Archive for November, 2007

‘KNOCKED UP’: Menjadi Dewasa Itu Pilihan

Saturday, November 17th, 2007

Produksi: Universal Pictures (2007)
Sutradara: Judd Apatow
Cast: Katherine Heigl, Seth Rogen, Paul Rudd, Leslie Mann, Jay Baruchel, Jonah Hill

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 128"
Release Date: 01 Juni 2007 (USA)
My Grade: 4.5 out 5

Knocked_up Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa adalah pilihan. Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan tema utama dalam film ‘Knocked Up’ karya sophomore Judd Apatow setelah ‘The 40 Old Year Old Virgin’.

Entah apa nasib masa depan Ben Stone (Seth Rogen, The 40 Old Year Old Virgin), pemuda setengah-pengangguran yang luntang-lantung tidak jelas kerjaanya, selain membuat website yang tidak selesai-selesai dengan isi yang kurang jelas, berganja dengan teman-temannya yang sama tidak jelasnya, atau sekedar bersenang-senang di klub. Sampai suatu hari, disebuah klub, ia bertemu dengan Alison Scott (Katherine Heigl, Bride of Chucky, serial Grey’s Anatomy), seorang perempuan muda yang cantik dan tengah meniti karir di sebuah stasiun televisi.

Dipengaruhi oleh alkohol yang telah mereka minum dan mengendap dalam darah mereka, keduanya pun memutuskan tidur bersama. Dan sebuah kesalahan terjadi! Mereka yakin mereka menggunakan kondom, atau setidaknya itulah yang mereka pikir. Well, kenyataanya mereka tidak. Jadilah Alison mengandung. Ia menemui Ben dan ternyata Ben bersedia untuk membantu Alison mengadapi kehamilannya. Hubungan yang mulanya hanya sebuah one night stand pun menjadi hubungan yang lebih mendalam dan kemudian Alison dan Ben memutuskan untuk pacaran. Namun, mereka berdua sungguh berbeda dalam banyak hal. Bisakah keduanya mempertahankan hubungan seumur jagung tersebut dan kemudian bersama-sama untuk membesarkan anak mereka?

Sebagai sebuah komedi romantis, terus terang ‘Knocked Up’ setingkat lebih daripada hanya sebuah komedi yang ringan-ringan saja. Situasi dibangun sengan serealistis mungkin, sehingga adegan-adegan dalam film terasa lebih berkesan. Walaupun unsur roman-nya lebih menonjol daripada komedinya, namun film tetap terasa bernas dan jenial dalam menyampaikan maksudnya.

Dengan dialog-dialog yang mendalam dan tajam, Judd Apatow merangkai suasana komedi dan roman tadi menjadi satu kesatuan sebagai sebuah eksposisi dan deskripsi akan kehidupan kaum muda saat ini, terutama dalam proses menuju pendewasaan diri tadi. Konflik dibangun dengan cermat, sehingga plot berjalan dengan narasi yang ciamik. Walaupun kemudian mungkin bagi sebagian orang endingnya terasa klise, namun sepertinya hal tersebut lebih diperlukan untuk menciptakan kesan yang lebih mendalam. Dan beberapa aspek komedinya pun terasa seperti keluar dari sejenis film komedi seperti seri ‘American Pie’, walau pun rasanya memang tidak terlalu absurd. And I’m okay with it.

Judd Apatow juga beruntung didukung oleh akting kuat dari jajaran pemainnya. Pada mulanya saya under estimate dengan Katherine Heigl, namun terbukti ia adalah orang yang tepat untuk peran Alison. Begitu juga dengan Seth Rogan yang sangat mewakili kehidupan sosok pemuda sehari-hari yang ignorant, baik secara fisik maupun attitude-nya. Chemistry diantara mereka begitu kuat, membuat kita terhanyut dalam kehidupan mereka.

