‘MIRACLE’: It’s A Miracle That This Movie Has Been Made!
Kabarnya ‘Miracle’, karya ke empat Helfi Kardit setelah ‘Seventeen’ (2005), ‘Bangku Kosong’ (2006) dan ‘Lantai 13′ (2007), mengambil inspirasi dari film Hollywood yang berjudul ‘Final Destination’ (1999). Berkisah tentang seseorang yang tiba-tiba bisa melihat ke masa depan dan keluar dari kematian yang akan menjeput. Sayangnya, kematian itu sendiri pada akhirnya akan tiba juga, hanya saja dengan dua kali lebih kejam.
Rasanya dengan premis seperti itu mau tidak mau Kardit harus mengakui jika ia mengambil ide dari film besutan James Wong tersebut, jika tidak mau disebut plagiat atau copy cat. Sayangnya, ia tidak menyebutkan jika filmnya ini pun menyadur ide dari film Thailand yang berjudul ‘Letters of Death’ (2006)!
Ya, selain berjalan cerita mirip sekali dengan ‘Final Destination’ ia menambahkan twist dengan adanya pola yang memakai inisial nama korban yang kemudian membentuk suatu kata, yang bisa juga menjadi petunjuk. Belum lagi dengan adanya sosok psycho diujung cerita. Ini menujukkan betapa keringnya ide Kardit dalam membuat film dengan idenya sendiri.
Skrip yang ditanganinya bersama Anggoro bermaksud untuk menjadi trailer yang menegangkan, dimana pada awalnya film memang terasa cukup menegangkan dan rasanya progresi cerita akan menarik untuk diikuti. Namun, menjelang pertengahan unsur tegang tadi hilang entah kemana dan cerita menjadi terasa absurd dan mengada-ngada serta sangat menghina intelejensia para penontonnya dengan banyaknya lubang di dalam cerita, dan hingga diakhiri dengan klimaks yang anti-klimaks jika tidak mau dikatakan konyol.
Berbicara konyol, entah apa yang ada di benak Kardit saat ia melakukan kasting untuk pemain-pemain utamanya. Semuanya bermain dengan sangat mentah dan annoying, sehingga kita berharap jika mereka mati saja semuanya. Karakter-karakternya pun sama sekali tidak menarik apalagi membuat penonton dapat merelasikan dengan ketakutan mereka.
Namun kelemahan terbesar, selain skrip dan kasting, adalah eksekusi dari Kardit itu sendiri. Dengan menggunakan teknik kamera hand held dia berusaha untuk menangkap ketegangan dengan secara lebih realistis. Namun, rasanya ia masih belum bisa membangun ketegangan yang diperlukan untuk teknik seperti itu dan malah membuat film terasa amatiran. Dan penggunaan hand held bukan alasan utama dari lemahnya eksekusi Kardit, melainkan penggarapan secara jeneral, film memang terasa kurang matang.
Ok, mungkin ia bisa memakai alasan bujet yang rendah untuk menafikan kelemahan-kelemahan dalam film ini. Akan tetapi, jika ia memang berbakat, dengan bujet seperti bagaimanapun ia seharusnya bisa membuat film yang jenial!
Hasil akhirnya, menonton ‘Miracle’ seperti menyaksikan salah satu episode dari sinetron-sinetron atau FTV di televisi. Rasanya film ini memang lebih pantas dirilis televisi atau setidaknya direct-to-video, karena terus terang saja, terasa mubazir saat menyaksikanya di layar bioskop.
