‘MEREKA BILANG, SAYA MONYET’: Hati Manusia Itu Kacau dan Absurd, Akan Tetapi Menyenangkan Untuk Disimak

May 25th, 2008 by actualchaos

Produksi: Intimasi Productions (2007)
Sutradara: Djenar Maesa Ayu
Cast: Titi Sjuman, Henidar Amroe, Ray Sahetapy, Bucek, Mario Lawalatta, Fairuz Faisal, Ayu Dewi, Jajang C. Noer, August Melaz, Nadya Rompies, Banyu Bening

Genre: Drama
Durasi: 90"
Release Date: 28 Desember 2007 (limited)
My Grade: 3.5 out 5

Mereka_bilang_saya_monyet
Mengikuti jejak Richard Oh dengan ‘Koper’-nya, maka Djenar
Maesa Ayu adalah penulis berikutnya yang menjajal bidang pengarahan film.
Sebenarnya dunia film tentu saja bukan hal yang baru bagi Djenar, secara ayahnya
adalah sang legenda perfilman Indonesia, Sumanjaya dan ia sempat pula berakting
di film ‘Koper’ dan ‘Anak-Anak Borobudur’.
Keraguan sempat hinggap
dihati, apakah Djenar bisa menafsirkan dua cerpennya, ‘Lintah’ dan ‘Melukis
Jendela’ yang terdapat dalam antologi ‘Mereka Bilang, Saya Monyet’, menjadi
sebuah narasi seperti film. Untunglah Djenar, yang mengaku tidak bisa bercerita
dengan linear, dibantu oleh Indra Herlambang sebagai penulis skenario, hingga ia
kemudian bisa mengkhususkan pada bidang pengarahan saja.

Ternyata Djenar
memang berbakat. ‘Mereka Bilang, Saya Monyet’adalah pembuktiannya. Film berjalan
dengan pace yang lancar, gampang dicerna dan tetap terlihat surealis,
seperti yang memang menjadi ciri khas Djenar dalam penulisannya. Hanya saja
memang media film berbeda dengan novel. Walaupun sama-sama bermodalkan narasi,
Djenar sadar jika ia hanya akan membingungkan penontonnya jika tetap nekad
berkeinginan menggambarkan simbolisasi dalam penulisannya dalam bentuk film,
karena mungin ia sadar akan keterbatasannya sebagai sutradara debutan sehingga
akan cukup sulit untuk menggambarkan surealisme yang dapat dipahami.

Oleh
karena itu film tetap berjalan dengan plot yang cukup linear, walaupun
bermodalkan alur maju-mundur, yang bisa saja memusingkan. Namun, dengan cekatan
ia mengeksekusi adegan-adegan yang dapat terjalin dengan baik, walau
kadang-kadang terasa kurang rapi, karena emosi ledakan dari pengarahan Djenar
yang bersemangat, sehingga terasa overrated di beberapa bagian (sekuens
teleponnya sudah sampai pada taraf annoying, no pun
intended
).

Djenar juga cukup cekatan dalam menyikapi bujet yang
minimal, karena hasil akhirnya, dalam skala independen, film tetap terasa
feel sinematisnya, berbeda dengan pendekatan yang sama oleh Rudi Sudjarwo
terhadap film-filmnya akhir-akhir ini, yang diproduksi oleh perusahaan film
besar namun malah terasa lebih condong untk konsumsi televisi dibandingkan untuk
sebuah layar lebar.

Beruntungnya lagi film ini didukung oleh pendatang
baru berkualitas seperti Titi Sjuman, yang notabene adalah saudari iparnya
sendiri. Kadang kala kemiripiannya dengan Djenar dan problematikanya dalam film
ini mengingatkan akan Djenar itu sendiri, terlepas disengaja atau tidak. Titi
memberikan kemampuannya dalam menerjemahkan karakter Adjeng, sehingga kita
benar-benar dapat merelasikan dengan karakternya. Plus, ada Henidar Amroe dan
Ray Sahetapy. Rasanya kekuatan akting mereka tidak perlu untuk diragukan
lagi.

‘Mereka Bilang, Saya Monyet’ mungkin bukan film yang besar, dan
hanya batu kecil dalam industri perfilman Indonesia akhir-akhir ini. Tapi ia
adalah batu kecil yang bernilai cukup tinggi, hingga rasanya cukup pantas
direkomendasikan untuk dipilih sebagai salah satu karya anak bangsa yang cukup
membanggakan. Dan untuk Djenar sendiri, ditunggu film-film berikutnya.


