Archive for October, 2007

Not All of Us Can Afford to be Romantic!

Wednesday, October 31st, 2007

Lizzie_and_mr_darcy "Not all of us can afford to be romantic, Lizzie", demikian kata Charlotte Lucas kepada sahabatnya Elizabeth Bennet dalam ‘Pride and Prejudice’ karya Jane Austen. Charlotte, yang tidak seindah Lizzie secara fisik, menerima pinangan Mr. Collins, sepupu Lizzie yang telah  ditolaknya saat melamar dirinya.

Charlotte Lucas: Mr. Collins and I are engaged.
Elizabeth Bennet: Engaged?
Charlotte Lucas: Yes.
Elizabeth Bennet: To be married?
Charlotte Lucas: Yes, Lizzie, what other kind of engaged is there? Oh, for heaven’s sake, Lizzie, don’t look at me like that. There is no earthly reason why I shouldn’t be as happy with him as any other.
Elizabeth Bennet: But he’s ridiculous.
Charlotte Lucas: Oh hush Lizzie. I’ve been offered a comfortable home and protection. There’s alot to be thankful for. So don’t judge me Lizzie; don’t you dare judge me!

Sunggih malang Charlotte. Karena memiliki rupa yang kurang menawan, sehingga ia menafikan eksistensi romansa bagi dirinya dan sangat bersyukur jika ada seseorang yang bersedia melamarnya. ‘Pride and Prejudice’ berseting di era Georgia di Inggris, namun rasanya sampai saat ini kasus ini masih banyak terjadi.

Rasanya memang betul yang dikatakan Charlotte. Romansa, mungkin ia memang barang mewah. Tidak semua orang rasanya dianugrahi kesempatan untuk mencintai dan dicintai kembali. Kemudian, saat ada ‘penawaran’ terhadap dirinya, ia menerima saja, walau mungkin saja ia tidak mencintai orang tersebut.

Kenapa ya, rasanya susah sekali mencari pasangan sejiwa itu, yang dapat berbagi romansa, suka, duka dan tentunya kehidupan?

‘LEGENDA SUNDEL BOLONG’: A Fun Homage. A Thrill Ride? Not Exactly!

Wednesday, October 31st, 2007

Produksi: Rapo Films (2007)
Sutradara: Hanung Bramantyo
Cast: Tio Pakusadewo, Jian Batari Anwar, Baim, Uli Auliani

Genre: Horor/Thriller/Drama
Durasi: 91"
Release Date: 18 Oktober 2007
My Grade: 2.5 out 5

Sundel_bolongSungguh "luar biasa"! Dalam dua minggu berturut-turut Hanung Bramantyo merilis dua filmnya, setelah seminggu sebelumnya ada ‘Get Married’, maka diberikutnya hadir ‘Legenda Sundel Bolong’. Saya kurang tahu ini mengindikasikan apa, over-kreatif atau kejar setoran?

‘Legenda Sundel Bolong’ adalah karya horor kedua dari Hanung, setelah ‘Lentera Merah’ (2006). Sama halnya dengan film tersebut, maka kali ini film horor ini pun berunsur politis. Hanya saja kali ini Hanung mengambil seting di era 60-an disebuah perkebunan, yang mana pada saat itu situasi di masyarakat memang tengah mengalami pergolakan, terutama konflik antara kaum buruh tani, tuan tanah serta alim ulama.

Dikisahkan Sarpa (Baim, BadWolves) baru menikah dengan seorang mantan ronggeng bernama Imah (Jian Batari Anwar, KM 14). Untuk mengubah nasib, ia memutuskan untuk bekerja di perkebunan milik Danapati (Tio Pakusadewo, Berbagi Suami). Sayangnya, Danapati ini bukan karakter yang charming. Selain terkenal sebagai tuan tanah yang tyrant ia ternyata suka menyiksa perempuan. Bisa ditebak, Imah pun menjadi sasaran Danapati berikutnya! Dengan megirim Sarpa ke Sumatera untuk sementara waktu, ia menjebak Imah dan menyekap Imah dirumahnya. Imah kemudian tewas menggenaskan di tangan kaki tangan Danapati, karena berusaha melarikan diri.

