‘RADIT DAN JANI’: A Tale of Dysfunctional Couple
Release Date: 24 Januari 2008
Rupanya Upi tidak jadi menggarap ‘Ahmad, Antara Mars dan Venus’, yang kabarnya merupakan proyek film ketiganya. Entah mengapa, justru yang beredar kini adalah ‘Radit dan Jani’, sebuah film yang katanya bergaya brutal-romantic.
Radit (Vino G. Bastian) dan Jani (Fahrani) bukanlah tipikal pasutri biasa. Mereka percaya dengan kekuatan cinta mereka akan mengalahkan segalanya, sehingga kemudian mereka memilih gaya hidup dalam prespektif idealisme mereka (ya..kalau dikatakan hidup tidak teratur, slengean dan drug addicted disebut dengan idealisme). Masalahnya ternyata memang benar jika cinta saja tidaklah cukup. Hidup rasanya memang terlalu kompleks untuk dihadapi hanya dengan bermodalkan cinta. Pada akhirnya gaya hidup mereka menimbulkan friksi yang kemudian menguji kekuatan cinta mereka (sic).
Dalam film terbarunya ini Upi mencoba menyoroti realitas kehidupan sebagian anak muda yang ada di Indonesia. Oleh karena itu ia memilih pendekatan yang diusahakan juga realisme, terutama dengan penggunaan teknik kamera handheld. Sesuatu yang baru tampaknya bagi Upi. Namun, rasanya Upi lebih gemilang daripada Rudi Sudjarwo misalnya, dalam penggunaan teknik ini, karena UPi tetap bisa bercerita melalui bahasa gambar yang cukup sinematis.
Secara umum, filmnya Upi ini memang menarik. Upi juga mengalami peningkatan pesat dalam mengarahkan filmnya. Film lebih lancar bertutur walau rasanya penyakit lama perfilman Indonesia tetap menghinggapi film ini. Pace yang dinamis diawal-awal film, menjelang paruh hingga akhir menjadi melambat, kalau tidak mau dibilang draggy, yang membuat film terasa bertele.
Inilah masalah utamanya. Pada awalnya memang Upi cukup berhasil menggambarkan film sesuai mood yang memang ingin dicapainya; sebuah roman yang kasar dan up-tempo. Namun, seperti disebutkan tadi, menjelang akhir perkembangan cerita film malah terkesan berlarat-larat dan banjir air mata. Tapi kalau memang yang dimaksudkan Upi dengan brutal-romantic itu adalah sebuah roman yang dipenuhi dengan orang yang marah-marah dan menangis bombay kemudian, mungkin ia berhasil!
Mungkin. Yah, mungkin ekspektasi saya saja yang terlalu berlebihan. Saya mengira brutal-romantic itu seperti ‘Natural Born Killer’ atau ‘A Life Less Ordinary’. Ternyata brutal-nya Upi ya tidak jauh-jauh dari tipikal melodrama biasa yang dibuat dalam versi yang lebih kasar namun fungsi utamanya tetap saja tear-jerking (adegan: Radit dikeroyok sekelompok orang, obat dan nasi goreng untuk Jani, sang istri yang tengah hamil berhamburan di tanah. Selanjutnya adegan memperlihatkan botol obat dipijak oleh kaki salah seorang pengeroyok dimana Radit tergeletak penuh luka dan tak berdaya! Hm, rasanya pernah liat dimana ya?).
Masalah lain adalag Upi terlalu memaksakan diri untuk tetap memakai aktor kesayangannya, Vino G. Bastian, sebagai pemegang leading role. Vino memainkan perannya dengan cukup berdedikasi, namun menginterprestasikannya secara salah, setidaknya menurut pandangan saya. Vino masih terlalu segar untuk menjadi Radit. Itu yang pertama. Selanjutnya, dalam adegan yang menuntut kekuatan emosionil, Vino malah terkesan komikal, karena masalah salah interprestasi tadi. Dalam artian kesedihan yang diumbar Vino malah terkesan cengeng dan melodramatis. Bertentangan dengan pembangunan karakter sebelumnya yang menunjukkan Radit sebagai sosok yang tegar dan kuat. Disinilah unsur subtilitas memang berperan penting. Intinya, Vino kurang berhasil membangun atmosfir subtil yang diinginkan oleh cerita.