The Duel of Ghostly Trains

May 1st, 2008 by actualchaos

Ada apa sih dengan trek Kereta Api Manggarai? Dua Rumah
Produksi dengan dua sutradara yang berbeda berbarengan menganggat fenomena
kereta hantu di stasiun tersebut. Mana yang lebih baik? Mungkin pertanyaan yang
paling tepat aalah mana yang lebih buruk secara kedua sutradaranya memang sama
sekali tidak berbakat dalam menggarap genre horror sama sekali (entah komedi);
Nayato Fio Nuola (Hantu Ambulance) untuk "Kereta Hantu Manggarai" dan
Nanang Istiabudi (Terowongan Casablanca) untuk "Kereta Setan
Manggarai".

Berikut sinopsis masing-masing film:

Kereta_hantu_manggarai
KERETA HANTU
MANGGARAI

GENRE : Drama Horor Misteri
PEMAIN : Sheila Marcia Joseph,
Melvin Iim, Stefanie Hariadi, Nadila Ernesta, Rina Hasim, Gianina Emanuela,
Fendi Trihartanto
SUTRADARA : Nayato Fio Nuala
PENULIS NASKAH : Ery
Sofid
PRODUSER : Gope T. Samtani, Subagio Samtono
RUMAH PRODUKSI : RAPI
FILMS
DURASI : 89 menit
TANGGAL RILIS : 30 April 2008

SINOPSIS
:

Kakak beradik Rossa (Sheila Marcia) dan Emily terjebak dalam sebuah
pertengkaran, sikap egois dan keras kepala yang dimiliki Emily ternyata membuat
Rossa lepas kontrol, ia pun mengusir adik kandungnya tersebut dari rumahnya.
Emily pun pergi ke Bogor untuk menemui tantenya.

Ternyata Rossa tidak
pernah bertemu dengan Emily sejak malam pertengkaran itu. Dalam kebingungan,
Rossa menceritakan semua kejadian kepada sahabatnya, Tari yang kemudian menaruh
curiga, bahwa Emily dibawa pergi oleh kereta hantu. Meski tidak pernah percaya,
Rossa mengikuti ajakan Tari untuk menemui Bobby, orang yang menjalankan situs
‘Dunia Gaib’ dan sangat terobsesi dengan kereta hantu. Konon, kekasih Bobby
meninggal secara tragis akibat naik kereta hantu.

Bobby mengajak Dody dan
Peggy untuk menaiki kereta hantu dibantu oleh Ki Anom, seorang paranormal. Di
stasiun Manggarai mereka melakukan ritual. Setelah muncul, mereka akhirnya
menaiki kereta hantu tersebut. Berbagai peristiwa mengerikan terjadi selama
mereka di atas kereta hantu. Akhirnya, mereka selamat berkat pertolongan Ki
Anom.

Apa yang terjadi di dalam kereta hantu rupanya terus meneror dan
mengikuti mereka satu persatu, terutama sosok hantu yang paling mengerikan. Satu
persatu mereka tewas dan Rossa juga kerap mengalami penampakan. Rossa akhirnya
terpaksa meminta Tari untuk bertemu kembali dengan Bobby. Bobby kembali membantu
Rossa mencari Emily yang hilang diatas Kereta Hantu dengan bantuan Ki Anom.
Dapatkah mereka menemukan Emily?

Kereta_setan_manggarai
KERETA SETAN MANGGARAI

GENRE :
Drama Horor
PEMAIN : Vera Lasut, Ocke Mulyawan, Ferry Agustian, Nelly
Yustikarini, Renaldo Thompson
SUTRADARA : Nanang Istiabudi
PENULIS NASKAH
: Kumar Pareek, Dhiyute
PRODUSER : Sagar Mahtani
RUMAH PRODUKSI : MM
CREATIONS
DURASI : 100 Menit
TANGGAL RILIS : tba 2008

SINOPSIS
:

Key, Fifi, Dado, Rey dan Fajar merencanakan sebuah liburan yang
mengasyikkan di Bandung, namun perjalanan mereka sedikit terhambat, karena Dado
harus mencari kabar dua orang sepupunya yang tak kunjung pulang selepas berlibur
ke Bogor. Raut khawatir yang ditunjukkan oleh Om Dado saat mengatakan, bahwa
kedua sepupunya telah pulang sejak semingu lalu membawa mereka ke dalam sebuah
pencarian yang awalnya terlihat mudah.