Sepeninggal Imah, sosok perempuan dengan punggung yang bolong, mulai meneror dan membunuh beberapa orang dikampung. Dengan tewasnya beberapa orang penduduk kampung, maka situasi kampung mulai gerah. Belum lagi kaum buruh yang berkeinginan menentang Danaspati. Sementara itu Sarpa kembali dari Sumatera dan bertemu dengan Imah dirumahnya. Namun, kebahagian mereka hanya berumur jagung, karena tanpa sepengetahuan Sarpa, sesuatu yang jahat mengancam kehidupan mereka!

Dengan memakai judul yang diembeli kata ‘Legenda’, tentu saja film akan mengelaborasi asal-muasal hantu Sundel Bolong tersebut. Memang sebelumnya sudah ada film yang memakai judul Sundel Bolong sebelumnya yang dibintangi oleh Suzzana. Namun, film ini sama sekali tidak ada hubungan dengan film tersebut. Bisa dikatakan ‘Legenda Sundel Bolong’ adalah re-boot dari film tersebut. Dan untuk itu, Hanung bahkan memakai beberapa adegan khas film horor tahun 80-an, mungkin saja sebagai homage.

Dengan desain opening yang menampilkan potongan-potongan koran ditahun 60-an, film ini seakan menegaskan akan menggambarkan situasi pelik di era tersebut sebagai latar belakang kisah horornya. Namun, setelah menyimak filmnya secara keseluruhan, kok rasanya hal tersebut hanya tempelan belaka. Hanung seperti terjebak antara mau bercerita tentang situasi sosial politik masyarakat pada saat itu dan antara film horor yang murni komersil. Rasanya keduanya seperti tidak saling mendukung dan malah berjalan sendiri-sendiri. Hal ini didukung dengan salah satu adegan di ending yang rasanya cukup absurd, ‘perang’ antara buruh tani dengan kaum agamis yang diwakili kalangan pesantren, yang mana rasanya dieksekusi dengan terlalu tergesa-gesa, sehingga malah terkesan came-out-from-nowhere.

Dari segi horornya, rasanya Hanung memang kurang berbakat dalam menggali adegan-adegan seram. Atmosfir kengerian kurang terbangun dan beberapa adegan malah terasa konyol dan menggelikan, entah disengaja atau tidak! Walau begitu, Hanung beruntung didukung oleh Faozan Rizal sebagai D.O.P-nya. ‘Legenda Sundel Bolong’ menampilkan gambar-gambar yang terkesan elegan dan indah, walaupung berseting diperkampungan. Penggambaran hutannya dengan aura mistis pun terasa lumayan berhasil. WSementara itu, dari aspek drama, rasanya Hanung memang terlihat semakin matang. Film bertutur dengan cukup lancar dan gampang dicerna, sehingga kita tidak merasa kebosanan.

Hal positif lainnya adalah akting Jian Batari Anwar yang sangat aspiratif dalam memerankan karakternya. Dan tentu saja Tio Pakusadewo. Rasanya ia memang ‘raja’-nya untuk peran-peran ’sakit’ seperti ini. Sedangkan Baim, walau tidak luar biasa, namun untuk pendatang baru, ia bermain dengan cukup baik.

Akhirnya, ‘Legenda Sundel Bolong’ memang horor yang ‘cantik’, namun ambiguitas dalam ceritanya justru menjebak menjadi ketidakjelasan arah cerita sebenarnya. Walau begitu, memang film ini masih sangat lumayan dibandingkan beberapa film horor yang beredar akhir-akhir ini.   


Blood: The Last Vampire >> 1st movie still (Saya)

Tuesday, October 23rd, 2007

Saya Here is the 1st movie still from the live version of Blood: The Last Vampire’s anime. It shows Jeon Ji-hyun (My Sassy Girl)  as Saya. Well, she’s look cool. I hope the movie is cool also!!!!

The stroy is about a vampire named Saya, who is part of covert government agency that hunts and destroys demons in a post-WWII Japan, is inserted in a military school to discover which one of her classmates is a demon is disguise.

‘GET MARRIED’: A Fun Comedy That Will Remind You Of Your Self

Tuesday, October 23rd, 2007

Produksi: Starvision (2007)
Sutradara: Hanung Bramantyo
Cast: Nirina Zubir, Ringgo Agus Rahman, Aming, Desta, Richard Kevin, Jaja Miharja, Meriam Bellina, Ira Wibowo

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 105"
Release Date: 10 Oktober 2007
My Grade: 3.5 out 5

Get_married_1 Setelah ‘Kamulah Satu-Satunya’ (2007), Hanung Bramantyo kembali bermain di ranah komedi satir. Hanya saja kali ini ia bekerja sama dengan penulis skenario yang memang handal di ranah tersebut, Musfar Yassin (Kiamat Sudah Dekat, Ketika, Nagabonar Jadi 2). Hasilnya, jadilah ‘Get Married’ sebuah komedi ringan tapi tetap berisi sekaligus menghibur.