Berbeda dengan Fahrani yang bermain dengan cukup gemilang dan meningkat jauh dari debut film layar lebarnya di ‘Kala’ kemarin. Fahrani berhasil menghadirkan atmosfir ceria dan suram sekaligus, yang rasanya memang ironi yang ingin ditampilkan oleh karakter Jani itu. Gerak tubuh, mimik dan aksentuasi. Semuanya itu Jani bukan Fahrani. Tabik untuk dia.
Dengan ‘Radit dan Jani’, Upi membuktikan jika ia memang seorang sutradara perempuan yang berbakat di Indonesia, setelah Nia DiNata. Film mampu bercerita dengan cukup lancar dan gampang dicerna. Pada intinya ‘Radit dan Jani’ memang fim yang menghibur sekaligus membawa pesan. Hanya saja, rasanya Upi perlu banyak belajar pada NiaDinata pada masalah kesempurnaan detil. Hanya itu. Selain itu, saya yakin Upi akan mampu membuat film-film yang lebih dahsyat lagi. Amin!
February 7th, 2008 at 5:03 pm
*Bletakkk*
Weleh…sumpah nih, cuma 2.5
Gw pikir paling ga dapet 3 lah…
belum nonton sih, cuman mengingat ada yg ngefans berat ama pelem ini.
Sipp…ga sabar nunggu yg bakal ngamuk2.
February 8th, 2008 at 5:36 pm
hahahaha…siap ni…
bukan apa2..sudah saatnya film2 Indonesia berhenti dimanjakan dengan adanya budaya permisifitas atas nama cinta lokal dan diperlihatkan wujudnya yang sebenarnya….
bukakah mawar mekar karena memar???
February 9th, 2008 at 12:27 am
2,5 bintang?
Hah..sama skali gak shock tuh..
secara udah gw duga banget film ini bakal terlalu ‘kasar’ untuk orang2 ber hati snow white… dan gini2 gw juga dah mulai baca selera lo juga kale…
gw masi inget banget lo ngasih grade 3,5 u/ film Selamanya… film drama menye2, yg dipenuhi dialog2 yg gak penting n gak jelas jundrungannya( n terkesan sangat mendayu-dayu menjijikan yg dimaksudkan u/ membuat penonton nangis…ironis) .. bahkan menurut gw selamanya hampir bisa dibilang sebelas-duabelas dgn film drama indo paling buruk sepanjang masa “heart” (sayang gak di rev.. pdhl gw yakin bakal lo kasih grade yg lumayan tinggi karna hampir setipe)..
Mungkin tipe drama menye-menye yg mendayu-dayu seperti itu yg lo suka.. dan gw sama skali jijik ma tipe drama kek gitu..
hehehe…
Dan tipe drama seperti itu emang gak ada di Radit&Jani…
radit n jani langsung men-jungkir balikkan persepsi sebuah film drama dari seorang drama-haters seperti gw… drama kan biasanya lemot, puitis, sekarat, penderitaan yg never-ending dan kematian .. itu yg ada di otak gw kalo mikirin drama… tapi R&J bnr2 breaking…
“.. menjelang ahir film malah terkesan berlarat-larat dan banjir air mata..,”
Bukannya emang itu sesuai kebutuhan cerita ya, sob? Dan mnurut gw porsi nya pas2 aja…
Mungkin bisa aja upi bikin up-tempo dari awal sampai ahir.. (mgkn bakal sesuai harapan lo) …tapi trus dimana sisi menarik nya klo kek gitu? …dimana konflik nya..? dan yg paling parah kalo kayak gitu film akan berahir dengan anti-klimaks! (ini sama aja kayak lo bilang film horror yang bagus adalah film horror yang setannya muncul dari awal sampe ahir film.. ujung2nya lo bakal muntah karna eneg!)
Dan bukannya sbg penggila film drama.. seharusnya lo tau donk emang selalu wajib ada porsi u/ itu… (n yang terpenting buat gw disni sama skali jauh dari kesan mendayu-dayu!)
“… saya mengira brutal romantic itu seperti “natural born killer”..”
And honestly.. tanpa bermaksud u/ menyinggung .. gw bener2 gak yakin ada orang yang menyukai film seperti ‘natural born killer’ gak suka dengan film yg hmpr setipe sprti ‘radit&jani’.. yayayaya…tapi selalu ada pengecualian tentunya..
“..(adegan:… pernah liat dimana ya?)
