‘MAY’: Melodrama Gets Intense and Profound
Release Date: 05 Juni 2008
Saya sebenarnya merasa sedikit bersalah, karena kemarin tidak sempat menyaksikan‘Suster N’, karya perdana Viva Westi, setelah membantu Garin Nugroho di
‘Serambi’. Walau mengambil genre horor, entah mengapa saya yakin kalau horor
ditangan Viva akan berbeda hasilnya. Walau kemudian saya membaca banyak komentar
yang sedikit negatif akan film tersebut, namun tidak menyurutkan keyakinan saya
jika Viva Westi merupakan salah satu sutradara muda yang dapat
diperhitungkan.
ini. Sebuah film drama dengan penanganan yang lumayan menarik dan subtil,
sehingga meski bertema melodrama dalam esensinya, namun ‘May’ tetap mempunyai
kelas tersendiri yang dapat membedakan dengan kebanyakan film Indonesia
akhir-akhir ini.
Dengan mengambil latar belakang kerusuhan di bulai Mei
sepuluh tahun lalu, ‘May’ bercerita tentang May (newcomer, Jenny Chang),
seorang gadis keturunan Tiong Hoa yang terpaksa menghadapi tragedi dalam
hidupnya, karena sang kekasih, Antares (Yama Carlos, Angker Batu, Merah Itu
Cinta, In the Name of Love), seorang sutradara dokumenter pemula, terlambat
menjemputnya dari sebuah audisi.
Tepat pada tanggal 13 Mei itu, May
harus mengalami penderitaan tak terperikan karena diperkosa oleh orang asing.
Cik Bing (Tuti Kirana), ibu May sangat kebingungan akan nasib May, namun karena
situasi yang tidak memungkinkan, maka ia terpaksa mengungsi ke Malaysia dengan
mengorbankan sertifikat rumah satu-satunya kepada Gandang (Lukman Sardi),
seorang petugas laundry hotel tempat Cik Bing mengungsi. Gandang sendiri
terpaksa melakukan hal tersebut karena istrinya (Ria Irawan) tengah hamil tua
dan membutuhkan banyak biaya. May sendiri diselamatkan oleh seorang jurnalis
asing dan dibawa ke Malaysia. Ternyata May hamil, namun ia tidak sudi untuk
memelihara anak tersebut.
sepuluh tahun kemudian, May, Antares, Cik Bing
dan Gandang menjadi sosok-sosok yang bebeda. Namun takdir mempertemukan mereka
kembali dan memberikan mereka kesempatan untuk menebus segala perbuatan mereka
di masa lalu.
Jika ditarik garis lurus dari intisari cerita diatas, maka
pada dasarnya ‘May’ adalah melodrama. Rasanya itu memang tidak terbantahkan
lagi. Namun Viva Westi tidak ingin filmnya bercerita secara linear, karena film
tentu saja akan membosankan. Maka dengan memakai alur maju-mundur, ia dapat
menjaga suspensi dalam cerita dan menarik ulur emosi dan ketertarikan penonton
untuk tetap mencerna isi cerita.
Viva juga berhasil mengeksekusi salah
satu sejarah kelam bangsa ini sebagai sebuah latar belakang yang kuat dan mampu
menjadi pilar yang kokoh untuk struktur ceritanya. Dengan piawai, oleh Viva
Westi adegan kerusuhan tidak digambarkan dengan secara berlebihan apalagi
vulgar, namun tetap dapat menangkap atmosfir kelam dan mengerikan dari peristiwa
tersebut.
Juga, dengan memasukkan sub-plot karakter Gandang didalamnya,
maka film pun dapat menjadi kontemplatif tanpa harus menggurui kemudian. Dengan
dialog-dialog yang cukup bernas, semakin menambah nilai positif untuk
film.
Yang menjadi masalah justru kedua aktor utamanya. Yama Carlos telah
bermain dibeberapa film dan sinetron dan ini adalah film keduanya sebagai
leading. Sementara Jenny Chang memang benar-benar baru di ranah tersebut.
Keduanya telah berupaya memberikan penampilan terbaik mereka, namun sayangnya
tidak benar-benar kuat untuk kemudian menjadi believeable menjadi May dan
Antares. Bukan berarti keduanya bermain buruk, namun dengan dukungan
bintang-bintang papan atas seperti Lukman Sardi, Ria Irawan, Tio Pakusadewo dan
Tuti Kirana, menyebabkan akting mereka terlihat sangat rata-rata.
Sisi
kurang menyenangkan lainnya adalah pada beberapa bagian, perpindahan adegannya
kurang terasa halus. Juga sub-plot karakter Gandang yang rasanya terlalu panjang
sehingga mencuri perhatian dari kisah utamanya. Mungkin porsinya harus lebih
kecil? Entahlah.
Apakah kemudian film akan berakhir dengan happy
ending yang telah menjadi tipikal bagi film sejenis? Sekedar wanti-wanti
yang kurang penting; jangan tertipu dengan adegan akhirnya. Pada hakikatnya apa
yang terlihat tidak sama dengan apa yang tersurat!
Pada akhirnya, ‘May’
adalah sebuah drama komersil dengan unsur kontemplatif yang cukup dalam. Viva
Westi cukup berhasil membangun jalinan cerita melodramatis yang intens namun
tidak lantas menjadi cengeng. Untuk tahun ini, ‘May’ jelas adalah salah satu
film Indonesia yang menarik untuk disimak. Direkomendasikan.
June 9th, 2008 at 10:19 am
Hmmm..May keren lho!Jadi mas Harris udah nonton juga?
Tutie Kirana,Lukman Sardi ama Ria Irawan itu aktingnya bagus2…
Tapi Yama Carlos?tadinya gw berharap banyak…tapi….no comment…
Ceritanya udah lengkap tuh.Kalo gw bilang ini lebih dari sekedar melodrama,ada selipan drama kemanusiaannya.Tapi yg satu ini kurang dieksplorasi ama penulis skenarionya.
Tapi secara keseluruhan kudos! Sinematografi ama art direction T.O.P!
p.s.
Lagi2 sutradaranya perempuan,negeri kita ini sutradara perempuannya banyak banget,apalagi pada berbakat2 semua(inget dong Nia Dinata,Upi,Nan Achnas,Sekar Ayu Asmara,Lasja Fauzia,Djenar Maesa Ayu,sekarang ada Viva Westi ama Rachmania Arunita ??? waow…)
June 10th, 2008 at 7:14 pm
yah….senang kamu setuju sama saya??? iklim indutri perfilman Indonesia yang baru ini memang memberikan angin segar bagi sutradara perempuan untuk berkembang
June 11th, 2008 at 7:56 pm
“Saya sebenarnya merasa sedikit bersalah, karena kemarin tidak sempat menyaksikan ‘Suster N’, karya perdana Viva Westi”
saya da ntn Suster N….
bagus n beda dari film horor yang lain, imho….
secara cerita Suster N menjanjikan dan bagus malah….
tapi sayang ceritanya kurang di-explor lagi jadunya terkesan …
‘gtu aja’
tp overall, suster N berbeda dan memberikan sesuatu yang baru lah, dan 1 lagi Suster N seribu x lbh bagus dari ‘Suster Ngesot’ nya MD-Pictures
my grade bwt Suster N : 3
tambahan :
The Orphanage ttp dtunggu…
hehe…..
June 13th, 2008 at 5:11 am
ok2..ditonton deh Suster N-nya nanti..hehehee