Seorang perempuan bernama Mae (Nirina Zubir, Kamulah Satu-satunya) berteman sedari kecil dengan tiga laki-laki, Beni (Ringgo Agus Rahman, Maaf, Saya Menghamili Istri Anda), Eman (Aming, Berbagi Suami) dan Guntoro (Desta, I Love You Om), sehingga ketika besar pun berperangai seperti laki-laki yang dianggap menyusahkan oleh keduaorangtuanya (Jaja Miharja dan Meriam Bellina). Untuk meringkankan ‘beban keluarga’, Mae pun dijodohkan dengan banyak laki-laki. Sayangnya semua laki-laki tersebut ditolak oleh Mae dan dihajar oleh teman-teman karibnya tersebut agar tidak mengusik Mae lagi.

Namun, kemudian hati Mae tertambat oleh Rendy (Richard Kevin, Cinta Pertama), laki-laki ganteng yang anak orang kaya. Sepertinya Rendy pun tertarik pada Mae. Sayangnya sebuah kesalahan membuat ketiga teman Mae mengira Rendy termasuk laki-laki yang tidak diinginkan sehingga ‘menghajar’ Rendy hingga babak belur. Karena ibu Mae sakit, maka Mae memaksa salah seorang dari ketiga sohibnya untuk menikahi dirinya! Akhirnya Beni yang terpilih. Saat Mae dan Beni mau melaksanakan akad nikah mereka, datanglah rombongan pemuda kompleks tempat Rendy tinggal untuk membalas dendam. Maka, terjadilah tawuran antara kaum elit dengan kaum pinggiran dengan kepentingan yang tidak jelas lagi.

Terus terang, menyaksikan ‘Get Married’ seakan menyaksikan kembali kehidupan nyata orang-orang yang ada disekitar kita, karena pendekatan yang diusahakan realitis oleh Hanung ini. Berbagai sindiran-sindiran bernada kritik sosial dalam dialog dan pengadegananya terasa sangat mengena pada sasarannya. Dengan balutan komedi, kita menjadi mampu untuk menertawakan diri sendiri. Bukankah ini merupakan tujuan dari komedi satir?

Hanya saja, komedi satir dengan pendekatan realis ini menjelang paruh akhir malah kemudian cenderung terasa absurd dengan banyaknya adegan slapstik ala komedi trio Warkop di era 80-an dahulu. Terutama pada adegan tawuran yang terasa sangat komikal. Belum lagi kenyataan jika rasanya warga kompleks perumahan elit tidak mempunyai rasa "solidaritas sosial" seperti yang tergambar dalam film ini.

Nirina, Ringgo, Aming dan Desta tampil dengan lepas sehingga terasa alami. Richard Kevin sendiri bermain dengan baik. Terbukti yang telah saya sebutkan saat memberi review ‘Cinta Pertama’ bahwa Richard hanya butuh arahan dari sutradara yang baik untuk mengeluarkan kemampuan aktingnya. Meriam Bellina dan Ira Wibowo sebagai aktris senior tentu saja tidak diragukan lagi aktingnya. Akan tetapi scene stealer jelas adalah aktor komedi kampiun Jaja Miharja, setelah penapilan cameo-nya di ‘Nagabonar JJadi 2′ (2007) kemarin.

Terlepas dari segala kelemahannya, ‘Get Married’ adalah sebuah komedi cerdas yang berhasil. Ia mampu menjalakan misinya sebagai film dengan unsur hiburan sekaligus membawa sesuatu yang bisa diambil oleh para penontonnya. Direkomendasikan!   


