‘DISTURBIA’: A Fun and Neat Little Thriller
Release Date: 13 April 2007 (USA)
My Grade: 3 out 5
Dibuka dengan adegan tabrakan mobil yang menawan, ‘Disturbia’ kemudian berceritatentang Kale (Shia LaBeouf, Transformer), seorang remaja yang terpaksa menerima
tahanan rumah, karena memukul guru bahasa Spanyolnya. Kaki kale dipasangi
sehenis gelang yang akan membatasi ruang lingkup pergerakannya. Jika ia melawati
batas harak tertetu maka gelang akan mengirimkan sinyal yang akan memanggil
polisi. Ibunya, Julie (Carrie Ann-Moss, The Matrix) telah membatalkan langganan
X-Boxnya, maka sebagai pengisi waktu ia mulai memata-matai aktifitas
tetangganya, termasuk pendatang baru Ashley (Sarah Roemer, The Grudge 2).
Namun, Ashley mengetahui kegiatannya, saat ia bersama sahabatnya Ronnie
(Aaron Yoo, Things That Go Bump in the Night) terlalu ‘bersemangat’
mengobservasi. Malah kini, Ashley bergabung untuk mengintip kegiatan tetangga
mereka, termasuk yang menjadi santapan utama, Mr. Turner (David Morse, 16
Blocks) yang misterius. Kale mencurigai Mr. Turner sebagai pembunuh berantai
yang tengah dicari polisi. Apalagi, kemudian Kale mencurigai jika pria tersebut
telah membunuh seorang adis. Benarkah Mr. Turner seorang pembunuh berantai? Dan
jika memang benar, bagaimana upaya Kale dalam menghentikan aktifitas Mr.
Turner?
Menyaksikan film ini mau tidak mau mengingatkan akan ‘Rear
Window’ (1954), salah satu karya klasik dari Alfred Hitchcock. Apalagi secara
jeneral, ‘Distrubia’ memakai pendekatan yang sama, hanya saja kali ini pelaku
utamanya adalah remaja-remaja belasan tahun dan villain yang lebih satu
demensi.
‘Rear Window’ adalah contoh sempurna bagaimana thriller yang
memikat dapat membangun ketegangan secara merambat dengan ending yang secara
psikologis menghanyutkan. ‘Disturbia’ tidak mencapai level tersebut atau bahkan
mungkin tidak berupaya mencapainya, karea jelas tujuan utama dari film ini
adalah hiburan ala popcorn.
‘Disturbia’ dimulai dengan gaya yang
tipikal film remaja, yang menghadirkan keceriaan dan asmara, sampai kemudian
memasuki bentuk utamanya, thriller-suspense. D.J. Caruso (Taking Lives) lumayan
berhasil dalam membangun narasi thrillernya dengan nuansa ketegangan yang
mengalir lancar. Hanya saja, endingnya terasa terlalu cepat untuk dieksekusi,
sehingga film yang tadinya dipenuhi atmosfir dari elemen ‘Rear Window’ berubah
menjadi thriller/slasher ala ‘Halloween’ (1978).
Shia LaBeouf
tampaknya semakin menunjukkan eksistensinya sebagai bintang muda di rana
Hollywood, walau terus terang ia biasa-biasa saja di film ini, berikut juga
barisan bintang pendukung lainnya. Kredit terbesar tentu saja ditujukan bagi
Caruso, yang cukup mampu memoles kisah yang sederhana ini menjadi thriller
tegang yang lumayan memikat.