‘THE BUBBLE’: Love On The Edge Of Tragedy


Produksi: Metro Communications (2006)
Sutradara: Eytan Fox
Cast: Ohad Knoller, Yousef "Joe" Sweid, Daniela Wircer, Alon Friedmann, Ruba Blal, Shredy Jabarin

Genre: Drama
Durasi: 118"
Release Date: 29 Juni 2006  (ISRAEL)
My Grade: 4 out 5

The_bubble Melihat art-cover dari film Israel yang berjudul asli ‘Ha buah’ ini mau tidak mau mengingatkan akan seri ‘Queer As Folk’ atau film-film indie dalam subkultur GLBT (gay-lesbian-bisexual-transgender) di Amerika. ‘The Bubble’ seakan menyiratkan sebagai sebuah komedi romantis happy-go-lucky yang ceria dan mungkin juga dipenuhi dengan berbagai karakter yang stereotipikal yang kemudian beresensi kosong karena hanya mengumbar seks dan ketelanjangan. Well, a cover could be very deceiveful, right?

Berseting di Tel Aviv kontemporer, Noam (Ohad Knoller) baru saja kembali dari bertugas di sebuah pos pemeriksaan. Hari-harinya ia isi kembali dengan bekerja disebuah toko kaset dan menghabiskan waktu dengan teman serumah sekaligus sahabatnya, Lulu (Daniela Wircer), yang bekerja di sebuah toko parfum dan Yali (Alon Friedmann), yang mengelola sebuah kafé.

Hanya saja kali ini ada yang berbeda dikesehariannya. Ia bertemu dengan Ashraf (Yousef "Joe" Sweid), pemuda Palestina yang mencoba mencari pekerjaan di Tel Aviv. Dalam seketika mereka menjadi sepasang kekasih dan Ashraf kemudian menetap bersama dengan Noam. Bahkan Yali memberikan pekerjaanya di kafénya tersebut. Lantas, hari-hari mereka isi dengan penuh keceriaan.

Namun, meski sedemikian keras upaya mereka untuk menghindari topik politik dari agenda percakapan dalam keseharian mereka, walau bagaimanapun mereka tidak bisa menafikan situasi disekitar mereka. Dan secara perlahan dan pasti, saat situasi tersebut akan datang dan menguji kekuatan hubungan mereka.

Dengan pendekatan ala indie, ‘The Bubble’ seakan tampil sebagai sebuah realisme akan kehidupan di jazirah Israel-Palestina. Eytan Fox, pada awalnya sudah memberikan petunjuk jika filmnya ini tidak akan semanis pada paruh awal cerita, yang memang kadang terlihat seperti sebuah komedi romantis.

Menjelang paruh akhir, barulah film menunjukkan sisi sebenarya, dan Fox dengan cukup cekatan menggambarkan pergulatan batin yang harus dihadapi oleh Noam dan Ashraf.Bukan itu saja, sebagai seorang gay di komunitas Arab yang mayoritas muslim, tantangan bagi Ashraf tentu dua kali lebih berat dibandingkan dengan Noam.

Disini, Fox dengan gemilang memasukkan isu-isu sosial atas konflik Israel dan Palestina dalam cerita cintanya, tanpa harus terlihat dipaksakan melainkan integratif secara murni dalam pergeseran ceritanya.

Ya, pada intinya ‘The Bubble’ mengingatkan akan sebuah film romans ala Romeo-dan-Juliette. Hanya saja, dengan dua karakter utamanya yang terlibat romansa adalah berjenis kelamin laki-laki serta isu terorisme dan pertentangan politik yang kental.

Untuk segi homoseksualitasnya itu sendiri, rasanya Fox mengambil cukup kebebasan untuk bereksplorasi, sehingga ada beberapa bagian yang cukup grafis dan mungkin kurang nyaman untuk disaksikan secara umum. Walau begitu, Ohad Knoller dan Yousef "Joe" Sweid berbagi chemistry yang kental dan keduanya memainkan peran mereka dengan subtil. Sementara pemeran pendukung lainnya rasanya cukup komplementatif tanpa harus terlihat berlebihan.

Eytan Fox sendiri tampaknya harus berhadapan dengan bujet yang rendah, namun dengan semangat indie-realis tadi, ia berhasil menekankan filmya pada narasi bukan melulu visual, sehingga walau bagaimanapun, film tetap tampil dengan meyakinkan, from start to finish!


