Archive for September, 2007

‘THE VICTIM’: An Unique Tale of Avenging Spirit

Sunday, September 30th, 2007

Produksi: RS Public Co.(2006)
Sutradara: Monthon Arayangkoon
Cast: Pitchanart Sakakorn, Apasiri Nitibhon, Penpak Sirikul, Kiradej Ketakinta, Chokchai Charoensuk

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 108"
Release Date: 12 Oktober 2006 (Thailand)
My Grade: 3 out 5

The_victim ‘The Victim’ (Phii Khon Pen) adalah sebuah double feautre, jika kita jita bisa mengatakan seperti itu, karena mengandung dua cerita yang sebenarnya tidak ada hubungannya, kecuali tentu saja penampakan hantu perempuan yang menteror batin .

Cerita pertama tentang Ting (Pitchanart Sakakorn), seorang artis pemula yang diminta oleh kepolisian untuk memerankan sang korban dalam reka-ulang pembunuhan. Pada saat harus memainkan karakter Meen, seorang mantan Ratu Kecantikan Thailand dan Runner-Up Miss Universe yang tewas menggenaskan. Saat arwah penasaran Meen mulai menganggu ketenangan Ting, ia mencoba mencari tahu siapa pembunuh Meen yang sebenarnya.

Cerita kedua tentang seorang aktris yang bernama May (dimainkan juga oleh Pitchanart Sakakorn), yang tengah melakukan syuting film horor mengenai kasus pembunuhan Meen, sang Ratu Kecantikan. Entah mengapa, May, kru film dan produksi film secara keseluruhan seperti mengalami gangguan dari mahluk halus. May mengira jika arwah Meen tidak tenang, maka ia mencoba menyelidiki kematian Meen. Namun, sesuatu yang lebih mengerikan mengancam nyawanya.

Sebagai sebuah film horor dengan memakai konsep dua narasi dalam penceritaannya, ‘The Victim’ termasuk unik. Bagian pertama film berjalan seperti sebuah homage untuk genre ini, terutama horor Asia, dengan menampilkan adegan-adegan yang terasa over-the-top dan sedikit komedik.

Pada bagian kedua, film mulai berjalan dengan tone yang lebih serius dan atmosfir yang lebih kelam. Disinilah sebenarnya inti cerita dari film berada. Walaupun kadang-kadang tetap terasa over-the-top, namun aura seram dan suspensi dapat dibangun dengan baik, sehingga film menjadi lebih mencekam.

Sebagai sebuah film dalam film (pada awalnya), teknik yang dipakai oleh Monthon Arayangkoon (Garuda) cukup mulus tereksekusi, walau kadang rasanya tema film berkesan bertumpuk-tumpuk, namun dia cukup mampu memutuskan antara film dengan realita dalam film ini.

Hanya saja, rasanya secara keseluruhan ‘The Victim’ bukanlah fitur yang terlalu istimewa, karena production values yang rasanya terlalu biasa-biasa saja. Apalagi jika dibandingkan dengan ‘Shutter’ (2004) atau yang lebih kini ‘Alone’ (2007), yang terlihat lebih rapih secara teknis penggarapannya.

Dikabarkan sebagai film yang dishoot diberbagai lokasi kejadian kejahatan yang terkenal di Thailand, maka tunggu di kredit akhir film, dimana ditunjukkan penampakan-penampakan yang terekaam di kamera film. Tentu saja ini mengingatkan akan cerita yang terdapat dalam film ini.


‘BLOOD: THE LAST VAMPIRE ‘: Short, Lean, Mean

Monday, September 24th, 2007

Produksi: Manga Entertainment/Production I.G, Aniplex (2000)
Sutradara: Kenji Kamiyama
Voice: Youki Kudoh, Saemi Nakamura, Joe Romersa, Rebecca Forstadt, Stuart Robinson, Akira Koteyama

Genre: Aksi/Thriller/Horor/Anime
Durasi: 48"
Release Date: 18 November 2000 (JEPANG)
My Grade: 3.5 out 5

Bloodthe_last_vampire_1Dengan hanya kurang lebih 48 menit, ‘Blood:The Last Vampire’ is lean dan mean. Anime ini sebagian animasi analog dan sebagian digital, secara visual tampil meyakinkan. Dengan cerita yang sederhana, seperti salah satu episode film-film seri, ‘Blood:The Last Vampire’ adalah sebuah aksi-fantasi dengan pengaruh horor kelam yang kental.