Apakah penting lo whatever dejavu liat dimana?
Yg jelas pada saat adegan itu upi berhasil mem-visualisasikannya dgn sempurna kok..
kan lo yg bilang sendiri gak pernah mempermasalahkan adanya rip-off or whatever.. yg penting sutradaranya pinter meramu menjadi ssuatu yg baru… lupa ya?gimana sih..
rewind lagi, dua scene sbelum itu… radit rela nerima tantangan minum air kencing preman demi beliin obat buat istrinya.. Anjriiiiit… mgkn kalo pembangunan cerita n karakter oleh sang sutradara dari awal film gak kuat.. mungkin adegan kayak gitu bakal keliatan norak n kampungan banget n gw pastinya dah ketawa ngakak –alih2 berkacakaca- waktu adegan itu keluar..
tapi gak tau knapa,, saat itu gw bener2 tersentuh!!!!.. anjrittt.. “segitunyakah perngorbanan demi cinta n demi orang yg disayang?” (tai.. kok gw jadi melloow gini? ;p tp serius loh… jarang2 banget orang sableng kayak gw bisa mikir begitu.. dan itu merupakan keberhasilan buat gw..
belom lagi scene menjelang ending yang shocking berat itu… walah… (T_T)
“.. masalah lain upi memaksakan diri u/ tetap memakai actor kesayangannya vino..,”
Punya kandidat lain u/ meranin radit selain vino…?
Pertimbangkan aktor2 berikut ini:
Winki wiryawan: ngomong “tai” dan “bangsat” di mengejar matahari aja masi belepetan n gak fasih!
Atau mungkin actor kesayanagan lo irwansyah?;p entar bingung bedain yang mana radit.. yang mana jani karena radit nya terlalu banci
Fauzi baadila: image brutal nya udah diancurin ma dia sendiri
sebagai preman yg over-mellow di 9 naga.
Nicholas saputra: lebih parah lagi.. vino aja keliatan terlalu segar buat lo.. nicho bahkan 10x lebih segar dari vino!
Tora sudiro:muntah lo ngeliat setiap film indo pasti ada dianya
Lukman sardi: mungkin pantes.. tapi ketuaan
Gw juga sempet debatin hal itu ke temen2 gw.. n ujung2nya kita sepakat emang gak ada yg se-perfect vino dlm meraninnya… walaupun emang karakternya agak se tipe ma RCR.. tapi skali lagi imho sah2 aja, secara emang itu kebutuhan cerita.
“..kesedihan yang diumbar vino malah terkesan cengeng dan melodramatis..”
Gw rasa upi n vino emang gak salah interpretasi atau ke-subtilan-whatever- seperti yg lo bilang… mungkin lo aja yg agak kurang referensi ttg karakteristik seseorang…
Saran:Sekali-kali bergaul ama orang yang lebih busuk dan lebih parah dari lo itu perlu, sobs.. (gw asalah satunya ..hahaha…
ato kalo takut bergaul ma orang yg kayak gitu.. lo bisa tongkrongin metro tv ato discovery channel tentang perilaku orang drugs-addict.. ato efek meth dan psikotropika pada otak manusia (halah…halah…
)
supaya lo gak usah heran n bingung dengan orang yang satu menit yang lalu bisa ketawa2 ngakak n menit berikutnya bisa nangis bombay serasa dunia mo kiamat… marah2 ke orang (even itu orang yg dia sayang) kayak orang gila… tapi bbrapa saat kemudian bisa langsung sujud2 sambil nangis2 kayak nak kecil minta maaf ke orang itu.. tapi besoknya bisa langsung ngulangin apa yang dia dah lakuin tadi… gitu seterusnya… (persis seperti radit di film ini)
jadi imho bukan salah vino.. tapi memang kayak gitu lah yg dibutuhkan u/ karakter seperti radit…
n vino perfecto ngedalemin karakter kayak gitu… (mgkn karna dia emang bnr2 observasi dulu ke para pemake sblm maen)
“..pada intinya radit&jani memang film yug menghibur dan membawa pesan..”
