
Peter Chan adalah sutradara drama Mandarin kesekian yang mencoba genre epik, mengikuti kesuksesan Ang Lee dan Zhang Yi-mou. ‘Warlords’ atau

- Tau Ming Chong, adalah sebuah epik tentang sebuah persaudaraan dan ambisi diantaranya. Dan berbeda dengan kebanyakan epik Mandarin yang bergaya Wu-Xia dan memanjakan mata dengan efek visual serta tata kelahi yang fantastis, maka ‘Warlords’ lebih memilih pendekatan yang lebih membumi dengan aksi yang lebih realistis serta penekanan yang amat besar dalam dominasi dramanya.
Dikatakan bersadarkan kisah nyata, pada hakikatnya ‘Warlords’ mengingatkan akan film ‘Blood Brothers’ karya Chang Cheh sekira 35 tahun yang lalu, karena mereka bercerita tentang tiga orang yang berbeda karakter yang kemudian mengangkat sumpah kakak beradik. Pada masa pemberotakan Tai Ping, Jendral Pang Qing-su (Jet Lie) selamat dari sebuah pertempuran karena ia berpura-pura mati. Lantas, secara incognito mengembara tanpa tujuan sampai berjumpa dengan rombongan perampok Zhao Er-hu (Andy Lau) yang didukung oleh pemuda Jiang Wu-yang (Takeshi Kaneshiro).
Lantas ketiganya mengangkat sumpah saudara dan Qing-su mengajak Er-hu dan Wu-yang menjadi tentara alih-alih menjadi perampok. Ketiganya kemudian terlibat dalam berbagai peperangan. Walaupun ambisius, namun ternyata Qing-su dan Er-hu mempunyai prinsip yang bersebrangan. Inilah yang kemudian membuat hubungan mereka diambang keretakan. Disaat lain, Wu-yang mengetahui jika istri Er-hu, Lian (Xu Jing-lei) terlihat hubungan intim dengan Qing-su.
Ketelitian Peter Chan tampaknya memang terbukti dalam film-filmnya. Setelah ‘Perhaps Love’ yang sangat artistik, baik visual dan narasi, maka etos kerja seperti itu juga yang ditunjukkannya dengan ‘Warlords’ ini. Hasilnya, film terlihat detil, megah dan secara visual memanjakan mata. Chan juga berupaya semampu mungkin untuk menghindarkan filmnya dari jebakan tipikal film jenis, dengan mengandalkan adegan pertempuran masif secara riil serta menjauhkan kesan fantasi. Ia juga mengelaborasikan dramanya dengan se-subtil mungkin agar film lebih menekankan pada perkembangan karakter dan cerita.
Dengan memakai Jet Li sebagai bintang utama, terus terang ekpektasi calon penoton tentu saja akan membumbung tinggi terhadap berbagai adegan laga yang seru. Belum lagi ini pertama kalinya ia berduet dengan mega-bintang Hong Kong, Andy Lau yang juga reuni dengan Takeshi Kaneshiro setelah ‘House of the Flying Dagger’. Namun, rupanya ekspektasi tersebut harus dibuang jauh-jauh, karena Jet Li yang telah mengatakan akan berhenti dari genre Kung-fu atau Wu-Xia, lebih memilih untuk berakting dengan lebih intens dibandingkan hanya sekedar baku-hantam.
Rasanya niat Li tersebut memang ditekadkan dengan bulat karena terbukti Li dengan segenap kemampuannya mencoba memasuki karakter Pang Qing-su yang lumayan kompleks kedalam dirinya. Walau tampil meyakinkan, namun rasanya dibeberapa bagian ia terlihat salah menginterprestasikan karakternya sehingga terlihat kurang meyakinkan. Bagaimanapun imej Jet Li adalah sosok tegar yang kuat namun juga baik hati dan polos sudah terekam dengan baik di benak penggemarnya, sehingga agak susah juga keluar dari streotip seperti itu. Untuk upayanya ini, ia termasuk berhasil. Sedang untuk Lau dan Kaneshiro, rasanya urusan akting sudah "makanan harian" mereka, sehingga untuk tampil meyakinkan sudah bukan halangan lagi.
Nah, karena penekanan pada unsur drama tadi, maka ‘Warlords’ terlihat lebih seperti film drama dibandingkan epik perang. Bukannya Chan tidak menggarap dengan baik adegan pertempurannya. Sama sekali tidak. Chan, dengan dukungan koreografi aksi dari Toni Ching Siu-tung, ternyata cukup piawai dalam mengeksekusi adegan pertempuran yang terlihat megah, kasar, berdarah dan intensitas ketegangan yang memadai. Sayangnya, karena idealisme Chan tadi, maka kemampuan Toni Ching Siu-tung tidak dimanfaatkan dengan optimal, sehingga memang rasanya dari segi laga satu-lawan-satu terasa "kering". Bahkan potensi Jet Li pun menjadi mubazir.
Dari segi drama sendiri, rasanya ‘Warlords’ tidak begitu berkembang dari pakem epik kebanyakan. Berbicara tentang kehormatan, harga diri, pengorbanan serta perjuangan, ditambah sedikit unsur romantisme, yang malah membuat cerita menjadi melodramatis. Bahkan sebenarnya, karena unsur roman tadi, film terasa berlarat-larat dan sedikit membosankan. Rasanya karakter yang diperankan oleh Xu Jing-lei terlalu dipaksakan untuk hadir, ketimbang menjadi pelengkap integralitas cerita.
Namun begitu, ‘Warlords’ tetap merupakan satu hasil karya yang membanggakan. Upaya Peter Chan dan Jet Li untuk memberi suatu pungtuasi dalam riwayat karir mereka patut diberi jempol, karena dilakukan dengan sepenuh hati dan tidak setengah-setengah.