Archive for May, 2008

‘THE EYE’: This Eye See Horrible Thing

Wednesday, May 28th, 2008

Produksi: Lions Gate (2008)
Sutradara: David Moreau, Xavier Palud
Cast: Jessica Alba, Alessandro Nivola, Parker Posey, Rachel Ticotin 

Genre: Horror/Drama
Durasi: 95"
Release Date: 01 Februari 2008 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

The_eye
Sudah lelah dengan remake horor Asia? Sayangnya para produser di Hollywood
ternyata merasa kebalikannya. ‘The Eye’ adalah film Asia sukses kesekian yang
dibeli hak ciptanya oleh H’wood dan dimanifestasikan dalam bentuk umumnyanya
yang paling banal, setidaknya dalam genre Horor.

Ceritanya nyaris tidak
ada perubahan. Sidney (Jessica Alba) adalah seorang perempuan buta yang menerima
transpalntasi kornea mata. Namun, setelah mampu melihat lagi, ia malah menerima
penglihatan-penglihatan yang menyeramkan. Oleh karena itu, dibantu oleh
psikolognya (Alessandro Nivola), ia berusaha membuka tirai kelam yang dimiliki
oleh pemilik kornea matanya yang terdahulu.

Duet David Moreau dan Xavier
Palud bukanlah duet Danny dan Oxide Pang, dalam membuat versi ‘The Eye’ mereka.
Walau memberikan intensitas yang lumayan menegangkan pada adegan-adegan
seramnya, namun atmosfir kelam yang ingin dicapai belumlah mencapai tingkat yang
dicapai oleh versi yang asli garapan Pang bersaudara tersebut.

Jessica
Alba, sebagai atraksi utamanya sendiri tidak buruk dan terlihat berupaya tampil
meyakinkan, walau kadang dibeberapa adegan yang mengharuskan ia berdialog, malah
tampil kurang meyakinkan. Miss Alba sudah seharusnya meningkatkan talentanya dan
jangan hanya mampu dikenang menjadi poster-girl belaka.

Terus
terang, sejak ‘The Ring’ versi Gore Verbinski, maka belum ada remake horor Asia
yang benar-benar koheren untuk dibuat ulang, karena menunjukkan signifikansi
yang kurang jelas akan apa yang sebenarnya hendak dicapai oleh film aslinya.
‘The Eye’ bukan pengecualian.

Film ini jelas-jelas terlalu
‘terHollywoodkan’ dan mengorbankan esensi utama mengapa film aslinya bisa begitu
sukses dalam menakuti penontonnya. Dalam pandangan kritisi Amerika, film-film
horor remake ini (yang biasanya PG-13) dipandang buruk, tidak seram dan kurang
memuaskan dalam segi dramatikalnya. Berbeda dengan versi aslinya, Asia dalam hal
ini, yang terbukti mampu menjalin drama yang baik dengan keseraman yang dibangun
dengan merambat.

Berbeda dengan remake ‘The Grudge’ yang memang
jelas-jelas hanya menjual kengerian dibandingkan dengan cerita yang unik atau
‘Dark Water’ yang terlalu moody, maka ‘The Eye’, sama halnya dengan
remake ‘Pulse’ dan ‘One Missed Call’ terlalu mengfokuskan pada unsur horor akan
tetapi melupakan sinergitas dengan unsur drama, yang mana merupakan esensi utama
dari jalinan kesatuan dalam plot film-film horor Asia ini. Meski menurut
pendapat saya presentasi film ini jauh lebih baik dibandingkan film-film
tersebut.

‘The Eye’ versi aslinya menurut saya memang salah satu film
yang mampu menampilkan keseraman yang diperlukan sekaligus plot yang dramatiknya
terjaga, sehingga unsur ironi yang ingin disampaikan bisa tercapai. ‘The Eye’
versi Amerika ini terlalu menginginkan sebuah jalan cerita yang lebih membumi
dan menghibur sehingga orang tidak haris repot-repot mengesensikan apa yang
sebenarnya ingin disampaikan. Disinilah masalahnya, ‘The Eye’ terasa kering dan
tidak bermakna apa-apa selain hiburan semata-semata. Ending yang lebih
kompromistis buktinya. Terasa dibuat-buat dan sedikit menghina intelenjensia
penontonnya.

