‘MEREKA BILANG, SAYA MONYET’: Hati Manusia Itu Kacau dan Absurd, Akan Tetapi Menyenangkan Untuk Disimak
May 25th, 2008 by actualchaosRelease Date: 28 Desember 2007 (limited)

Mengikuti jejak Richard Oh dengan ‘Koper’-nya, maka Djenar
Maesa Ayu adalah penulis berikutnya yang menjajal bidang pengarahan film.
Sebenarnya dunia film tentu saja bukan hal yang baru bagi Djenar, secara ayahnya
adalah sang legenda perfilman Indonesia, Sumanjaya dan ia sempat pula berakting
di film ‘Koper’ dan ‘Anak-Anak Borobudur’.
dihati, apakah Djenar bisa menafsirkan dua cerpennya, ‘Lintah’ dan ‘Melukis
Jendela’ yang terdapat dalam antologi ‘Mereka Bilang, Saya Monyet’, menjadi
sebuah narasi seperti film. Untunglah Djenar, yang mengaku tidak bisa bercerita
dengan linear, dibantu oleh Indra Herlambang sebagai penulis skenario, hingga ia
kemudian bisa mengkhususkan pada bidang pengarahan saja.
Ternyata Djenar
memang berbakat. ‘Mereka Bilang, Saya Monyet’adalah pembuktiannya. Film berjalan
dengan pace yang lancar, gampang dicerna dan tetap terlihat surealis,
seperti yang memang menjadi ciri khas Djenar dalam penulisannya. Hanya saja
memang media film berbeda dengan novel. Walaupun sama-sama bermodalkan narasi,
Djenar sadar jika ia hanya akan membingungkan penontonnya jika tetap nekad
berkeinginan menggambarkan simbolisasi dalam penulisannya dalam bentuk film,
karena mungin ia sadar akan keterbatasannya sebagai sutradara debutan sehingga
akan cukup sulit untuk menggambarkan surealisme yang dapat dipahami.
Oleh
karena itu film tetap berjalan dengan plot yang cukup linear, walaupun
bermodalkan alur maju-mundur, yang bisa saja memusingkan. Namun, dengan cekatan
ia mengeksekusi adegan-adegan yang dapat terjalin dengan baik, walau
kadang-kadang terasa kurang rapi, karena emosi ledakan dari pengarahan Djenar
yang bersemangat, sehingga terasa overrated di beberapa bagian (sekuens
teleponnya sudah sampai pada taraf annoying, no pun
intended).
Djenar juga cukup cekatan dalam menyikapi bujet yang
minimal, karena hasil akhirnya, dalam skala independen, film tetap terasa
feel sinematisnya, berbeda dengan pendekatan yang sama oleh Rudi Sudjarwo
terhadap film-filmnya akhir-akhir ini, yang diproduksi oleh perusahaan film
besar namun malah terasa lebih condong untk konsumsi televisi dibandingkan untuk
sebuah layar lebar.
Beruntungnya lagi film ini didukung oleh pendatang
baru berkualitas seperti Titi Sjuman, yang notabene adalah saudari iparnya
sendiri. Kadang kala kemiripiannya dengan Djenar dan problematikanya dalam film
ini mengingatkan akan Djenar itu sendiri, terlepas disengaja atau tidak. Titi
memberikan kemampuannya dalam menerjemahkan karakter Adjeng, sehingga kita
benar-benar dapat merelasikan dengan karakternya. Plus, ada Henidar Amroe dan
Ray Sahetapy. Rasanya kekuatan akting mereka tidak perlu untuk diragukan
lagi.
‘Mereka Bilang, Saya Monyet’ mungkin bukan film yang besar, dan
hanya batu kecil dalam industri perfilman Indonesia akhir-akhir ini. Tapi ia
adalah batu kecil yang bernilai cukup tinggi, hingga rasanya cukup pantas
direkomendasikan untuk dipilih sebagai salah satu karya anak bangsa yang cukup
membanggakan. Dan untuk Djenar sendiri, ditunggu film-film berikutnya.