Perjalanan membawa mereka ke
sebuah jalan buntu yang menyesatkan, hingga kemudian kejadian aneh mulai
bermunculan satu demi satu, rumah tua ditengah hutan, kakek dan cucunya yang
misterius hingga kecelakaan yang menyebabkan mobil mereka tertabrak kereta.
Berusaha mencari pertolongan, mereka pun berlari menyusuri rel menuju stasiun
terdekat. Lelah dan panik menyebabkan mereka melupakan semua pesan dan cerita
dari Om-nya Dado untuk tidak naik kereta pada malam jum’at. Merekapun naik
kereta yang kebetulan sedang berhenti distasiun tersebut, kereta terakhir menuju
Jakarta.

Rasa aman yang sempat melingkupi mereka berubah drastis saat
satu demi satu mulai merasakan gelagat aneh yang ditunjukkan oleh para penumpang
kereta, hingga ketika mereka sadar, bahwa kereta ini tak jua berhenti di
beberapa stasiun. Berjuang untuk bisa bertahan, kebersamaan mereka pun
dipertaruhkan karena untuk bisa keluar salah satu dari mereka harus menjadi
tumbal.

‘Hanya Untukmu’ Bermetamorfosa Menjadi ‘Ada Kamu, Aku Ada’

April 12th, 2008 by actualchaos


Hanya_untukmu_aka_ada_kamu_aku_ada_1

Masih ingat dengan poster film terbaru Rizal Mantovani
yang ternyata mirip dengan film Korea? Nah, ternyata tim produksi film tersebut
buru-buru merubah konsep poster sekaligus judulnya. Wah, biar engga jadi hype ya?

Kalau dilihat-lihat kok agak mirip film2 80-an ya? Warna2 kinclong
gitu, berbeda dengan ‘Hanya Untukmu’ yang terkesan subtil. Judulnya pun semakin
norak.

KARMA - TEASER POSTER

April 10th, 2008 by actualchaos
Teasernya keren..mudah2han filmnya juga keren


Karma

Judul : KARMA
Genre : Horor
Bahasa : Bahasa Indonesia
Produksi : Credo Pictures
Tahun Produksi : 2007
Sutradara : Allan Lunardi
Ide Cerita : Elvin Kustaman
Penulis Naskah : Salman Aristo
Eksekutif Produser : Insurjati, Liem Tjoen Kwan, Elvin Kustaman
Produser : Yeyet Sugriyati

Para Pemeran
:

Dominique Diyose sebagai Sandra
Joe Taslim sebagai Armand

H.I.M. Damsyik sebagai Guan (Tua)
Jonathan Mulia sebagai Guan (Muda)
Henky Solaiman sebagai Philip
Jenny Chang sebagai Ling Ling
Leny Jaya Dewi sebagai Giok Lan
Adi Kurdi sebagai Hariman                                              
Lucy Roswita sebagai Nani
Maria Glenon sebagai Mbok Ijah
Verdi Solaiman sebagai Martin

Penampilan Khusus:
Jaya Suprana sebagai Holianto

SINOPSIS

Keluarga Guan seharusnya keluarga yang bahagia. Tetapi, semua perempuan
di keluarga itu meninggal secara misterius. Anak lelaki pertama dari
Phillip, Martin, mendapat tekanan dari kakeknya, Thiong Guan, hingga
membuatnya seperti sinting dan selalu mengurung diri. Ibu Martin
meninggal setelah melahirkan Martin. Philip menikah lagi namun istri
keduanya juga meninggal setelah melahirkan anak pertamanya, Armand.
Armand yang tidak percaya dengan tahayul memilih untuk sekolah di
Australia daripada mendapat tekanan dari kakeknya, Thiong Guan.

Kini Armand tiba-tiba pulang dengan membawa seorang wanita bernama
Sandra, yang tengah hamil 6 bulan dan akan segera dinikahinya. Sandra
yang telah diusir dari keluarganya karena hamil diluar nikah menaruh
seluruh harapannya pada Armand.