‘The Eye’ mungkin sebuah film yang menghibur, namun dapatkan
ia menandingi versi aslinya? Mungkin jawabannya akan sedikit subjektif, akan
tetapi kata "tidak" adalah yang paling tepat. Bukan remake yang terbaik, apalagi
horor yang luar biasa.


‘CHOCOLATE’: Let’s Kick Some Ass, Girl!

Wednesday, May 28th, 2008

Produksi: Baa-Ram-Ewe(2008)
Sutradara: Prachya Pinkaew
Cast: Yanin Vismistananda, Hiroshi Abe, Ammara Siripong 

Genre: Aksi/Drama
Durasi: 110"
Release Date: 06 Februari 2008 (Thailand)
My Grade: 2.5 out 5

Chocolate
Bukan. Ini sama sekali bukan film Lasse Hallstrom yang
dibintangi oleh Julliette Binoche dan Johnny Depp itu. Ini adalah sebuah film
aksi dari sutradara yang pernah menghadirkan aksi laga mendebarkan nan seru,
‘Ong Bak’ dan ‘Tom Yum Goong’, Prachya Pinkaew. Oleh karena itu jangan harapkan
adanya suatu kedalaman cerita ala film ‘Chocolate’-nya Mr.Lasse tersebut.

Zen (Yanin Vismistananda) adalah seorang gadis autis yang tinggal
bersama ibunya yang sakit kanker, Zin (Ammara Siripong) dan seorang saudara
angkatnya yang sedikit oportunis. Walaupun mempunyai kekurangan, ternyata Zen
dirahmati Tuhan dengan kemampuan istimewa, menyerap dengan luarbiasa kemampuan
tarung yang didapatnya dari film-film aksi Tony Jaa (sic), Playstation
dan tentu saja sasana Thai Boxing dekat tempat ia tinggal selama ia masih
kanak-kanak. Berbekal kemampuannya ini ia kemudian menagih hutang kepada
orang-orang yang pernah berhutang kepada ibunya.

Ternyata sang ibu ini
mantan anggota gangster, namun karena terlibat percintaan dengan Masashi
(Hiroshi Abe), seorang Yakuza Jepang, maka ia harus hidup mengasingkan diri dan
merawat Zen, anak hasil hubungannya dengan Masashi. Masalahnya, mantan boss Zin
mendengar sepak terjang Zen dan kemudian merasa terusik. Maka, dengan kemampuan
istimewanya, Zen harus menyelematkan hidup dirinya serta sang ibu yang
dicintainya.

Terus terang dengan cerita yang sangat tipis ini, kita
memang tidak bisa berharap banyak, walau sebenarnya jika Pinkaew mau sedikit
memfokuskan diri pada kedalaman dalam pengembangan cerita, maka film akan dapat
lebih menyentuh. Yah, sedikit-sedikit melodrama tidak berbahayalah. Akan tetapi
drama sepertinya memang bukan konsentrasi utama Pinkaew dalam membuat film. Baku
hantam yang seru dan memukau itulah tujuan utamanya.

Untuk itu, lagi-lagi
ia berhasil. ‘Chocolate’ adalah duel-vaganza yang intens. Bahkan kali ini
ia dengan berani tidak memakai Tony Jaa sebagai jualan utamanya, melainkan pada
seorang perempuan pendatang baru bernama Yanin Vismistananda. Akan tetapi soal
kelihaian, jangan diragukan! Ketangkasan, kecepatan dan akrobatisme
Vismistananda tidak kalah dengan Jaa. Sungguh memukau.