Tahunya 1966. Saya (diisi suara oleh Youki Kudoh), adalah seorang vampir pembasmi monster yang ditugaskan untuk menyamar disebuah sekolah di basis militer Amerika di Jepang. Atasannya, David, mencurigai jika disekolah tersebut ada beberapa monster yang menetap, termasuk dua gadis yang bersekolah disana. Saat pesta Halloween berlangsung, kedua monster mencoba mencelakai perawat sekolah, Saya tiba tepat pada waktunya. Maka terjadilah pertempuran antara Saya dengan kumpulan monster tersebut.

Kelemahan terbesar dari anime ini bagi saya adalah ceritanya yang terlalu ringkas dengan elaborasi karakter yang tidak mencukupi. Saya yakin jika anime ini mempunyai plot yang lebih kompleks, maka ‘Blood: The Last Vampire’ akan lebih bagus lagi. Bukannya film ini tidak bagus, hanya saja terasa seperti sebuah fragmen atau, seperti yang saya sebutkan tadi, bagian dari episode seri televisi.

Kabarnya ini disebabkan karena ‘Blood: The Last Vampire’, yang disponsori oleh James Cameron ini, diniatkan sebagai bagian tengah dari trilogi OVA (Original Video Animation) oleh penulis Kenji Kamiyama dan sutaradara Hiroyuki Kitakubo. Namun begitu, rasanya bagian pertama dan ketiga tidak pernah terdengar lagi beritanya.

‘Blood: The Last Vampire’ adalah yang bisa anda harapkan dari anime yang fantastis. Gambar analog dan digital yang dipadukan dengan lumayan mulus menjadikan animasi ini sebagai anime yang enerjetik. Boleh ditunggu, remake versi live-motion-nya yang akan dirilis tahun 2008 yang disutradarai oleh Chris Nahon (Kiss of the Dragon) dengan pemeran utama Jeon Ji-hyun (My Sassy Girl, Windstruck) sebagai Saya.


‘GRINDHOUSE’S DEATH PROOF’: A Fun Homage to the Original Grindhouse

Monday, September 24th, 2007

Produksi: Dimension Films (2007)
Sutradara: Quentin Tarantino
Cast: Kurt Rusell, Rosario Dawson, Vanessa Ferlito, Rose McGowan, Zoe Bell, Tracie Thoms, Kelley Robins

Genre: Thriller/Drama
Durasi: 114"
Release Date: 21 Juli 2007 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Death_proof_3‘Death Proof’ adalah bagian dari double feature ‘Grindhouse’,
karya dua sahabat Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez, yang
mengarahkan segmen ‘Planet Terror’. ‘Grindhouse’ merupakan ide awal
milik Tarantino yang menggilai film-film kelas B zaman 60-an sampai
70-an, sehingga berniat membuat tribut terhadap film jenis-jenis
tersebut. Usahanya sudah dimulai dengan ‘Kill Bill’(2003), namun dengan
‘Grindhouse’ kini ia berusaha lebih total.

Untuk peredaran di
Amerika Serikat, ‘Death Proof’ dan ‘Planet Terror’ adalah satu bagian
dari ‘Grindhouse’ dengan durasi 3 jam lebih. Namun, untuk peredaran
Internasional dan versi DVD, maka kedua film tersebut dipisahkan dan
dirilis secara berbeda menjadi masing-masing satu film yang utuh. Oleh
karena itu, maka durasi setiap film menjadi lebih panjang karena
mengandung adegan-adegan extended. ‘Death Proof’ sendiri
memiliki durasi 114 menit, lebih panjang 24 menit dari segmen dalam
‘Grindhouse’. Oleh karena itu, pastinya ‘Death Proof’ dalam
‘Grindhouse’ pastilah lebih ringkas dan padat.

‘Death Proof’ versi extended
cenderung sangat tipikal Tarantino dengan banyaknya dialog-dialog
verbal yang kadang membuat kita garuk-garuk kepala karena rasanya tidak
nyambung dengan isi cerita. Bahkan film ini sendiri pun seperti dua bagian film yang menjadi satu.