‘POCONG 3′: Not So Good As The Predecessor

Tuesday, October 23rd, 2007

Produksi: Sinemart (2007)
Sutradara: Monty Tiwa
Cast: Francine Roosenda, Elmayana Sabrenia, Gery Iskak, Darius Sinathrya, Rina Hassim

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 85"
Release Date: 11 Oktober 2007
My Grade: 2out 5

Pocong3_474x700Walaupun ‘Pocong’ (2006) karya Rudi Sudjarwo tidak mendapat izin untuk diedarkan secara luas, namun tidak menghalangi sekuel-instannya, ‘Pocong 2′ (2006) untuk merajai box-office saat peredarannya. Kini, tidak sampai setahun kemudian, telah muncul ‘Pocong 3′. Kali ini Rudi Sudjarwo tidak langsung turun tangan, melainkan menyerahkan kepada Monty Tiwa yang sebelumnya menulis skenario untuk dua film pertamanya. Film ini sendiri merupakan kali kedua Monty jadi pengarah film setelah ‘Maaf, Saya Menghamili Istri Anda’ (2007).

‘Pocong 3′ nyaris tidak mempunyai hubungan dengan dua film sebelumnya terkecuali sekelumit benang merah tentang legenda Pocong tersebut. Putri (Francine Roosenda) adalah seorang DJ di klub Vendetta pimpinan Michelle (Elmayana Sabrenia) yang galak. Suatu hari ia menerima kabar jika ayahnya yang telah lama meninggalkan dirinya telah tiada. Walau kaget, namun Putri tidak dapat menyembunyikan rasa kecewa terhadap sang ayah. Sepeninggal ayahnya, Putri malah sering diperlihatkan sosok Pocong. Lantas ia menemui Laksmi (Rina Hassim), adik ayahnya, yang dianggap dapat menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. Sementara itu, ternyata ada sosok lain, selain Pocong, yang juga menghantui Putri.

Jujur saja, setelah menyaksikan film ini, saya malah jadi berharap jika sebaiknya Rudi saja yang turun tangan langsung, karena terbukti, Monty ternyata kurang lihai mewujudkan isi skenarionya sendiri. Konyol adalah kata yang melintas dibenak saya setelah keluar dari gedung bioskop. Entah mengapa, film ini malah terlihat seperti film komedi bagi saya, karena Monty rasanya kali ini terlalu banyak bermain-main dalam ranah komedi dalam balutan cerita yang semestinya horor ini. Entahlah, mungkin ia masih terbawa-bawa oleh atmosfir ‘Maaf, Saya Menghamili Istri Anda’ saat mengerjakan skrip film ini atau malah memang dikerjakan secara back-to-back dengan film tersebut!

Monty terlalu menekankan pada banyak pola basi dari genre ini daripada membangun atmosfir pada cerita. Apalagi ia terasa kurang intens dalam membangun keseraman cerita. Belum lagi dengan banyaknya ‘kelucuan-kelucuan’ yang mungkin dianggap Monty keren (hantu perempuan yang minta rokok sambil mengelaborasi konsep gentayangan!) dan film yang diakhiri dengan ending yang anti-klimaks, semakin menambah rasa konyol tadi. Belum lagi penampilan sosok Pocong dan hantu bernama "Merah"(sic) yang terlalu jenerik jika tidak mau dikatakan amatiran.

Secara teknis, bujet yang kurang memadai terasa sekali membatasi produksi film, sehingga mempunyai banyak kekurangannya, seperti dari segi audio dimana Monty sepertinya hanya mampu memakai jasa tenaga penata suara kelas amatiran, yang mengakibatkan kualitas audio di film ini terasa buruk sekali dibeberapa bagian.

‘Pocong 3′ beruntung didukung oleh pendatang baru yang berbakat seperti Francine Roosenda. Ia dengan kapabilitas yang sangat lumayan, mampu untuk menghidupkan karakter Putri. Elmayana Sabrenia rasanya cukup tipikal dengan peran juteknya, namun terasa pas. Begitu juga dengan Darius. Hanya saja Gery Iskak yang rasanya act like he came out from nowhere. Penampilan aktris baheula Rina Hassim menambah kesan creepy dari film.

Sebenarnya Monty tidak jelek-jelek sekali dalam menggarap film ini, hanya saja ia kurang jelas dalam membatasi paradigma horor yang diinginkannya. Penggunaan warna-warna terang juga sangat membantu dalam membangun mood film, untuk membedakan dengan film sebelumnya yang memakai tone pucat atau gelap dalam film horor lainnya. Hanya saja kemudian sangat disayangkan jika film malah terasa clueless.


‘KUNTILANAK 2′: Deadly Chanting Continues….