Dulu, seingat
saya di pertengahan 80-an hingga awal 90-an, nama-nama seperti Michelle Yeoh,
Chintya Khan, Moon Lee dan (tentu saja) Chintya Rotchrock, adalah jaminan akan
keseruan dari film-film aksi. Namun, saat ini memang belum ada lagi tokoh aktris
laga perempuan yang menonjol setelah Michelle Yeoh yang masih tetap bertahan,
sehingga tidak heran peluang ini dimanfaatkan oleh Pinkaew dengan menawarkan
Vismistananda sebagai chick kick ass barunya. Apalagi Yeoh juga sudah
mulai veteran, sehingga kehadiran Vismistananda sungguh tepat. Saya yakin,
dengan film ini deretan fans setia baru pasti sudah berharap banyak akan
film-film selanjutnya. Saya salah satunya, hahahaha.

Vismistananda memang
sangat berbakat. Namun tidak hanya untuk adegan laga, karena ia ternyata mampu
pula menunjukkan ekspresi dan gestur yang dibutuhkan oleh karakternya dengan
proporsi yang lumayan pas. Sayangnya, Pinkaew terlalu menekankan pada laga dan
kurang mengelaborasi kemampuan akting Vismistananda. Padahal jika ia
melakukannya, niscaya film tidak hanya menjadi sebuah aksi kosong tanpa bermakna
apa-apa.

By the way, Hiroshi Abe underused in this film.
Padahal penampilan singkatnya sudah memberi sedikit kedalam cerita. Imho,
loh?

More Posters

Chocolate_poster2

Chocolate_poster3



‘SHELTER’: Home Is Where The Heart Is

Wednesday, May 28th, 2008

Produksi: Regent Releasing (2008)
Sutradara: Jonah Markowitz
Cast: Trevor Wright, Brad Rowe, Tina Holmes, Jackson Wurth, Ross Thomas, Katie Walder

Genre: Drama
Durasi: 97"
Release Date: 21 Maret 2008 (USA)
My Grade: 3 out 5

Shelter
‘Shelter’ adalah sebuah film kecil karya Jonah Markowitz yang namun memiliki
kelegaan yang luas dalam temanya. Film terasa jujur dan menyentuh walau
sebenarnya secara umum biasa-biasa saja. Mengapa biasa-biasa saja? Terus terang,
pendekatan yang dipakai oleh Markowitz memang tipikal dalam drama yang
menyangkut Gay-Lesbian-Bisexual-Transgender seperti ini. Gaya yang terlalu indie
jika tidak mau dikatakan made-for-tv, walau tidak sevulgar film-film
sejenis yang umum keluar akhir-akhir ini.

Inti utamanya itu ada di drama
dan cerita. Zach (Trevor Wright) adalah seorang pemuda berbakat dalam seni
lukis, namun ia terpaksa menyimpan cita-citanya, karena ia tinggal bersama
dengan kakaknya Jeanne (Tina Holmes, dari film cult Edge of Seventeen)
yang mempunyai satu anak laki-laki berama Cody (Jackson Urth) yang sudah
menganggap Zach sebagai ayahnya. Jeanne begitu manipulatif terhadap Zach,
sehingga ia kemudian merasa terikat dengan Jeanne dan Cody dan melupakan
cita-citanya bahkan hubungannya dengan kekasihnya Tori (Katie Walder) menjadi
hambar. Sahabatnya sendiri, Gabe (Ross Thomas) terlalu sibuk dengan kuliahnya
sehingga praktis Zach hanya sendiri.

Sampai tiba kembali kakak laki-laki
Gabe yang sudah dikenalinya sedari kecil, Shaun (Brad Rowe). Karena sama-sama
menggemari surfing, maka kemudian mereka menjadi akrab. Bahkan, pada akhirnya
pertemanan mereka berkembang menjadi romansa. Dari Shaun, Zach belajar untuk
menghargai dirinya sendiri dan mempunyai pilihan sendiri untuk hidupnya. Namun,
disaat lain ia merasa bimbang apakah ia bisa meninggalkan Jeanne dan Cody dari
dunianya?

