Archive for January, 2008

‘KAWIN KONTRAK’: Lebih Baik Kawin Kontrak Daripada Zina?

Sunday, January 27th, 2008

Produksi: MVP Pictures (2008)
Sutradara: Ody C. Harahap
Cast: Ricky Harun, Herichan, Dimas Aditya, Wiwid Gunawan, Masayu Anastasia, Dinda Kanyadewi, Lukman Sardi, Mieke Amalia, Unang

Genre: Komedi/Drama
Durasi: 120"
Release Date:  09 Januari 2008
My Grade: 2.5 out 5

Kawin_kontrak‘Kawin Kontrak’ sepertinya memang fenomena yang umum terjadi di masyarakat kita. Sudah bukan sesuatu yang mengherankan jika ada beberapa daerah tertentu yang justru para perempuannya mempraktekkan prilaku ini dengan imbalan kompensasi uang. Nah, yang menjadi pertanyaan, apa perbedaan hal ini dengan prilaku prostitusi?

Di tangan Ody C. Harahap (Bangsal 13, Selamanya), prilaku ini dikemas menjadi sebuah komedi seks ala film-film yang pernah menjamur di tahun 80-an dahulu (tidak mengherankan jika ia menggandeng band retro seperti NAIF untuk mengisi soundtracknya).

Tiga orang remaja laki-laki yang horny berat (Ricky Harun, Herichan, Dimas Aditya) memutuskan untuk melakukan kawin kontrak daripada melakukan zina, karena kata ustadz mereka hal itu adalah sebuah perbuatan berdosa besar.

Lantas mereka menghubungi seorang makelar kawin kontrak (Lukman Sardi) untuk memuaskan hasrat mereka. Lantas, disebuah desa mereka mendapatkan perempuan-perempuan yang mereka inginkan. Masalahnya, salah seorang perempuan taksiran sudah "dijodohkan" dengan seorang Arab kaya. Lantas, problematika film berubah menjadi sentimentil dan mendayu-dayu.

Berbicara komedi seks, mau tidak mau, ‘Kawin Kontrak’ akan dibanding-bandingkan dengan ‘Quickie Express’ (2007) yang keluar lebih dahulu. Berbicara kevulgaran, jelas ‘Kawin Kontrak’ setingkat diatas ‘Quickie Express’. Namun, berbicara konsistensi, jelas ‘Kawin Kontrak’ harus mengakui keunggulan ‘Quickie Express’.

Secara teknis, Ochai, panggilan akran sutradaranya, menampilkan estetika yang sedap dipandang, namun dari segi kelucuan, dibeberapa bagian terasa kering dan kurang tersampaikan maksudnya. Belum lagi masalah konsistensi dalam tema umum tadi, sehingga menjelang akhir film terasa draggy.

Walau begitu, ‘Kawin Kontrak’ bukanlah film yang jelek-jelek amat. Secara keseluruhan film tampil dengan cukup menghibur. Walau kurang berhasil dalam misinya, namun untuk pengisi waktu luang dan jika tidak ada alternatif lain, bolehlah film ini menjadi pilihan.


‘EASTERN PROMISES’: A Tale of the Dark Side of Humanity

Sunday, January 27th, 2008

Produksi: Focus Features (2007)
Sutradara: David Cronenberg
Cast: Viggo Mortensen, Naomi Watts, Vincent Cassel, Armin Mueller-Stahl

Genre: Drama/Thriller
Durasi: 96"
Release Date:  21 September 2007 (USA)
My Grade: 4.5 out 5

Eastern_promises_xlg Trailer. Love it or hate it! Trailer adalah sarana yang tepat untuk mempromosikan sebuah film. provokatif dan seduktif. Orang memutuskan akan menonton sebuah film biasanya memang berdasarkan empatinya setelah menyaksikan sebuah trailer. Kadang-kadang trailer begitu provokatif, sehingga melencengkan sebuah film dengan memperomosikannya dalam arah yang berbeda, sehingga menimbulkan ekspektasi yang salah. Trailer film David Cronenberg, ‘Eastern Promises’, bisa digolongkan pada bagian tersebut, seolah-olah memperlihatkan film sebagai sebuah aksi-thriller yang penuh dengan laga-aksi. Well, thanks to the trailer I’m afraid I watched it with the wrong expectation!

