masih brondong niy skarang….hahahahaha) Gw dan temen2 gw gila2 an buka situs dagelan.com hampir tiap hari (yg sekarang udah tergantikan dengan primbon.com ) dsb buat update foto2 hantu terbaru.

    Dan anehnya baru 3 tahun kemudian fenomena GEDE kayak gini diangkat ke layar lebar- yang untungnya diangkat oleh orang yang amat-sangat-teramat tepat yaitu banjong dan parkpoom.

    Mungkin kalo dua orang itu dari indonesia ( Damn You indo crap horror movie maker!) pasti hasilnya shutter adalah film horror sampah yang hanya mengandalkan fenomena sebagai bahan jualan.
    At least, dengan fenomena sperti itu aja sebenernya shutter udah jadi tontonan yg pastinya menggemparkan biarpun misalnya plot nya dibikin asal2an.

    Tapi gw rasa Parkpom dan banjong gak shallow dan puas sampe situ,
    bahkan shutter mnurut gw adalah film yang paling mulus dalam meminimalisir- seperti yg selalu lo bilang- pendangkalan logika dalam film horror.

    Check this…

    Shutter is copycat ringu… gw jelas nggak setuju…
    Ringu emang masterpiece dan gw sama sekali nggak ngeraguin itu( its one of my top10 horror movie). Tapi sorry to say… Ringu terlalu bodoh ( PEACE…PEACE…;p )untuk disandingkan dengan Shutter dalam hal logika…

    Pendangkalan logika jelas2 Ringu juara nya… Hantu yang bisa keluar dari TV? Oh,ya, its make sense…(untuk orang gila ;p

    Dan sadako juga bisa membunuh orang2 yang menonton video-nya, hanya dengan menunjukkan mata beler sadako dan muke tuh korban langsung peyot dan menganga mengerikan ( hebat….hantu bisa membunuh! Remember what indonesian most briliant movie of joko anwar’s KALA … “Hantu tidak bisa membunuh manusia”

    Hantu dalam Shutter tidak membunuh korbannya. Hantu natre lebih menteror secara psikologis yang membuat korbannya despreate dan merasa bersalah yang ahirnya kill-himself.

    Dan mana yang lebih make sense…setidakknya hantu natre ’men-teror’ orang2 yang berhubungan secara langsung dengan sebab kematiannya…tidak seperti Ringu yang ’membunuh’ siapa-kek-lo-gue-gak-peduli-yg-penting-lo-nonton-video-gue-lo-harus-mokat ;p

    Hantu natre juga gak asal2an men-teror. Setidaknya peristiwa Natre ’menteror’ para temen2 Tun tidak jauh sejak hari kematiannya. Gak kayak film2 horror lainnya yang tu setan matinya kapan tau tapi baru menghantui orang2 setahun ato bertahun2 kemudian
    ( jadi inget film busuknya hanung ’lentera merah’… Bella (lupa sapa namanya di film ntu) yang udah mati di jaman baheula, tp baru balas dendam dan membunuh semua korbannya di tahun 2006 … dan tahukah lo alasannya? …karena ia dibunuh tanggal 20 Juni…20-06…HAHAHAHAHAHA…ironisnya Hanung mengira itu jenius!)

    Dan lagi Cerita Shutter sebenernya cukup berahir pada terkuaknya misteri bahwa Natre yang ternyata punya hubungan khusus dengan Tun… OK… sampe situ saja shutter sudah mengagumkan, dan tentu saja tentang ”filosofi hantu di foto” sudah teramat sangat dijelaskan sama petugas cuci cetak foto Tun dan Boss of photo-fake-maker…dan kayaknya gak perlu gw jelasin lagi.

    Tapi ternyata itu belum cukup….ditambah lagi dengan twist yang berikutnya yang menambah logika film ini… kalau peristiwa perkosaan natre ada hubungannya dengan foto yang diambil oleh orang yang paling ia sayangi yang ironisnya bukannya malah membantu malah memfoto nya pada saat ia diperkosa…

    Itu bener2 alesan yg super logis untuk timbulnya dendam yang membara yg akan dibawa sampe mati even sebenernya dia masih sangat mencintai Tun…

    Tapi lagi2 tidak, itu juga belum cukup, ditambah lagi twist yang menggemparkan tentang something in Tun shoulder (ampe merinding nih gw…)
    gak make sense?
    Please…open ur eyes n looking around, SODARA gue pernah ngalamin hal kayak gitu!SERIUSSSSS!
    (lo mo percaya pa gak terserah deh….btw, tuh paan tuh dibelakang lo skarang ;p

    Banjong and Parkpoom pernah bilang mereka begitu mengidolakan Alejandro Almodovar. Yah… They really did it! mereka memang Alejandro Almodovar in nowadays…

    Btw, waktu itu lo pernah bilang pas gw tanya “ lebih serem mana Shutter apa ATOTS?” trus lo jawab ” …jelas lebih seram shutter”
    tapi kok bisa2nya Shutter gak masuk “TOP 10 movie that make me creep” lo?
    Karena ceritanya gak se-kompleks tale?
    Loh … kan top 10 movie that make me CREEP? Ehm……ehmmm….ehmmmmm…. just wondering, through ;p

    VIVA SHUTTER FOREVER

    Peace…

  13. hARIs Says:

    Dear AHMAD

    kayaknya gw engga mau berpanjang2 soal ALONE atau SHUTTER ini. gw hargain opini loe dan gw kan engga salah punya opini sendiri, tul gak ;p

    movie that give me creeps means that movie itu engga selalu harus menyeramkan secara visual, akan tetapi film akan lebih berhasil nakuti gw secara level psikologis. makanya SHUTTER engga masuk ke list gw. and anyway, Ringu juga engga masuk ke list gw kan? mungkin untuk 11-20, ringu, shutter, alone bakal masuk.

    ohya, gw punya alasan kenapa Shutter itu copyan Ringu….
    ghost in trapped in camera….or……ghost trapped in a video. premisnya sama kan?

  14. APATIS VIAN Says:

    “ghost in trapped in camera….or……ghost trapped in a video
    premisnya sama kan?”

    gak juga deh kayaknya… ;p

    tapi sudahlah…

    btw, thai movie “the victims” lumayan juga lho bro…di review yah…

    piss…

Leave a Reply