9 Responses to “‘THE BUBBLE’: Love On The Edge Of Tragedy”

  1. APATIS VIAN Says:

    errrrrrrrr….posternya bikin ser-ser an nih….hihihi… ;)

    another gay movie? ;p

    kira2 parahan mana sama “shortbus” yang adegan ML jeruk-makan-jeruk nya vulgar naget itu? huehehe…pasti lo dah ntn donk, bro? ;p

  2. aFiF Says:

    Wahahahaha…syeremmm emang posternya.

    BTW, kemaren barusan nonton film korea “The King and The Clown”. sebenarnya udah lama banget punya DVDnya, tapi baru kemaren mood nonton. Berbau “yaoi” juga,…persis seperti selera bang Haris (hehehehe….just kidding bro, no offense yach). Sudah nonton belum? Gw liat2 disini belum ada reviewnya.

    Asli bro…gw ga nyangka, film itu bagus banget…forget about CTHD en Brokeback Mountain, this movie totally kick ass, sama sekali ngga draggy. IMHO sihh…rugi berat kalo ga nonton. En DVDnya juga masih banyak tuh dijual.

  3. hARIs Says:

    @ Ahmad
    loe boleh tertawa, tapi gw belum ntn Shortbus……:(
    udah nyari2 tapi engga dapet2..kirimin gw dunk???? *ngarep*

    @ aFiF
    non taken. take it easy. Tentu aja gw udah ntn The King and Clown. Dan udah lama bgt. Kenapa engga gw review, karena gw rasa filmnya biasa aja, dan kebetulan ntnya berdekatan dengan Dongmakgol yang luar biasa dan langsung gw tetapkan sebagai one of my fave movie. Dongmakgol maksudnya :P

  4. aFiF Says:

    Wah gw setuju banget…kalo Dongmakgol mah ga bisa dibandingin. Masterpiece, one of a kind. Berlebihan ga kalo gw bilang lebih suka dongmakgol dibanding saving private ryan, misalnya?

    The king, mungkin kalah dr segi visual maupun skoring dibanding dongmakgol. Tapi karakterisasinya dapet banget. Klo boleh kubilang dongmakgol en the king (pada dasarnya) sama bagus. Cuman mungkin kelebihan dongmakgol adl shock valuenya itu. Haha..apaan sih

  5. APATIS VIAN Says:

    “@ Ahmad
    loe boleh tertawa, tapi gw belum ntn Shortbus……:( ”

    gue: hahahahahahahahhaa….(katanya boleh ketawa :D

    mang dvd nya dah jarang kayaknya skarang…ntu aja gw nemu di dvd collection (cielah..nemu, kesannya nyari ya? :p

    tentang king ATC…
    ye…stuju…ma bang haris..

    the king n the clown mnurut gw juga biasa aja…heran bisa jadi film terlaris 2005!ya…not bad sih…tapi gak berkesan aja buat gw…
    (afif sgitunya ma film ini….ada apakah gerangan?
    ;p

    klo dongmakgol….ehm…speechless lah…one of best korean movie ever lah… tapi kalo dibandingin ma vengeance trrlogy nya PCW…gw tetep prefer vengeance…loh..gak nyambung ya?sudahlah… :)

  6. aFiF Says:

    @apatis vian

    gw sih lebih prefer dongmakgol…

    Hehehehe…ga tau ya mungkin gara2 terbius ama senyumnya Lee Jun Ki yg “cantik” itu. LOL

  7. hARIs Says:

    guys….don’t play trick on your minds (^^,)

  8. Medio Says:

    Waahh…ni film justru jd one of my fave.!! Liat inti ceritanya dong..kicking the redline yang selama ini mungkin gak pernah kebayang buat sebagian besar orang awam!
    Islam, Gay, Israel, love between war and politic chaos! gw blum pernah nemu film yang berani nyatuin tema2 sensitif itu tadi.
    Kl mau cari dvd nya, di Ambass masih ada (coz gw jg dapet disana, dibagian award-winning movie)
    Btw, soundtrack-nya awesome!! dimana ya bisa didapetin…kl ada yg punya, bagi2 dunk…dhie_mario@yahoo.com

  9. Ami Says:

    duh, gue cinta banget sama ini film!!! awalnya gue turn off sama covernya, because gue ngga gitu demen sama gay-themed yang menjurus semi-porn. tapi ternyata, oh, ternyata, emang ngga bisa menilai hanya dari covernya.

    it’s a stunning movie. charming, beautiful, sad … and the music. gila banget. sekarang sibuk nyari lagu-lagunya via torrent (hehehe). apalagi lagu “first day of my life” yang didenger noam pertama kali

Leave a Reply