‘ONCE’: All You Need Is Music


Produksi: Fox Searchlight (2007)
Sutradara: John Carney
Cast: Glen Hansard, Marketa Irglova

Genre: Drama/Musikal
Durasi: 85"
Release Date: 23 Maret 2007 (IRLANDIA)
My Grade: 4.5 out 5

Once
Terkecuali Bollywood, pada saat ini musikal bukanlah genre yang umum untuk dipilih oleh kebanyakan sineas di dunia. Walaupun pada era 50-an hingga 60-an musikal begitu berjaya, namun disaat realisme menjadi bagian yang tak terelakkan dalam sebuah film, maka gaya narasi musikal yang terkadang dianggap tidak membumi menjadi kurang populer. ‘Once’ adalah upaya John Carney, seorang sutradara sekaligus penulis dari Irlandia, untuk membawa narasi musikal dalam ranah film realis, tanpa harus kehilangan inti dari sebuah film musikal itu sendiri.

Ceritanya sederhana saja, seorang pria (Glen Hansard) adalah seorang musisi jalanan. Suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis muda penjual bunga keliling(Marketa Irglova) yang mengagumi lagu yang dinyanyikan oleh sang pria. Sang pria hanya tinggal berdua saja dengan ayahnya yang memiliki sebuah toko reparasi. Sang perempuan berasal dari Czechnya dan tinggal bersama dengan ibunya dan putrinya. Lantas keduanya melakukan jamming disebuah toko musik dan pada akhirnya sang perempuan membantu sang pria untuk membuat sebuah album demo.

Begitulah, sebagai sebuah drama, ‘Once’ sama sekali tidak mempunyai cerita yang sangat dramatis atau mengharu-biru. Bahkan cerita yang memang sudah sederhana berjalan dengan sangat linear. Namun, ‘Once’ didukung dengan lagu-lagu yang diintegrasikan dengan sangat padu dengan jalan cerita. Lagu-lagu tersebut terasa sangat emosional dan menyentuh, sehingga bisa dikatakan film secara umum bercerita melalui lagu-lagu ini. Lagu-lagu inilah yang membuat ‘Once’ terasa sangat powerful dan memberi kesan yang mendalam.

Disinilah hadir upaya Carney untuk membuat sebuah film musikal gaya baru, yang mana lagu-lagu dihadirkan bukan dengan gaya antah-berantah atau tiba-tiba adegan menjadi musikal. Film tetap berjalan sebagaimana layaknya film "normal", dan juga dipenuhi dengan dialog, namun lebih kurang 60 % dari durasi adalah lagu-lagu. Dengan latar belakang musikalitas kedua karakter utamanya, film mengizinkan lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari narasi, tanpa harus kelihatan tidak realistis, karena lagu-lagu tersebut ditembangkan dengan cara yang paling umum dilakukan dalam keseharian kita.

Penggarapan Carney dalam filmnya adalah realisme, sehingga secara teknis film memakai pendekatan ala dokumenter, sehingga membuat film terasa lebih nyata. Hal ini mungkin memang disengaja oleh Carney, karena kedua aktor utamanya, Glen Hansard dan Marketa Irglova sama sekali bukan aktor-aktris profesional, melainkan musisi sejati. Bahkan pada awalnya Hansard sebenarnya dideskripsikan sebagai pengkomposisi lagu-lagu dalam film. Saat Carney mengkastingnya menjadi pemain utama, maka selanjutnya Marketa Irglova yang baru berusia 17 tahun, rekan Hansard dalam membuat lagu-lagu dalam film diajak serta sebagai aktris utama.

Dengan teknik pengambilan gambar film yang bergerilya, maka Hansard dan Irglova dapat berakting dengan lebih alami tanpa harus terkesan dibuat-buat atau amatiran. Untunglah porsi utama dari film adalah musikalitas, sehingga disegmen ini keduanya dapat lebih total dan memberikan penampilan yang sangat impresif, terutama untuk adegan lagu duet "Falling Slowly" atau penampilan solo Irglova dalam "The Hill" yang sangat emosionil.

Segmen musikal dalam film ini menunjukkan bahwa Hansard dan Irglova adalah musisi-musisi yang brilian, karena berhasil mengkomposisi lagu-lagu bergaya campuran folk dan rock yang captivating. Rasanya lagu-lagu dalam film sedap didengar dan memorable, terutama "Falling Slowly", "If You Want Me", "When Your Mind’s Made Up" dan "Fallen From The Sky".