Kedatangan Sandra disambut oleh lemparan gelas oleh kakek mertuanya.
Teror demi terror juga dialami Sandra sejak malam pertama tinggal di
rumah Guan. Sadar akan keadaannya sebagai perempuan terancam, Sandra
pun bersikeras untuk mencari cara untuk menghentikan Karma yang terjadi
pada setiap perempuan di keluarga Guan.


WAVE Vol. 1

March 26th, 2008 by actualchaos

ayooo di download…!!!gratis kok!! klik aja gambar
di bawah!!!

Ayoo download wavezine!!! klik ajaa!!

‘KUNTILANAK 3′: Akhir Dari Kengerian sebuah Legenda

March 25th, 2008 by actualchaos

Produksi: MVP Pictures (2008)
Sutradara: Rizal Mantovani
Cast: Julie Estelle, Imelda Therine, Laura Antoinetta, Mandala Shoji, M. Reza Pahlevi, Ida Iasha, Laudya Chintya Bella

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 125"
Release Date: 13 Maret 2008
My Grade: 3 out 5

K3poster
Terlepas dari banyaknya dialog ekposisi yang
mengindikasikan jika penulis skenarionya, Ve Handojo, menganggap penonton film
ini begitu tolol, sehingga harus menghadirkan banyak penjelasan aksi karakter
melalui elaborasi dialog, ‘Kuntilanak 3′ berhasil meningkatkan eskalasi
ketegangan dibandingkan dua seri sebelumnya.
Diniatkan sebagai akhir dari
sebuah trilogi, Rizal Mantovani, sebagai sutradara tampaknya belajar banyak dari
kekurangan dua film sebelumnya, dan kini tampak memperhatikan dengan cukup
teliti akan pembangunan atmosfir kengerian yang memang diperlukan oleh film
ini.

Ceritanya ringan sekali, bahkan nyaris tipis. Sekelompok anak muda
pecinta alam berupaya mencari teman mereka yang hilang di kelamnya hutan sebuah
pegunungan. Tidak sengaja mereka bertemu dengan Samantha (Julie Estelle), yang
kini mempunyai misi tersendiri untuk mengakhiri konfrontasinya dengan mimpi
buruk bernama Kuntilanak yang telah membuat suram hari-harinya. Selanjutnya para
anak muda tersebut mati satu persatu ditangan Kuntilanak gunung, sedangkan Sam,
asyik sendiri dengan misinya.

Yah, bisa dikatakan karakter Samantha
dengan empat anak muda tersebut sama sekali tidak integratif dimana mereka
sebenarnya bisa berdiri sendiri tanpa harus memerlukan eksistensi dari karakter
lainnya. Karakter Samantha bisa menjalankan misinya tanpa harus kehadiran
karakter pendukung tersebut, sedangkan karakter pendukung tersebut bisa
dijadikan cerita sendiri tanpa harus melibatkan Samantha.

Karakter
satelit lebih berguna untuk unsur suspensi cerita agar lebih menarik, karena
tidak melulu hanya terfokus pada cerita utama, misi samantha, yang sebenarnya
bisa saja selesai dalam waktu setengah jam.

Jadi, alih-alih sebagai
penutup sebuah trilogi, ‘Kuntilanak 3′ lebih kepada cerita horor sekelompok anak
muda di tengah kabut gelap dan mistis sebuah hutan, yang mau tidak mau
mengingatkan akan ‘Hantu’ (2007) karya Adrianto Sinaga yang lalu.

Banyak
sekali adegan-adegan yang mengingatkan akan film tersebut. Beruntung (atau
sialnya bagi kru film ‘Hantu’?), kini Rizal bisa menjadikan film tersebut
sebagai template untuk membangun suspensi, sehingga unsur ketegangan bisa
cukup terjaga, berbeda dengan dua film sebelumnya yang mengendor menjelang
akhir.

Meski banyak kelemahan yang melekat di cerita film ini,
‘Kuntilanak 3′ jelas karya horor terbaik Rizal Mantovani saat ini. Hanya saja,
dengan hasil akhir film ini, rasanya ia gagal untuk menjadikan seri ‘Kuntilanak’
sebagai trilogi yang solid.