‘Shelter’ jika diartikan secara harafiah dalam Bahasa Indonesia
berarti "penampungan". Kalau berbicara dalam konteks inibisa disebutkan bahwa
karakter-karakter dalam film ini sebenarnya sedang mencari tempat bagi
penampungan jiwa mereka, karena mereka begitu terbiasa untuk
dibutuhkan-membutuhkan, sehingga terlupa akan tempat dimana ia sebenarnya
seharusnya menempatkan diri dan jiwanya.

Walau berbicara dalam esensi
yang puitis, namun ‘Shelter’ tidak berbicara dalam kerangka itu. Melodrama
memang, akan tetapi tidak terlalu menekankan pada konteks mellow. Konflik
dianalisa dengan intensitas yang tidak terlalu meledak-ledak. Iringan
musik-musik folk-rock dan ballada membuat feel film yang terasa membumi
dengan issue yang biasa dihadapi oleh sehari-harinya.

Pada intinya
‘Shelter’ berbicara tentang coming-out-age serta menyikapi bagaimana
menjadi diri sendiri tanpa harus kehilangan ikatan dengan orang-orang disekitar
kita. Untuk itu Trevor Wright mampu memberikan kewajaran dalam kesubtilitasan
karakternya sedangkan Brad Rowe seperti seorang sparring partner yang
setimpal dan saling melengkapi. sebagai karakter yang lebih tua, Shaun seperti
seorang mentor yang memberikan enlightment sekaligus teman yang bisa
diandalkan bagi Zach. Ia adalah shelter bagi Zach!


‘LOST IN LOVE’: In Paris, They In Love Again

Sunday, May 25th, 2008

Produksi: Itrema (2008)
Sutradara: Rachmania Arunita
Cast: Pevita Pearce, Richard Kevin, Arifin Putra, Barry Prima, George Rudy, Chrisye Subono

Genre: Drama/Komedi/Roman
Durasi: + 90"
Release Date: 22 Mei 2008
My Grade: 2.5 out 5

Lost_in_love
Rachmania Arunita sungguh beruntung. Mungkin banyak orang
di Indonesia yang sedari kecil sudah berbakat, akan tetapi kesempatan jarang
bisa diraih. Berbeda dengan Nia yang menulis ‘Eiffel I’m In Love’ saat duduk di
kelas menengah dan mengedarkan secara bergerilya, namun sukses sehingga kemudian
di cetak secara massa dan sukses lagi. Tidak heran perusahaan film mengincar
novel tersebut untuk diangkat menjadi produk layar lebar, yang kemudian menuai
sukses besar pula.
Dengan kesuksesan ‘Eiffel I’m In Love’ ternyata
membuat Nia berkeinginan untuk membuat kelanjutan cerita cinta Adit dan Tita.
Kali ini tidak main-main, ia menulis novel sekaligus mengarahkan versi filmnya!
Sungguh kesempatan yang sangat langka.

Cerita dari film ini merupakan
kelanjutan langsung dari akhir ‘Eiffel I’m In Love’ (2003). Di Paris, Perancis,
Tita (Pevita Pearce, Denias) berusaha meyakinkan cinta Adit (Richard
Kevin, Get Married) kepadanya. Namun sikap Adit yang kaku dan canggung
membuat sebal Tita, sehingga pada suatu kesempatan ia memutuskan untuk rendevouz
sendiri, yang malah menyebabkan ia nyasar di tengah kehidupan Paris.
Beruntung ia bertemu dengan Alex (Arifin Putra), pria ganteng yang mengaku dari
Thailand. Setelah merasa sebal dengan Tita, Alex bersedia menolong Tita untuk
kembali ke keluarganya dan juga menyelusuri hati Adit yang membingungkan Tita.
Sikap Alex yang chraming sendiri kemudian menarik hati Tita!