Tuesday, October 23rd, 2007

Produksi: MVP Pictures (2007)
Sutradara: Rizal Mantovani
Cast: Julie Estelle, Evan Sanders, Piet Pagau, Bella Esperance, Ibnu Jamil

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 97"
Release Date: 10 Oktober 2007
My Grade: 2.5 out 5

Kuntilanak_the_chanting2_1Dibuka dengan sekelompok anak kecil, tiga orang tepatnya, bermain petak umpet di sebuah rumah besar yang kosong, yang jika sudah pernah menyaksikan ‘Kuntilanak’ (2006) pastilah tahu jika rumah tersebut merupakan setting utama dalam film tersebut. Adegan pembuka tersebut terasa sangat mendebarkan dan seakan ingin mengindikasikan jika film ini bukanlah untuk anak-anak. Hal ini dibuktikan saat cerita dalam ‘Kuntilanak 2′ dipoles oleh Ve Handojo sebagai penulis cerita dengan lebih twisted dalam eksplorasi narasinya.

Dikisahkan Samantha (Julie Estelle), pindah tempat kost yang baru, dimana sanak perempuan pemilik kost dapat melihat hal-hal ghaib. Sedangkan Agung (Evan Sanders) mengalami trauma berat akibat pernah diculik oleh Kuntilanak, namun disisi lain ia sangat mengkhuatirkan nasib Samantha. Ditempat lain, sekte sesat Mangkujiwo, pimpinan Madeng (Piet Pagau), tengah mehgalami krisis, karena anggota mereka yang bisa men-dhurmo memanggil kuntilanak, Sri Sukma (Alice Iskak) telah tewas ditangan Samantha. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadikan Samantha sebagai anggota baru mereka agar eksistensi kelompok mereka tetap bisa berlangsung. Selanjutnya, film berkisah tentang lika-liku antara karakter-karakter tersebut, dan sang Kuntilanak yang sesekali muncul menunjukkan rupanya!

Dibandingkan dengan film sebelumnya, maka di sekuel Kuntilanak ini, Rizal Mantovani sebagai sutradara, tampak lebih matang dalam menggarapnya. Didukung oleh cerita yang lebih kompleks tadi, maka ‘Kuntilanak 2′ bisa dikatakan lebih baik. Penampakan Kuntilanaknya juga terlihat menyeramkan dengan sedikit perombakan dalam, bentuk fisik. Secara teknis, Rizal juga terlihat lebih matang, sehingga film terlibat ‘cantik’ dengan cerita yang lebih menarik.

Hanya saja kemudian ada beberapa hal yang mengganggu. Rizal Mantovani mungkin saja ahli dalam merangkai visual yang menarik, namun dari segi penyampaian cerita, tampaknya ia masih harus belajar lagi. Cerita rasanya berjalan monoton dan sedikit menjemukan, karena terlalu menekankan pada sekte Mangkujiwo, sedangkan sisi lain dari cerita kurang tergali karena ditampilkan seadanya.

Plot-twistnya terasa kurang greget dan Kuntilanaknya malah terasa sebagai karakter tempelan. Mungkin saja, sebagai bagian tengah dari sebuah trilogi yang disiapkan oleh Rizal dan Ve Handojo, ‘Kuntilanak 2′ lebih menekankan pada eksplorasi karakter, namun bukankah sebaiknya progresi cerita berjalan dengan lebih proporsional dengan kekuatan film itu sendiri, dimana untuk kasus ini adalah sang Kuntilanak!

Julie Estelle sendiri aktingnya memang lebih baik dari prekuelnya, namun kok terasa kurang berkembang. Berbeda dengan akting gemilangnya di ‘Selamanya’ (2007). Evan Sanders, walau memang tampil lebih baik, akan tetapi tetap harus belajar keras untuk berakting-yang-baik-dan-benar. Justru penampilan bintang senior Bella Esperance, sebagai salah satu anggota sekte, tampil memukau sebagai orang sakit jiwa! Entah kenapa Bella akhir-akhir ini malah tampil dalam banyak film horror setelah ‘Bangku Kosong’ (2006) dan ‘Lantai 13′ (2007). Ohya, ada penampilan khusus dari aktris lawas yang mengejutkan di akhir cerita. Jelas, merupakan jembatan untuk sekuel berikutnya.

Jadi, bagi yang sudah menonton dan menyukai ‘Kuntilanak’, jelas film ini wajib tonton. Bagi yang belum atau bukan penggemar film yang pertama, mungkin dilewatkan saja.