Struktur
ceritanya adak aneh, tentang seorang laki-laki, bernama Stuntman Mike
(Kurt Russel), yang terobsesi dengan sekelompok perempuan (Sidney
Tamiia Porter, Venessa Ferlito, Cehryl Ladd, Rose McGowan) yang
dijumpainya dalam sebuah bar. Stuntman Mike kemudian membututi
gadis-gadis tersebut dengan mobilnya. Bagian kedua dari film, Mike
kembali lagi membuntuti sekelompok perempuan (Rosario Dawson, Zoe Bell,
Tracie Thoms, Mary Elizabeth Winstead). Hanya saja kali ini ia
membuntuti kelompok yang salah.

‘Death Proof’ murni sebuah homage
dari Tarantino untuk film-film grindhouse era 70-an. Mulai dari gaya
penceritaan, musik latar skor, hingga kualitas gambar yang sedikit
buram dan penuh dengan scratch, reel yang terpotong, dan
sebagainya, sehingga film terkesan kuno, walaupun setingnya adalah
dimasa sekarang. Namun, pada paruh kedua dengan karakter yang berbeda
pula, gaya tersebut menghilang dan film pun lebih bernuansa kekinian.

Walau mempunyai adegan kejar-kejaran mobil yang intens serta kekerasan dan gore
yang vulgar, namun sayangnya ‘Death Proof’ lebih banyak dalam eksposisi
dialog. Inilah yang membuat bagi penonton awam yang mengharapkan
limpahan adegan laga akan merasa kebosanan saat menyaksikan film ini,
walaupun sebenarnya dialog-dialog yang ditawarkan Tarantino dalam
skripnya sebenarnya cukup jenial dan atraktif, asal kita mau bersabar
mengikutinya. Film dengan dua penekanan cerita yang berbeda juga bisa
mengancam kenyamanan saat menontonnya.

Akan tetapi sebenarnya
‘Death Proof’ adalah film yang cukup komunikatif dan Tarantino rasanya
lumayan berhasil dalam memberikan visinya tentang film-film
eksploitatif di tahun 70-an. Terlepas dari ‘keanehannya’, ‘Death Proof’
adalah film yang cukup menghibur, asal kita memahami maksud dan tujuan
dari film ini. Jika tidak, rasanya banyak orang yang akan
mereferensikan film ini sebagai junk movie, sebagaimana film-film yang menjadi homage-nya.


‘THE BRIDE WITH WHITE HAIR’: A Shakesperean WuXia Tale Of Love and Revenge

Sunday, September 16th, 2007

Produksi:Mandarin Films (1993)
Sutradara: Ronnie Yu
Cast: Leslie Cheung, Brigitte Lin, Francis Ng, Elaine Lai

Genre: WuXia
Durasi: 89"
Release Date: 1993 (Hong Kong)
My Grade: 3.5 out 5

Bwhposter_1Saat Liang Yu-shen menulis novel dwi-logi ‘Gik Lo-sat’ dan ‘Pek Hoat Mo Li’ diera 50-an, kedua novel tersebut dimaksudkan sebagai tandingan dari kemasyuran ‘Sin Tiauw Hiap Lu’ dari Chin Yung, yang mengisahkan keagungan cinta antara Yo Ko dan gurunya yang lebih tua, Siauw Liong-lie. Keduanya mencoba menggambarkan bagaimana cinta sejati diuji oleh waktu dalam menuju keabadian cinta. Tentu saja, sebagai sebuah cerita silat atau wu-xia, novel-novel tersebut tidak terlepas dari belitan romantika dan intrik yang mejadikan kenikmatan dalam membacanya. Kini, diakui sebagai karya klasik, novel-novel tersebut telah banyak difilmkan maupun seri televisi dengan berbagai versi.

Di tahun 1993, disaat genre Wu Xia Pian mewabah di industri perfilman Hong Kong, Ronnie Yu (Freddy Vs. Jason, Fearless), yang biasanya membuat film-film aksi moderen dengan gaya new-wave (lihat ‘China White’), memutuskan untuk mengangkat novel karya Liang Yu-shen dengan pendekatan uniknya. Ditangannya novel ‘Giok Lo-sat’ berubah menjadi sebuah film silat dengan cita rasa artistik dan sentuhan Shakesperean yang kental.