Film dibuka dengan adegan yang cukup sadis, mengingatkan jika film akan mengambil rute yang sama menjelang keseluruhan film. Kemudian kita dikenalkan dengan Anna Khitrova (Naomi Watts), seorang bidan di London yang membantu persalinan seorang perempuan muda. Sayang, sang perempuan tewas, meninggalkan seorang bayi dan buku harian. Dalam upayanya mencari keluarga sang bayi, ia berusaha menerjemahkan isi buku harian yang berbahasa Rusia (Walau berdarah Rusia, namun Anna besar di Inggris, sehingga tidak menguasai bahasa ibunya tersebut). Ini menyebabkan ia berkenalan dengan Semyon (Armin Mueller-Stahl), seorang pemilik restoran Rusia.

Yang Anna tidak ketahui adalah Semyon sebenarnya pimpinan sebuah kelompok Mafia dan isi buku harian tersebut mengancam eksistensi Semyon. Lantas, Semyon menugaskan Nikolai (Viggo Mortensen), tangan kanan anak laki-lakinya yang telengas, Kiril (Vincent Cassel) untuk mengurus masalah ini. Nikolai sendiri tampaknya mempunyai agenda tersendiri dan hubungannya dengan Anna berkembang dalam arah yang tak terduga.

Setelah menyaksikan ‘Eastern Promises’ secara keseluruhan, barulah kita sadar, bahwasannya Cronenberg sama sekali tidak menginginkan filmnya menjadi sebuah thriller tegang atau penuh intrik ala trilogi Godfather. sebaliknya, ia hanya ingin membuat sebuah film drama tentang hubungan antar manusia dengan latar belakang kekerasan didalamnya. Setidaknya itulah yang saya tangkap.

Ini membuat ‘Eastern Promises’ kering adegan aksi, walau tetap tersedia porsinya. Film berbicara dalam struktur drama murni dan Cronenberg, yang mantan sutradara film horor ini, dengan impresif mengemasnya dalam tempo yang tidak meledak-ledak, melainkan berjalan perlahan akan tetapi lancar bergerak. Tingkat kesadisan dalam film ini lumayan tinggi, namun dengan pendekatan yang dilakukan Cronenberg tadi, seakan-akan kekerasan tadi memang diperlukan untuk menggambarkan cerita yang ingin disampaikannya tadi (tunggu adegan perkelahian Mortensen di sebuah sauna dengan bertelanjang bulat!).

Viggo Mortensen sendiri dengan gemilang mentranformasikan dirinya menjadi seorang gangster Rusia. Pada awalnya karakter yang dimainkanya terasa gelap seperti warna hitam hingga kemudian bergradasi menjadi abu-abu, sesuai dengan motif sebenarnya. Naomi Watts sendiri rasanya memang bisa diandalkan dalam adegan-adegan yang memerlukan intensitas emosional seperti ini.

OK. Mungkin pada awalnya saya tertipu oleh trailernya. Namun, pada akhirnya saya merasa tidak tertipu dengan hasil akhir film ini. Walaupun kemudian arah ekspektasi saya bergerak kedalam arah yang berbeda, namun secara lebih positif, saya bisa mengatakan jika ‘Eastern Promises’ adalah salah satu film drama terbaik untuk tahun 2007.


Do I Need Another Resolution?

Sunday, January 6th, 2008

Resolusi

Another year has gone. The brand new is come. It’s time to make some new resolutions. But, do I actually need to make the new resolutions since I don’t accomplish my last resolutions?

