‘THE EYE’: This Eye See Horrible Thing
Wednesday, May 28th, 2008Release Date: 01 Februari 2008 (USA)

Sudah lelah dengan remake horor Asia? Sayangnya para produser di Hollywood
ternyata merasa kebalikannya. ‘The Eye’ adalah film Asia sukses kesekian yang
dibeli hak ciptanya oleh H’wood dan dimanifestasikan dalam bentuk umumnyanya
yang paling banal, setidaknya dalam genre Horor.
Ceritanya nyaris tidak
ada perubahan. Sidney (Jessica Alba) adalah seorang perempuan buta yang menerima
transpalntasi kornea mata. Namun, setelah mampu melihat lagi, ia malah menerima
penglihatan-penglihatan yang menyeramkan. Oleh karena itu, dibantu oleh
psikolognya (Alessandro Nivola), ia berusaha membuka tirai kelam yang dimiliki
oleh pemilik kornea matanya yang terdahulu.
Duet David Moreau dan Xavier
Palud bukanlah duet Danny dan Oxide Pang, dalam membuat versi ‘The Eye’ mereka.
Walau memberikan intensitas yang lumayan menegangkan pada adegan-adegan
seramnya, namun atmosfir kelam yang ingin dicapai belumlah mencapai tingkat yang
dicapai oleh versi yang asli garapan Pang bersaudara tersebut.
Jessica
Alba, sebagai atraksi utamanya sendiri tidak buruk dan terlihat berupaya tampil
meyakinkan, walau kadang dibeberapa adegan yang mengharuskan ia berdialog, malah
tampil kurang meyakinkan. Miss Alba sudah seharusnya meningkatkan talentanya dan
jangan hanya mampu dikenang menjadi poster-girl belaka.
Terus
terang, sejak ‘The Ring’ versi Gore Verbinski, maka belum ada remake horor Asia
yang benar-benar koheren untuk dibuat ulang, karena menunjukkan signifikansi
yang kurang jelas akan apa yang sebenarnya hendak dicapai oleh film aslinya.
‘The Eye’ bukan pengecualian.
Film ini jelas-jelas terlalu
‘terHollywoodkan’ dan mengorbankan esensi utama mengapa film aslinya bisa begitu
sukses dalam menakuti penontonnya. Dalam pandangan kritisi Amerika, film-film
horor remake ini (yang biasanya PG-13) dipandang buruk, tidak seram dan kurang
memuaskan dalam segi dramatikalnya. Berbeda dengan versi aslinya, Asia dalam hal
ini, yang terbukti mampu menjalin drama yang baik dengan keseraman yang dibangun
dengan merambat.
Berbeda dengan remake ‘The Grudge’ yang memang
jelas-jelas hanya menjual kengerian dibandingkan dengan cerita yang unik atau
‘Dark Water’ yang terlalu moody, maka ‘The Eye’, sama halnya dengan
remake ‘Pulse’ dan ‘One Missed Call’ terlalu mengfokuskan pada unsur horor akan
tetapi melupakan sinergitas dengan unsur drama, yang mana merupakan esensi utama
dari jalinan kesatuan dalam plot film-film horor Asia ini. Meski menurut
pendapat saya presentasi film ini jauh lebih baik dibandingkan film-film
tersebut.
‘The Eye’ versi aslinya menurut saya memang salah satu film
yang mampu menampilkan keseraman yang diperlukan sekaligus plot yang dramatiknya
terjaga, sehingga unsur ironi yang ingin disampaikan bisa tercapai. ‘The Eye’
versi Amerika ini terlalu menginginkan sebuah jalan cerita yang lebih membumi
dan menghibur sehingga orang tidak haris repot-repot mengesensikan apa yang
sebenarnya ingin disampaikan. Disinilah masalahnya, ‘The Eye’ terasa kering dan
tidak bermakna apa-apa selain hiburan semata-semata. Ending yang lebih
kompromistis buktinya. Terasa dibuat-buat dan sedikit menghina intelenjensia
penontonnya.
‘The Eye’ mungkin sebuah film yang menghibur, namun dapatkan
ia menandingi versi aslinya? Mungkin jawabannya akan sedikit subjektif, akan
tetapi kata "tidak" adalah yang paling tepat. Bukan remake yang terbaik, apalagi
horor yang luar biasa.