‘The Bride with Hair’ (Pai Fak Mo Ni Chuan) bercerita tentang Cho Yi-hang (Leslie Cheung, Farewell My Concubine), seorang murid utama dari partai Bu Tong. Meskipun Bu Tong terkenal sebagai partai yang utama dan santun, namun Yi-hang malah cenderung urakan dan ugal-ugalan, walau sebenarnya mempunyai hati yang baik. Pada suatu hari ia bertemu dengan seorang perempuan misterius bersenjatakan cambuk. Pertemuan tersebut begitu berkesan bagi Yi-hang, meski kemudian ia tahu jika perempuan yang lebih dikenal sebagai Gik Lo-sat (Brigitte Lin, Chung King Express) atau perempuan serigala tersebut adalah pembunuh utama dari kelompok sesat Mo Kauw pimpinan Ke Bu-song (Francis Ng dan Elaine Lai), sepasang kakak-beradik kembar dempet yang mempunyai kesaktian luarbiasa.

Yi-hang kemudian mengetahui jika Gik Lo-sat adalah anak perempuan yang pernah menyelamatkannya dari kejaran serigala saat ia masih kecil dulu. Asmara bersemi kembali dikeduanya. Yi-hang malah memberi nama baru bagi Gik Lo-sat, yaitu Lian Nie-siang. Keduanya kemudian berjanji untuk meninggalkan klan masing-masing dan juga dunia kang-ouw (atau jiang hu) untuk kemudian hidup damai berdua saja. Sayangnya, tragedi menanti mereka dan cinta mereka kemudian akan diuji kekuatanya.

Karena keterbatasan durasi, maka novel panjang tersebut kemudian dirombak oleh Ronnie Yu sedemikan rupa, sehingga film kemudian terkesan mempunyai cerita yang sangat ringkas dan karakterisasi yang sedikit jenerik akibat kurang tereksplorasi. Walau begtiu, dalam adegan-adegan melankolisnya, atmosfir dapat dibangun dengan baik, sehingga mengundang rasa empati penontonnya. Terlebih lagi, dengan penanganan kamera yang istimewa oleh Peter Pau (pemenang Oscar untuk ‘Crouching Tiger, Hidden Dragon’, 2000), walau dengan penataan artistik yang terlalu staging dan kurang alami, ‘The Bride With White Hair’ seperti sebuah drama panggung yang diseluloidkan. Beruntung, menjelang klimaks, eskalasi dari intensitas emosi dari film semakin meningkat, begitu juga dengan pengembangan karakternya.

Kredit terbesar harus disematkan untuk Leslie Cheung dan Brigitte Lin, yang mampu meniupkan ruh dalam karakter Cho Yi-hang dan Lian Nie-siang dengan nyaris sempurna. Kebahagian, kesedihan dan yang paling utama, rasa cinta antara keduanya, berhasil dipamerkan, berkat versatilitasan akting keduanya. Cheung, yang memang biasa bermain dalam film-film romantis tentu tidak merasakan kesulitan. Sedangkan Lin, seorang diva akting perfilman Mandarin pada masanya, berhasil menciptakan karakter kharismatis lainnya, setelah sebelumnya sukses bermain sebagai pendekar transgender, Tung Fang Put Pai, musuh sekaligus love interestkarakter yang dimainkan oleh Jet Li, dalam ‘Swordsman II’ (1991).

‘The Bride With With Hair’ bukanlah wu-xia terbaik yang pernah ada. Namun, dengan komposisi film yang cenderung unik dan elemen fantasi yang eksentrik, maka film ini menjadi "berbeda". Setelah film ini memang ada ‘The Bride With White Hair 2′, yang kemungkinan besar mengelaborasi novel ‘Pek Hoat Mo Li’. Namun film ini sendiri dapat dinikmati sebagai karya yang utuh tanpa ada keharusan menyaksikan sekuelnya tersebut, yang jujur saja, jauh secara kualitas dibandingkan dengan ‘The Bride With White Hair’ ini. Kini, setelah 14 tahun berlalu, ‘The Bride With White Hair’ rasanya sudah pantas untuk masuk dalam jajaran ranah klasik dalam khazanah perfilman Mandarin.