Lagu-lagu yang terasa romantis tersebut meresonansikan hubungan antara sang pria dan sang perempuan. Walaupun hubungan diantara mereka terasa jujur dan tulus bahkan cenderung platonis, namun chemistry diantara keduanya begitu kental dan aura romansa memenuhi udara dengan penuhnya. Bahkan film mempunyai beberapa elemen romantisme yang jenial, sehingga cocok pula bagi yang menyenangi film-film percintaan.

Dari segi teknis, dengan pendekatan ala dokumenter tadi, sebenarnya ‘Once’ terasa medioker atau biasa-biasa saja. Dengan penggunaan hand-held, kadang gambarnya terasa kurang fokus atau teknik pencahayaan yang kurang maksimal. Meski begitu, rasanya hal tersebut hanyalah bersifat minor dan tidak mengganggu narasi film secara keseluruhan.

Inti utama dari ‘Once’ adalah musikalitasnya itu tadi. Dalam durasi yang padat, film berhasil mewujudkan sebuah musikalitas dalam gayanya yang baru. Walaupun film musikal seperti ‘Haispray’ (2007) akan tetap menunjukan eksistensinya, tapi Carney, dengan sangat gemilang Carney membuktikan jika film musikal pun bisa menemukan gayanya yang paling mutakhir.


15 Responses to “‘ONCE’: All You Need Is Music”

  1. APATIS VIAN Says:

    tadi sempet mo beli dvd nya…

    tapi trus trang gw blom siap….masih trauma setengah mati abis nonton “hairspray” yg kadar cheese nya lebih banyak dari pabrik keju…sumpah deh ;(

    anyway, hairspray masuk golden globe u/ best picture…

    terserah lah ya…emang gw pikirin… ;)

    ntar kalo dah siap pasti ditonton deh…baca komen2 di cover dvd nya sih menggiurkan banget…

    tapi honestly u/ musikal lebih nungguin “sweeney todd” nya tim burton…kayaknya bakal keren abis… smoga saja…

    peace

  2. I f i t Says:

    aku belum nonton, tapi gara2 review kamu aku jadinya pengen nonton

  3. hARIs Says:

    @ Ahmad

    Once sangat berbeda jauh dari tipikal ala Hairspray bahkan Across The Universe dan Sweeney Todd sekalipun, karena John Carney, sutradara, berhasil membuat sebuah film musikal yang unik dan berbeda dengan menekankan realisme. Tapi gw engga yakin loe bakal suka, karena ini bukan komersil ataupun mainstream kesayangan loe itu.

    ngomong2 Hairspray, filmnya bgs menurt gw. karena filmnya emang disengaja corny abis, biar terasa ringan akan tetapi have a deep and profound meaning and message. imho loh???

  4. aFiF Says:

    Kayaknya aq bisa ngebayangin deh maksudnya mas haris.

  5. APATIS VIAN Says:

    “Tapi gw engga yakin loe bakal suka, karena ini bukan komersil ataupun mainstream kesayangan loe itu.”

    ya..oloh…teteuuuuup ya, bu… :)

  6. PEPITO Says:

    shut up!
    aku juga udah nonton ini film,gara2 salah ambil.dikirain reign over me,abisan mirip!
    dan iya ini film bagus banget.

    FYI,ost film ini masuk grammy08,untuk kategori ost terbaik.voila :)

  7. hARIs Says:

    @ Ahmad

    Bukan apa2 kok. Gw engga bisa maksain loe untuk suka jenis film2 yang gw suka and begitu juga loe.

    I mean, loe kadang suka “maksa” opini ole terhadap org lain. And that doesn’t works 4 me, that’s all. But, pls, no pun intended loh???