Terus
terang tidak ada yang istimewa dari cerita film ini. Semuanya berjalan dengan
linear dan tidak ada perkembangan plot yang berarti. Di beberapa bagian film
malah terasa datar nyaris tanpa emosi. Kadang malah terasa menjengkelkan karena
terasa kekanak-kanakan seperti karakter utamanya, Tita. Namun, harus diakui
Rachmania Arunita memang berbakat dan ia tampaknya belajar keras dalam
megarahkan film. Dalam usia yang relatif masih sangat muda ia mampu mengemas
filmnya dengan fisik yang cantik. Terima kasih untuk eksotisme Paris yang sangat
mendukung, sehingga film terselamatkan dari rasa bosan.

Sebenarnya Nia
bisa saja mengeksplorasi keindahan Paris dengan lebih elaboratif, sehingga bisa
saja ‘Lost in Love’ menjadi road movie yang menggugah dan informatif,
namun Nia terlalu menekankan pada konflik percintaan Adit-Tita-Alex, sehingga
film terasa datar.

Dari segi teknis, film memang terlihat menarik dan
kompeten. Dari segi akting, Pevita dan Richard mengingatkan akan Shandy Aulia
dan Samuel Rizal. Tidak ada yang istimewa. Entah mengapa Nia tidak memakai saja
sekalian Shandy dan Samuel. Yang paling mencuri perhatian itu Arifin Putra.
Kalau tidak salah ini film layar lebar pertamanya, dan ia menampilkan kualitas
akting yang sesuai untuk konteks ini. Dengan aksen Perancisnya yang kental ia
tampil dengan menarik. Way to go, Arifin Putra!

‘Lost in Love’
mungkin adalah proyek coba-coba dari Nia. Namun setidaknya film ini membuktikan
jika ia hanya butuh jam terbang yang lebih tinggi untuk menghasilkan karya yang
mungkin dapat memperkaya khazanah industri film Indonesia. Dan terus terang,
sebagai debutan sutradara bagi seorang penulis, ‘Lost In Love’ lumayan
menarik.


‘MEREKA BILANG, SAYA MONYET’: Hati Manusia Itu Kacau dan Absurd, Akan Tetapi Menyenangkan Untuk Disimak

Sunday, May 25th, 2008

Produksi: Intimasi Productions (2007)
Sutradara: Djenar Maesa Ayu
Cast: Titi Sjuman, Henidar Amroe, Ray Sahetapy, Bucek, Mario Lawalatta, Fairuz Faisal, Ayu Dewi, Jajang C. Noer, August Melaz, Nadya Rompies, Banyu Bening

Genre: Drama
Durasi: 90"
Release Date: 28 Desember 2007 (limited)
My Grade: 3.5 out 5

Mereka_bilang_saya_monyet
Mengikuti jejak Richard Oh dengan ‘Koper’-nya, maka Djenar
Maesa Ayu adalah penulis berikutnya yang menjajal bidang pengarahan film.
Sebenarnya dunia film tentu saja bukan hal yang baru bagi Djenar, secara ayahnya
adalah sang legenda perfilman Indonesia, Sumanjaya dan ia sempat pula berakting
di film ‘Koper’ dan ‘Anak-Anak Borobudur’.
Keraguan sempat hinggap
dihati, apakah Djenar bisa menafsirkan dua cerpennya, ‘Lintah’ dan ‘Melukis
Jendela’ yang terdapat dalam antologi ‘Mereka Bilang, Saya Monyet’, menjadi
sebuah narasi seperti film. Untunglah Djenar, yang mengaku tidak bisa bercerita
dengan linear, dibantu oleh Indra Herlambang sebagai penulis skenario, hingga ia
kemudian bisa mengkhususkan pada bidang pengarahan saja.

Ternyata Djenar
memang berbakat. ‘Mereka Bilang, Saya Monyet’adalah pembuktiannya. Film berjalan
dengan pace yang lancar, gampang dicerna dan tetap terlihat surealis,
seperti yang memang menjadi ciri khas Djenar dalam penulisannya. Hanya saja
memang media film berbeda dengan novel. Walaupun sama-sama bermodalkan narasi,
Djenar sadar jika ia hanya akan membingungkan penontonnya jika tetap nekad
berkeinginan menggambarkan simbolisasi dalam penulisannya dalam bentuk film,
karena mungin ia sadar akan keterbatasannya sebagai sutradara debutan sehingga
akan cukup sulit untuk menggambarkan surealisme yang dapat dipahami.

