‘ACROSS THE UNIVERSE’: All You Need is The Love Songs of The Great Beatles
Release Date: 12 Oktober 2007 (USA)
Siapa yang tidak kenal dengan The Beatles. Band asalInggris tersebut bisa dikatakan merupakan salah satu band yang paling
berpengaruh dalam industri musik kontemporer saat ini. Dengan lagu-lagu melodius
nan kontemplatif, telah menjadikan band ini sebagai sebuah legenda
besar.
lagu-lagu dari The Beatles sebagai bagian dari musikalitas dalam dramaturginya,
tentu saja ekspektasi melambung tinggi, berharap agar musik-musik yang jenial
tersebut mampu meniupkan ruh yang diperlukan oleh filmnya.
Ceritanya
sederhana saja. Berseting paruh 60-an, seorang pemuda Inggris, Jude (Jim
Sturges) bertolak ke Amerika karena ingin bertemu dengan sang Ayah yang tidak
pernah ditemui seumur hidupnya. Nasib mempertemukan ia dengan kakak beradik Lucy
(Evan Rachel Wood) dan Max (Joe Anderson). Sudah bisa diduga Jude jatuh cinta
dengan Lucy. Yah, kemudian Lucy pun jatuh cinta kepada Jude. Hanya saja, gaya
hidup Jude yang happy-go-lucky ternyata tidak berkesinambungan dengan
Lucy yang tenggelam dalam idealismenya dalam menentang perang Vietnam yang
berkecamuk. Cerita juga diselingi pula dengan karakter-karakter satelit yang
mengingatkan akan streotipe yang umum berlaku pada masa itu (hippies, rock
n’roll, kebebasan dan sebagainya).
‘Across The Universe’ adalah
pretensius. Rasanya hal tersebut susah untuk dinafikan. Tentu saja, walau
bercerita tentang issue yang tengah hangat pada masa itu, namun rasanya tetap
faktual dalam konsep kekinian. Namun, rasanya memang Taymor terlalu bersemangat
dalam membuat sebuah drama musikal yang kontemplatif, sehingga kemudian
meninggalkan esensi dari musikalitas itu sendiri.
Dalam sebuah film
musikal, seyogyanya unusr lagu adalah satu bagian dari narasi. Dalam arti,
kadang ia adalah sebuah dialog yang berbicara. Nah, disini Taymor terlalu
memaksakan agar plot film berjalan dengan lagu-lagu yang menjadi pilihannya,
sehingga film malah terasa kosong dan sedikit kehilangan arah, seperti kumpulan
video musik dalam konteks yang kurang jelas. Ini membuat film hanya sebagai
“penanda” dari kemegahan lagu-lagu dari The Beatles tersebut.
Harus
diakui, secara visual, Taymor mampu membangkitkan kenangan yang lekat akan
lagu-lagu tersebut, sehingga adegan terasa menggugah. Bahkan, ia dengan
imajinasinya yang kuat mampu membuat penggambaran yang kadang surealistis namun
tetap terasa indah.
‘Across The Universe’ adalah pengalaman visual yang
menarik, juga bukanlah film musikal yang buruk. Hanya saja, menjadi pretensius
terkadang menjadikan film kehilangan esensi dalam urgensinya. Dan itulah ‘Across
The Universe’.