Yang menarik, bintang-bintang pendukungnya pun bersinar dalam bentuk mereka masing-masing dan membuat film terasa lebih solid. Leslie Mann dan Paul Rudd memainkan pasangan suami-istri kakak Alison dan suaminya dengan mengesankan, apalagi mereka pun mendapat porsi adegan yang cukup besar karena mendapatkan sub-plot mereka sendiri.

‘Knocked Up’ mungkin mempunyai beberapa klisenya tersendiri dan mungkin terasa terlalu manis atau bahkan vulgar dibeberapa bagian, namun tetap saja ia adalah film yang sukses dalam menjalankan misinya, menghibur penonton sekaligus melaksanakan fungsi kontemplatif yang cukup mendalam. Sesuatu yang jarang didapat dari tipikal komedi romantis biasa!


‘13 BELOVED’: 13 Steps To Gain A Large Sum of Money (And It Probably Lethal)

Monday, November 12th, 2007

Produksi: Sahamongkolfilm (2006)
Sutradara: Matthew Chookiat Sakveerakul
Cast: Krissada Sukosol Clapp, Acita Sukamana, Sarunyoo Wongkrachang

Genre: Thriller/Drama
Durasi: 111"
Release Date: 05 Oktober 2006 (Thailand)
My Grade: 4 out 5

13beloved_1Chit (Krissada Sukosol Clap a.k.a Krissada Terrence), seorang karyawan biasa berumur 32 tahun, yang tengah depresi oleh banyak permasalahan yang dihadapinya. Belum lagi ia habis dipecat oleh pimpinannya. Kemudian ia menerima sebuah panggilan telepon misterius yang mengajaknya untuk mengikuti permainan 13 Beloved, dimana ia harus melakukan 13 perkara untuk dapat memenangkan 100 juta Baht (sekira 27.3 miliar rupiah). Hal-hal yang dilakukannya mulai dari yang konyol hingga amat berbahaya dan menentang hati nurani. Berhasilkah ia menempuh 13 rintangan tersebut dan memenangkan uang tersebut?

Sementara itu, kolega Chit di kantor, Tong (Acita Sikamana, dari film Shutter), yang ahli komputer mencurigai tingkah polah Chit dan menemukan website misterius yang bernama 13 Beloved, dimana sejumlah orang bertaruh uang untuk seseorang seperti Chit, apakah bisa melakukan 13 rintangan atau tidak! Oleh karena itu Tong berniat mencegah Chit untuk terseret lebih dalam.

Sepintas memang film ini mengingatkan akan ‘feardotcom’ atau ‘Pulse’. Akan tetapi sebenarnya ‘13 Beloved’ atau ‘13 Game Sayong’ berdasarkan sebuah komik karya Eakasit Thairath. Sang sutradara yang baru berusia 25 tahun, Matthew Chookiat Sakveerakul dengan mengagumkan berhasil merangkai sebuah thriller dengan unsur suspens dan misteri yang kuat dengan kritisi sosial serta bumbu-bumbu komedi, yang menjadikan ‘13 Beloved’ sebagai sebuah film yang entertaining sekaligus mendalam.

Film bertutur dengan lancar nyaris tanpa tergagap, sehingga secara keseluruhan terasa solid, walau rasanya bumbu-bumbu komedinya terasa kurang tepat atau kurang berhasil, sehingga terasa mengganggu toneserius yang sudah dibangun sebelumnya. Belum lagi adegan kejutan di klimaks yang terasa kurang pas jika tidak dikatakan terlalu dibuat-buat, walaupun memang bisa mengisi beberapa lubang-lubang dalam ceritanya.

Berbicara mengenai lubang di cerita, terus terang memang wajar jika penonton akan kerap memikirkannya sepanjang durasi Chit melaksanakan "tugasnya". Sebagai contoh, betapa hebat dan efisien sistem kerja kelompok 13 Beloved, sehingga mereka selalu bisa memantau dan mengarahkan tindak tanduk Chit. Atau memang bisa saja segala sesuatunya memang telah mereka rencanakan dengan teliti sebelumnya. Namun, entah mengapa rasanya masih terlalu luar biasa, sehingga bisa saja kita berfikir ada campur tangan unsur supernatural disini!