‘THE MIST’: Ada Sesuatu di Balik Kabut

March 25th, 2008 by actualchaos

Produksi: Dimension Films (2007)
Sutradara: Frank Darabont
Cast: Thomas Jane, Marcia Gay Harden, Toby Jones, Laurie Holden, William Sadler

Genre: Horor/Thriller/Drama
Durasi: 125"
Release Date: 21 Nopember 2007 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Mist_xlg_1
Terlepas dari nama besar Frank Darabont yang telah sukses
mengarahkan film-film berdasarkan karya Stephen King lainnya menjadi karya yang
berkelas (The Green Mile, Shawsank Redemption), tetap saja keraguan hinggap
dipikiran, apakah film ‘The Mist’ ini akan sebaik karya-karya Darabont
sebelumnya itu.
Premisnya sangat khas film horor-thriller, sekelompok
orang sebuah kota kecil terperangkap di sebuah swalayan saat bergulung-gulung
kabut tebal tiba-tiba menyelubungi seisi kota. Masalahnya bukan hanya jarak
pandang yang terganggu, namun ada sesuatu yang mengerikan dibalik kabut dan itu
mengincar nyawa manusia.

Maka dimulailah pembantaian satu-demi-satu
orang-orang yang ada di Swalayan tersebut, sedangkan sisanya berkemelut, apakah
pergi menerobos kabut untuk menyelematkan diri atau tetap tinggal menunggu ada
yang menyelamatkan?

Tentu saja, apa sih yang bisa diharapkan lebih dari
cerita semacam ini. Sangat tipikal dan telah berulang-ulang menjadi pakem dalam
film bergenre sejenis. Masalahnya kita membicarakan Frank Darabont sebagai orang
dibelakang layar disini. Ternyata ia memang piawai sekali dalam merangkau adegan
menjadi sebuah narasi yang mencekam, mendebarkan, sekalugis dramatik dalam
proposi yang seimbang.

Darabont lebih memfokuskan pada konflik yang
terjadi diantara orang-orang tersebut dan ia dengan sangat berhasil membangun
simpati penonton pada sebagian karakternya dan antipati pada karakter lainnya.
Padahal jelas-jelas ia menggambarkan karakter-karakter tersebut di ranah
abu-abu, bukan hitam atau putih yang sebagaimana menjadi tipikal dalam film
sejenis. Unsur kengerian tetap dimasukkan secara berkala, namun prioritas tetap
pada dramatisasi dan progresi konflik kepentingan karakter-karakter tadi.

Unsur streotype dan formulaic direduksi seperlunya dan
saat diperlukan penjelasan, maka penjelasan tersebut lebih kepada "hutang" yang
harus diberikan kepada penonton tentang apa yang sebenarnya terjadi, daripada
benar-benar diperlukan.

Film lebih bercerita tentang dilema serta krisis
moralitas disaat orang-orang menghadapi masalah yang mengancam jiwanya dimana
keselamatan sepertinya telah menjadi barang yang teramat mahal. Dan adegan
klimaks yang menggetarkan sepertinya mewakili dengan tepat!

‘The Mist’
adalah jenis horor yang selama ini saya rindukan. Sangat jarang sekali ada film
yang benar-benar "horor’ seperti film ini. Gelap, moody, intens dan
atmosferik. Direkomendasikan.


Poster “Hanya Untukmu” adalah Hasil Plagiat!!!!

March 20th, 2008 by actualchaos
Compare these images…

Hanya_untukmu_small_poster_2  Ditto_3


Apa perbedaan signifikannya???
Tidak ada bahkan sangat mirip. Film barunya Rizal Mantovani ini sangat mirip
sekali dengan poster film Korea tahun 2000 yang berjudul "Ditto".

Miskin
kreatifitas?


‘40 HARI BANGKITNYA POCONG’: Setelah Kematian, Mereka Akan Datang

March 11th, 2008 by actualchaos

Produksi: Rapi Films (2008)
Sutradara: Rudi Sudjarwo
Cast: Irwansyah, Raffi Ahmad, Sabai Morchek, Faridha Pasha, Monique Henry, Herichan, Ulli Artha

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 90"
Release Date: 06 Maret 2008
My Grade: 3 out 5

40hari_bangkitnya_pocong_1
Rudi Sudjarwo kembali menggarap horor. Hal yang memang
saya tunggu, secara dengan ‘Pocong 2′ kemarin ia berhasil memberikan pengalaman
horor jernial, yang memang sudah lama saya tunggu dari film lokal. Namun, dengan
memakai judul yang rada-rada "mengkuatirkan" seperti ‘40 Hari Bangkitnya
Pocong’ ini, terus terang menimbulkan rasa ragu di hati. Pocong lagi? Apa tidak
ada jenis hantu yang lain untuk dieksplorasi? Tapi, ya sudahlah.
Dengan
judul yang mengingatkan akan film-film era 80-an tersebut, seakan-akan Rudi
memang ingin mengenang kembali era keemasan horor Indonesia, dimana kengerian
sudah menjadi jaminan. Ini sudah ditandai dengan adegan awal yang sebenarnya
sederhana saja, akan tetapi terasa menggelisahkan.