Kalau dipikir-pikir, resolusi dibuat jika kita memang komit terhadap resolusi tersebut dan penerapan disiplin yang tinggi terhadap pelaksanaanya. Berbicara masalah disiplin, terutama terhadap diri sendiri, masih merupakan hal yang sulit untuk aku lakukan. Ya, tidak heran kalau tidak ada satupun resolusi yang sebelumnya telah dibuat bisa terlaksana untuk tahun 2007 yang lalu.

Ini bukan hanya berlaku untuk tahun yang lalu, karena resolusi-resolusi tersebut pada awalnya dikomposisikan lebih dari empat tahun yang lalu dan setiap tahun selalu diperbaruhui ikrarnya. Sayangnya, setiap tahun juga resolusi tersebut tidak pernah terwujudkan.

Pada malam akhir tahun kemarin, hati ini bimbang; “perlukah aku membuat resolusi baru atau tetap meneruskan upaya penerapan resolusi yang terunda-tunda selama beberapa tahun ini?”

Sampai kontemplasi berakir pada konklusi; “to hell with resolution!”

Seberapa pentingkah resolusi ini? Kalau dipikir-pikir sebenarnya tidak penting juga. Kalau memang berniat berubah, atau mengubah hidup, mengapa harus menunggu tahun baru? Rasanya setiap hari, jika pikiran dan tekad berkehendak, kita bisa saja melakukan perubahan atau melakukan rencana-rencana baru untuk hidup kita.

Jadi, akhirnya aku mengambil keputusan, “engga ada lagi yang namanya resolusi dalam hidup aku. Biar aja semuanya mengalir seperti air. What ever will be, will be-lah.”

Viva for Tomorrow!

‘WARLORDS’: Epic With Chinese Stellar Cast

Sunday, January 6th, 2008

Produksi: MediAsia (2007)
Sutradara: Peter Chan
Cast: Jet Li, Andy Lau, Takeshi Kaneshiro, Xu Jing-lei

Genre: Drama/Epik
Durasi: 127"
Release Date: 12 Desember 2007 (CHINA)
My Grade: 3.5 out 5

Thewarlordsjetlinewposter1Peter Chan adalah sutradara drama Mandarin kesekian yang mencoba genre epik, mengikuti kesuksesan Ang Lee dan Zhang Yi-mou. ‘Warlords’ atau Warlords - Tau Ming Chong, adalah sebuah epik tentang sebuah persaudaraan dan ambisi diantaranya. Dan berbeda dengan kebanyakan epik Mandarin yang bergaya Wu-Xia dan memanjakan mata dengan efek visual serta tata kelahi yang fantastis, maka ‘Warlords’ lebih memilih pendekatan yang lebih membumi dengan aksi yang lebih realistis serta penekanan yang amat besar dalam dominasi dramanya.

Dikatakan bersadarkan kisah nyata, pada hakikatnya ‘Warlords’ mengingatkan akan film ‘Blood Brothers’ karya Chang Cheh sekira 35 tahun yang lalu, karena mereka bercerita tentang tiga orang yang berbeda karakter yang kemudian mengangkat sumpah kakak beradik. Pada masa pemberotakan Tai Ping, Jendral Pang Qing-su (Jet Lie) selamat dari sebuah pertempuran karena ia berpura-pura mati. Lantas, secara incognito mengembara tanpa tujuan sampai berjumpa dengan rombongan perampok Zhao Er-hu (Andy Lau) yang didukung oleh pemuda Jiang Wu-yang (Takeshi Kaneshiro).

Lantas ketiganya mengangkat sumpah saudara dan Qing-su mengajak Er-hu dan Wu-yang menjadi tentara alih-alih menjadi perampok. Ketiganya kemudian terlibat dalam berbagai peperangan. Walaupun ambisius, namun ternyata Qing-su dan Er-hu mempunyai prinsip yang bersebrangan. Inilah yang kemudian membuat hubungan mereka diambang keretakan. Disaat lain, Wu-yang mengetahui jika istri Er-hu, Lian (Xu Jing-lei) terlihat hubungan intim dengan Qing-su.