Trus trang aja alesan knapa gw begitu meng-gilai film ini adalah gw dapet banyak banget pesen.. bahkan lebih daripada film Indonesia manapun yg pernah gw tntn…!film ini mang harus di tonton ama pasangan2 muda supaya gak bego dalem nentuin nasib…
Nikah saat belom siap adalah kesalahan fatal!n lo bener.. cinta aja mang gak cukup(haha… kedengeran tua ya gw? Peduli setan ;p
Ehm.. gw kira lo bakal ngerasain hal yang sama, sob.. secara lo –katanya-paling suka film yang menyinggung tentang kedewasaan…(kedewasaan nentuin pilihan, kedewasaan u/ gak mikirin diri sendiri, harus mikirin orang laen n kesadaran untuk gak bikin orang yang kita sayang sengsara cuma karena ambisi pribadi…
Yg jelas bukan cuma kedewasaan standar “lo-haru
s-tanggung-jawab-pacar-lo-hamil-dah-gitu-doang” seperti yang selalu lo elu-elukan di film kesayangan lo yg lo kasih 4,5 “knocked up”… ah…
ternyata enggak ya…
hah… sudahlah…
cuma heran aja.. kok bisa2nya ngasih 2,5 ( seinget gw grade 2,5 pernah lo kasih buat film sampah kayak bangku kosong n I love u,oom) masa bisa2nya film se keren ini disamain ma film2 sampah itu…? Pppffhhh…
PADAHAL FILM SE-CORNY “SOKLAT STROBERRI” AJA BISA2NYA LO KASIH GRADE 3,5…
terdengar ironis..
kayaknya yg harus gw lakuin abis ini cuma satu… segera ngacir ke bioskop dan nonton ‘kawin kontrak’… nyesel dah ngelewatin film ini cuma karna grade 2,5 dari lo yg bikin drop…
aduh cape… banyak juga gw ngoceh…
Draco Dormiens Nunquam Titillandus.. tidur lagi ahhhhhh… (-_-)zzzZZZZz
PEACE
@afif:
Haha… kali ini harus gw renggut kesenangan lo… karena gw gak ngamuk-ngamuk seperti arepan lo… hahahahahaha….
Btw, ocehan diatas gak masuk kategori ngamuk2 donk? Standar lah ya…:)
February 9th, 2008 at 6:18 pm
@ahmad a.k.a vian
Wah…segitu dibilang bukan ngamuk2???
Sebenarnya gw rada kaget jg dgn nilai 2,5. Masa sih sesampah itu?
Tapi buat gw sih ga masalah jg. Soalnya secara pribadi gw kurang suka gayanya RCR (gw ga bilang jelek lho, bagus kok…cuman ga bikin gw terkesan).
“”drama kan biasanya lemot, puitis, sekarat, penderitaan yg never-ending dan kematian .. “”
Hihi…no offense yach…tapi perasaan film favorit elo Windstruck, tuh ga jauh2 dari situ. Tapi anehnya elo suka banget…ada apa gerangan??
February 10th, 2008 at 9:32 pm
@afif:
“.. gue juga gak suka dengan gaya RCR..,”
Ya.. mnurut gw hal terbaik yang harus lo lakuin adalah lo harus menghindari menonton film ini, karena R&J bahkan walaupun lebih drama tapi terkesan jauh lebih brutral dari RCR … entar lo tiba2 stroke di bioskop kan gak lucu banget ;p
Ya mungkin karna emang gw meng-gilai style gak basa-basi n nendang banget di RCR makanya gw juga addict ma R&J… (upi bener2 mempencundangi para sutradara2 cowok yg mungkin langsung melaksanakan kampanye potong-titit bersama2 saking malu nya setelah ntn film ini…
Cewek aja bisa bikin film yg se brutal RCR n R&J… sutradara cowok malah mengkerut bikin film yg mengharu-biru…hah.. sedihnya…
“ … drama kan biasanya lemot, puitis, sekarat, penderitaan yg never-ending dan kematian … bukannya film favorit lo windstruck gak jauh-jauh dari situ..”