‘JELANGKUNG 3′: Have An Inventive Plot But Lack of Style in Substance

Monday, October 8th, 2007

Produksi: reXinema (2007)
Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
Cast: Andrew R. Roxburgh, Mitha Griselda, M. Reza Pahlevi

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 80"
Release Date: 05 Oktober 2007
My Grade: 2.5 out 5

Jelangkung3_2 Kabarnya, disetiap pemutaran film ‘Jelangkung’ (2001), harus ada bangku kosong demi tumbal bagi filmnya. Namun, Yodi (Andrew R. Roxburgh), yang menonton bersama teman-temannya, Chris (Mitha Griselda) dan Patra (Muhammad Reza Pahlevi), nekat untuk menduduki bangku tersebut, karena ia tidak percaya dengan segala tahayul atau mitos. Sayangnya, ia harus mempercayai mitos tersebut, karena kemudian ia mulai diganggu oleh penampakan hantu anak kecil yang terdapat di film tersebut. Percuma ia minta bantuan Chris dan Patra, karena mereka merasa Yodi hanya berbohong, sama halnya dengan banyak kebohongan yang telah dikatakannya sebelumnya. Lantas, apa yang harus dilakukan oleh Yodi?

Dengan mengusung ide cerita yang unik, ‘Jelangkung 3′ hadir sebagai sekuel teranyar dari ‘Jelangkung’ dan ‘ Tusuk Jelangkung’ (2003). Jeda beberapa tahun mungkin disebabkan karena Erwin Arnada pernah sesumbar jika ‘Bangsal 13′ (2004) adalah film horor terakhir dari rumah produksi reXinema. Namun, tentu saja kita tidak akan pernah mempercayai apa pun yang keluar dari mulut seorang produser! Ditengah banyaknya kisah sukses film horor akhir-akhir ini, tentu tidak ada salahnya untuk menggembungkan pundi-pundi perusahaan, secara reXinema akhir-akhir ini kurang berdengung namanya.

Dengan menggandeng nama-nama kurang terkenal seperti Ginatri S. Noer untuk menulis cerita dan Angga Dwimas Sasongko (Foto, Kotak, Jendela), seorang sutradara indie muda yang baru berusia 22 tahun sebagai pengarah film, Erwin Arnada sepertinya mempunyai kepercayaan diri yang besar terhadap film ini.

Angga Dwimas Sasongko jelas berbakat. Ini terlihat dari film ini. Dengan pendekatan sinematografis yang realitis, ia mampu membangun suasana mencekam dan ketegangan yang dibutuhkan oleh film. Hanya saja, ia masih terlalu muda dan perlu banyak pengalaman. Film pada mulanya dieksekusi dengan sangat baik, hanya saja kemudian tempo menjadi dragging dan film pun berjalan membosankan, karena cerita sudah dapat tertebak. Belum lagi ia masih memakai semangat indie-nya dalam pendekatan teknis film dengan kamera yang bergoyang-goyang dan gambar-gambar yang terkadang buram. Ini seakan menegaskan jika film dibuat dengan bujet yang ultra-minim sehingga pengerjaan film dilakukan secara terburu-buru. Secara umum, ini mengganggu kenikmatan dalam menyaksikan filmnya.

Skrip yang ditangani oleh Ginatri S. Noer rasanya pun dikerjakan secara tergesa-gesa, karena eksplorasi plot dan karakter yang terasa seadanya-secukupnya. Belum lagi bolong-bolong dalam plot yang membuat kening berkerut! Ia pun terlalu banyak memakai pola usang, sehingga unsur ketegangannya kemudian sudah dapat diraba, sehingga progresi rasa seram gagal untuk dibangun. Film kemudian menjadi tidak jelas, antara hanya mau menakuti-nakuti atau memang ada sesuatu yang hendak diceritakan.

Film ini pun sayangnya tidak didukung dengan kekuatan akting dari tiga bintang pendukungnya. Andrew R. Roxburgh (Hantu Jeruk Purut) rasanya berlu amat-banyak-banyak belajar akting yang benar. Ia tampil dengan sangat annoying, terlepas dari memang karena karakter yang dimainkannya juga annoying (pun intended)! Sementara Mitha Griselda dan Muhammad Reza Pahlevi, walau berakting dengan cukup lumayan baik, namun rasanya menjadikan sinetron sebagai acuan akting mereka sehingga overall sama annoying-nya dengan akting Andrew R. Roxburgh.