Oleh
karena itu film tetap berjalan dengan plot yang cukup linear, walaupun
bermodalkan alur maju-mundur, yang bisa saja memusingkan. Namun, dengan cekatan
ia mengeksekusi adegan-adegan yang dapat terjalin dengan baik, walau
kadang-kadang terasa kurang rapi, karena emosi ledakan dari pengarahan Djenar
yang bersemangat, sehingga terasa overrated di beberapa bagian (sekuens
teleponnya sudah sampai pada taraf annoying, no pun
intended
).

Djenar juga cukup cekatan dalam menyikapi bujet yang
minimal, karena hasil akhirnya, dalam skala independen, film tetap terasa
feel sinematisnya, berbeda dengan pendekatan yang sama oleh Rudi Sudjarwo
terhadap film-filmnya akhir-akhir ini, yang diproduksi oleh perusahaan film
besar namun malah terasa lebih condong untk konsumsi televisi dibandingkan untuk
sebuah layar lebar.

Beruntungnya lagi film ini didukung oleh pendatang
baru berkualitas seperti Titi Sjuman, yang notabene adalah saudari iparnya
sendiri. Kadang kala kemiripiannya dengan Djenar dan problematikanya dalam film
ini mengingatkan akan Djenar itu sendiri, terlepas disengaja atau tidak. Titi
memberikan kemampuannya dalam menerjemahkan karakter Adjeng, sehingga kita
benar-benar dapat merelasikan dengan karakternya. Plus, ada Henidar Amroe dan
Ray Sahetapy. Rasanya kekuatan akting mereka tidak perlu untuk diragukan
lagi.

‘Mereka Bilang, Saya Monyet’ mungkin bukan film yang besar, dan
hanya batu kecil dalam industri perfilman Indonesia akhir-akhir ini. Tapi ia
adalah batu kecil yang bernilai cukup tinggi, hingga rasanya cukup pantas
direkomendasikan untuk dipilih sebagai salah satu karya anak bangsa yang cukup
membanggakan. Dan untuk Djenar sendiri, ditunggu film-film berikutnya.


The Duel of Ghostly Trains

Thursday, May 1st, 2008

Ada apa sih dengan trek Kereta Api Manggarai? Dua Rumah
Produksi dengan dua sutradara yang berbeda berbarengan menganggat fenomena
kereta hantu di stasiun tersebut. Mana yang lebih baik? Mungkin pertanyaan yang
paling tepat aalah mana yang lebih buruk secara kedua sutradaranya memang sama
sekali tidak berbakat dalam menggarap genre horror sama sekali (entah komedi);
Nayato Fio Nuola (Hantu Ambulance) untuk "Kereta Hantu Manggarai" dan
Nanang Istiabudi (Terowongan Casablanca) untuk "Kereta Setan
Manggarai".

Berikut sinopsis masing-masing film:

Kereta_hantu_manggarai
KERETA HANTU
MANGGARAI

GENRE : Drama Horor Misteri
PEMAIN : Sheila Marcia Joseph,
Melvin Iim, Stefanie Hariadi, Nadila Ernesta, Rina Hasim, Gianina Emanuela,
Fendi Trihartanto
SUTRADARA : Nayato Fio Nuala
PENULIS NASKAH : Ery
Sofid
PRODUSER : Gope T. Samtani, Subagio Samtono
RUMAH PRODUKSI : RAPI
FILMS
DURASI : 89 menit
TANGGAL RILIS : 30 April 2008

SINOPSIS
:

Kakak beradik Rossa (Sheila Marcia) dan Emily terjebak dalam sebuah
pertengkaran, sikap egois dan keras kepala yang dimiliki Emily ternyata membuat
Rossa lepas kontrol, ia pun mengusir adik kandungnya tersebut dari rumahnya.
Emily pun pergi ke Bogor untuk menemui tantenya.