10 Movies That Gives Me Creeps

Monday, September 10th, 2007



One of my friend ask me (well, demand me is suits it more  )to make my Top-10-Horror-Movies. Actually, its kinda difficult to me since I love horror movies and have watched a lot of them. After taking some times to contemplated, I have decide that these movies are gives me creeps more than others. Add offcourse they all are my favorite:


01. The Others (2001)
02. A Tale of Two Sisters (2003)
03. The Ring (2002)
04. Ju On: The Grudge (2003)
05. Jeepers Creepers (2001)
06. Scream (1996)
07. Pengabdi Setan (1982)
08. A Nigtmare On Elm Street (1984)
09. The Exorcist (1973)
10. Jelangkung (2001)

‘DISTURBIA’: A Fun and Neat Little Thriller

Monday, September 3rd, 2007

Produksi: DreamWorks SKG (2007)
Sutradara: D.J. Caruso
Cast: Shia LaBeouf, Carrie Ann-Moss, Sarah Roemer, Aaron Yoo, David Morse

Genre: Thriller
Durasi: 105"
Release Date: 13 April 2007 (USA)
My Grade: 3 out 5

DisturbiaDibuka dengan adegan tabrakan mobil yang menawan, ‘Disturbia’ kemudian bercerita
tentang Kale (Shia LaBeouf, Transformer), seorang remaja yang terpaksa menerima
tahanan rumah, karena memukul guru bahasa Spanyolnya. Kaki kale dipasangi
sehenis gelang yang akan membatasi ruang lingkup pergerakannya. Jika ia melawati
batas harak tertetu maka gelang akan mengirimkan sinyal yang akan memanggil
polisi. Ibunya, Julie (Carrie Ann-Moss, The Matrix) telah membatalkan langganan
X-Boxnya, maka sebagai pengisi waktu ia mulai memata-matai aktifitas
tetangganya, termasuk pendatang baru Ashley (Sarah Roemer, The Grudge 2).

Namun, Ashley mengetahui kegiatannya, saat ia bersama sahabatnya Ronnie
(Aaron Yoo, Things That Go Bump in the Night) terlalu ‘bersemangat’
mengobservasi. Malah kini, Ashley bergabung untuk mengintip kegiatan tetangga
mereka, termasuk yang menjadi santapan utama, Mr. Turner (David Morse, 16
Blocks) yang misterius. Kale mencurigai Mr. Turner sebagai pembunuh berantai
yang tengah dicari polisi. Apalagi, kemudian Kale mencurigai jika pria tersebut
telah membunuh seorang adis. Benarkah Mr. Turner seorang pembunuh berantai? Dan
jika memang benar, bagaimana upaya Kale dalam menghentikan aktifitas Mr.
Turner?

Menyaksikan film ini mau tidak mau mengingatkan akan ‘Rear
Window’ (1954), salah satu karya klasik dari Alfred Hitchcock. Apalagi secara
jeneral, ‘Distrubia’ memakai pendekatan yang sama, hanya saja kali ini pelaku
utamanya adalah remaja-remaja belasan tahun dan villain yang lebih satu
demensi.

‘Rear Window’ adalah contoh sempurna bagaimana thriller yang
memikat dapat membangun ketegangan secara merambat dengan ending yang secara
psikologis menghanyutkan. ‘Disturbia’ tidak mencapai level tersebut atau bahkan
mungkin tidak berupaya mencapainya, karea jelas tujuan utama dari film ini
adalah hiburan ala popcorn.

‘Disturbia’ dimulai dengan gaya yang
tipikal film remaja, yang menghadirkan keceriaan dan asmara, sampai kemudian
memasuki bentuk utamanya, thriller-suspense. D.J. Caruso (Taking Lives) lumayan
berhasil dalam membangun narasi thrillernya dengan nuansa ketegangan yang
mengalir lancar. Hanya saja, endingnya terasa terlalu cepat untuk dieksekusi,
sehingga film yang tadinya dipenuhi atmosfir dari elemen ‘Rear Window’ berubah
menjadi thriller/slasher ala ‘Halloween’ (1978).