Walaupun ‘Jelangkung 3′ secara umum mampu tampil dengan lebih baik daripada film horor yang beredar akhir-akhir ini, namun jelasnya ia tetap saja masih jauh dari kategori horor ideal yang baik-dan-benar secara keseluruhan.


‘BLACK HOUSE’: This House Lies A Dark Secret

Friday, October 5th, 2007

Produksi: CJ Entertainment/Kadokawa Pictures (2007)
Sutradara: Sin Tae-ra
Cast: Hwang Jeong-min, Kang Shin-il, Yoo Seon

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 104"
Release Date: 21 Juni 2007(Korea Selatan)
My Grade: 3.5 out 5

Blckhouse02_1Asian horrors are taking break from the long-haired-ghost-genre and possesion video-cell phone-shoes-wig-house-etc. Dengan ‘Black House’ (Geomeun Jib), sebuah horor psikologis, mengingatkan kembali akan kejayaan ‘Audition’ (1999) karya Takashi Miike.
Diangkat dari novel karya YĆ»suke Kishi, ‘Black House’ merupakan kali kedua novel tersebut diterjemahkan dalam bentuk seluloid, setelah sebelumnya ada ‘The Black House’ atau ‘Kuroi Ie’ di tahun 1999. Kali ini giliran bagi Sin Tae-ra untuk menyutradarinya. Sin Tae-ra sendiri sebelumnya menyutradarai sebuah film ultra-low-budget sci-fi berjudul "Brainwave" (2006).

‘Black House’ berkisah tentang seorang agen asuransi bernama Junno (Hwang Jeong-min) yang diminta untuk mendatangi sebuah rumah tua di daerah pinggiran oleh seorang kliennya yang bernama Park (Kang Shin-il). Saat di rumah tersebut, Junno menyaksikan anak tiri Park tewas menggenaskan dalam kondisi tergantung dikamarnya. Keadaan tersebut diklaim sebagai bunuh diri oleh polisi. Namun Junno mencurigai jika Park sengaja membunuh anak tirinya tersebut untuk mendapatkan polis asuransi sang anak. Apalagi, berdasarkan penyelidikan Junno, Park mempunyai latar belakang yang mencurigakan.

Junno mencoba mempringati istri Park, Shin (Yoo Seon, Uninvited, The Wig) akan bahaya yang mengancam dari Park, karena polis asuransi jiwa Shin yang besar. Namun, sesuatu yang mengerikan sebenarnya tengah mengancam jiwa Junno dan juga kekasihnya. Dan untuk itu ia harus membuka rahasia kelam dari rumah tersebut.

Pada paruh pertama, nyaris tidak terjadi apa-apa di layar film, kecuali untuk eksposisi dan pembangunan latar belakang karakter. Bagi yang tidak tidak sabaran, mungkin akan menguap berkali-kali. Namun, sebenarnya Sin Tae-ra cukup baik dalam membangun ekposisi tersebut dalam struktur yang menarik dan gampang diikuti. Kemudian di paruh akhir, film mulai berubah bentuk menjadi thriller-horror yang mencekam, dengan mengandalkan suspensi dan gore. Lantas diakhiri dengan ending yang cukup memikat walau mungkin terlihat jenerik secara umum.

Disini Tae-ra menunjukkan jika ia adalah seorang sutradara yang kreatif dan lumayan inventif. Hanya saja, di bagian ini terasa sekali ada lubang-lubang dan ketidak logisan yang tidak dapat ditambal dengan baik oleh Tae-ra.

Walau begitu, secara keseluruhan, ‘Black House’ adalah sebuah film yang cukup efektif. Penggambaran Black House-nya sendiri sebagai sebuah ‘rumah derita’ tampil dengan cukup meyakinkan. Tidak kalah dengan house of terror di film-film ‘Saw’.

Akan tetapi, kekuatan utama film ini adalah Hwang Jeong-min dan Su Yeon, sebagai karakter-karakter dengan latar belakang yang menggelisahkan. Keduanya dengan baik mampu membawakan karakter yang dimaksud sehingga begitu integratif dengan jalannya cerita secara keseluruhan. Walau kemudian mereka kemudian berubah menjadi karakter satu dimensi diklimaks film, namun keduanya membawa harkat yang dibutuhkan dalam film ini.

‘Black House’ mungkin bukan jenis horor atau thriller utama, namun ditengah derasnya film horor Asia yang bergaya sama, jelas ia sangat menjanjikan dan berbeda dari banyak aspek. Direkomendasikan!