Krissada Sukosol Clap sendiri dengan sangat berhasil mentranformasikan dirinya menjadi Chit, yang depresi pada awalnya, antusias kemudian, dan penuh dilema pada akhirnya. Ia berhasil merefleksikan realisme dalam film, sehingga walau beberapa keadaan terasa luar biasa, namun tetap terasa grounded, sehingga atmosfir terasa menegangkan sekaligus mengerikan. Realisme memang sepertinya yang ditawarkan oleh Matthew Chookiat Sakveerakul, sehingga meski mengandung unsur fantasi, ‘13 Beloved’ terasa riil dan oleh karenanya malah terasa lebih menggelisahkan.

Kabarnya PH Hollywood, Weinstein Co., telah merencanakan untuk meremake film ini dalam versi Amerika. Ini membuktikan jika ‘13 Beloved’, yang bersama dengan ‘Kala’ (2007) karya Joko Anwar menjadi peserta PiFan Film Festival 2007 di Korea Selatan baru-baru ini, adalah film yang unik dan hadir dengan visinya yang universal.


‘1408′: Welcome to The Room of Terror of Horror

Monday, November 12th, 2007

Produksi: Dimension Films (2007)
Sutradara: Mikael Håfström
Cast: John Cusack, Samuel L. Jackson, Mary McCormack

Genre: Horor/Thriller/Drama
Durasi: 94"
Release Date: 

22 Juni 2007 (USA)

My Grade: 3.5 out 5

Fourteen_hundred_and_eight ‘1408′ adalah sebuah film thriller-horor yang diangkat dari cerita karya Stephen King. Horror Miester tersebut sudah puluhan tahun menulis kisah-kisah horor, sehingga mungkin dapat dimaklumi jika ia kemudian mencari varian cerita dengan menggali karya-karya lamanya, karena terus terang saja, ‘1408′ sangat mengingatkan akan ‘The Shining’ yang kemudian diarahkan oleh Stanley Kubrick di tahun 70-an dalam bentuk film. Lantas, bisakah Mikael Håfström (Derailed) membuat film yang sama kelasnya dengan film tersebut. Mungkin jawabannya tidak, namun Mr. Håfström mampu membangun sebuah drama menegangkan dengan intensitas cerita yang cukup terjaga.

Ceritanya mungkin terdengar klise; Mike Enslin (John Cusack) adalah seorang penulis buku mengenai tempat-tempat berhantu. Ia terlebih dahulu melakukan penyelidikan terhadap tempat-tempat tersebut dan selalu bisa membuktikan jika kabar yang berkembang di masyarakat adalah mitos belaka. Sampai ia mendengar tentang keberadaan kamar 1408 di Hotel Dolphin, New York.

Telah ada hampir 100 tahun dan menewaskan 56 orang dan semuanya dalam tempo tidak lebih dari satu jam. Manajer hotel (Samuel L. Jackson) telah mengingatkan Enslin akan bahaya yang akan dihadapinya. Tapi Enslin yang skeptis bersikeras. Akhirnya ia pun menginap di kamar tersebut and then everything goes awful, off-course!

Satu hal yang pasti, secara visual ‘1408′ cukup atmosferik dan dalam segi dramanya pun menyentuh ranah psikologis yang membuat 1408 terasa berbeda dengan banyak film horor lainnya. ‘1408′ tidak hanya berupaya untuk menakut-nakuti, akan tetapi mencoba meneror dari segi emosi. Rasanya, Mr. Håfström cukup berhasil untuk itu. Hanya saja, mungkin karena terlalu menekankan pada cerita dan juga visual, ‘1408′ menjadi tidak terlalu menyeramkan.