    Gw tetap sayang loe kok, HAHAHAHAHA

  8. APATIS VIAN Says:

    hpffffhhh….ahirnya ntn juga film ini…(even dah dilarang ma lo… hehe..mang gw pikirin :)

    n guess what?

    ternyata prediksi lo ke gw buat film ni salah besar, bro…hehe..

    i love this movie… (biarpun kadar love gw buat film ni gak se lebay lo :)

    ni dia film musikal yg gw cari2 slama ini….

    film yg adegan musikalnya pure natural…

    bukan film yg gak tau2 ntah darimana datangnya ada puluhan penari jejogetan gak jelas di belakang sang tokoh yg lagi nyanyi …bah…film musikal kayak gitu yg shit!

    tapi ONCE emang beda banget…

    biarpun gw akuin ceritanya amat tipis… sayng sekali n endingnya yaaaaaa….kecewa…gak seperti arepan gw, even kedengeran klise tapi gw prefer the end …guy n girl ni ahirnya jadian… hehe…ternyata enggak :(

    lagu2 nya juga cihuy beratttt…sumpahhh…ampe ngulang 5x scene guy n girl nyanyiin lagu “falling slowly”… easy listening n daleeeeeem banget…. lagu2 yg laen juga gak kalah cihuy… bnr2 no wonder kalo emang masuk grammy08!!

    satu2nya kkurangan film ini IMHO… penggarapannya yang ala dokumenter jadiin film ini sama skali gak cinematic…

    n gw tetep dengan pendapat gw kalo film u/ diputer di bioskop at least harus cinamatic… n NO WAY 4 STEADY CAM (even buat dapetin nilai realistik nya… ya seenggaknya kan pak director bisa pake cara lain u/ realis tapi gak ngabain sinematografi yg cihuy supaya manjain mata…)

    ya..overal ONCE adalah film musikal yg berrhasil (gak kayak hairspray yg kacangan itu -tetep ;p )…

    ONCE: 4 OUT 5

    btw, gw suka kok film2 ART…asal digarapnya dgn bagus (n yg terpenting gak ngebosenin n sok pinter)…sorry 2 say tapi kalo EXTE…seriously..its totally CRAP-ART, sob!(lagipula dimana letak art nya coba? hehe…

    PEACE!!!

  9. APATIS VIAN Says:

    “… n NO WAY 4 STEADY CAM ”

    RALAT: I mean “NO WAY 4 HAND HELD CAMERA!”

    maap atas kebodohan ini :)

    PEACE

  10. aFiF Says:

    kok sepi2 aja nih…ga ada yg ngamuk2 :P

  11. hARIs Says:

    masalah penggunaan kamera sih sebenarnya engga pernah jadi masalah sama aku, selama the movie feels good to me. aku memang paling gak suka mengkotak2kan jenis media film.

    cuma memang, pas Rudy Sudjarwo, kok rasanya annoying bgt, beda dengan ONCE yang terasa elegan dan prof.

    @aFiF
    jadi loe lebih suka kalau ada yang mengamuk2…hahahahaha

  12. APATIS VIAN Says:

    “cuma memang, pas Rudy Sudjarwo, kok rasanya annoying bgt, beda dengan ONCE yang terasa elegan dan prof…”

    tuh kan ahirnya ngakuin juga…(hehe…seneng gw ;p

    sebenernya pocong 2 adalah horor yang lumayan berhasil mnurut gw … tuh kan ahirnya ngakuin juga.. paan seh ? :p
    tapi gara2 rudi ngegarapnya p-ake kamera handheld laknat nya itu… gw jadi ilfil banget…

    @afif:
    segitu udah marah2 blom, fif? :)

  13. hARIs Says:

    ya..untuk film2 dramanya gw gak suka

    cuma entah mengapa pas Pocong 2….pendekatan ala handheld itu kok kayaknya yg paling cocok…feelnya rasanya bakal beda kalau malah engga pakai

  14. Guzz Says:

    Film musikal yang bener2 beda. Keren aja, soalnya pendekatannya realistis. Menurut gw handheld camera di film ini justru yg bikin nih film lebih realistis. Selama ini, gw juga gak ada masalah ama handheld camera. Soalnya, rata2 film yang pake handheld cam itu gw suka (Bourne Supremacy, Ultimatum, Cloverfield, dll). Falling Slowly nya juga bagus. No wonder bisa menang Oscar (kasian juga sama Enchanted, 3 lagunya di-KO ama Once, he5…)

    Grade: 7/10

  15. hARIs Says:

    iya senang bgt Falling Slowly menang…secara gw langsung jatuh cinta ama tu lagu since the 1st time I heard the song

Leave a Reply