OK. Ini awal yang
menarik. Kemudian adegan beralih pada sebuah kecelakaan mobil, yang jelas-jelas
adalah hasil teknik CGI, walaupun hasilnya lumayan mulus. Selanjutnya film
mengenalkan karakter Jessi (Sabai Morchek, Sang Dewi), yang terganggu
dengan mantan pacarnya yang obsesif, Nino (Raffi Ahmad, Bukan Bintang
Biasa
). Lantas, untuk menghindari gangguan sang mantan, Jessi yang bekerja
di sebuah servis komputer memilih untuk menerima panggilan perbaikan komputer di
sebuah rumah. Ternyata kliennya adalah seorang pemuda simpatik bernama Kevin
(Irwansyah, Love), yang tinggal bersama dengan tantenya yang galak dan
neurotis (Faridha Pasha, Misteri Gunung Merapi).

Masalahnya
kemudian adalah, setelah itu Jessi mendapat gangguan dari berbagai makhluk
halus, yang secara konstan meneror kesehatan jiwanya. Ternyata Nino pun mendapat
masalah yang sama. Lantas, mengapa makhluk-makhluk halus ini meneror
mereka?

Rudi Sudjarwo sepertinya memang belum rela untuk melepaskan
trade-mark penggunaan kamera secara genggamnya. Sama halnya dengan
‘Pocong 2′, Rudi lebih menekankan pada situasi dan suasana serta ekspresi
karakternya untuk membangun atmosfir. Dan rasanya ini memang masih bekerja
dengan baik. Tterlepas dari akting standar Irwansyah dan Raffi Ahmad, Sabai
Morchek memang juaranya untuk film ini. Dia berhasil membangun rasa percaya
penonton akan teror yang dialaminya sehingga menular juga pada para
penontonnya.

sayangnya pola ini seakan pengulangan dari film ‘Pocong 2′
tersebut, sehingga justru menghilangkan unsur utama dari suspensi yang akan
dibangun. Ketegangan dan teror tetap ada, namun unsur mencekamnya sudah jauh
berkurang.

Terus terang, makin lama teknik penggarapan ala Rudi Sudjarwo
ini semakain mengganggu saja. Rasanya, film menjadi kehilangan unsur bercerita
secara sinematisnya dan treatment film layaknya untuk konsumsi televisi
saja. Bukannya, Rudi tidak mampu bercerita, hanya saja rasanya ada yang kurang
saja. Belum lagi banyaknya pengabaian logika yang membuat kening
berkerut.

Working Title dari film ini adalah ‘40 Hari Setelah
kematin’, sesuatu yang rasanya lebih pas untuk isi cerita dari pada judul yang
terasa menjual sensasionalitas seperti ‘40 Hari Bangkitnya Pocong’. Film yang
saya yakin shootingnya tidak memakan waktu sampai 40 hari ini memang lebih baik
dari banyak horor rata-rata saat ini, namun rasanya Rudi sudah harus memulai
menemukan formula barunya.


‘AYAT-AYAT CINTA’: Romantisme dalam Religiusitas

March 11th, 2008 by actualchaos

Produksi: MD Pictures (2008)
Sutradara: Hanung Bramantyo
Cast: Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, Melanie Putria, Surya Saputra, Marini Burhan, Oka Antara, Dennis Adhiswara

Genre: Drama/Roman
Durasi: 95"
Release Date: 27 Februari 2008
My Grade: 3 out 5

Ayatayatcinta_1 ‘Ayat-Ayat Cinta’ yang diangkat dari sebuah novel laris bercerita tentang Fachri
(Fedi Nuril) adalah seorang mahasiswa muslim asal Indonesia yang tengah menimba
ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia bertetangga dan berteman baik
dengan gadis Mesir yang beragama Kristen Koptik, Maria (carissa Putri). Pribadi
Fachri yang bersahaja namun kharismatik begitu menyirap Maria dan juga Nurul
(Melani Putria), teman kuliahnya sesama Indonesia. Namun, justru Aisha (Rianti
Cartwright), perempuan bercadar namun berpendidikan serta kaya raya asal Jerman
yang justru menjadi istri pilihan Fachri. Ini tentu saja menghancurkan hati
Maria dan Nurul. Namun, masalah justru datang dari Noura (Zaskia Adya Mecca),
perempuan yang dulu pernah ditolongnya, dan kini menuduh Fachri telah
memperkosanya sehingga hamil. Disinilah ketegaran iman Fachri diuji.