Akan tetapi nilai positif utama dari film ini adalah saat ‘1408′ tetap terasa ciamik, walaupun secara umum berlokasi di hanya satu lokasi dengan John Cusack yang menonjol memenuhi layar. Bisa dikatakan ini memang filmnya John Cusack. Segala ekspresi emosi mampu diluapkan dari mimik, gestur, hingga vokal, sehingga kita begitu tersedot olehnya dan melupakan bahwa nyaris tidak ada karakter lain bersamanya untuk berbagi emosi.

‘1408′ sendiri bukanya tidak terjebak dalam klise yang sudah terpolarisasi dalam genre ini. Namun, ‘1408′ jelas adalah film horor yang berbeda dengan tingkat kecerdasan diatas rata-rata dari banyak film horor yang lebih mengandalkan darah dan kekejian akhir-akhir ini. Jadi, jika Anda merasa sebagai penoton yang cerdas dan memiliki kematangan emosi yang lebih dewasa, ‘1408′ adalah film horor untuk Anda.


‘MR. BROOKS’: Here Come The Talented Mr. Brooks

Sunday, November 11th, 2007

Produksi: MGM (2007)
Sutradara: Bruce A. Evans
Cast: Kevin Costner, Demi Moore, William Hurt, Dane Cook, Marg Helgenberger, Danielle Panabaker

Genre: Thriller/Drama
Durasi: 120"
Release Date: 

01 Juni 2007

(USA)

My Grade: 4 out 5

Mr_brooks_2Pada mulanya saya berfikir, sebuah film thriller dengan bintang lawas seperti Kevin Costner dan Demi Moore sebagai bintang utama? Kok seperti déjavu ke tahun 90-an? Bukannya saya meremehkan. Era 90-an merupakan era dimana banyak film thriller yang bagus beredar (Silence of the Lambs, Single White Female, The Hand that Rocks the Cradle, Malice dan sebagainya). Hanya saja, apakah ini merupakan langkah tepat disaat banyak bintang yang lebih bersinar(no pun intended!)? Dan ada jaminan ini akan menjadi film yang memikat?

It’s turn out that I’m wrong. ‘Mr. Brooks’ ternyata adalah sebuah thriller yang memikat dengan intensitas cerita yang mengikat para penontonya untuk tetap menyimak sampai akhir.

Apa yang kurang dari Earl Brooks (Kevin Costner)? Ia seorang pengusaha sukses, ayah yang baik dan suami ideal. Tidak ada yang mengetahui jika ia sebenarnya adalah Thumbprint Killer, seorang pembunuh berantai yang tenga dicari-cari. Namun Mr. Brooks sebenarnya tidak sendirian. Ia selalu ditemani oleh Marshall (William Hurt), alter ego-nya, yang sebenarnya adalah perwujudan rasa ‘kejam’ pada diri Mr. Brooks. Setelah jeda selama dua tahun, ia merencanakan pembunuhan terakhirnya untuk kemudian memutuskan untuk menghentikan "kecanduan" membunuhnya. Sayangnya, malam itu seorang fotografer amatiran yang mengaku bernama Mr. Smith (Dane Cook) melihat aksi Mr. Brooks. Entah dengan alasan apa, Mr. Smith malah meminta Mr. Brooks untuk mengajaknya adalam "aksi" berikut.

Sementara itu, seorang polisi wanita bernama Tracy Atwood (Demi Moore), berada tepat dalam penyilidikan untuk menangkap sang Thumbprint Killer. Tracy sendiri ternyata mempunyai masalahnya sendiri. Dalam perkembanganya, nasib Mr. Brooks akan bersilangan dengan Tracy. Hanya saja dalam bentuk apa?

Sebagian thriller psikologis dan sebagian suspense, terkadang ‘Mr. Brook’ terlihat sangat populis dengan memakai formula yang terkadang tipikal, namun terkadang mencapai level berkelas dengan idealismenya sendiri. Ini mungkin ganjalan utama ‘Mr. Brooks’ untuk menjadi sebuah thriller yang benar-benar klasik.