Ternyata Rossa tidak
pernah bertemu dengan Emily sejak malam pertengkaran itu. Dalam kebingungan,
Rossa menceritakan semua kejadian kepada sahabatnya, Tari yang kemudian menaruh
curiga, bahwa Emily dibawa pergi oleh kereta hantu. Meski tidak pernah percaya,
Rossa mengikuti ajakan Tari untuk menemui Bobby, orang yang menjalankan situs
‘Dunia Gaib’ dan sangat terobsesi dengan kereta hantu. Konon, kekasih Bobby
meninggal secara tragis akibat naik kereta hantu.

Bobby mengajak Dody dan
Peggy untuk menaiki kereta hantu dibantu oleh Ki Anom, seorang paranormal. Di
stasiun Manggarai mereka melakukan ritual. Setelah muncul, mereka akhirnya
menaiki kereta hantu tersebut. Berbagai peristiwa mengerikan terjadi selama
mereka di atas kereta hantu. Akhirnya, mereka selamat berkat pertolongan Ki
Anom.

Apa yang terjadi di dalam kereta hantu rupanya terus meneror dan
mengikuti mereka satu persatu, terutama sosok hantu yang paling mengerikan. Satu
persatu mereka tewas dan Rossa juga kerap mengalami penampakan. Rossa akhirnya
terpaksa meminta Tari untuk bertemu kembali dengan Bobby. Bobby kembali membantu
Rossa mencari Emily yang hilang diatas Kereta Hantu dengan bantuan Ki Anom.
Dapatkah mereka menemukan Emily?

Kereta_setan_manggarai
KERETA SETAN MANGGARAI

GENRE :
Drama Horor
PEMAIN : Vera Lasut, Ocke Mulyawan, Ferry Agustian, Nelly
Yustikarini, Renaldo Thompson
SUTRADARA : Nanang Istiabudi
PENULIS NASKAH
: Kumar Pareek, Dhiyute
PRODUSER : Sagar Mahtani
RUMAH PRODUKSI : MM
CREATIONS
DURASI : 100 Menit
TANGGAL RILIS : tba 2008

SINOPSIS
:

Key, Fifi, Dado, Rey dan Fajar merencanakan sebuah liburan yang
mengasyikkan di Bandung, namun perjalanan mereka sedikit terhambat, karena Dado
harus mencari kabar dua orang sepupunya yang tak kunjung pulang selepas berlibur
ke Bogor. Raut khawatir yang ditunjukkan oleh Om Dado saat mengatakan, bahwa
kedua sepupunya telah pulang sejak semingu lalu membawa mereka ke dalam sebuah
pencarian yang awalnya terlihat mudah.

Perjalanan membawa mereka ke
sebuah jalan buntu yang menyesatkan, hingga kemudian kejadian aneh mulai
bermunculan satu demi satu, rumah tua ditengah hutan, kakek dan cucunya yang
misterius hingga kecelakaan yang menyebabkan mobil mereka tertabrak kereta.
Berusaha mencari pertolongan, mereka pun berlari menyusuri rel menuju stasiun
terdekat. Lelah dan panik menyebabkan mereka melupakan semua pesan dan cerita
dari Om-nya Dado untuk tidak naik kereta pada malam jum’at. Merekapun naik
kereta yang kebetulan sedang berhenti distasiun tersebut, kereta terakhir menuju
Jakarta.

Rasa aman yang sempat melingkupi mereka berubah drastis saat
satu demi satu mulai merasakan gelagat aneh yang ditunjukkan oleh para penumpang
kereta, hingga ketika mereka sadar, bahwa kereta ini tak jua berhenti di
beberapa stasiun. Berjuang untuk bisa bertahan, kebersamaan mereka pun
dipertaruhkan karena untuk bisa keluar salah satu dari mereka harus menjadi
tumbal.