By the way, kredit lebih harus ditujukan untuk Michael Tju yang mendisain posternya, karena terus terang alasan utama saya untuk menyaksikan film ini adalah posternya yang rasanya cukup komunikatif dan "menjual". But, like peoples said, don’t judge book by its cover. Hm, I should listen. :((
December 18th, 2007 at 9:46 pm
HUAHAHAHAHA….. YA ALLAH…
kok bisa2 nya sih bang ntn film yang udah jelas2 dijamin busuk abis
tapi thx bgt atas rev nya…. jd peringatan bwat gw…
sejak baca sinopsis nya yg niru abis final destination … gw dah langsung muntah n sama skali gak berniat ntn even dibayarin juga gw gak sudi!!!
tentang, posternya…. stuju 100%…
jujur aja itu salah satu poster film indo paling COOL yg pernah ada… top bgt bwat designer nya..
klo soal ktipu poster gw juga pernah tuh,…
lewat tengah malam..posternya cihuy berat…tapi ternyata film nya busuk…
blom lagi BBB, butterfly, trowongan casablanca (setannya serem kliatannya…tapi terntyata tai kucing ;p
huh…indonesia emang jagonya menipu…sialan…hehehehe ;p
btw, lo gak ntn “film horror” juga kan, bro? karna tuh pelem najis berat…CUIHHHHHH:p
PEACE
December 20th, 2007 at 6:31 pm
film horor??? ntar kalau bajakannya keluar
December 20th, 2007 at 9:52 pm
hahahahaha… bajakannya?
kayaknya para pembajak juga gak sudi deh nge bajak film sampah satu itu ….:D
btw, Alhamdulillah… Quickie express masih bertahan sampe sbulan…
padahal butterfly yg baru 2 minggu aja dah turun… mampus!!!;p
December 24th, 2007 at 5:09 am
gak tahu ya…kemarin2 masih pengen ntn butterfly…tapi kok dah ngilang :((
kayaknya Nayato udah mulai banyak belajar untuk berbagai kesalahanya. Kangen misalnya. Udah cukup lumayan, walau copy-an berat Windstruck (dan yg pasti engga bakal bisa nandingi), namun ia sekarang mulai mentingin bagaimana penceritaan yang baik, dibandingkan visual atau falshy editing yang trademarknya dia bgt itu….
December 25th, 2007 at 7:34 am
Well, Final Destination aja gw ngga suka……tentunya film ini ngga akan masuk dalam waiting list film yg worth to watch versi gw…….
Kecuali destiny berkata lain…..hihihihi….
December 25th, 2007 at 5:41 pm
Final Destination kan lumayan bro??? Kalau Miracle??? Ke laut aja kali…SAMPAH!!!!!!!
December 26th, 2007 at 6:15 pm
hehe ga tau ya, FD sih bagus,…sangat bagus malah….saking bagusnya, salah2 orang bisa jadi paranoid abis nonton. FD termasuk berhasil utk yg satu itu..bisa bikin agoraphobia. Takut keluar rumah hehehehe
December 27th, 2007 at 4:02 am
ohhh…gitu ya??? IC
December 29th, 2007 at 4:15 am
@afif
comment 1:”Well, Final Destination aja gw ngga suka…..”
comment 2:”hehe ga tau ya, FD sih bagus,…sangat bagus malah….saking bagusnya, salah2 orang bisa jadi paranoid abis nonton. FD termasuk berhasil utk yg satu itu..bisa bikin agoraphobia. Takut keluar rumah hehehehe”
ADA APA DENGAN AFIF? ;p
kok gak konsisten gitu, sobs?
mnurut gw FD is cool movie…n tentang bikin parno itu justru mnurut gw adalah sbuah keberhasilan!!!!berarti tujuan sang filmaker mang sampe…
FD 1 bener2 bikin gw hampir pipis di celana ..hahaha… kalo naek pesawat…
FD 2 bikin jantung dag-dig-dug-der kalo lagi di jalan
FD 3 bikin parno kalo naek halilintar di dufan(even mnurut gw tuh maenan masih cemen kalo dibandingin poci-poci…hehe…ampe muntah gw
ya…FD2 n FD3 emang udah rada2 melenceng…tapi gw tetep suka banget ma trilogy FD (btw, bakal ada FD 4 gak ya? nungguin banget nih…
December 30th, 2007 at 6:42 pm
Justru itu gw kurang suka bukan karena film itu jelek, tapi karena ga bagus buat perkembangan mental gw (halah…emang balita apa??) :p