Terlepas dari itu, Bruce A. Evans, sebagai sutradara mampu membangun ceritanya dengan pola ketegangan yang menjalar, tanpa terasa kendor sama sekali. Ini merupakan film keduanya, setelah Kuffs pada tahun 1992. Jeda 15 tahun ternyata tidak membuat Evans kehilangan kekuatanya dalam membangun sebuah cerita yang solid.

Penggambaran karakter Mr.Brooks dilakukan dengan teliti oleh Evans, sehingga walaupun Mr.Brooks adalah karakter anti-hero, namun Evan mampu membangun empati sekaligus simpati penonton kepada Mr. Brooks. Rasanya, setelah ‘The Talented Mr. Ripley’ (1997) yang lalu, baru kali ini saya merasa kagum dengan karakter "gelap" seperti ini. Apalagi Kevin Costner dengan mumpuni masuk kedalam tubuh Mr. Brooks dan meniupkan ruh yang tepat untuknya. Terlepas dari kredit jelek yang terdapat dalam daftar filmnya akhir-akhir ini, Mr. Costner menunjukkan ia memang aktor watak kaliber Hollywood yang handal.

Tentu saja, karakter Marshall yang digambarkan dengan gemilang oleh William Hurt turut andil dalam menempatkan Mr. Brooks dalam posisi yang simpatetik, karena Marshall adalah perwujudan naluri amoral dan kebinatangan Mr. Brooks, sehingga ia merupakan orang yang tepat untuk dibenci!

Karakter yang dimainkan oleh Demi Moore sebenarnya mempunyai kans untuk tampil dengan sangat gemilangnya dengan Mr. Brooks itu sendiri, akan tetapi sayangnya skenario tidak memberikan kualitas yang lebih dalam elaborasi karakternya, sehingga ia menjadi sangat tipikal dalam jenis film seperti ini. Padahal, seharusnya ia dan Mr. Brooks mempunyai ikatan batin yang kuat, walaupun mereka tidak pernah saling bertemu. Meski berakting dengan baik, namun Demi Moore tetap terlihat kurang maksimal dalam menjadi Ms. Woods, sehingga karakternya kemudian seperti menjadi "kewajiban" dalam tuntutan isi film.

Karakter yang diperankan oleh Dane Cook sendiri cenderung sangat mengganggu dan membuat kita berfikir mengapa ia yang begitu "bodoh" merasa bisa mengimbangi Mr. Brooks yang brilian, sehingga kemudian karakternya terasa sebagai "alat bermain" Mr. Brooks dalam progresi cerita. Dane Cook sendiri sepertinya mengira ia sedang berakting dalam sekuel ‘Good Luck Chuck’, dan berharap agar Mr. Brooks cepat-cepat saja "mengeliminasinya"!

Terlepas dari aspek minornya, Mr Brooks is really gripping, from start to finish. Walau secara keseluruhan tetap terasa seperti film hiburan, namun dengan didukung jalinan cerita yang cerdas dan kekuatan akting bintang kelas A, ‘Mr. Brooks’ rasanya menjadi thriller dengan kekuatan narasi yang sangat ciamik, sesuatu yang rasanya jarang ada di banyak film akhir-akhir ini. 


‘GRINDHOUSE’S PLANET TERROR’: All Terror Break Loose

Sunday, November 11th, 2007

Produksi: Dimension Films (2007)
Sutradara: Robert Rodriguez
Cast: Rose McGowan, Freddy Redriguez, Marley Shelton, Josh Brolin, Naveen Andrews, Michael Biehn, Jeff Fahey, Bruce Willis


Genre: Aksi/Fantasi/Petualangan/Horor
Durasi: 105"
Release Date:  6 April 2007 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Paknet_terror‘Planet Terror’ adalah bagian Robert Rodriguez untuk persembahan kepada subgenre film-film eksploitatif tahun 70-an yang disebut dengan Grindhouse, setelah Quentin Tarantino dengan ‘Death Proof’-nya. Di Amerika kedua film merupakan bagian dari double feature, sedangkan untuk peredaran global, kedua film beredar masing-masing dengan durasi yang lebih panjang.