Ketelitian Peter Chan tampaknya memang terbukti dalam film-filmnya. Setelah ‘Perhaps Love’ yang sangat artistik, baik visual dan narasi, maka etos kerja seperti itu juga yang ditunjukkannya dengan ‘Warlords’ ini. Hasilnya, film terlihat detil, megah dan secara visual memanjakan mata. Chan juga berupaya semampu mungkin untuk menghindarkan filmnya dari jebakan tipikal film jenis, dengan mengandalkan adegan pertempuran masif secara riil serta menjauhkan kesan fantasi. Ia juga mengelaborasikan dramanya dengan se-subtil mungkin agar film lebih menekankan pada perkembangan karakter dan cerita.

Dengan memakai Jet Li sebagai bintang utama, terus terang ekpektasi calon penoton tentu saja akan membumbung tinggi terhadap berbagai adegan laga yang seru. Belum lagi ini pertama kalinya ia berduet dengan mega-bintang Hong Kong, Andy Lau yang juga reuni dengan Takeshi Kaneshiro setelah ‘House of the Flying Dagger’. Namun, rupanya ekspektasi tersebut harus dibuang jauh-jauh, karena Jet Li yang telah mengatakan akan berhenti dari genre Kung-fu atau Wu-Xia, lebih memilih untuk berakting dengan lebih intens dibandingkan hanya sekedar baku-hantam.

Rasanya niat Li tersebut memang ditekadkan dengan bulat karena terbukti Li dengan segenap kemampuannya mencoba memasuki karakter Pang Qing-su yang lumayan kompleks kedalam dirinya. Walau tampil meyakinkan, namun rasanya dibeberapa bagian ia terlihat salah menginterprestasikan karakternya sehingga terlihat kurang meyakinkan. Bagaimanapun imej Jet Li adalah sosok tegar yang kuat namun juga baik hati dan polos sudah terekam dengan baik di benak penggemarnya, sehingga agak susah juga keluar dari streotip seperti itu. Untuk upayanya ini, ia termasuk berhasil. Sedang untuk Lau dan Kaneshiro, rasanya urusan akting sudah "makanan harian" mereka, sehingga untuk tampil meyakinkan sudah bukan halangan lagi.

Nah, karena penekanan pada unsur drama tadi, maka ‘Warlords’ terlihat lebih seperti film drama dibandingkan epik perang. Bukannya Chan tidak menggarap dengan baik adegan pertempurannya. Sama sekali tidak. Chan, dengan dukungan koreografi aksi dari Toni Ching Siu-tung, ternyata cukup piawai dalam mengeksekusi adegan pertempuran yang terlihat megah, kasar, berdarah dan intensitas ketegangan yang memadai. Sayangnya, karena idealisme Chan tadi, maka kemampuan Toni Ching Siu-tung tidak dimanfaatkan dengan optimal, sehingga memang rasanya dari segi laga satu-lawan-satu terasa "kering". Bahkan potensi Jet Li pun menjadi mubazir.

Dari segi drama sendiri, rasanya ‘Warlords’ tidak begitu berkembang dari pakem epik kebanyakan. Berbicara tentang kehormatan, harga diri, pengorbanan serta perjuangan, ditambah sedikit unsur romantisme, yang malah membuat cerita menjadi melodramatis. Bahkan sebenarnya, karena unsur roman tadi, film terasa berlarat-larat dan sedikit membosankan. Rasanya karakter yang diperankan oleh Xu Jing-lei terlalu dipaksakan untuk hadir, ketimbang menjadi pelengkap integralitas cerita.

Namun begitu, ‘Warlords’ tetap merupakan satu hasil karya yang membanggakan. Upaya Peter Chan dan Jet Li untuk memberi suatu pungtuasi dalam riwayat karir mereka patut diberi jempol, karena dilakukan dengan sepenuh hati dan tidak setengah-setengah.