Haha… no offense juga.. tapi gw langsung ketawa ngakak pas baca komen itu, serius ;p
lo bener2 dah ntn windstruck apa baru cuman baca2 doank? Haehe..
soalnya gw dah ntn 3 kali (serius.. I love this movie lots!)dan sepertinya gw sama sekali gak nemuin satupun element2 itu…
pertama: windstruck kan alurnya cepet, lo pasti dah tau gimana kalo lo emang dah ntn
kedua: attitude dan kata2 jun-ji-hyun yang cenderung kasar dan brutal.. bener2 jauh dari kesan puitis…
(ya.. definisi kasar tiap orang kan beda2.. mungkin kata2 seperti bego, pelacur, dsb di film ini bagi sebagian orang masih bisa dikatakan sbg kalimat yg puitis.. never know ;p
Dan kalimat sayang seperti “ ganti nama lo jadi maaf, baru gw bakal bilang maaf ke lo.. kalo gak jangan harap!” bisa menjadi kalimat yang sangat puitis juga bagi sebagian orang.. never know ;p ),
Ketiga: kisah cinta aneh yg jauh dari kesan mendayu-dayu ( mungkin tamparan dan tatapan membunuh yang sadis stiap saat dari seorang gebetan, buat sebagian orang masih tekesan mendayu-dayu.. ya bisa jadi juga sih ;p
dan sekarat? Seinget gw sih sama skali gak ada orang yang sekarat di windstruck… kalo kematian SPOILERT ALERT emang ada… tapi yang jelas bukan dikarenakan penyakit2 yg gak bisa disembuhkan seperti yg selalu menjangkiti film romantis… seperti penyakit hati yang kronis, penyakit leukemia kronis, atau penyakit raja singa yang mematikan… atau penyakit penis yang over kecil…(hahahaha…. Yg terahir bisa sih.. tinggal ke mak erot ;p
dan alih-alih menyebut windstruck drama.. gw lebih seneng menyebut windstruck “ crazy-brutal-romantic-laught-out-loud-comedy…
windstruck is brilliant romantic comedy and a-new-age of fairy tale… (gak, gw gak lebay kok… klo gak percaya… tanyakan saja pada mr.haris.. karena dia juga naruh “windstruck” di posisi satu sbg film korea terbaik ever seen di list nya dia( iya kan, mr.haris? itupun kalo list nya blom diganti gara2 sensi ma gw, hehehe…
)
kesimpulannya: are we talk about same movie, dude? ;p
I think ‘dragon’ inside my body will hibernate for a while… so don’t disturb key…
Draco dormiens nunquam titallandus!
Nox…
February 11th, 2008 at 1:14 am
@vian
Lah…khan ga ada yg bilang RCR itu jelek. Gw cuman kurang terkesan krn satu aspek yg gw kurang suka (Catet: bukan karena RCR itu brutal whatsoever). Lebih karena taste aja kok. Dan terus terang gw jg ga gitu minat nonton RnJ.
Kalo about Windstruck, gw tau kok itu masuk film favoritnya mas Haris. Jujur, krn elo2 pada suka, makanya ge bela2in nyewa. Awalnya sih bagus seperti elo bilang. Istilah elo crazy-brutal-romantic-laught-out-loud-comedy, yah boleh lah. Tapi pasca kematian si cowo…kayaknya langsung berubah menjadi film India, mendayu-dayu, belum lagi ada penampakan….dan the biggest turnoffnya adalah roh si cowok muncul kembali (tidakkkkkk!!) India banget hihihihi.
Tapi sekali lagi itu cuman masalah preferance aja tohhh.
February 11th, 2008 at 2:55 am
“… belum lagi ada penampakan….dan the biggest turnoffnya adalah roh si cowok muncul kembali (tidakkkkkk!!) ..”
haha…justru mnurut gw itu the best part nya…hahahahaha ;p
hah.. sudahlah, kayaknya ggak perlu nunggu tanggepan dari bang haris.. sepertinya ini komen terahir gw di review ini..
dibahas kayak apapun.. akan tetep… gw suka dan lo gak suka.. karna tipe film seperti RnJ yang gw suka.. n lo gak.. dah gitu doang..
pada intinya gw sebenernya cuman mempermasalahin msalah grade aja… abis kayaknya keterlaluan banget.. takutnya orang yang tadi nya mo ntn jadi gak jadi.. kan sayang (emang sapa gw ya? ;p
padahal judge film yg yg paling bener dgn buktiin dan ntn sendiri kan?
tidur lagi ah…
sampai jumpa di review “ayat-ayat cinta”…(gak sabar di review n dikasih grade dibawah 3…hehehehe
(-_-)zzzZZZZzzzz
February 11th, 2008 at 9:17 pm
setuju ah,2.5 cukup.
gerah kebanyakan babi,tai dll.suka heran,ampe kapan upi kejebak sama genre beginian
February 12th, 2008 at 6:35 pm
gw rasa gw engga perlu ngasi komentar panjang lebar lafgi atas komentar Ahmad…semuanya dah cukup jelas di review gw…
cuma..mau melengkapi aja…dosa terbesar Upi di RnJ adalah inkonsistensi…dari segi tema dan tempo…bisa dikatakan seperti dua film yang dijahit menjadi satu dan kehilangan arahnya menuju akhir, seolah-olah film berjalan dalam mode auto-pilot. yang lebih parah UPI sama sekali engga mau pusing dengan detil fisik Radit dan Jani pada beberapa tahun kemudian..yang mana kok sama aja ya???