‘Planet Terror’ mengambil ide dari film-film Zombie yang pada jaman itu mengalami era emasnya. Ditambah lagi dengan sentuhan aski-aksi eksplosif ala Rodriguez, menjadikan ‘Planet Terror’ sebagai sebuah laga dengan aksi yang intens dan (tentu saja) blood-and-gore.

Seorang penari go-go, Cherry Darling (Rose McGowan) kehilangan sebelah kakinya akibat serangan sekelompok zombie yang menginvasi sebuah kota kecil. Ia bertemu dengan mantan kekasihnya yang misterius El-Wray (Freddy Rodriguez) yang kemudian bersama-sama memimpin sekelompok orang, untuk melawan komplotan zombie tersebut.

Ceritanya terus terang sangat kelas B, jika tidak dikatakan amatiran. Tapi ini memang tujuan Rodriguez, aksi dalam kecepatan penuh tanpa pretensi apapun untuk menjadi tetap berkelas A, seperti yang dilakukan Tarantino dengan ‘Death Proof’-nya. Bukannya ‘Death Proof’ tidak mengandung semangat bermain yang jahil sekaligus jenial seperti film ini, akan tetapi Tarantino sepertinya tidak tahan untuk tetap melekatkan imej tipikalnya terhadap filmnya.

Berbeda dengan Rodriguez yang sadar-sesadarnya ia membuat sebuah film homage dan berniat untuk mengeksplotasinya secara total. Selain cerita, maka gambar yang scratchy, missing reel, dan segala klise fisik lainnya diterapkan Rodriguez dengan setia.

Hanya saja kemudian yang sangat mengganggu adalah dimana Rodriguez terasa sangat bersemangat dalam "sentuhan artistiknya" tersebut sehingga terkadang terasa mengorbankan beberapa aspek filmis yang ideal. Bahkan kadang-kadang film terasa terlalu absurd dalam pengadeganan cerita. Sebagai contoh, missing reel terasa sangat menganggu jalan cerita, entah memang disengaja mengganggu atau tidak, menyebabkan film terasa terlalu attitude "serius dalam bermain-main".

Walau begitu, tetap saja ‘Planet Terror’ tetap tambil dengan sangat menghibur sekaligus berhasil menyampaikan "pesannya" dalam mereferensikan makna Grindhouse itu sendiri. Dan jika kemudian harus dibandingkan, rasanya ‘Planet Terror’ lebih direkomendasikan dibandingkan ‘Death Proof’.   


‘DORORO’: The 1st Chapter From An Epic Trilogy

Monday, November 5th, 2007

Produksi: ToHo(2007)
Sutradara: Akihito Shiota
Cast: Satoshi Tsumabuki, Kou Shibasaki, Kiichi Nakai

Genre: Aksi/Fantasi/Petualangan/Drama
Durasi: 139"
Release Date: 06 Januari 2007
My Grade: 4 out 5

Dororo_1Sungguh saya tidak pernah mengira jika Osamu Tezuka, pengarang komik Astroboy, juga adalah penulis dari komik yang kemudian diangkat menjadi film yang berjudul’Dororo’ ini. Beruntung film ini diproduksi pada masa kini, secara kemajuan spesial efek mampu mewujudkan imajinasi Tezuka menjadi hidup di layar. Ditangani oleh Akihito Shiota, yang sebelumnya banyak membuat film indie, ‘Dororo’ menjadi sebuah chambara dengan fantasi dalam cerita yang memikat dan dipenuhi dengan visual yang memanjakan mata.

