‘FIKSI’: This Fiction Turn Into Sinister Reality
Release Date: 19 Juni 2008

Banyak yang skeptis jika orisinilitas menjadi bagian yang eksklusif dari
film-film di Indonesia. Tidak bisa disalahkan saat fakta memang menunjukkan hal
tersebut. Saya setuju plagiat merupakan sebuah big-no-no, namun jika
orisinalitas diharapkan didapat dari film-film lain sebagai referensi, maka
rasanya itu juga terlalu berlebihan. Lagipula, dengan sejarah panjang dunia
perfilman saat ini, rasanya jarang sekali untuk mendapatkan film-film yang
benar-benar inventif. Bahkan Quentin Tarantino "menjiplak" habis-habisan gaya
film aksi Asia dalam ‘Kill Bill’. Hanya saja kemudian dapat tepermisifkan jika
bahan-bahan tersebut diolah menjadi sesuatu yang jenial.
Joko Anwar
selalu dituduh "kebarat-baratan" dalam setiap film atau skenarionya. Rasanya ini
juga terlalu berlebihan. Menyaksikan skenario terbarunya yang berjudul ‘Fiksi’
dan menjadi film debutan bagi sutradara perempuan bernama Mouly Surya, adalah
seperti menyaksikan plot yang bisa jadi umum di Barat sana, namun dikemas dengan
sentuhan lokal yang cukup kuat, sehingga menghasilkan sebuah narasi yang memikat
untuk disimak dari awal sampai akhir dan menambah khasanah film lokal yang
benar-benar layak untuk disimak.
Mengambil premis Alice in
Wonderland, akan tetapi dibalik, film bercerita tentang Alisha (Ladya
Cheryl), seorang gadis kaya dengan kehidupan yang suram. Sampai ia kenal dengan
Bari (Donny Alamsyah), seorang pemuda sederhana yang tinggal berdua saja dengan
kekasihnya yang mahasiswa psikologi bernama Renta (Kinaryosih) di sebuah rumah
susun (namun menolak dikatakan sebagai pasangan ‘kumpul kebo’!). Alisha, yang
menyamar dengan memakai nama Mia, memutuskan untuk tinggal di rumah susun
tersebut.
Bari ternyata seorang penulis yang masih bingung untuk
memberikan akhir pada cerita-cerita yang ditulisnya mengenai beberapa karakter
yang kebetulan menetap di rumah susun tersebut. Alisha yang kini terobsesi
dengan Bari memutuskan untuk "memberi jalan" bagi klimaks di cerita-cerita Bari
dengan memberikan klimaks di dunia nyata bagi karakter-karakter tersebut. Namun,
yang namanya obsesi, jika kita terlalu konsumtif padanya maka pada akhirnya akan
berujung pada petaka. Maka, pada akhirnya giliran cerita mereka yang kini Alisha
perlu beri akhir.
Rasanya saya tidak perlu sebutkan pada film-film apa
saja ‘Fiksi’ mengingatkan saya. Yang penting saat ini adalah bagaimana saya
tersedot pada cerita yang ditawarkan oleh Mouli Surya ini. Bertahan pada
pace yang lambat memang mempunyai tendensi untuk ditinggal oleh atensi
penontonnya. Namun untunglah dinamika dalam ceritanya dialur dengan menarik,
yang kalau saya ibaratkan seperti layang-layang yang ditarik ulur. Saat kita
mulai merasa bosan, maka tiba-tiba cerita menawarkan "sesuatu" lagi yang membuat
kita untuk bertahan.
Ini mungkin yang menjadi minor bagi ‘Fiksi’ secara
umum, selain juga dimana rasanya ‘Fiksi’ terlalu banyak mengambil struktur drama
dibandingkan thriller. Terlepas dari hal-hal tersebut, Joko Anwar sekali lagi
menunjukkan betapa ia memang mempunyai refensi film dengan cakupan yang luas. Ia
memang tahu sekali filmya akan diarahkan kemana, sehingga saya berani
menyebutkan jika film bertutur dalam dramaturgi yang jelas dan lancar bercerita.
Tabik juga untuk Mouly Surya yang mampu mengemas cerita Joko dengan
estetika yang dipilihnya. Jika ia tidak memahami dengan baik kandungan cerita
film ini, saya yakin film akan berjalan pada arah yang salah dan pada akhirnya
meloncat ke jurang monotonisme. Oh ya, tentu saja ia tahu kemana arah film akan
berjalan. Bukannya ide cerita film ini berasal darinya?
Ladya Cheryl
sendiri katanya memang sudah dibayangan Mouly saat mulai menulis cerita film
ini. Tidak heran jika karakter Alisha diperankannya dengan tone yang
setipe saat menjadi Alya di film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang lalu. Hanya saja
kini dengan atmosfir yang lebih kelam. Ms. Ladya, I think you should take
another role in another films to variate your acting resume. Pada intinya
untuk menambah jam terbang saja.
Donny Alamsyah sendiri beruntung jika
pada banyak film lain ia hanya sebagai pemain pendukung, sehingga bisa mengasah
aktingnya secara lebih tajam. Ia mampu menjadi Bari yang memang dibutukan oleh
skenario. Tapi saya curiga, jangan-jangan karakter Bari juga terinspirasi dari
keseharian Donny. Kinaryosih, dalam peran pendukung, tidak istimewa dan
cenderung dapat dilupakan, namun cukup memberi kontribusi yang signifikan
terhadap progresi cerita.
‘Fiksi’ adalah film yang berbeda. Bukan film
yang umum mungkin. Selama selera penonton kita belum berubah dari pola yang
terjadi saat ini, film seperti ini tidak akan dengan mudah diterima oleh awam.
Akan tetapi film ini menjadi penting karena ia dibutuhkan sebagai sosialisi (dan
juga edukasi) bagi kalangan penonton kita, bahwa film yang baik dan benar itu
lebih menambah khasanah wawasan berfikir dan pada akhirnya kita akan mempunyai
penonton dengan daya nalar yang lebih kritis. Okay, enough being preachy and
just watch the film while it still last, which I think won’t be long at the
cinema.
June 21st, 2008 at 12:13 pm
hmmm…sama sekali gak puas ama endingnya….
pakemnya ,ending thriller itu bagi gw gak ada pihak yg 100 % berhasil..gak kayak film ini…
harusnya Bari ama cewekyna dibuat mati duluan gitu baru bunuh diri…
gak seruuu
Ladya?gak idup.Maunya jadi “Psychopatic Alice” tapi jadinya kayak boneka idup.
June 21st, 2008 at 9:37 pm
Iya ne, Endingnya ga gigit, trus rada ngebosenin…..
kalo endingnya lbh pscho lg keren bgt ne film, imho…
3 dari gw….
June 24th, 2008 at 5:31 am
*celingak-celinguk*
komennya si vian belum ada ya.
Bang Haris nonton dimana nih? Bioskop ya?
Lagi pulang kampung….dan yg diputar disini,,…dan parahnya tetap bercokol: hantu perawan jeruk bali, sumpah pocong di sekolah ama pulau hantu. busyet dahh…
June 24th, 2008 at 5:42 am
gak ada comment dr Mr. Apatis Vian koq rasanya garing bgt y baca blog ni???