Windstruck menjadi film fave gw karena ia jujur sebagai tear-jerking sedari adegan awal. filmnya memang bertujuan untuuk menguras air mata dengan pendekatan melodrama yang kental. Nah..kelemahan rnJ adalah melodrama dengan topeng film yang dibuat terasa COOL..KEREN…DSB. Da gw yakin siapun yang nonton Naturakl Born Killer pasti merasa diremehkan kalau dikira bakal menyukai film ini juga
VANDE!!!!!!!!!!!
February 20th, 2008 at 11:12 pm
mas VIan,gak usah marah2 gitu amat kale….maksud Haris itu film ini masih menye2 utk ukuran brutally-romantic
Kayak yg haris bilang,kalo aja film ne dimisalin orang jahit baju,jahitnnya banya k yg gak bener… satu sisi maunya brutal,satu sisi lagi menye2 ,pdhl kalo sempurna ,bisa bagus loh
lagian posternya,premise-nya,ceritanya kok mirip Sid & nancy sih?bedanya kalo Sid & Nancy itu kisah nyata,ini bukan :p
March 31st, 2008 at 6:58 am
PEMENANG INDONESIAN MOVIE AWARDS 2008
01. Pemeran Utama Pria Terbaik : Deddy Mizwar ( Nagabonar Jadi 2 )
********02. Pemeran Utama Pria Terfavorit : Vino G. Bastian ( Radit dan Jani )**********
03. Pemeran Utama Wanita Terbaik : Dinna Olivia ( Mengejar Mas-mas )
04. Pemeran Utama Wanita Terfavorit : Nirina Zubir ( Get Married )
05. Pemeran Pembantu Pria Terbaik : Tio Pakusadewo ( Quickie Express )
06. Pemeran Pembantu Wanita Terbaik : Heinidar Amroe ( Mereka Bilang, Saya Monyet ! )
07. Aktor Pendatang Baru Terbaik : Volland Humonggio ( Sang Dewi )
08. Aktris Pendatang Baru Terbaik : Titi Sjuman ( Mereka Bilang, Saya Monyet ! )
09. Pendatang Baru Terfavorit : Sandra Dewi ( Quickie Express )
***********10. Pasangan Terbaik : Vino G Bastian dan Fahrani ( Radit dan Jani )***********
********11. Pasangan Terfavorit : Vino G Bastian dan Fahrani ( Radit dan Jani )********
12. Soundtract Terfavorit : Selamanya Cinta - D’Cinnamons (Cintapuccino )
13. Spesial Award Peran yang Mencuri Perhatian : Julian Kunto ( Nagabonar Jadi 2 )
14. Film Terfavorit : Nagabonar Jadi 2
from apatis_vian:
“EAT YOU FUCKIN SHIT ALL OF RADIT N JANI HATERS!!!!!”
PEACE
March 31st, 2008 at 11:24 am
watever la…..ga ngaruh…..teteup aja ga minat hihihi….
April 20th, 2008 at 8:20 pm
“secara udah gw duga banget film ini bakal terlalu ‘kasar’ untuk orang2 ber hati snow white… dan gini2 gw juga dah mulai baca selera lo juga kale…”
kalo menurut gw,
baik-buruk
keren-katro
menyentuh-menye2
itu RELATIV yah…
cuz setiap orang pny selera yang berbeda…
kalo tu orang uda sk genre ato sutradara atao pemainnya, mau tu film jelek jga bakal dibilang bagus….
jd, setiap orang selera yang berbeda dalam sebuah film….
kalo APATIS VIAN sk yang keras,keren beda sm mas Haris yang kt lo berhati SNOW WHITE…
gto aja se….
PEACE !
November 18th, 2008 at 2:16 am
np………kau kontol anjing kau pantex kurang senang datang ke Smk Telkom
nm nya bujang ikUerrrrrrr semuanya