‘THE BRIDE WITH WHITE HAIR’: A Shakesperean WuXia Tale Of Love and Revenge
Release Date: 1993 (Hong Kong)
My Grade: 3.5 out 5
Saat Liang Yu-shen menulis novel dwi-logi ‘Gik Lo-sat’ dan ‘Pek Hoat Mo Li’ diera 50-an, kedua novel tersebut dimaksudkan sebagai tandingan dari kemasyuran ‘Sin Tiauw Hiap Lu’ dari Chin Yung, yang mengisahkan keagungan cinta antara Yo Ko dan gurunya yang lebih tua, Siauw Liong-lie. Keduanya mencoba menggambarkan bagaimana cinta sejati diuji oleh waktu dalam menuju keabadian cinta. Tentu saja, sebagai sebuah cerita silat atau wu-xia, novel-novel tersebut tidak terlepas dari belitan romantika dan intrik yang mejadikan kenikmatan dalam membacanya. Kini, diakui sebagai karya klasik, novel-novel tersebut telah banyak difilmkan maupun seri televisi dengan berbagai versi.
Di tahun 1993, disaat genre Wu Xia Pian mewabah di industri perfilman Hong Kong, Ronnie Yu (Freddy Vs. Jason, Fearless), yang biasanya membuat film-film aksi moderen dengan gaya new-wave (lihat ‘China White’), memutuskan untuk mengangkat novel karya Liang Yu-shen dengan pendekatan uniknya. Ditangannya novel ‘Giok Lo-sat’ berubah menjadi sebuah film silat dengan cita rasa artistik dan sentuhan Shakesperean yang kental.
‘The Bride with Hair’ (Pai Fak Mo Ni Chuan) bercerita tentang Cho Yi-hang (Leslie Cheung, Farewell My Concubine), seorang murid utama dari partai Bu Tong. Meskipun Bu Tong terkenal sebagai partai yang utama dan santun, namun Yi-hang malah cenderung urakan dan ugal-ugalan, walau sebenarnya mempunyai hati yang baik. Pada suatu hari ia bertemu dengan seorang perempuan misterius bersenjatakan cambuk. Pertemuan tersebut begitu berkesan bagi Yi-hang, meski kemudian ia tahu jika perempuan yang lebih dikenal sebagai Gik Lo-sat (Brigitte Lin, Chung King Express) atau perempuan serigala tersebut adalah pembunuh utama dari kelompok sesat Mo Kauw pimpinan Ke Bu-song (Francis Ng dan Elaine Lai), sepasang kakak-beradik kembar dempet yang mempunyai kesaktian luarbiasa.
Yi-hang kemudian mengetahui jika Gik Lo-sat adalah anak perempuan yang pernah menyelamatkannya dari kejaran serigala saat ia masih kecil dulu. Asmara bersemi kembali dikeduanya. Yi-hang malah memberi nama baru bagi Gik Lo-sat, yaitu Lian Nie-siang. Keduanya kemudian berjanji untuk meninggalkan klan masing-masing dan juga dunia kang-ouw (atau jiang hu) untuk kemudian hidup damai berdua saja. Sayangnya, tragedi menanti mereka dan cinta mereka kemudian akan diuji kekuatanya.
Karena keterbatasan durasi, maka novel panjang tersebut kemudian dirombak oleh Ronnie Yu sedemikan rupa, sehingga film kemudian terkesan mempunyai cerita yang sangat ringkas dan karakterisasi yang sedikit jenerik akibat kurang tereksplorasi. Walau begtiu, dalam adegan-adegan melankolisnya, atmosfir dapat dibangun dengan baik, sehingga mengundang rasa empati penontonnya. Terlebih lagi, dengan penanganan kamera yang istimewa oleh Peter Pau (pemenang Oscar untuk ‘Crouching Tiger, Hidden Dragon’, 2000), walau dengan penataan artistik yang terlalu staging dan kurang alami, ‘The Bride With White Hair’ seperti sebuah drama panggung yang diseluloidkan. Beruntung, menjelang klimaks, eskalasi dari intensitas emosi dari film semakin meningkat, begitu juga dengan pengembangan karakternya.
Kredit terbesar harus disematkan untuk Leslie Cheung dan Brigitte Lin, yang mampu meniupkan ruh dalam karakter Cho Yi-hang dan Lian Nie-siang dengan nyaris sempurna. Kebahagian, kesedihan dan yang paling utama, rasa cinta antara keduanya, berhasil dipamerkan, berkat versatilitasan akting keduanya. Cheung, yang memang biasa bermain dalam film-film romantis tentu tidak merasakan kesulitan. Sedangkan Lin, seorang diva akting perfilman Mandarin pada masanya, berhasil menciptakan karakter kharismatis lainnya, setelah sebelumnya sukses bermain sebagai pendekar transgender, Tung Fang Put Pai, musuh sekaligus love interestkarakter yang dimainkan oleh Jet Li, dalam ‘Swordsman II’ (1991).
‘The Bride With With Hair’ bukanlah wu-xia terbaik yang pernah ada. Namun, dengan komposisi film yang cenderung unik dan elemen fantasi yang eksentrik, maka film ini menjadi "berbeda". Setelah film ini memang ada ‘The Bride With White Hair 2′, yang kemungkinan besar mengelaborasi novel ‘Pek Hoat Mo Li’. Namun film ini sendiri dapat dinikmati sebagai karya yang utuh tanpa ada keharusan menyaksikan sekuelnya tersebut, yang jujur saja, jauh secara kualitas dibandingkan dengan ‘The Bride With White Hair’ ini. Kini, setelah 14 tahun berlalu, ‘The Bride With White Hair’ rasanya sudah pantas untuk masuk dalam jajaran ranah klasik dalam khazanah perfilman Mandarin.
October 4th, 2007 at 1:41 am
Baru aja merhatiin…kok judulnya THR yach??
Belum dapat nihhh?
October 4th, 2007 at 8:47 pm
ohya….
hehehehe…..
tks ya???
di update deh
film lama emang sih