Terus terang, saya tidak menemukan sesuatu yang istimewa setelah membaca
novel karangan Habiburrahman El-Shirazi yang lebih dikenal dengan Kang Abik
tersebut. Ceritanya standar saja. bahkan cenderung mengingatkan akan melodrama
di era 70-an. Namun, yang saya kagumi dari novel tersebut adalah saat kang Abik
mampu memasukkan nilai-nilai dakwah Islami tanpa kesan mendikte, sehingga kita
dapat menerima tanpa terasa digurui.

Perasaan yang sama saya dapati
setelah menyaksikan film yang diarahkan oleh sutradara kelas Citra, Hanung
Bramantyo. Filmnya menghibur, kuat dengan unsur religi tanpa ada kesan
ditempelkan. Esensi dalam dialog-dialognya cukup bernas. Dan secara umum film
juga cukup berkelas.

Duet penulis skrip Ginatri S. Noer dan Salman Aristo
cukup handal dalam merangkum novel beratus halaman tersebut dalam durasi cerita
dua jam-an. Film terasa berjalan dengan cepat dan ringkas. Merangkum
adegan-adegan yang dirasa penting untuk disampaikan. Namun, adegan yang berjalan
dengan cepatnya,kadang rasanya bagi penonton yang kurang awas atau awam dengan
novelnya akan merasa tertinggal.

Hanung sudah berusaha untuk menangkap
aura yang ada dalam novelnya. Sayangnya, berbagai kendala lapangan memang
membatasi daya imajinasinya, sehingga banyak adegan yang terasa kurang gaungnya
apalagi jika memang harus membandingkan dengan novelnya tadi. Terlepas dari itu,
upayanya sudah cukup maksimal untuk menjadikan film ini sebagai film yang terasa
megah.

Masalahnya, menyaksikan ‘Ayat-Ayat Cinta’, mengingatkan saya pada
saat dahulu menonton sandiwara televisi di era saat stasiun TV hanya ada satu di
negeri ini. Terutama yang mempunyai tema-tema islami dan berseting di jazirah
Arab. Dengan pemakaian bahasa yang terasa baku dan kaku, sehingga penyamaran
karakter orang Arab dengan orang Indonesia dan tentu saja mereka semua berbahasa
Indonesia. Bukannya tidak menghibur, namun rasanya cerita seakan sebuah dongeng
yang rasanya jauh dari kesan membumi.

Begitulah kesan saya akan film ini.
Akting Fedi dan Rianti kadang terasa karikatural dan kurang realitis. Terima
kasih atas pemakaian dialog yang setia dengan novelnya, sehingga terkadang
menyaksikan mereka seperti menyaksikan film India yang disulih suarakan dalam
Bahasa Indonesia. Beruntung Carissa Putri memainkan peranannya dengan cukup
gemilang. Ia berhasil menjadi Maria yang adorable namun juga cerdas tapi
memendam perasaan yang mendalam terhadap Fachri. Andai Carissa Putri
menerjemahkan secara salah karakter Maria, niscaya film akan membosankan. Zaskia
Adya Mecca dibatasi oleh adegan yang minimal, namun ia berhasil meniupkan kesan
membumi untuk karakternya, terlepas dari kesan kurang masuk akal sosok Melayunya
sebagai orang Mesir.

‘Ayat-Ayat Cinta’ adalah sebuah film roman. Rasanya
itu tidak terbantahkan. Yang menjadi nilai tambah disini adalah saat unsur
Islami menjadi bagian yang integratif tanpa kemudian menjadikan filmnya sebagai
film dakwah. Dan dia menghibur. Namun, ‘Ayat-Ayat Cinta’ sebagai sebuah film
yang istimewa? Rasanya itu terlalu berlebihan.