‘BOY CULTURE’: A Thin Line Between Love And Sex
Release Date: 23 Maret 2007 (limited) (USA)
Setelah ‘Eating Out’ (2006), Q. Allan Brocka kembali lagi dengan ‘Boy Culture’. Kali ini berdasarkan novel karya Matthew Rettenmund yang berjudul sama. Jika pada ‘Eating Out’ Brocka terasa bermain-main dengan issue komedi-romantis yang neurotik, maka dalam film ini ia mencoba melangkah lebih jauh lagi; cinta, seks dan komitmen. Lebih menarik lagi saat issue-issue tersebut dipaparkan melalui sudut pandang seorang pelacur laki-laki bernama X (Derek Magyar).
X tidak percaya akan cinta, karena sebagai seorang pria gay di Seatle, ia melihat bagaimana kaum tersebut seakan menafikan cinta dan hanya mempercayai seks dengan begitu medahnya laki-laki homoseksual untuk berganti-ganti pacar. Jadi, menurutnya, nonsense jika ada romansa dengan komitmen yang everlasting antara dua laki-laki. X sendiri sebenarnya naksir berat dengan rekan seapartemennya, Andrew (Darryl Stephens). Akan tetapi, karena prinsipnya tersebut, ia sama sekali tidak mengambil sikap apapun terkecuali sexual-tension yang tinggi diantara mereka. Namun, X tidak mau tidur dengan Andrew, karena prinsipnya adalah having sex jika hanya dengan upah sejumlah uang. Sementara itu, rekan seapartemen mereka lainnya, Joey (Jonathon Trent) yang baru berusia 18 tahun, justru sangat tergila-gila pada X. Namun, tentu saja diacuhkan oleh X.
X mempunyai klien baru yang kaya (anyway, klien X selalu dari kelas high-end) bernama Gregory (Patrick Bauchau). Gregori, yang sudah cukup tua ini, menolak untuk berhubungan seks dengan X, melainkan membayar X hanya untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Pada akhirnya, dengan Gregory inilah X justru akan melanggar prinsipnya, karena lama-kelamaan X mulai merasakan respek yang besar terhadap Gregory.
‘Boy Culture’ adalah film independen yang diproduksi dengan limitasi pada bujetnya. Hal tersebut terproyeksi dengan jelas pada fisik film secara umum. Hanya dengan menggunakan DV, maka gambar-gambar terlihat kasar atau bahkan mentah. Namun, kelebihan film ini adalah pada ceritanya. Dengan segala keterbatasannya, Q. Allan Brocka cukup jenial dalam merangkai ceritanya. Ia cukup mampu membangun rasa penasaran akan jalan ceritanya melalui struktur film yang cukup kuat. Akhirnya, film pun dapat tampil dengan semangat menghibur yang tinggi.
Dibandingkan dengan ‘Eating Out’ atau film-film indie bertema homoseksual keluaran Amerika lainnya, ‘Boy Culture’ tampil dengan cukup ’sopan’ dan tidak terlihat terlalu vulgar. Ini mungkin dilakukan Brocka untuk mengaksentuasi hanya pada ceritanya, sehingga atensi penonton tidak terpecah. Jika misinya ingin mengambarkan batas tipis antara cinta dan seks serta komitmen dalam kehidupan kebanyakan laki-laki homoseksual, maka bisa dibilang Brocka berhasil dalam misinya.
August 17th, 2007 at 12:32 am
EHM…..
WOW….SURPRISED REVIEW….
sempet mo bli sih dvd nya…tapi malu banget waktu ngeliat pandangan mbak2 penjual dvd nya menatap gw dengan tatapan men-judge….
tatuuuuuuut….
eh, ternyata cuma 3 bintang…ya sudahlah…
kmaren baru nonton y tu mama tambian…its really COOL!
ko gak di review bro?
btw, katanya u lagi tergila2 ma anime…?
ada saran anime yang bagus…?
piss
August 18th, 2007 at 4:09 am
yang pasti coba nonton Ninja Scroll
atau kalau mau yang bermutu kan ada Spirited Away atau Howl’s Moving Castle