Hyakki-maru (Satoshi Tsumabuki, Tears for You) adalah seorang pengelana, tapi ia bukan pengelana biasa. Dilahirkan dengan kehilangan 48 anggota tubuhnya, ia kemudian dibesarkan oleh seorang dukun yang memberi pengganti untuk setiap bagian tubuhnya yang hilang. Kini, setelah dewasa, Hyakki-maru harus membasmi 48 iblis guna memperoleh kembali bagian tubuh aslinya. Ia sebenarnya adalah putera dari jenderal perang Kagemitsu Daigo (Kiichi Nakai), yang rela memebrikan 48 bagian tubuh putranya yang belum lahir kepada 48 iblis guna memperoleh kekuatan dalam memenangkan peperangan.

Dalam perjalanannya, Hyakki-maru bertemu dengan Dororo (Kou Shibasaki, Battle Royale, One Missed Call), seorang pencuri perempuan yang menyamar menjadi pria yang bersifat jenaka dan usil. Karena mengincar pedang Hyakki-maru, maka ia menyertai perjalanan Hyakki-maru dalam menumpas iblis. Ternyata, Dororo sendiri mempunyai latar belakang yang tak kalah menyedihkan.

Dororo sendiri berarti manusia dalam wujud monster, sesuatu yang bisa direferensikan untuk Hyakki-maru, karena walau mempunyai fisik seperti manusia normal, namun fisiknya tersebut sebenarnya adalah bagian-bagian tubuh dari orang yang telah mati.

Pada mulanya, ‘Dororo’ seperti mengingatkan akan serial-serial televisi Jepang untuk anak-anak. Ditambah pula dengan beberapa F/X yang mendukung untuk itu. Namun dalam perjalanannya, ‘Dororo’ menjadi terlalu kompleks dan kelam jika hanya untuk konsumsi anak-anak.

Bahkan pada klimaks, dimana pada akhirnya Hyakki-maru harus berhadapan dengan ayahnya, film cenderung menjadi sebuah tragedi ala-Shakespeare. Untunglah kesedihan ala melodrama bisa dihindarkan oleh Akihito Shiota dengan pendekatan yang lebih subtil. Sehingga, walau bertema fantasi, namun ‘Dororo’ tidak melupakan sentuhan drama humanisnya, sehingga tidak heran ‘Dororo’ terasa istimewa.

Yang membedakan ‘Dororo’ dengan chambara-fantasi lainnya adalah eksplorasi karakternya yang mendalam, sehingga terhindar dari tipikalitas satu dimensi yang biasa terdapat dalam jenis film-film ini. Kita dengan mudah terserap dan berempati dengan Hyakki-maru dan Dororo bahkan untuk karakter villain minor sekalipun, seperti seorang laki-laki yang menikahi seorang iblis, walau ia tahu sang iblis tidak mencintainya!

Pada mulanya, Satoshi Tsumabuki yang berperawakan melankolis terasa kurang meyakinkan untuk karakter gelap seperti Hyakki-maru, namun dalam progresinya ia berhasil mewujudkan Hyakki-maru dalam sosok dirinya. Sedangkan Kou Shibasaki dengan gemilang malih rupa menjadi Dororo yang menyebalkan sekalihus adorable. They such a cute pair!

Film ini didukung pula oleh Toni Cheng Siao-tung (Hero, House of the Flying Dagger) sebagai pengarah silat. Trade-mark tertempel dengan lekat pada adegan-adegan aksinya, sehingga terlihat menakjubkan. Bahkan, pada beberapa adegan mengingatkan pada gaya Toni pada film-film silat Hong Kong-nya ditahun 90-an.

‘Dororo’ sendiri adalah bagian pertama dari trilogi yang sudah disiapkan. Bagian kedua dan ketiga akan keluar pada tahun 2008 dan 2009. Dengan kredit lebih difilm ini, maka sudah dipastikan saya akan menunggu dengan tidak sabar seri dua dan tiganya. This movie definitely one of my favorite in 2007!