Shia LaBeouf
tampaknya semakin menunjukkan eksistensinya sebagai bintang muda di rana
Hollywood, walau terus terang ia biasa-biasa saja di film ini, berikut juga
barisan bintang pendukung lainnya. Kredit terbesar tentu saja ditujukan bagi
Caruso, yang cukup mampu memoles kisah yang sederhana ini menjadi thriller
tegang yang lumayan memikat.


‘VACANCY’: You’re Cordially Invited To This Motel of Terror

Monday, September 3rd, 2007

Produksi: Sony Pictures (2007)
Sutradara: Nimród Antal
Cast: Kate Beckinsale, Luke Wilson, Frank Whaley, Ethan Embry

Genre: Thriller
Durasi: 80"
Release Date: 20 April 2007 (USA)
My Grade: 3 out 5

VacancySaat menyaksikan desain kredit titel untuk ‘Vacancy’, debut penyutradaraan
Nimród Antal di Amerika, maka mau tidak mau mengingatkan akan thriller klasik
Alfred Hitchkock di tahun 1960, ‘Psycho’. Apalagi dengan diiringi oleh musik
skor yang senada pula, plus ditambah dengan lokasi ‘kejadian’ disebuah motel
terpencil yang dijalankan oleh pria psikopatis, maka mau tidak mau tentu saja
‘Vacancy’ semakin dilekatkan dengan masterpiece-nya Hitchcock tersebut.

Ceritanya simpel saja, sepasang suami istri yang tengah melakukan
perjalanan, David (Luke Wilson) dan Amy Fox (Kate Beckinsale), memutuskan untuk
beristirahat di sebuah motel terpencil, karena mobil mereka mengalami kerusakan.
Sebenarnya perkawinan David dan Amy berada diambang perpisahan karena kematian
anak mereka, sehingga mereka kerap bertengkar. Di motel tersebut, karena jemu,
David memutuskan untuk menyaksian video yang berada di kamar. Namun, seting film
sadis yang disaksikannya memiliki kesamaan yang sangat persis dengan kamar motel
mereka, sampai kemudian mereka sadar jika video tersebut memang benar-benar di
rekam di kamar tersebut dan adegan pembunuhannya adalah nyata. Kengerian
diperparah saat gedoran-gedoran didepan pintu kamar ditengah malam mulai meneror
perasaan mereka. Sadar jika mereka tengah berada dalam bahaya, maka David dan
Amy berusaha menyalamatkan diri mereka, sebelum mereka juga menjadi koleksi
snuff-film dari si penjaga hotel (Frank Whaley) dan rekan-rekan
bertopengnya.

‘Vacancy’ mengambil struktur thriller-suspense
secara utuh, walau sebenarnya tidak ada misteri atau twist yang
ditawarkan dari jalinan plotnya. Jadi, film ini murni sebuah perjalanan
roller-coaster yang menegangkan. Nimród Antal cukup mampu membangun dan
menjaga intensitas ketegangan, walaupun rasanya banyak hal-hal klise yang
terdapat dalam skripnya. Terlepas dari itu, ‘Vacancy’ menampilkan dengan baik
rasa klaustropobia, isolasi dan ketakutan karakter utamanya secara nyata, karena
David dan Amy adalah orang-orang yang terasa hidup dialam nyata, bukan jenis
streotype yang sering mengisi jenis-jenis film ini. Inilah yang membuat
kengerian dalam ‘Vacancy’ terasa lebih hidup.

Sayangnya, ‘Vacancy’
diakhiri dengan adegan jenerik yang cukup basi. Apalagi endingnya terasa
dieksekusi dengan terburu-buru, sehingga rasanya kok tidak mampu menyamai bagian
awal hingga paruh film. Ini yang membuat ending dalam film ini terasa seperti
tempelan saja. Namun, karena Kate Beckinsale dan terutama Luke Wilson yang
biasanya bermain dalam film-film komedi, mampu membawakan karakter mereka dengan
baik, ‘Vanacy’ tetap menawarkan ketegangan yang cukup solid dan atmosfir yang
terjaga.